My Secret Love

My Secret Love
42


__ADS_3

“Azarine, apa bisa mas menciummu?”


Itu bukan lah permintaan izin tapi sebuah keinginan yang minta di penuhi. Hasrat itu ada di pelupuk mata Azzam. Sungguh, dia ingin melakukan itu. Naluri pria nya menginginkan itu. Tapi berusaha untuk di kendalikan karena tidak ingin membuat istri nya itu menganggap nya apa.


Husna yang mendapat pertanyaan itu dari suami nya pun terdiam lalu kemudian memandangi wajah suami nya itu yang menatap nya dengan hasrat di sudut mata nya. Sungguh, dia takut dan malu untuk melakukan itu padahal hanya sebuah ciuman saja. Bukan kah suami nya itu sudah mencium nya. “Apa kah ciuman di kening bukan lah ciuman“ batin Husna.


Azzam masih tetap dalam posisi nya memandangi wajah cantik, imut dan manis milik istri nya itu. Wajah yang membuat nya tidak bisan untuk menatap nya. Dia menatap wajah itu dengan lekat untuk menemukan persetujuan di sana tapi yang bisa dia tangkap dari kedua bola mata indah itu adalah sebuah ketidaksiapan.


Azzam pun mencoba menarik nafas untuk mengendalikan gairah nya yang sudah naik. Dia tidak ingin melakukan sesuatu tanpa persetujuan istri nya itu walau pun sangat ingin.


Husna yang melihat apa yang di lakukan oleh suami nya itu, “Emm, mas lakukan.” Ucap Husna pasrah dan tulus. Dia tidak ingin berdosa lagi dengan menolak keinginan suami nya itu. Lagi pula saat ini dia sedang palang merah dan itu pasti sudah menjadi penghalang untuk suami nya itu jika nanti hasratnya naik. Suami nya itu hanya meminta ciuman dari nya jadi kenapa tidak di lakukan.


Azzam yang mencoba untuk mengendalikan hasrat nya itu begitu mendengar ucapan yang keluar dari bibir istri nya itu pun kembali menatap lekat untuk memastikan kerelaan hati dari istri nya atas keputusan yang dia ambil, “Kau yakin?” tanya Azzam memastikan tapi jauh di lubuk hati nya yang paling dalam berharap bahwa istri nya itu tidak akan berubah pikiran dengan keputusan yang dia ambil. Sungguh, jika istri nya itu hanya memberi sebuah harapan pada nya itu akan membuat nya tersiksa menahan hasrat nya. Percaya lah pertanyaan yang dia ajukan itu tidak membutuhkan jawaban penolakan. Itu hanya sebuah basa basi saja.


Husna memilih untuk tidak menjawab pertanyaan suami nya itu karena dia merasa malu untuk menjawab nya. Dia lebih memilih untuk menutup mata nya menyambut apa yang akan di lakukan oleh suami nya. Jujur saja hal itu dia ketahui dari drama yang dia tonton. Adegan kissing dalam sebuah drama pasti bukan lah sesuatu hal yang asing. Walau pun Husna tidak begitu menekuni drama tapi dia tetap lah gadis yang pasti nya kadang memiliki waktu untuk bosan dan dia pun mengisi nya dengan menonton drama. Apa lagi dia yang seorang penulis kadang untuk menemukan inspirasi dia menonton saat otak nya stuck tidak menemukan ide.


Azzam yang melihat istri nya menutup mata pun sedikit menyunggingkan senyum di bibir nya. Dia tidak butuh jawaban lagi karena apa yang di lakukan oleh istri nya itu adalah sebuah jawaban untuk nya melakukan apa yang dia inginkan. Azzam pun mendekatkan wajah nya dengan wajah istri cantik nya itu hingga bibir kedua nya saling bertemu satu sama lain. Percaya lah ini bukan hanya first kiss untuk Husna saja tapi untuk Azzam juga. Dia baru pertama kali melakukan adegan kissing seperti itu dan seperti harapan nya yang memang hanya akan melepas first kiss nya untuk istri nya kelak maka itu lah yang terjadi saat ini.


