My Secret Love

My Secret Love
Hari Pertama Bekerja


__ADS_3

Uni masih memikirkan tawaran pekerjaan wanita cantik yang ada di depannya. Menjadi pelayan di rumah seseorang sebenarnya tidak begitu buruk, itu juga pekerjaan yang halal, apalagi dia bisa menadapatkan uang yang


nanti akan bisa dia gunakan untuk meneruskan kuliahnya dan tantenya juga tidak


akan marah dengannya.


“Maaf Ibu--?”


“Nala, nama saya Nala.”


“Iya, Ibu Nala. Saya mau menerima pekerjaan itu, asalkan saya bisa tetap bekerja dan mendapat penghasilan saya mau.” Uni tersenyum.


“Ya sudah kalau begitu, kamu mau memulai pekerjaannya sekarang atau besok?”


“Sekarang saja tidak apa-apa, Bu. Saya minta alamat rumah Ibu Nala, nanti saya akan ke sana.”


Nala tersenyum melihat sopan santun gadis manis di depannya ini. “Kenapa ke sana sendiri? Kamu bisa ikut dengan mobil saya dan sekalian saya akan mengenalkan kamu nanti dengan putriku dan bibiku di rumah.”


“Naik mobil bersama dengan Ibu Nala?”  tanya Uni memastikan.


“Iya, kenapa memangnya? Tidak apa-apa kalau kamu mau ikut denganku.” Uni kemudian mengangguk. Ponsel Nala seketika berdering saat dia akan pergi ke restoran itu. “Akira? Uni kamu tunggu sebentar di sini ya?” Uni mengangguk dan Nala beranjak dari tempatnya agak jauh dari sana, Nala menerima telepon dari suaminya.


“Nala.”


“Iya, Sayang. Ada apa?”


“Kamu masih di luar?”


“Iya, ini aku baru saja selesai berbelanja dan ini mau pulang, memangnya ada apa?”


“Tidak ada apa-apa, aku hanya mau memastikan kamu baik-baik saja.”


“Ada apa, Akira? Sepertinya ada hal serius yang kamu sembunyikan?” Nala tampak curiga dengan pertanyaan suaminya yang terkesan


seperti ada sesuatu yang penting.


“Tidak ada apa-apa, nanti akan aku ceritakan di rumah saja, kamu sebaiknya segera pulang, Sayang.”

__ADS_1


“Iya ini aku juga mau pulang, dan ada sesuatu juga yang ingin aku ceritakan sama kamu, Akira.”


“Sesuatu? Apa?”


“Aku memperkerjakan seorang anak gadis di rumah kita sebagai pelayan karena aku sudah berbuat salah sama dia.”


“Berbuat salah dengan seorang gadis?”


“Iya, gadis itu seumuran dengan Ara, dan karena kesalahan aku dia jadi dipecat dari tempat kerjanya bahkan dia tidak mendapat uang pesangon dan gaji sepeserpun.”


“Memangnya apa yang kamu lakukan Nala?”


“Aku tidak sengaja menabraknya dan akhirnya dia memecahkan semua piring yang di bawahnya. Aku sudah mencoba menjelaskan kepada bosnya dan bahkan aku mau menggantinya, tapi bosnya tetap ingin memecat gadis itu. Aku kasihan sama dia Akira, aku seolah melihat bayangan diriku di masa lalu ada padanya. Dia yatim piatu seperti aku, Akira,” terang Nala dengan nada sedih.


Akira berpikiran sejenak. “Ya sudah, kamu bawa saja dia ke rumah, nanti aku juga ingin bertemu dengannya.”


“Iya, Sayang, aku akan mengajaknya ke rumah, dia mau bekerja di rumah sebagai pelayan, aku juga tidak akan membuatnya susah.”


“Ya sudah kalau begitu, kamu hati-hati kalau pulang.” Mereka berdua mengakhiri panggilan teleponnya.


“Iya, kenapa?”


“Rumahnya indah sekali, tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman dan saya senang melihatnya.” Uni tersenyum polos.


“Terima kasih, ayo sekarang turun, akan aku perkenalkan kamu dengan beberapa anggota keluargaku di dalam, mereka sangat baik, dan kamu akan senang berkenalan dengan mereka.”


