
Kini Husna dan Azzam baru saja pamit dari ruangan Gilang untuk pulang meninggalkan Gilang yang di jag aoleh Gentala di sana.
“Gen, aku mau pulang saja. Aku harus melanjutkan hidupku dan segera mengejar ketertinggalanku. Aku harus bisa lulus bersama nya agar aku bisa memiliki foto bersama nya. Setidak nya untuk terakhir kali dan sebagai kenangan yang ku miliki dengan nya. Pak Azzam benar jika aku tidak bisa memiliki nya sebagai istriku dan mengambil foto bersama nya dengan pakaian pengantin. Setidak nya aku akan memiliki foto bersama nya dengan memakai toga.” Ucap Gilang penuh semangat namun terselip rasa sedih di sana.
“Kau yakin akan pulang saja. Bukan kah kau belum benar-benar pulih. Aunty dan uncle juga memintaku untuk tetap menjagamu di sini. Aku tidak ingin menghianati mereka.” ucap Gentala.
“Ouh, ayo lah jangan begitu Gen. Aku yakin kau bisa melobi mami dan papiku. Aku ingin pulang sekarang. Bawa aku ke apartemen saja. Aku sudah sembuh. Benar-benar sembuh.” Bujuk Gilang pada sepupu nya itu.
Gentala pun hanya bisa menarik nafas panjang melihat sikap keras kepala sepupu nya itu, “Baiklah. Aku akan mengurus administrasi nya dulu.” Ujar Gentala lalu beranjak keluar dari ruangan itu. Tapi begitu dia membuka pintu ruangan perawatan Gilang itu ada juga yang hendak membuka pintu dari luar.
“Gen!”
“Dita!”
Ucap Gentala dan Andita bersamaan hingga membuat kedua orang itu sama-sama terdiam.
“Ee’ehh apa kau mau masuk? Mau menjenguk Gilang?” tanya Gentala setelah beberapa detik mereka terdiam satu sama lain.
Andita pun mengangguk, “Apa dia ada di dalam?” tanya Andita.
Gentala pun mengangguk, “Hum, masuk saja. Dia ada di dalam kok. Aku mau keluar dulu. Aku titip sepupuku itu ya.” Ucap Gentala dengan senyuman di wajah nya.
Andita pun kembali mengangguk mengiyakan ucapan Gentala itu. Lalu kedua nya pun segera fokus dengan tujuan masing-masing. Gentala segera menuju ruang administrasi untuk mengurus kepulangan sepupu nya itu. Sementara Andita dia pun segera masuk ke ruangan Gilang dengan tersenyum dan mengucap salam terlebih dahulu.
Gilang yang sedang berbaring dan membaca pesan yang di kirimkan oleh beberapa teman nya di chat aplikasi berlogo hijau itu pun seketika menoleh ke arah pintu masuk ruang rawat nya itu. Dia tersenyum melihat kedatangan Andita yang memang selama dia di rawat di sini selalu datang dengan membawa makanan atau buah di tangan nya.
“Dita, ayo duduk lah!” ucap Gilang ramah menyambut teman sekelas nya itu dan juga teman Husna.
Andita pun mengangguk lalu segera duduk di kursi yang ada di sisi ranjang Gilang, “Hum, kamu seperti nya sudah lumayan membaik. Sudah tidak pucat lagi.” Ucap Andita.
Gilang pun tersenyum, “Kau benar. Aku sedang berbahagia karena--” ucapan Gilang itu terhenti lalu dia memilih tersenyum saja.
“Ah lupakan itu. Kamu bawa apa hari ini?” tanya Gilang mengalihkan pembicaraan dan menatap kotak makan yang di bawa oleh Andita.
Andita pun tersenyum saja walaupun dia penasaran dengan apa yang membuat Gilang itu tersenyum bahagia begitu. Tapi dia hanya bisa menyembunyikan rasa penasaran nya itu di dalam hati nya saja. Tidak berani untuk bertanya lebih lanjut. Dia justru lebih memilih menunjukkan makanan yang dia bawa.