Azzam dengan mengikuti naluri nya sebagai lelaki akhir nya dari sebuah pertemuan bibir yang awalnya hanya kecupan saja kini mulai bertambah naik level nya menjadi sebuah kecupan yang dalam dan semakin dalam hingga menjadi sebuah *******. Sungguh, baik Azzam maupun Husna larut dalam pelepasan first kiss mereka itu satu sama lain. Sama-sama tidak berpengalaman dalam hal ini dan hanya mengikuti naluri saja tapi ternyata ciuman itu terasa candu bagi keduanya.


Baik Husna dan Azzam baru melepas ciuman mereka itu setelah kedua nya hampir kehabisan nafas, “Maaf!” ucap Azzam lalu mengelap sisa saliva di bibir istri nya itu dengan ibu jari nya. Sungguh bibir mungil milik istri nya itu kini terlihat seksi karena ciuman mereka yang membuat bibir Husna yang memang sudah pink alami kini semakin pink.


“Terima kasih!” ucap Azzam tulus sambil memandangi wajah istri nya itu.


Husna pun tersenyum malu menatap suami nya itu. Kini dia sudah melepas first kiss untuk suami nya itu seperti impian nya.


“Mas, jangan tatap Husna seperti itu. Malu.” Ungkap Husna.


Azzam pun tersenyum lalu segera membaringkan tubuh nya di samping istri nya lalu dia memeluk Husna. Lebih tepat nya membawa istri nya itu ke pelukan nya.


“Kita istirahat di sini dulu yaa. Nanti kita pulang nya.” Ucap Azzam berbisik di telinga istri nya itu yang membuat Husna meremang karena itu adalah titik sensitive nya.


Azzam memeluk istri nya itu dan mencoba untuk menutup mata. Mencoba untuk melupakan rasa manis yang dia dapatkan dari ciuman bersama istri nya itu. Ciuman pertama yang mengesankan.


“Mas, Husna tidak bisa tidur. Husna sesak.” Protes Husna karena Azzam memeluk nya erat dan jujur saja dia juga merasa ini sangat canggung walau tadi apa yang mereka lakukan itu bagi Husna sudah intim.


Azzam yang mendengar ucapan istri nya itu pun melonggarkan pelukan nya tapi tidak melepaskan karena memeluk istri nya ketika tidur itu sudah menjadi kebiasaan nya mulai sekarang dan seperti nya adegan kissing juga akan menjadi candu untuk nya. Jujur saja dia ingin mengulangi nya tapi takut jika istri nya itu belum siap dan kaget dengan apa yang dia lakukan.


***


Kini Azzam dan Husna setelah melaksanakan sholat berjamaah di kediaman Azzam mereka pun pulang ke kediaman utama. Dalam perjalanan pulang suasana hati kedua nya itu pun menjadi adem seperti menikmati waktu mereka dengan melihat pemandangan jalan yang mereka lewati.


Sekitar kurang lebih 20 menit saja akhir nya mereka tiba di kediaman utama dan seperti biasa Azzam membukakan pintu mobil untuk istri nya itu. Lalu Azzam segera menggenggam tangan Husna dan kemudian mereka masuk. Husna pun hanya membiarkan saja apa yang di lakukan oleh suami nya itu. Lagian dia merasa nyaman saat suami nya itu menggenggam tangan nya.


“Assalamu’alaikum.” ucap Husna dan Azzam bersamaan.


“Wa’alaikum salam.” Jawab umi Balqis yang memang berada di pintu masuk itu. Umi Balqis tersenyum melihat genggaman tangan putri dan menantu nya itu.


Husna dan Azzam pun segera menyalami dan mencium punggung tangan umi Balqis dan abi Syarif yang berada di sana.