Nala turun dari dalam mobil dan diikuti oleh Uni. Nala membawa Uni masuk ke dalam rumah. Bibi Anjani yang melihat Nala datang dengan seorang gadis tampak sangat terkejut. “Nala, dia siapa?”


“Perkenalkan ini Uni, Bibi. Dia nanti yang akan bekerja di rumah ini sebagai pelayan.”


“Pelayan? Katanya kamu--.” Nala memberi


isyarat agar bibi Anjani tidak mengatakan jika dia tidak ingin memakai pelayan di rumah karena aku mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri, tapi kenapa sekarang dia membawa seorang gadis untuk bekerja sebagai pelayan?


Ara melihat dari tempatnya dan memanggil ibunya. Nala, Uni dan Bibi Anjani berjalan menuju ruang tamu. Mereka


duduk di ruang tamu, Ara melihat Uni yang berdiri di samaping  Nala dari atasa sampai bawah. “Dia siapa, Bu?”

__ADS_1


“Sayang, perkenalkan ini Uni, dia mulai sekarang akan bekerja di sini sebagai pelayan. Dan Uni ini perkenalkan namanya Ara, dia putriku dan nanti ada satu lagi putraku, dia saudara kembar dari Ara. Ini bibi Anjani, tapi kamu bisa memanggilnya nenek Anjani.”


“Selamat sore semuanya.” Uni menundukkan kepalanya perlahan.


“Uni akan bekerja di sini dari siang sampai malam hari karena paginya dia harus kuliah dulu, lalu pulang kuliah dia akan bekerja di sini.”


“Kamu kuliah?” tanya Ara kaget.


“Iya, Nona Ara, saya kuliah.”


“Jangan panggil aku nona Ara, panggil saja aku Ara, usia kita juga sepertinya sama.”


“i-Iya,” ucap Uni agak takut.


“Ibu juga sudah ceritakan sama ayah kamu, dan ayah kamu setuju jika Uni bekerja di sini. Uni, sekarang kamu bisa mulai bekerja. Eh, kamu sudah makan siang? Kalau belum kamu bisa makan siang dulu.”


“Saya bawa bekal makan siang yang belum saya makan, Ibu Nala. Saya makan itu saja.”


“Ya sudah kalau begitu, kalau mau kamu juga bisa makan siang di dapur, di sana ada banyak sekali makanan.”


“Nenek akan mengantar kamu ke dapur karena tadi ada teman-teman Ara ke sini dan nenek belum membersihkan piring dan peralatan lainnya, nenek akan membantu kamu, Uni.”


“Nenek tidak perlu membantu, Nenek cukup tunjukkan saja dapurnya dan aku akan mengerjakan semuanya dengan baik.”


“Ya sudah kalau begitu. Ayo!” Bibi Anjani mengantar Uni ke dapur dan Uni mulai melakukan pekerjaannya.


Di ruang tamu Nenek Anjani bertanya pada Nala tentang gadis yang barusan di bawahnya itu. Nala menceritakan semuanya tentang Uni dan kenapa Nala sampai bisa membawanya dan memperkerjakan dia di sini.


“Kasihan sekali gadis itu ya, Bu,” ucap Ara.


“Iya, dia persis dengan Ibu waktu dulu. Hanya saja dia masih bisa kuliah, oleh karena itu Ibu ingin membantunya agar dia tetap bisa melanjutkan kuliahnya biar tidak seperti ibu. Sekaligus ibu ingin memperbaiki kesalahan ibu sama dia.”


“Dia kelihatan anak yang rajin dan baik, Nala. Ya semoga saja dia juga bisa betah bekerja di sini,” lanjut bibi Anjani.


Setelah selesai membersihkan bagian dapur, Uni bertanya apa lagi yang bisa dia kerjakan. Nala memberitahu jika dia bisa membersihkan kamar Ara. Biasanya Ara sendiri yang suka


membersihkan kamarnya, hanya saja sekarang kakinya seperti ini jadi Ara tidak akan bisa membersihkan kamarnya dalam beberapa hari.

__ADS_1


__ADS_2