__ADS_1
“Ini bubur dari kantin restoran kampus kita. Aku membeli nya hendak ke sini tadi. Semoga kau menyukai nya.” Ucap Andita sambil membuka kotak bekal itu.
Gilang pun menegakkan tubuh nya dan memperbaiki posisi duduk nya untuk menikmati bubur yang sudah menggoda nya hanya dengan mencium aroma nya saja, “Mau aku suapi atau mau makan sendiri?” tawar Andita.
“Hum, aku makan sendiri saja.” jawab Gilang.
Andita pun mengangguk lalu segera menyediakan sendok dan di berikan nya kepada Gilang. Gilang pun menerima nya dan segera makan bubur itu dengan lahap nya karena ternyata memang enak. Bukan hanya aroma nya saja tapi bubur itu pun terasa sangat lezat di lidah nya.
“Terima kasih Dita sudah membawakan bubur selezat ini untukku.” Ucap Gilang setelah menghabiskan sekotak bubur itu.
Andita yang mendengar ucapan terima kasih dari Gilang itu pun tersenyum, “Sama-sama. Aku senang kau menyukai nya dan menghabiskan nya. Besok jika aku ke sini lagi aku akan membawakan nya untukmu.” Ucap Andita lalu membantu mengambilkan air minum untuk Gilang itu.
Gilang yang mendengar jawaban ucapan nya dari Andita itu pun seketika menggeleng, “Hum, gak usah.” Ucap Gilang.
Andita yang mendengar itu pun seketika raut wajah bahagia nya tadi mendadak sendu. Gilang menyadari hal itu.
“Eee’ehh maksudku bukan aku tak mau Dita hanya saja aku akan pulang hari ini. Aku sudah sembuh dan tidak butuh perawatan lagi jadi aku memutuskan untuk pulang saja. Kamu tidak berharap aku sakit terus menerus juga kan.” Ucap Gilang menjelaskan.
Walaupun jika dia memang tega sebenar nya dia tidak perlu menjelaskan apapun seperti yang di lakukan nya selama ini kepada Kirana dan Ratna yang selalu mencari perhatian pada nya walaupun dengan cara mereka yang berbeda. Tapi dia tahu selain Kirana yang menunjukkan rasa suka nya itu secara langsung pada nya maka sebenar nya Ratna juga sama menyukai nya. Namun entah kenapa saat ini berhadapan dengan Andita, gadis yang kadang selalu berdebat dengan nya dan kadang membuat nya kesal itu. Dia merasa aneh jika harus menyakiti hati dan perasaan gadis itu.
“Hm,, cepat lah sembuh. Dengan kau sembuh kita bisa menyelesaikan skripsi bersama-sama dan lulus sama-sama.” ucap Andita.
“Apa aku bisa melakukan nya?” tanya Gilang lirih. Mendadak sikap optimis yang dia punya itu hilang.
Andita yang sedan merapikan bekas makan Gilang itu pun menoleh lalu mengangguk menyakinkan, “Kau bisa melakukan nya. Kau itu hebat. Aku yakin kau bisa mengejar ketertinggalanmu.” Ucap Andita lembut dan menenangkan hingga membuat nya kembali tenang dan semangat nya untuk lulus bareng dengan gadis yang dia cintai itu kembali terbuka lagi.
“Terima kasih Dita.” Ucap Gilang tulus berterima kasih.
“Untuk apa?” tanya Andita.
