My Secret Love

My Secret Love
67


__ADS_3

“Mas, lanjut cerita nya. Setelah itu apa lagi. Setelah mas mengetahui semua nya. Apa lagi yang mas lakukan?” tanya Husna saat dia mengangkat kepala nya dari bahu sang suami.


“Nanti saja lanjut nya ya sayang. Ini sudah malam. Jika kamu ingin bertanya pun nanti besok saja.” balas Azzam.


Husna yang mendengar ucapan suami nya itu pun segera menegakkan tubuh nya dan menatap lekat sang suami, “Gak boleh mas. Mas sudah janji padaku tadi mau menceritakan semua nya. Lalu setelah membuatku penasaran mas begitu saja menyudahi nya. Itu nama nya tidak bertanggung jawab mas. Lagi pula aku tidak akan bisa tidur jika semua pertanyaan atau apapun yang membuatku penasaran tidak menemukan jawaban nya.” Ujar Husna.


“Mas, akan memelukmu. Kamu pasti akan tertidur sayang. Kita lanjut saja besok. Ini sudah malam. Suhda hampir jam sembilan loh sayang.” ucap Azzam melihat jam di ponsel nya.


“Ck, baiklah!” balas Husna pasrah. Dia malas berdebat lagi dengan suami nya itu. Lagi pula dia pasti tidak akan menang jika suami nya itu sudah memutuskan keputusan. Jadi sebagai istri yang baik maka menurut saja adalah pilihan yang bijak.


“Hmm, semoga saja aku bisa tidur.” Gumam Husna tapi masih bisa di dengar oleh Azzam.


Azzam yang mendengar itu tentu saja dia tersenyum lalu segera menggendong istri nya itu masuk ke dalam kamar. Husna pun mengalungkan tangan nya di leher suami nya itu dan menatap wajah tampan sang suami.


“Mas, gelas nya bagaimana?” tanya Husna mengkhawatirkan gelas bekas minuman mereka di balkon saat Azzam membaringkan nya di ranjang.


Azzam pun terkekeh mendengar kekhawatiran istri nya itu terhadap gelas, “Itu hanya gelasloh sayang. Tidak masalah dia berada di balkon.” Ucap Azzam.


Husna menggeleng, “Ih gak boleh mas. Nanti jin minum di gelas itu bagaimana. Aku cemburu mas jika dia minum di bekas bibirmu.” Ujar Husna menggemaskan.


Azzam pun kembali terkekeh mendengar alasan istri nya itu, “Kamu sangat menggemaskan sayang. Baiklah mas akan segera memasukkan gelas itu ke kamar. Apa itu sudah cukup.” Tanya Azzam dan Husna pun mengangguk.


“Dasar istriku.” Ucap Azzam lalu dia kembali ke balkon kamar nya itu untuk mengambil gelas mereka dan segera meletakkan nya di meja yang ada di kamar nya itu.


“Apa sudah cukup?” tanya Azzam.


“Hum, itu lebih dari cukup.” Jawab Husna.


Azzam pun tertawa, “Ayo wudhu sayang.” ajak Azzam.


“Gendong!” pinta Husna.


Azzam pun terkekeh, “Sejak kapan istri mas ini jadi manja begini sih? Emm, tapi mas suka.” Ucap Azzam lalu segera menggendong sang istri menuju toilet.


“Mas kenapa tanya sejak kapan aku manja. Bukan kah aku memang manja. Mungkin sejak usia remajaku. Bukankah aku adalah Azarine-mu.” Balas Husna dalam gendongan suami nya itu.


Azzam pun mengangguk, “Yah, kau itu Azarine-ku. Istriku. Kesayanganku dan segala nya.” Ujar Azzam.


Kali ini Husna yang tertawa. Lalu setelah itu kedua nya pun segera berwudhu. Salah satu aktivitas rutin yang tidak pernah mereka tinggalkan jika hendak tidur.


***


Keesokkan pagi nya, selepas sarapan karena memang masih suasana week end. Husna dan Azzam pun setelah sarapan mereka bersantai di ruang keluarga.


