My Secret Love

My Secret Love
Membohongi Perasaan


__ADS_3

Aro mencoba menahan amarahnya pada Uni karena ucapannya barusan. Jujur saja jika Aro merasa sakit hati mendengar ucapan Uni. Apa Uni ini begitu tersiksa dengan apa yang dilakukan oleh Aro?


"Baiklah. Sekarang kamu katakan apa kamu tidak pernah ada rasa cinta padaku selama beberapa hari kita dekat? Lalu ciuman semalam yang kamu berikan, apa itu hanya kekhilafan kamu?" Aro menatap Uni tajam.


Uni seketika menahan napas sebentar, dia tampak bingung harus menjawab apa? Jujur saja dia mulai merasakan perasaan yang berbeda pada Aro, bahkan ciuman yang dia berikan semalam pada Aro adalah ciuman yang timbul dari rasa cintanya pada Aro. Namun, lagi-lagi Uni teringat kembali pada sahabatnya itu.


"Aku tidak merasakan apa-apa sama kamu selama ini, dan ciuman itu kemarin aku hanya--?" Uni menundukkan kepalanya.


Brak!


Tiba-tiba terdengar suara pintu mobil ditutup dengan keras oleh Aro.


"Huft! Maafkan aku Aro, aku benar-benar bingung dengan perasaanku sendiri. Di lain sisi aku sepertinya mencintai kamu, tapi di sisi lainnya aku tidak mau menjadi pengkhianat dari sahabatku." Wajah Uni tampak sedih.


Aro naik ke atas kelas Ara dan dia melihat Ara duduk di sana dengan para sahabatnya. "Ara, ayo kita pulang," panggil Aro di depan pintu ruangan Ara.


Ketiga teman Ara juga ikut menoleh. "Aro, si ganteng tumben naik ke atas kelas, biasanya dia menunggu di luar sambil berdiri dengan tampannya dan dinginnya di depan mobilnya."


"Jangan kumat deh, Sifa." Ara memutar bola matanya jengah.


"Hai, Aro," Sifa menyapa Aro dengan lembut sambil melambaikan tangan.


"Hai," jawabnya singkat. "Ra, Ayo!"


"Iya, sebentar." Ara sedang memasukkan buku-buku miliknya.


"Kita juga ikut pulang saja. Aro, apa kita boleh ikut dengan mobil kamu?"


"Kamu ini, tadi aku tawari ikut mobilku tidak mau, sekarang malah minta ikut mobil Aro," gerutu Tania pada Sifa."


"Sshht! Aku lagi usaha ini," bisik Sifa.


"Tapi mobilku hanya kurang dua orang saja, lalu teman kamu satunya?"


"Tenang, nanti Tania pulang di jemput supir, jadi hanya aku dan Marta yang mau ikut mobil kamu."


"Ya sudah kalau begitu. Aku tunggu di bawah." Aro berjalan pergi dari sana dengan satu tangan masuk ke dalam saku celananya.


"Haduh! Aku benar-benar meleleh melihat saudara kembar kamu itu," ucap Sifa.


"Kamu jangan berharap banyak sama Aro, dia akan memilih sendiri gadis yang dia sukai, dia malah tidak suka dengan gadis yang mengejar-ngejarnya, apalagi yang amgresif seperti kamu, Sif, kamu tidak akan masuk dalam daftar listnya."

__ADS_1


"Tapi kalau tidak dikejar, mana tau dia kalau aku menyukainya?"


"Makanya kamu tidak perlu bersusah payah dengan mengejar saudaraku Aro itu, kalau dia menyukai kamu, dia yang akan mengejar dan berusaha mendapatkan kamu."


"Bagaimana ya rasanya jika di kejar-kejar oleh Aro pria cool, tampan, dan bikin penasaran itu." Sifa membayangkan sesuatu.


Ara beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju pintu keluar kelasnya. Saat berjalan tepat di depan pintu, Ara malah berpapasan dengan Dean. Mereka hampir saja bertabrakan dengan Dean.


"Dean," ucapnya lirih.


"Ara, aku--."


"Hai, Dean. Ara, ayo kita pulang sekarang, kamu tidak mau kan kalau saudara kembar kamu itu nanti marah karena kelamaan menunggu kita," terang Sifa. Aslinya Sifa ini yang kebelet ingin cepat-cepat ketemu Aro.