“Umi, Zahra di mana?” tanya Azzam karena tidak melihat adik nya itu.


“Aku di sini abang.” Jawab Zahra yang tiba-tiba saja datang ke sana.


Ke empat orang di sana pun tersenyum melihat tingkah Zahra yang dari dapur dengan membawa makanan di tangan nya, “Kakak ipar, coba kau cicipi makanan buatanku dengan para bibi di dapur ini.” Ucap Zahra yang langsung mendekati Husna.


Husna pun tersenyum lalu mengambil salah satu makanan yang di bawa oleh adik ipar nya itu. Husna segera duduk dan memakan nya tidak lupa tetap membaca basmallah.


“Bagaimana? Apa enak?” tanya Zahra tidak sabar ingin mendengar ucapan kakak ipar nya itu atas hasil masakan buatan nya dengan meminta bantuan kepada para asisten di rumah itu. Dia memang sangat antusias belajar memasak.


Husna pun menyelesaikan makanan yang ada di mulut nya itu lalu menatap adik ipar nya, “Kamu mau komentar baik atau buruk atau komentar jujur?” tanya Husna lembut.


Zahra pun diam berpikir, “Hum, komentar jujur aja deh.” Jawab Zahra.


Husna pun tersenyum lalu mengangguk, “Sebenar nya makanan ini sudah enak secera keseluruhan hanya saja sedikit keasinan.” Jawab Husna jujur.


Azzam yang mendengar ucapan istri nya akan rasa asin itu pun seketika mengambil satu makanan dari piring yang di bawa adik nya itu dan mencicipi nya, “Dek, ini bukan sedikit keasinan tapi memang asin.” Ucap Azzam kepada adik nya itu.


“Mass!” ucap Husna tidak ingin membuat adik ipar nya itu kecewa.


“Hum, gak apa-apa kok dek. Jika dia di makan dengan nasi nanti tidak akan ke rasa itu asin nya.” Sambung Husna.


Zahra yang mendengar itu pun tersenyum lalu memeluk Husna, “Kakak ipar, kenapa kau tetap memakan nya walau pun itu sangat asin. Maaf, aku tidak handal.”


Umi Balqis segera mendekati Zahra dan menepuk punggung gadis itu, “Gak apa-apa nak. Namanya juga belajar. Tidak ada yang langsung tahu jika belajar. Jika kita langsung tahu maka untuk apa belajar.” Ucap umi Balqis.

__ADS_1


“Hum, itu benar dek. Kakak juga pertama kali belajar memasak seperti dirimu bahkan rasa nya lebih parah.” Ucap Husna tidak ingin membuat adik ipar nya itu bersedih.


“Apa benar begitu?” tanya Zahra menatap Husna.


Husna mengangguk, “Kalau tidak percaya tanyakan kepada umi dan abi yang saat itu jadi korban makanan kakak.” Ucap Husna tersenyum menatap kedua orang tuanya.


“Apa itu benar umi?” tanya Zahra menatap umi Balqis yang di jawab dengan anggukan.


“Iya itu benar nak.” Jawab Umi Balqis.


“Sudah, jangan sedih lagi. Sekarang ayo kita perbaiki makananmu itu. Kita masih bisa mengubah nya kok.” Ucap Husna.


Zahra yang mendengar itu pun seketika tersenyum bersemangat kembali, “Benar bisa di perbaiki lagi kak?” tanya Zahra senang.


Husna pun mengangguk, “Ayo kita eksekusi.” Ucap Husna lalu melepas tas di bahu nya.


“Mas, titip yaa.” Ujar Husna memberikan tas nya itu kepada sang suami yang hanya di jawab oleh Azzam dengan senyuman.


Husna pun segera menggandeng adik ipar nya itu menuju dapur. Azzam yang melihat itu tersenyum. Dia melihat bahwa adik nya itu sedang bahagia menikmati hari nya. Sama seperti hari nya yang juga bahagia dengan menikahi Husna walaupun pernikahan mereka belum di sempurnakan.


