
"Ayah bijaksana sekali, Ara sayang sama Ayah." Gadis cantik itu memeluk ayahnya, dan Akira melihat pada istrinya Nala dan tersenyum.
Mungkin Akira berpikir, jika dia pernah merasakan jatuh cinta pada gadis biasa dan di tentang oleh kedua orang tuanya, dan Akira tidak mau kalau sampai hal itu menimpa pada anak-anaknya. Akira akan mendukung setiap apa yang dilakukan oleh putra putrinya asal hal itu baik.
Pagi hari di kampus Uni. Dia sangat terkejut saat melihat ada Via di kampusnya. Uni berjalan menghampiri Via.
"Via, kamu kenapa ada di sini? Apa kamu tidak kuliah?"
"Aku lagi males kuliah, aku hari ini pengen bolos kuliah Uni," ucapnya sedih.
"Kamu kenapa, Via? Apa ada masalah?" tanya Rendy yang memang datang dengan Uni."
"Ren, bisa tidak kamu membiarkan Uni dan aku untuk berbicara berdua. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan sama Uni saja, kamu laki-laki tidak perlu tau."
"Em ... pasti mau membahas soal si pria es itu ya? Ya sudah aku pergi dulu kalau begitu." Rendy beranjak dari sana.
"Uni, kita bicara di kantin saja ya? Sebelum kelas kamu di mulai, atau kamu bolos saja hari ini dan kita pergi berdua."
Uni tampak bingung. "Via, kita bicara saja dulu di sini sebelum kelasku masuk, tapi kalau bolos aku tidak bisa, aku ada ujian harian hari ini soalnya, dan kamu tau sendiri aku tidak pernah bolos kuliah."
"Ya sudah, kita bicara saja di sini."
"Kamu kenapa sih, Via? Kenapa kamu terlihat sedih sekali?"
"Aku benar-benar sakit hati dan sedih melihat Aro dan Sifa waktu itu, Uni. Rasa cemburuku begitu besar melihat mereka berdua seperti itu." Via menangis menundukkan kepalanya pada meja kantin.
Uni merasa sedih juga melihat keadaan Via saat ini. Tangan Uni memegang tangan Via dan mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Kamu harus kuat melihat semua itu, Via. Bagaimanapun juga Aro sudah memilih Sifa."
Hati Uni juga sebenarnya sangat sakit, tapi Uni tetap menyakinkan dirinya bahwa mungkin memang Aro bukan jodohnya dan dia sendiri yang menginginkan hal itu.
"Aro itu kenapa bisa menyukai gadis seperti Sifa? Dia terlihat sangat agresif dan memalukan. Aro mungkin saja terpaksa dengan gadis itu."
__ADS_1
"Terpaksa bagaimana maksud kamu?"
"Ya bisa saja gadis itu mengancam agar Aro mau menerima cintanya kalau tidak dia mau melakukan hal buruk pada dirinya sendiri. Mengancam mau bunuh diri misalnya."
"Tidak mungkin seperti itu, Aro bukan orang yang mudah diancam oleh suatu hal. Aku kenal sama sifat Aro."
"Kamu kenal semua sifat Aro? Kalian begitu dekat ya selama kamu bekerja di sana?" Tatap Via curiga.
"Hal itukan wajar Via, apalagi kita tinggal satu rumah dan aku tau kebiasaan Aro bahkan Ara."
"Uni." Tangan Via memegang tangan Uni. "Kamu tidak ingin pindah dari rumah Aro?"
"Maksud kamu?"
"Jujur saja ya ini Uni. Saat aku tau kamu bekerja di rumah Aro, aku merasa agak cemburu karena kamu pasti tiap hari bertemu dengan Aro. Kalian bisa saja jatuh cinta kalau sering bertemu, apalagi sepertinya kamu adalah tipenya Aro."
"Tipe dari mana? Aro juga tidak akan menyukaiku. Memangnya siapa aku?"
