
Mereka semua pulang ke rumah karena hari sudah sangat larut dan si kembar juga sudah sangat mengantuk.
Rhein malam ini pulang ke rumah utama bersama dengan kedua orang tuanya. Nala dan Akira pulang ke rumah mereka. Setelah menidurkan dan memberi kecupan selamat malam. Nala dan Akira masuk ke dalam kamarnya.
"Nala, kamu kenapa?" Akira melihat istrinya yang duduk terdiam di atas tempat tidur dengan wajah diamnya sangat heran.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya lelah, Akira," bohongnya Nala.
Akira duduk di samping istrinya dan memijit pelan pundak istrinya. "Jangan bohong? Apa kamu masih memikirkan tentang kejadian tadi? Kamu jangan memikirkannya lagi. Anggap semua itu tidak terjadi, aku akan segera membereskan pria berengsek itu."
"Apa yang mau kamu lakukan? Mengirimnya jauh dari sini atau apa? Tetap saja hal itu tidak akan bisa menutupi kenyataaan tentang siapa istri dari Akira Danner."
"Aku tau dan aku tidak akan menutupi siapa kamu? Hanya saja aku tidak suka dengan kata-kata kasarnya. Dia masih selamat karena Rhein atau aku tidak melenyapkannya di sana."
Akira dan Nala saling melihat. "Dia ucapannya kasar sekali. Dan aku belum mengatakan terima kasih tadi pada Rhein."
"Pria itu memang terkenal pembuat masalah, dan tentang terima kasih pada Rhein, besok kamu bisa mengucapkannya. Jujur saja aku agak cemburu pada Rhein, ternyata dia masih menyukai kamu, terbukti dia sangat marah seperti itu. Ya! Walaupun semua orang pasti akan marah jika ada wanita di hina seperti itu, tapi tatapan Rhein berbeda." Akira tersenyum tidak percaya.
Nala mengusap pipi suaminya lembut. "Walaupun Rhein masih memiliki perasaan denganku, tapi aku tau jika perasaan itu perlahan-lahan akan berubah, Sayang. Rhein tau posisinya dan dia juga tau aku sangat mencintai kamu." Nala mengecup lembut bibir Akira.
"Iya, aku percaya pada kamu dan Rhein. Dan aku juga akan mengucapkan banyak terima kasih pada Rhein." Akira beranjak dari tempatnya dan dia berdiri tepat di depan Nala.
Nala yang masih dengan posisi duduk mendongakkan kepalanya ke atas dan melihat bingung pada suaminya. "Ada apa?"
Akira menunduk dan bertanya pada Nala. "Apa sekarang kamu mau memberikan hadiah ulang tahun pernikahan yang kamu janjikan tadi padaku?"
Nala tersenyum dan mengalungkan kedua tangannya pada leher Akira. "Aku kira kamu sudah lupa?" Nala tersenyum.
"Aku tidak akan lupa, yang akan aku lakukan adalah membuat kamu lupa tentang kejadian tadi." Nala mengangguk.
Akira dengan lembut mengangkat tubuh Nala dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Akira menyiapkan air hangat di dalam bathub dan dia berdiri dengan perlahan melepaskan gaun indah yang di pakai oleh Nala.
Dia juga melepaskan tuxedo miliknya. Akira juga menyalakan lilin aroma terapi dan membuat suasana di dalam kamar mandi menjadi hangat.
"Kita berendam bersama dan aku akan membuat kamu lebih nyaman, Sayang," ucap Akira lembut.
__ADS_1
Akira masuk lebih dulu dan diikuti Nala. Mereka berendam bersama dengan Nala bersandar nyaman pada dada Akira. Akira memijit perlahan-lahan kepala Nala dan sesekali mengecup kepala bagian belakang Nala.
"Aku sebenarnya sangat bahagia hari ini. Apalagi mengetahui jika daddy sudah membuat pesta kejutan ulang tahun perikahan kita. Daddy benar-benar sudah mengakuiku sebagai menantunya."
"Kamu memang bagian dari keluarga Danner, Nala."