***


Kini Husna masuk ke kamar nya setelah membantu Zahra memperbaiki makanan nya itu. Dia masuk ke kamar nya dan tersenyum melihat suami nya yang berbaring di ranjang.


“Sudah selesai?” tanya Azzam turun dari ranjang dan mendekati istri nya itu yang langsung mengecup pipi Husna.


“Mas, aku belum mandi. Bau!” ucap Husna protes tidak percaya diri.


Azzam yang mendengar itu pun hanya tersenyum dan lebih memilih mengecup seluruh wajah istri nya itu tentu tidak lewat bibir istri nya pun di kecup.


“Gak mau kok. Masih wangi.” Ucap Azzam setelah mengecup seluruh wajah Husna itu.


“Bau kok. Bau bumbu dapur. Mas sudah mandi.” Ucap Husna.


“Terima kasih sudah menyayangi adikku.” Ucap Azzam.


Husna pun tersenyum, “Perkataan macam apa itu mas. Zahra adalah adikmu yang berarti adikku juga. Aku senang memiliki teman ngobrol seperti Zahra.” Ucap Husna lalu melepas tangan suami nya itu yang berada di pinggang nya.


“Aku mau mandi dulu ya mas.” Ucap Husna lalu dia mengecup pipi suami nya itu sekilas dan segera berlari menuju kamar mandi karena malu dengan apa yang dia lakukan.


Azzam pun tersenyum dengan apa yang di lakukan istri nya itu, “Dia sangat menggemaskan.” Ucap Azzam sambil mengusap pipi nya yang di kecup oleh Husna.


***


Azzam yang berada di ranjang pun menatap istri nya itu yang terlihat sangat cantik, seksi dengan batrobe nya itu.


Husna menyadari tatapan suami nya itu, “Mas, jangan menatap Husna begitu.” Ucap Husna lalu dia segera berlari menuju walk in closet.


Azzam pun tersenyum, “Kenapa dia sangat menggemaskan begitu. Ya Allah istriku itu sangat cantik.” Ucap Azzam.


Lalu tidak lama setelah itu Husna keluar dengan gamis nya yang memang sudah jadi pakaian hari-hari nya itu. Husna segera menuju meja rias nya dengan handuk di kepala nya yang membungkus rambut nya hingga leher nya yang cantik pun terekspos. Azzam segera turun dari ranjang nya dan mendekati istri nya itu di meja rias nya.


“Mas, mau ngapain?” tanya Husna saat suami nya itu sudah berada di belakang nya.


Azzam tidak menjawab pertanyaan istri nya itu dan lebih memilih melepaskan handuk di kepala istri nya itu dan mulai mengeringkan rambut Husna dengan handuk, “Mas, biarkan saja. Husna bisa sendiri kok.” Ucap Husna pelan.


“Gak apa-apa saya ingin melakukan nya sayang. Jangan halangi saya melakukan nya.” Ucap Azzam.


Husna pun akhirnya menurut saja dan menikmati apa yang di lakukan oleh suami nya itu. Sungguh, apa yang saat ini sedang di lakukan suami nya itu kepada nya seperti apa yang ada di novel yang sering dia buat. Dia seperti menjadi sebuah tokoh utama dalam novel nya. Dia tidak pernah menyangka akan merasakan apa yang di rasakan oleh toko fiksi yang sering dia ciptakan.


Azzam mengeringkan rambut hitam panjang milik istri nya itu dengan telaten. Sungguh baru kali itu dia melihat rambut istri nya itu yang ternyata sangat cantik ketika istri nya itu mengerai rambut nya.


“Sudah selesai.” Ucap Azzam setelah memastikan bahwa rambut istri nya itu sudah kering.


“Terima kasih suamiku.” Ucap Husna tulus.