"Bisa saja Uni. Aku kan sudah bilang jika kalian tiap hari bertemu dan biasa saja jatuh cinta."
"Aku kan memang bekerja di sana, Via, dan mereka sudah membuatkan aku kamar."
"Kamu tidak mau kan kalau sampai jatuh cinta pada Aro dan membuat keluarga itu membenci kamu karena menganggap kamu orang yang tidak tau balas budi. Kamu sudah di tolong, tapi malah tidak tau diri berani mencintai putra mereka."
"A-aku--?"
"Makannya, sebelum hal itu terjadi, kamu seharusnya berpikir dua kali untuk tidak merepotkan mereka terus."
"Lalu, aku harus bagaimana?"
"Kamu sebaiknya memilih keluar saja dari rumah mereka dan kamu bisa kost sendiri, Uni."
"Pindah?"
__ADS_1
"Iya, kalau kamu butuh uang untuk membayar tempat kost kamu, aku bisa meminjaminya lebih dulu."
"Aku ada tabungan kok, Via. Selama bekerja di sana, ayah Akira dan Ibu Nala memberiku uang jajan, tapi aku tidak pernah memakainya, aku malah menyimpannya."
"Ya sudah, kamu pakai saja itu. Mereka sangat baik sama kamu, Uni. Kalau mereka tau atau mengira kamu ada hubungan dengan putranya, akan sangat tidak baik bagi kamu."
Uni memikirkan kata-kata Via. Dia takut jika keluarga Aro akan membencinya nantinya, menganggapnya orang tidak tau balas budi, dan bahkan lebih buruknya Uni di usir dari rumah dan tidak mau mengenal Uni lagi.
"Nanti aku akan memikirkannya. Via, kelasku sudah masuk, aku mau masuk kuliah dulu kalau begitu. Apa kamu masih mau di sini?"
"Tidak, lebih baik aku ke kampus saja lah! Siapa tau aku masih bisa usaha mendapatkan Aro."
Via berjalan pergi dari sana. Uni hanya menatap punggung sahabatnya itu sampai Via menghilang dari sana.
Kegiatan dimulai seperti biasa, di kampus Ara hari ini Sifa tidak masuk karena memang dia masih belum pulih, teman-teman lainnya diberitahu oleh Ara tentang keadaan Sifa karena insiden kemarin.
"Wah! Kalau tau orang yang mendorong Sifa sampai seperti itu, sudah aku cekik orang itu. Kenapa dia pengecut sekali berani melukai Sifa dari belakang?"
"Apa mungkin itu mantan pacar Sifa yang tidak terima Sifa pacaran sama Aro?" tanya Tania.
"Bukannya si Sifa yang di putusin sama cowoknya karena cowoknya suka sama cewek lain. Jadi tidak mungkin dia dendam sama Sifa. Malahan si Sifa yang seharusnya dendam diputuskan begitu."
"Atau mungkin ada gadis yang naksir Aro dan dia yang dendam melihat Aro dengan Sifa, makannya dia melukai Sifa."
Ara langsung melihat pada Tania dan entah kenapa dia langsung teringat pada Via yang waktu itu ada di sana.
"Apa mungkin Via?" celetuk Ara.
"Via siapa?"
"Via itu temannya Uni. Dia juga teman satu kelas Aro, kata Uni dia sangat mencintai Aro. Kemarin kita berempat bertemu dengan Via di sana, kemudian kita mengajaknya gabung. Kemudian yang aku ceritakan tadi."
"Eh! Kita tidak boleh berpikiran negatif dulu, siapa tau bukan Via, diakan izin pulang kata kamu Ara."
__ADS_1
"Iya, juga sih! Lagian dia itu baik kok anaknya. Sudah ah! Aku mau kembali ke kelas dulu, aku lupa mau mengambil buku dan mengembalikan ke perpustakaan mumpung belum masuk kelas."
Ara beranjak dari tempatnya dan berlari kecil menuju anak tangga menuju ke kelasnya.