“Untuk semua nya. Kau selalu datang menjengukku ke sini dan selalu membawakan buah dan makanan untukku. Kau tahu aku sedang patah hati tapi kau datang ke sini dan membuatku sedikit senang karena tidak kesepian lagi. Walaupun Gentala selalu bersamaku dan menjagaku selama ini tapi sebenar nya aku kesepian. Aku ingin hidup bersama mami dan papi tapi mereka sibuk dengan urusan mereka hingga lupa memiliki aku.” Ucap Gilang justru tanpa sadar mencurahkan curahan hati nya itu yang selama ini dia sembunyikan dari orang-orang dan selalu berusaha tampil baik-baik saja di depan semua nya. Hingga membuat orang banyak mengagumi nya padahal tanpa mereka tahu bahwa dia kesepian karena kedua orang tua nya yang sibuk dan tidak punya waktu untuk nya sama sekali. Bahkan saat dia sakit pun mereka tidak bisa pulang dan hanya meminta Gentala untuk menjaga nya. Untuk saja dia masih memiliki sepupu jika tidak mungkin dia akan benar-benar kesepian.
Andita yang mendengar ungkapan hati Gilang itu pun terdiam dan ikut sedih merasakan kesedihan Gilang. Ternyata orang yang perfect seperti Gilang yang banyak memiliki pengagum di kampus nya baik dari teman sekelas seangkatan dan adik kelas itu ternyata menyimpan rasa sakit nya sendiri. Kini dia baru menyadari bahwa tidak semua orang yang terlihat bahagia itu dengan bergelimangan kemewahan itu bahagia. Jika dia di minta memilih di antara pilihan menjadi anak kaya tapi tidak mendapat perhatian orang tua atau kehidupan nya saat ini yang walaupun tidak memiliki kemewahan apapun tapi dia bisa bahagia hidup berdua dengan ibu nya yang selalu menyayangi nya dan dia tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang orang tua walaupun dia hanya punya satu orang tua. Dia pasti akan tetap memilih kehidupan nya itu. Uang bisa di cari tapi kebahagiaan tidak bisa di beli. Kini dia baru mengerti bahwa ungkapan uang tidak bisa membeli kebahagiaan itu benar ada nya dan dia baru merasakan nya saat ini.
“Maaf sudah curhat padamu Dita. Lupakan apa yang aku katakan. Anggap saja kau tidak mendengarkan apapun.” Ucap Gilang.
__ADS_1
Andita menggeleng, “Gak apa-apa kok. Aku senang bisa jadi pendengar yang baik untukmu.” Ucap Andita lembut.
Gilang yang mendengar itu pun tersenyum, “Terima kasih Dita. Aku akan ingat semua kebaikanmu itu. Aku tidak akan melupakan nya. Aku pasti akan menukar kebaikanmu ini nanti jika bisa kutukuar.” Ucap Gilang tulus.
Andita yang mendengar itu pun hanya tersenyum, “Aku tidak butuh apapun Gilang. Aku hanya tidak suka saja melihatmu sedih dan sendu begitu.” Batin Andita.
“Dita, aku mau mengatakan sesuatu padamu. Aku menyukai Husna ahh bukan hanya suka tapi itu cinta. Aku menyukai nya sejak masa pengenalan mahasiswa baru. Dia yang dingin kepada orang-orang dan diam ketika tidak di ajak bicara membuat ku tertarik pada nya. Bertahun-tahun aku memendam perasaanku itu menunggu waktu untuk mengungkapkan nya saat kita lulus nanti. Tapi siapa yang tahu bahwa takdir tidak mendukungku dan justru berkata lain. Dia justru berjodoh dengan orang lain. Aku mencoba mengikhlaskan nya atau mungkin itu hanya bentuk yang kulakukan untuk berdamai dengan keadaan. Bukan kah ikhlas itu sesuatu yang mustahil. Tidak ada yang bisa benar-benar ikhlas melepaskan sesuatu yang dia cintai, yang ada hanya sebuah bentuk perdamaian yang di buat agar semua nya terlihat baik-baik saja padahal luka itu masih ada dan di buat sembuh sendiri saja.” ujar Gilang menuturkan semua perasaan nya itu kepada Andita tanpa ada yang di tutupi. Entah kenapa dia bisa mencurahkan semua perasaan nya kepada Husna itu kepada Andita yang notabene nya adalah teman Husna. Tapi satu hal yang pasti dia percaya bahwa Andita tidak akan mengkhianati nya dan dia merasa lega setelah menceritakan semua perasaan nya itu.