“Mas, kapan aku mengolah skripsiku jika aku begini terus.” Ucap Husna menyuapi suami nya dengan camilan di tangan nya. Satu hal yang baru Azzam tahu kebiasaan buruk yang di miliki oleh sang istri yaitu suka ngemil walaupun tengah malam. Akibat nya dia yang menerapkan pola hidup sehat pun jadi ikut-ikutan terjangkit virus istri nya itu. Seperti saat ini.


“Skripsi? Itu gampang sayang. Mas yakin hanya dalam waktu seminggu saja kamu pasti sudah selesai. Ini Week end. Kita harus menikmati waktu week end kita dengan baik dan bersantai. Lagi pula untuk tenggang wisuda masih hampir dua bulan lagi kan. Jadi masih lama sayang.” ucap Azzam.

__ADS_1


Husna pun hanya mengangguk saja, “Satu hal yang baru ku ketahui dari mas Azzam. Mas itu suka menunda sesuatu.” ucap Husna.


Azzam yang mendengar ucapan sang istri pun hanya tersenyum, “Satu hal yang batu mas ketahui tentangmu juga sayang. Kau itu suka ngemil. Jangan sering-sering ya sayang. Kasihan tubuhmu. Kau sudah kecil tambah kecil lagi.” Ucap Azzam.


“Mas gak suka yaa aku yang begini?” tanya Husna balik. Memang dasar sifat perempuan suka sensitif terkait berat badan.


“Bukan begitu sayang. Mas suka apapun bentukmu. Kamu selalu cantik di mata mas. Tapi kesehatan adalah nomor satu sayang.” ucap Azzam.


Husna pun mengangguk, “Aku mengerti mas. Apa aku harus konsultasi pada ahli gizi mas agar bentuk tubuhku bertambah sedikit?” tanya Husna.


Azzam menggeleng, “Gak usah sayang. Kamu sudah cantik seperti ini.” balas Azzam lembut yang masih mengira bahwa istri nya itu masih menganggap serius perkataan nya.


“Mas, aku tidak marah kok. Aku memang ingin memiliki bentuk tubuh yang lumayan berisi. Aku memang harus menghubungi ahli gizi seperti nya.” Ucap Husna serius. Dia ingin melakukan itu memang bukan karena sensitif atau menganggap serius ucapan sang suami tapi dia memang ingin memiliki tubuh yang sedikit berisi.


“Hum, jika memang begitu. Terserah padamu saja sayang. Buat senyamanmu saja. Jangan kau melakukan ini hanya karena orang lain. Ingat saja mas akan selalu mencintaimu apapun dirimu.” Ucap Azzam.


“Aku juga mencintaimu mas.” Balas Husna.


Azzam pun gemas mendengar ucapan cinta dari istri nya yang selalu saja membuat hati nya bergetar hingga tidak tahan untuk memberikan kecupan penuh kasih di bibir istri nya itu. Husna pun menyambut ciuman suami nya itu dengan lembut. Kedua nya larut dalam ciuman yang lembut tapi intens.


“Mas, aku ingin dengar kelanjutan cerita nya. Nanti aku akan bertanya jika aku sudah mendengar keseluruhan cerita nya. Jujur saja aku juga tidak mengingatmu mas. Aku ingin tahu penyebab hal itu.” ucap Husna setelah tautan bibir mereka itu terlepas.


Azzam pun tersenyum lalu memeluk erat istri nya itu, “Apa istri mas ini masih saja penasaran?” tanya Azzam.


“Tentu saja mas. Pertanyaan macam apa itu coba. Kau menyiksaku dengan tidak memberitahuku mas. Untung saja aku sedikit memiliki stok kesabaran sehingga rasa penasaranku itu bisa di tunda beberapa jam. Tapi untuk sekarang aku tidak ingin penundaan apapun mas. Aku ingin mendengarkan semua nya.” Ucap Husna tegas.


“Hum, semua nya. Aku ingin tahu semua nya. Ahh mulai saja dari setelah pulang dari kediaman mami dan papi. Apa yang mas lakukan setelah itu?” ujar Husna.