Azzam pun tersenyum lalu memeluk istri nya itu dari belakang, “Sama-sama.” Jawab Azzam.


***


Singkat cerita, kini selepas isya Husna dan Azzam sudah siap pergi dengan pakaian mereka yang couple.


“Mas, kau tampan seperti itu.” puji Husna melihat suami nya yang memakai pakaian casual.


Azzam pun tersenyum lalu membawa Husna ke dalam pelukan nya, “Terima kasih. Kamu juga sangat cantik sayang. Mas yakin anak kita akan sangat cantik seperti dirimu dan memiliki bola mata yang cantik seperti milikmu.” Ucap Azzam lalu mengecup mata istri nya itu. Mata yang sangat cantik yang entah kenapa menurut nya dia pernah melihat bola mata itu tapi entah di mana.

__ADS_1


Husna pun tersenyum lalu melepas pelukan di antara mereka lalu mereka segera turun ke lantai bawah dan segera berpamitan kepada kedua orang tua Husna.


“Hati-hati nak.” Ucap abi Syarif.


“Zahra, kamu gak ikut?” tanya Husna menatap adik ipar nya itu yang serius dengan buku resep di tangan nya. Seperti nya adik ipar nya itu sedang semangat-semangatnya belajar memasak.


Zahra segera menatap Husna dan Azzam lalu menggeleng, “Hum, Zahra gak ingin ikut. Zahra di rumah saja. Malas jalan. Lagi pula Zahra tidak ingin mengganggu kencan abang dan kakak ipar.” Ucap Zahra tersenyum.


“Adik pintar.” Puji Azzam kepada adik nya itu.


Husna yang melihat itu pun hanya bisa tersenyum jengah. Lalu setelah itu mereka pun segera pergi dari sana. Mereka segera meluncur menuju taman kota.


Sekitar 15 menit saja dalam perjalanan akhirnya mereka tiba di taman kota. Azzam segera memarkirkan mobil nya dan kedua nya pun segera turun dari mobil.


Azzam menggenggam tangan istri nya itu, “Hum, mas biar Husna yang menggandeng mas.” Ucap Husna.


“Mas, Husna ingin makan gulali itu.” tunjuk Husna kepada abang-abang penjual gulali yang sedang di kerubungi oleh anak-anak di sana.


“Kamu yakin mau itu?” tany Azzam.


Husna mengangguk, “Hum, Husna pengen itu. Emang gak boleh ya? Apa terlalu kekanakan?” tanya Husna menatap suami nya.


Azzam menggeleng, “Bukan seperti itu. Sudah ayo kita beli.” Ucap Azzam.


Husna pun tersenyum lalu mereka segera menuju abang penjual gulali itu dan memesan gulari.


“Hum, manis!” ucap Husna.


Azzam pun terkekeh mendengar ucapan istri nya itu, “Tentu saja manis sayang. Itu gula.” Ucap Azzam.


“Aku tahu mas.” Ucap Husna manja.


“Mas, coba kau cicipi.” Ucap Husna lalu menyuapi suami nya itu. Azzam pun menerima nya.


Setelah menghabiskan gulali milik nya, Husna pun segera berdiri dan membawa Azzam untuk mencoba berbagai wahana bermain di sana.


Mereka sungguh menikmati waktu kedua nya dengan bermain wahana di sana, “Aku tidak menyangka bahwa istriku ini hanya di luar saja terlihat dewasa namun ternyata dia sangat kekanakan seperti usia nya itu.” batin Azzam.


Jika di sisi Azzam dan Husna sepasang suami istri itu sedang berbahagia menikmati waktu bermain mereka berbeda dengan di sisi dua gadis yang juga berada di sana dengan tatapan sinis dan penuh cibir mereka.