Andita yang mendengar penuturan perasaan Gilang kepada Husna itu pun tersenyum walaupun hati nya sakit. Munafik dia jika tidak mengakui bahwa dia tidak cemburu, tidak iri dan tidak merasakan sakit mendengarkan perasaan cinta Gilang kepada Husna. Dia sudah menduga hal ini sebelum nya bahwa Gilang itu pasti memiliki rasa cinta yang besar untuk Husna tapi dia tidak menyangka bahwa saat Gilang mengatakan nya secara langsung pada nya ternyata semua nya terasa sangat sakit sekali. Tapi dia tidak akan menyalahkan siapapun. Ini adalah perasaan nya. Cinta nya kepada Gilang itu adalah sebuah ketulusan dan hal itu tidak akan membuat nya jahat hanya untuk memiliki Gilang. Lagi pula Husna sudah bahagia dengan suami nya. Jadi kenapa dia harus merasa bersaing dengan Husna yang notabene nya adalah teman yang baik bahkan sangat baik karena sudah menolong nya. Dia tidak akan menjadi jahat hanya karena cinta nya yang di tolak dan tidak mendapat balasan. Semua orang berhak mencintai dan hal itu adalah hal yang mutlak tidak bisa di ganggu gugat oleh orang lain. Tidak masalah jika memamg Gilang menyukai orang lain yang terpenting tidak ada juga yang melarang nya untuk memiliki perasaan kepada Gilang.
“Maaf sudah mengatakan itu kepadamu Dita. Tapi aku merasa lega setelah mengatakan hal itu kepadamu.” Ujar Gilang setelah beberapa lama keheningan menyelimuti mereka.
Andita menggeleng dan tersenyum, “Gak apa-apa kok. Aku senang jadi temanmu dan jadi pendengarmu seperti apa yang sudah kukatakan sebelum nya.” Ucap Andita.
Gilang pun mengangguk tersenyum, “Dita, nanti bantu aku ya menyusun proposal dan skripsiku agar aku bisa menyusul kalian dan kita wisuda bareng.” Ujar Gilang.
Andita pun mengangguk, “Tentu!” jawab Andita tanpa penolakan sama sekali.
Setelah itu Andita pun membantu Gilang merapikan apa yang di bawa Gilang ke sini saat dia di rawat. Gilang yang melihat itu pun tersenyum, “Kau gadis baik Dita. Kau juga lumayan cantik dan manis. Kenapa aku baru menyadari hal itu.” batin Gilang memandangi Andita.
“Tapi sayang hatiku sedang dalam keadaan patah dan terluka hingga membuatku sedikit trauma untuk mencintai seseorang dan membuka hati untuk nya.” Lanjut batin Gilang lagi.
“Hum, sudah selesai. Ohiya kenapa Gen belum kembali? Apa iya lama mengurus administrasi ya.” Tanya Andita kepada Gilang dan dia meletakkan satu tas pakaian di sofa yang ada di sana.
“Mungkin.” Jawab Gilang.
Sementara di luar pintu Gentala tersenyum memandangi interaksi Gilang dan Andita itu. Dia sudah sekitar 10 menit yang lalu di sana. Tidak langsung masuk dan justru memilih untuk mengamati sepupu nya itu bersama Andita.
“Semoga Dita bisa jadi obat penyembuh untuk semua luka di hatimu itu Lang.” batin Gentala lalu dia pun membuka pintu.
“Maaf lama!” ucap Gentala.
“Gak apa-apa. Bagaimana?” tanya Gilang.
“Sudah beres. Kau sudah bisa pulang tapi sebentar nanti akan ada pemeriksaan akhir.” Jawab Gentala tersenyum. Gilang Andita pun tersenyum mendengar hal itu.
__ADS_1