
Jika ketiga pasangan memiliki aktivitas mereka masing-masing yang rata-rata kencan. Maka sangat jauh berbeda dengan kedua gadis yang saat ini berjalan bersama menikmati kesendirian mereka.
"Ra, tidak kah kau merasa sepi?" tanya Betty mengendarai mobil dengan memutari taman kota sudah sekitar lima kali karena tidak memiliki tujuan kemana mereka akan pergi.
Ratna pun menghela nafas nya dan mengangguk perlahan, "Hmm, aku juga sedikit bosan. Tapi mau bagaimana lagi kita juga tidak punya tujuan." timpal Ratna.
"Kah benar. Aku bahkan sudah memutari taman kota ini entah sudah ke berapa kali nya." Balas Betty.
"Ahh tunggu, bukan kah perusahaan suami Husna berada di sekitar sini?" sambung Betty bertanya.
__ADS_1
Ratna pun mengangguk membenarkan. Lalu kemudian dia mulai merasakan firasat buruk saat melihat senyum yang terbit di bibir Betty.
"No! Jangan lakukan apa yang ada di pikiranmu, Bet. Hentikan itu sekarang. Jangan ajak aku. Turunkan aku di sini. Aku tidak mau ikut turut dalam kegilaanmu." Ucap Ratna khawatir. Dia sudah menebak apa yang akan di lakukan oleh Betty yang pasti nya sesuatu yang tidak bisa dia anggap benar.
Mungkin dulu dia akan memaklumi dan akan ikut turut melakukan nya karena kegilaan itu sudah pernah dia lakukan demi bisa mendapatkan perhatian Gilang. Dia rela menjadi jahat dan pada akhirnya dia pun hanya menerima kekalahan nya. Namun saat ini dia sudah merelakan semua nya. Dia ingin berubah menjadi lebih baik lagi. Menjadi seseorang yang tidak akan mengkhawatirkan tentang jodoh karena dia ingin menjadi seperti Husna. Yah walaupun dia akui bahwa dia tidak sebaik Husna. Dia hanya manusia penuh cela yang mencoba hidup lebih baik lagi dengan memohon permohonan sang Ilahi.
Betty pun tertawa mendengar ucapan Ratna yang bernada khawatir, "Hey, emang apa yang aku pikirkan. Aku tidak memikirkan apapun. Kau saja yang berpikiran terlalu jauh." ucap Betty.
Betty kembali tersenyum, "Hey ... Tenang lah. Aku ingin kesana bukan karena ingin melihat asisten pak Azzam. Aku ingin menumpang makan saja. Aku ingin melihat kantin perusahaan yang ada di sana. Yah walaupun juga memiliki harapan siapa tahu saja mendapat jackpot bertemu dengan tuan Jalal." ucap Betty di akhiri dengan tawa.
__ADS_1
"Ck ... Jangan bercanda Betty. Aku tidak menyukai nya. Jika kau ingin makan kenapa harus kesana? Kita bisa mencari tempat makan di sekitar sini. Jadi jangan beralasan bahwa karena perusahaan itu dekat dengan kita maka kita akan makan di sana. Lagi pula kau tahu sendiri bahwa pak Azzam belum mengumumkan nya secara resmi sebagai pemilik perusahaan itu. Hanya Husna saja yang di umumkan sebagai pewaris perusahaan keluarga nya." ucap Ratna.
"Astaga ... Apa usahaku akan gagal, Ra. Gagal sebelum berjuang? Perkataanmu itu sangat menyakitkan hingga membuat semua khayalanku terhempaskan begitu jauh." ucap Betty dengan ekspresi mengenaskan.
"Jangan dramatis, Bet. Lebih baik sekarang kita cari makan dulu di dekat sini untuk mengisi perut kita karena jika tidak segera di isi maka yakin lah kau pun bahkan tidak bisa melanjutkan khayalanmu itu." ucap Ratna.
Betty pun mendengus kesal, "Hm, baiklah. Ra ... Kenapa kau sudah seperti Husna saja. Suka bicara realistis." ucap Betty segera mencari restoran di dekat sana.
Ratna yang mendengar ucapan Betty pun hanya tersenyum saja.
__ADS_1
"Sebenar nya aku juga ingin bertemu dengan seseorang di kantor suami Husna itu, Bet. Tapi aku sadar bahwa kecil kemungkinan aku bisa melihat nya ada di sana." batin Ratna saat melewati perusahaan Azzam.