
Aro dan Uni duduk berdua di meja cafe yang memang hanya berisi dua orang. Mereka tampak menikmati makanan yang mereka pesan. Aro sesekali menyuapi Uni, tapi Uni tampak tidak suka dengan sikap Aro.
"Aro, jangan begitu."
"Memangnya kenapa? Aku hanya ingin bersikap baik sama kamu."
"Iya aku tau, tapi jangan di tempat umum begini, aku malu, Aro."
Aro malah celingukan. "Malu sama siapa? Bukannya hal itu wajar di lakukan oleh sepasang kekasih? Kitakan sudah pacaran.
"Memangnya kalau sudah pacaran boleh bersikap seenaknya walaupun di tempat umum?"
"Aku masih tau batasan Uni. Lagian aku hanya meniru gaya orang berpacaran. Nanti kamu bilang aku pria es yang tidak peka dengan keadaan. Sekarang kamu malah tidak suka aku begini. Dasar cerewet!"
Uni mengerucutkan bibirnya. "Kamu memang pria es. Kamu kan kadang memang tidak peduli, jadi sewaktu kamu bersikap peduli, kamu jadinya aneh."
"Kok aneh? Cara orang kalau pacaran itukan suap-suapan, apanya yang aneh?"
"Sudah! Pokoknya aku tidak mau kalau kamu bersikap romantis di tempat umum, kita biasa saja."
"Ya sudah." Seketika wajah Aro tampak dingin.
__ADS_1
"Tapi tidak perlu menampakkan wajah dingin kamu begitu."
"Dasar cerewet! Mau kamu apa sebenarnya? Kenapa juga aku bisa jatuh cinta sama kamu?"
"Menyesal?"
"Sedikit," jawabnya santai.
Uni kembali mengerucutkan bibirnya kesal. "Ya sudah! Tidak perlu diteruskan saja pacarannya saja."
"Memang, seharusnya kita tidak pacaran, kita menikah saja."
"Apa? Menikah? Kamu jangan bicara yang tidak-tidak. Bukannya kita masih belum menyelesaikan kuliah. Lagian hubungan kita juga belum tentu direstui oleh kedua orang tua kamu."
"Menebak saja."
"Dasar gadis bodoh! Mereka pasti menyetujui hubungan kita. Siapa yang tidak mau memiliki menantu yang baik, polos dan pandai memasak seperti kamu?"
"Kalaupun menikah, aku tidak mau kamu mengandalkan harta kedua orang tua kamu. Aro. Aku mau kita bisa mandiri dan kamu benar-benar mapan untuk menikahiku."
"Kamu tenang saja, begini-begini aku ini seorang direktur utama di perusahaan yang aku bangun sendiri dengan Ryan. Bahkan aku sudah bisa melunasi uang yang aku pinjam pada ayahku."
__ADS_1
"Benarkah?" Uni mengerutkan kedua alisnya.
"Wajah kamu jangan begitu." Aro mencubit hidung Uni. "Aku tidak akan membohongi kamu. Apa kamu tidak mengenal aku? Aku juga tidak akan mungkin memanfaatkan atau berfoya-foya dengan harta ayahku."
"Iya-iya, aku percaya."
"Bagus kalau begitu. Jadi tidak lama kita akan menikah saja, dan tentang kuliah kamu nanti akan menjadi tanggung jawabku."
"Tidak mau! Kita tunggu lulus saja, lagian aku juga ingin lulus terus bekerja, jadi aku tidak hanya mengandalkan kamu saja Aro."
"Kamu sudah sepatutnya mengandalkan aku kalau aku dan kamu sudah menikah." Uni hanya terdiam. "Kenapa diam? Kalau kamu sudah menikah denganku, tentu saja kamu adalah tanggung jawabku, Uni."
"Apa aku tidak boleh bekerja?"
"Tidak perlu! Kamu di rumah saja menunggu aku pulang kerja, seperti mamaku."
"Jadi, buat apa aku kuliah sampai lulus?"
Aro menghela napasnya pelan. "Ya untuk mengajari anak-anak kita nantinya, Uni. Kalau kamu bekerja dan berkenalan dengan orang lain, aku pasti tidak akan suka."
"Kenapa mikirnya sampai sana?"
__ADS_1
"Harus!
"Uni," terdengar suara seorang wanita menyapa Uni dari belakang. Uni dan Aro melihat dan Uni tampak terkejut