Azzam terkekeh mendengar ucapan istri nya itu, “Itu berarti memang mulai dari awal sayang. Huh, baiklah mas akan mendongeng lagi. Apa nyonya sudah siap mendengarkan nya?” tanya Azzam dengan nada canda nya.


“Sudah siap tuan!” balas Husna menimpali candaan suami nya itu.


“Setelah mas kembali dari kediaman utama tentu saja mas segera ke kediamanmu untuk melamarmu. Mas tidak ingin kehilanganmu. Tapi setelah menurunkan Zahra di rumah ini. Dia juga memang tidak ingin ikut dan tidak bertanya mas mau kemana.” Ucap Azzam memulai cerita nya.


Flash back on


Setelah Azzam dan Zahra mengendarai mobil sekitar kutang lebih satu jam. Akhir nya mereka tiba kembali di kediaman mereka saat ini. Hanya Zahra saja yang turun tanpa menoleh pada abang nya kaena abang nya itu sudah mengatakan ada urusan penting lain yang harus dia urus. Selain itu juga Zahra tidak ingin tahu urusan apa yang akan abang nya lakukan. Tapi satu hal yang dia yakini bahwa abang nya itu tidak akan melakukan sesuatu yang buruk atau membahayakan orang lain. Abang nya itu adalah pengganti orang tua nya. Penjaga nya. Panutan nya. Abang nya adalah kakak terbaik versi nya. Jadi untuk apa meragukan abang nya itu.


“Kamu yakin tidak mau ikut dek?” tanya Azzam sedikit berteriak.


Zahra pun menoleh kepada abang nya itu lalu kemudian dia menggeleng, “Aku percaya pada abang kok. Abang pasti melakukan hal baik yang tidak akan mungkin membahayakan orang lain.” Jawab Zahra.


“Aku mau di rumah saja bang. Abang pergi lah dan selesaikan urusan pentingmu itu.” sambung Zahra.


Azzam yang mendengar ucapan adik nya itu pun segera mengangguk dan dia pun segera pamit pergi. Tidak lama mobil Azzam pun segera meninggalkan kediaman nya itu menuju kediaman Husna. Sahabat masa kecil nya yang ternyata kini adalah mahasiswi nya. Gadis yang sudah menarik perhatian nya di pertemuan pertama itu ternyata adalah gadis dari masa kecil nya yang kadang datang dalam mimpi nya.


Azarine Salsabila Husna, nama yang tidak asing dalam pendengaran nya dan dalam memori nya itu ternyata memang Azarine-nya. Dia tidak ingin kehilangan Azarine-nya lagi. Semua harus berjalan sesuai keinginan nya di masa remaja nya. Dia akan melakukan semua nya dengan baik. Menjadikan sahabat masa kecil nya sebagai istri nya dan pendamping hidup nya. Kini kedatangan nya bukan sebagai sahabat melainkan sebagai seorang pria yang datang melamar wanita nya. Walaupun mereka berjanji untuk bertemu di Haqia Shopia tapi dia tidak bisa menunggu hal itu. Nanti saja dia wujudkan janji itu jika mereka sudah menikah. Untuk kali ini urusan yang paling mendesak yaitu menjadikan Azarine nya sebagai milik nya seutuh nya.

__ADS_1


Kurang dari setengah jam akhir nya kini Azzam sudah tiba di kediaman mewah yang memiliki pagar tinggi. Azzam segera menurunkan kaca mobil nya itu dan menyapa penjaga kediaman mewah itu. Kediaman mewah milik sahabat nya yang saat ini menjelma sebagai gadis penuh misterius.


“Apa perlu apa tuan muda?” tanya penjaga itu dengan ramah.


“Saya Azzam salah satu dosen Azarine Salsabila Husna. Saya datang ke sini ingin bicara dengan orang tua nya.” Jawab Azzam ramah.