"Dean, kita pulang dulu." Marta menggandeng tangan Ara dan mereka berempat pergi dari sana.


Sebelumnya, di bawah Aro sudah berdiri di depan mobil dengan fokus pada ponselnya, tidak memperdulikan Uni yang juga akhirnya memilih keluar dari dalam mobil.


Uni hanya bisa memperhatikan wajah Aro yang tampak datar tidak memperdulikan dirinya.


Tidak lama ponsel Uni berdering dan Uni tidak tau siapa yang menghubunginya karena dia tidak menyimpan nomor itu.


"Halo," jawab Uni lirih.


"Rendy? Kamu tau dari mana nomor telepon aku?"


"Waktu itu aku minta pada Via. Uni, kamu nanti malam ada acara tidak? Kalau tidak ada aku mau mengajak kamu makan di tempat makan nasi goreng kesukaan kamu."


"Apa? Mengajakku makan?" Uni langsung menoleh pada Aro yang tidak melihatnya sama sekali. "Maaf, aku tidak bisa karena aku harus bekerja. Aku tidak ada waktu buat keluar sekarang."


"Kamu jangan mencoba menghindari Uni. Aku kan ingin kita bisa menjadi teman saja."


"Iya, tapi maaf aku tidak bisa karena aku harus bekerja pulang dari kuliah sampai malam."


"Kamu kapan liburnya?"


"Aku tidak tau. Maaf, ya?"


"Kalau begitu nanti saja jika ada senggang waktu di kampus, kita bisa langsung pergi makan bersama."


"Iya."

__ADS_1


Uni lalu berpamitan karena dia melihat Ara dan teman-temannya datang. "Ya sudah kalau begitu, Uni." Mereka lalu mengakhiri panggilannya.


"Halo, Uni."


"Halo, Ara."


"Teman-teman, ini kenalkan Uni. Di itu sahabat aku dari kecil yang baru ketemu lagi di sini."


"Halo, semua, namaku Uni."


"Halo, Uni. Aku Marta, ini Sifa dan yang satu ini Tania." Mereka saling berkenalan.


"Kamu kenapa bisa bareng sama Aro?" Sifa langsung kepo. "Kalian pacaran?"


"Bukan, sebenarnya aku bekerja di rumah Ara, dan aku baru pulang kuliah juga."


"Maksudnya?"


"Apa kita mau mengobrol di sini terus, aku masih ada urusan lainnya. Kita pulang sekarang saja."


"Iya-iya. Ayo kita duduk di belakang karena Uni sudah duduk di depan."


"Ara, kamu saja duduk di depan, aku pindah di belakang saja."


"Iya, sebaiknya kamu pindah di belakang saja," ucap Aro tegas dan dia berjalan mengitari mobilnya menuju pintu kemudi.


Ara yang melihat hal itu tampak merasa kalau saudara kembarnya ini sedang ada masalah sama Uni.


"Aku duduk di belakang saja, Ara." Uni masuk ke bangku belakang dan diikuti oleh dua teman Ara.


Di sepanjang perjalanan Aro hanya fokus mengemudi, Ara yang duduk di sampingnya hanya melihat ke arah Aro.


"Uni, tadi kamu bilang jika kamu bekerja di rumah Ara? Kamu juga kuliah? Memangnya kamu di angkat anak sama orang tua Ara?"


"Aku bekerja di rumah Ara sebagai asisten rumah tangga."


"Apa?" Mereka berdua tampak melongo mendengar ucapan Uni. "Tapi kamu seorang mahasiswi, kenapa kamu mau bekerja sebagai asisten rumah tangga?"


"Ceritanya panjang, kapan-kapan akan aku ceritakan sama kalian, yang jelas kalian akan salut dengan perjuangan Uni agar tetap bisa kuliah" terang Ara.


"Jadi kamu sekarang tinggal di rumah Ara dan setiap berangkat dan pulang kuliah kamu bareng sama Ara dan Aro?" tanya Marta.

__ADS_1


"Iya, aku bareng sama mereka. Keluarga Ara sangat baik padaku."


__ADS_2