“Aku tidak menyangka bahwa Husna si culun itu bisa menaklukan pak Azzam yang tampan dan idolapara gadis. Aku yakin Husna itu pasti melakukan sesuatu yang tidak baik untuk menaklukan pak Azzam.” Cibir Kirana menatap Husna dan Azzam yang tertawa bahagia di atas sana menikmati wahana bermain itu.


“Sudah lah biarkan saja yang terpenting tidak mengganggu kita. Lagian juga kau sudah menyebarkan artikel itu dan seluruh kampus heboh akan hal itu. Jadi aku yakin citra mereka akan hancur.” Ucap Kania.


“Kenapa kau seperti terkesan membelanya?” tanya Kirana menatap Kania.


“Aku tidak membela nya tapi aku sudah malas berurusan dengan hal ini lagi. Aku sadar bahwa sebenar nya apa yang kita lakukan ini hanya menambah pekerjaan kita saja. Kita yang lelah karena mengurusi mereka.” Ucap Kania.


“Kenapa kau jadi ketularan Dita yang sangat membela nya.” Ucap Kirana.


“Aku tidak membela nya hanya saja aku sayang diriku. Aku ingin cepat lulus saja. Aku sudah kehilangan Gentala karena terlalu mengurusi hidup nya. Aku tidak ingin kehilangan hal lain lagi. Aku tidak ingin larut dalam kebencian yang dalam.” Ucap Kania.


“Lagi pula dia tidak pernah mengganggu kita hanya saja kita yang terlalu iri pada nya karena di saat kita yang selalu ingin mendapatkan perhatian justru dia yang tidak melakukan apapun yang mendapatkan perhatian itu. Aku lelah mengurusi hal ini. Aku ingin menyerah saja.” Sambung Kania lalu segera melangkah meninggalkan Kirana yang diam saja di sana.


“Sial! Kania pun menjadi menentangku karena dirinya.” Ucap Kirana masih tetap belum sadar dengan apa yang di lakukan nya itu salah atau mungkin memang hati nya sudah tertutup sehingga tidak bisa membedakan lagi mana yang buruk dan baik.


Tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada Kirana dan Kania maka hal itu juga terjadi pada Ratna dan Andita yang memang ada di sana juga dan melihat Husna dan Azzam.


Jika Andita tersenyum melihat itu karena dia sudah tahu hubungan apa yang di miliki Husna dan Azzam jauh berbeda dengan Ratna yang menatap Husna dengan tatapan penuh cibiran dan ejekan.


“Kita ke sana Dita.” Ajak Ratna mendekati Husna dan Azzam yang baru saja turun dari wahana bermain dengan Husna di bantu oleh suami nya itu.


Andita pun hanya mengikuti saja dari belakang.


Puk


Puk


Puk


Ratna bertepuk tangan, “Hum, bagus yaa. Ternyata seperti ini kelakuan dosen baru dan juga mahasiswi bimbingan nya itu.” sindir Ratna begitu dengan Husna dan Azzam.


Husna dan Azzam pun hanya saling memandang dan tersenyum, “Terserah kamu mau berpendapat apa terkait aku Ratna. Tapi percaya lah apa yang kau tuduhkan itu tidak lah benar.” Ujar Husna lembut lalu dia menatap Andita yang juga tersenyum lembut kepada nya hingga membuat Ratna geram melihat itu.


Ratna pun segera menarik Andita menjauh dari sana karena dia tidak ingin Andita itu dekat dengan Husna lagi, “Mas, aku akan menolong nya. Aku akan membebaskan Dita dan ibu nya dari ancaman Ratna itu.” ucap Husna kepada suami nya sambil melihat bagaimana Ratna memperlakukan Andita.

__ADS_1


“Mas mendukungmu sayang. Selama itu untuk kebaikan maka lakukan saja.” Ucap Azzam.


Husna pun tersenyum mendengar ucapan suami nya itu lalu dia segera mengirim pesan kepada Gauri untuk segera membebaskan Andita dan ibunya dari keluarga Ratna.


__ADS_2