“Ingin bicara dengan tuan dan nyonya. Hum, tunggu sebentar tuan muda. Saya hubungi dulu tuan dan nyonya apa mereka mengizinkan anda untuk bertamu.” Ujar penjaga itu.


Azzam pun mengangguk. Kurang lebih lima menit dia menunggu akhirnya penjaga itu mendekati nya dan mempersilahkan nya masuk.


Azzam pun segera masuk ke dalam kediaman mewah itu yang memang tidak asing untuk nya. Dia ingat sering lari-larian di halaman itu bersama Azarine.


Azzam segera turun dari mobil nya dan dia pun segera menuju pintu masuk dan mengucap salam yang ternyata langsung di sambut oleh abi Syarif.


“Assalamu’alaikum abi!” salam Azzam penuh hormat. Dia ingat siapa laki-laki di hadapan nya itu. Abi dari sahabat nya.


“Wa’alaikum salam nak--”


“Azzam, abi. Ini Azzam Faruq Munawwir.” Ucap Azzam menyebutkan nama lengkap nya.


“Azzam Faruq Munawwir? Apa kau putra nya Fitri dan Haidar nak?” tanya umi Balqis yang datang dari arah dapur dan mendengar Azzam menyebutkan nama lengkap nya. Nama yang tidak asing sebagai sahabat putri nya.


Azzam pun menatap umi Balqis lalu dia mengangguk, “Benar umi.” Balas Azzam.


“Ahh nak. Kau sudah sebesar ini. Bukan kah dalam berita yang terdengar kalian--”


“Itu cerita nya panjang umi. Alhamdulillah Azzam dan Zahra masih di berikan kesempatan hidup sehingga kini bisa melihat umi dan abi.” Ucap Azzam.


“Ahh nak. Ayo duduk lah nak.” ucap umi Balqis mempersilahkan Azzam duduk. Saking terharu nya dia melihat Azzam anak dari tetangga nya beberapa tahun lalu hingga lupa mempersilahkan tamu nya itu untuk duduk.


Azzam pun segera duduk dan kini berhadapan dengan abi Syarif dan umi Balqis, “Apa kamu benar anak nya Fitri dan Haidar nak? Sahabat kecil nya putriku?” tanya abi Syarif dengan tatapan menyelidik.


Azzam yang mendapat pertanyaan itu pun tersenyum saja lalu dia mengangguk, “Benar abi. Lihatlah!” ucap Azzam.


“Dia memang Azzam bi. Garis wajah nya itu walaupun kini dia sudah bertambah tampan dan dewasa tapi garis wajah kecil nya itu masih ada. Terutama warna bola mata nya yang tidak akan bisa di bohongi. Itu sudah menjelaskan semua nya.” Ujar umi Balqis.


Abi Syarif pun mengangguk mendengar ucapan sang istri, “Nak, apa kau salah satu dosen di kampus Husna?” tanya abi Syarif yang memang tadi hanya mendapat laporan bahwa ada dosen putri nya yang ingin bertamu dan kini yang ada di hadapan nya justru anak dari tetangga mereka.


Azzam kembali mengangguk, “Benar abi. Azzam adalah salah satu dosen di kampus Azarine yang baru saja pindah kesana dua bulan lalu dan kini Azzam menjabat juga sebagai dosen pembimbing dari Azarine.” Jelas Azzam.


“Apa itu arti nya kalian sudah bertemu?” tanya umi Balqis terkejut.


Azzam mengangguk, “Tentu umi. Tapi dia seperti nya tidak mengingat saya.” jawab Azzam jujur.


Abi Syarif tersenyum, “Tentu saja dia tidak mengingatmu nak. Memori nya di hapus karena sedih mendengar berita tentangmu yang tiada. Sahabat nya pergi meninggalkan nya. Dia bersedih terus menerus hingga sering bolak balik rumah sakit dan pada akhir nya kami meminta untuk menghapus memori nya saja. Kami hanya menyimpan memori nya saat kalian masih kecil. Jadi yang dia ingat hanya saat masalah kecil kalian.” jelas abi Syarif.


Flash back of

__ADS_1


__ADS_2