"Aku bahagia memilki keluarga kamu, Akira. Aku seolah bisa merasakan yang namanya memiliki ayah dan ibu." Nala menoleh menghadap Akira.
Akira mengusap lembut beberapa helai rambut Nala. Dan mereka ...
***
Keesokan harinya Rhein sengaja pagi-pagi datang ke rumah Nala dengan Mommynya karena ingin mengantar si kembar untuk berangkat ke sekolah hari ini. Addrian hari ini ada pekerjaan penting, yaitu pergi ke kantor milik keluarga Anabella, entah apa yang akan dilakukan oleh Addrian di sana. Mungkin ingin membicarakan tentang penghinaan yang Albert lakukan pada menantunya.
"Akira, Nala. Boleh tidak aku hari ini mengantar si kembar ke sekolah? Nanti sore kan aku sudah harus kembali ke Califronia?"
"Cepat sekali kamu mau kembali ke California? Kenapa tidak tinggal beberapa hari lagi di sini?"
"Aku tidak bisa, Nala. Ada pekerjaan yang tidak bisa aku tinggal lama-lama di sana."
"Urusan pekerjaan apa urusan lainnya?" sindir Nala.
'Kenapa dia selalu tau apa isi hatiku, tapi sayang dia bukan jodohku.'
"Iya, kenapa cepat sekali. Aku berharap kamu bisa tinggal lebih lama di sini."
"Hem ... kamu serius mengatakan hal itu?" Rhein melirik aneh pada kakaknya.
"Tidak sih sebenarnya, tapi aku senang kamu fi sini, lagian aku sudah tidak khawatir jika kamu ada di sini? Nala tidak akan berpaling."
"Memangnya siapa yang mau merebut istri kamu."
Beberapa menit kemudian Si kembar yang sudah sarapan berangkat ke sekolah dengan paman dan Oma mereka.
"Paman, ini sekolahan kami. Bagus, Kan?" tanya si Ara.
__ADS_1
"Wow! Bagus sekali, sekolah kamu juga nyaman. Lalu kelas kalian di mana?"
Aro menggandeng tangan Rhein dan mengajaknya masuk ke dalam kelasnya. "Ini kelasku dan Ara, Paman."
Rhein melihat sekeliling ruangan itu. "Bagus sekali, banyak gambar-gambar yang lucu.
"Selamat pagi, Aro," sapa gadis kecil yang tak lain adalah Sita.
"Pagi," jawab singkat anak Akira itu.
"Eh, kamu siapa? Kamu cantik sekali, apalagi rambut keriting kamu itu lucu sekali," puji Rhein sambi memegang rambut keriting Sita.
"Perkenalkan namaku Yasita Ayunina, Paman. Paman siapa?"
"Nama paman Rhein. Paman ini adik dari ayahnya Aro dan Ara." Rhein melihat ke arah Aro yang malah terlihat cuek.
"Dia sahabat aku, Paman. Dia cantik, kan. Aro! Kamu itu kenapa tidak memperkenalkan Sita pada Paman Rhein."
"Mereka sudah berkenalan." Aro berjalan menuju bangkunya dan mengeluarkan buku bacaanya.
"Keponakan kamu satu itu memang begitu. Dia mirip dengan Akira waktu kecil," bisik Kei pada Rhein.
"Sita, kita main saja yuk? Aro pasti tidak akan mau main dengan kita, dia lebih suka membaca buku ceritanya."
Sita melihat ke arah Aro. "Iya, kita main saja."
"Paman tampan dan Oma. Aku mau main dulu sama Sita di sana." Ara menunjuk tempat bermain prosotan yang ada banyak bola-bola di bawahnya.
"Iya, Sayang."
Kei dan Rhein kemudian duduk di depan Aro yang masih fokus membaca bukunya. "Hei jagoan, kamu baca buku apa, Sih? Kenapa serius sekali?"
"Buku cerita tentang penyihir, Paman."
"Dia suka cerita fantasi Rhein. Cucuku satu ini memang sangat suka membaca." Kei mengusap lembut kepala Aro.
__ADS_1
"Kamu kenapa dengan gadis berambut keriting itu? Kamu tidak suka sama dia?"