
Kini Husna dan Azzam sudah berada di ruangan di mana Husna tadi di rias. Riasan Husna sudah di hapus dengan di bantu oleh MUA yang memang belum kembali. Husna memang sudah membayar mereka untuk satu hari, hanya untuk nya saja. Mereka tidak boleh menerima klien lain selain diri nya. Kedua MUA itu pun menurut tentu saja dengan bayaran yang pasti nya tidak kecil.
Husna dan Azzam juga sudah bertukar dengan pakaian yang memang biasa mereka gunakan. Tidak lagi terikat dengan jas dan juga gaun yang sebenar nya sangat melelahkan. Tapi karena ini hanya sekali dalam seumur hidup. Jadi tentu saja mereka akan melakukan nya demi kebaikan semua nya.
“Mas, kita sholat dulu.” Ucap Husna setelah selesai di hapus riasan nya dan kedua MUA itu pun di izinkan pulang.
Azzam yang sedang berbaring di ranjang pun mengangguk dan segera turun dari sana. Lalu dia segera menggandeng sang istri menuju kamar mandi untuk berwudhu karena memang waktu sholat sudah terlewat hampir satu jam.
Singkat cerita, kini Husna dan Azzam sudah selesai melakukan sholat.
“Mau makan?” tawar Azzam saat sang istri menyimpan alat sholat kedua nya.
Husna pun tampak berpikir lalu kemudian dia mengangguk, “Hum, tapi aku tidak mau makan makanan yang ada di restoran hotel ini.” ucap Husna.
Azzam yang mendengar itu pun mengangkat alis nya bingung, “Lalu kamu mau makan di mana sayang?” tanya nya lembut.
“Kita makan di tempat yang ingin aku kunjungi. Di sana makanan nya murah dan di jamin enak. Aku sudah lama tidak ke sana mas.” Ucap Husna.
“Apa karena makanan nya murah kau mau makan ke sana? Apa kau takut menghabiskan uang suamimu ini?” tanya Azzam tentu saja bermaksud menggoda istri nya itu.
Husna pun mendesis dan menggeleng, “Ck, bukan seperti itu mas. Aku bukan makan di sana bermaksud mengirit. Hanya saja aku memang pengen makanan di sana. Lihat lah air liurku sudah hampir jatuh hanya dengan mengingat menu makanan yang ada di sana mas. Ayo kita makan di sana.” Ucap Husna.
Azzam pun mengangguk, “Ya sudah. Ayo!” ujar Azzam.
Husna yang mendengar itu pun tersenyum lalu dia segera mengambil hijab nya dan memakai nya, “Ayo, mas.” Ajak Husna segera menggandeng lengan suami nya itu.
Mereka segera keluar dari ruangan itu yang ternyata begitu mereka keluar di sana sudah ada bridesmaid dan juga groomsmen yang menunggu mereka.
“Sejak kapan kalian di sini?” tanya Azzam menatap ke delapan orang di hadapan nya itu ah tidak sembilan karena Guari juga ada di sana.
“Kami baru saja datang kok. Mungkin sekitar 15 menit yang lalu.” Jawab Gauri karena tidak ada yang menjawab pertanyaan Azzam itu.
“Lalu kenapa tidak mengetuk jika memang sudah datang ke sini sejak tadi?” tanya Husna.
“Kami tentu saja tidak ingin menganggu kalian, nyonya.” Jawab Abrar yang mendapat pelototan dari Ratna yang memang berdiri di samping asisten bayangan Azzam itu.
“Kenapa kau menatapku tajam begitu? Bukan kah memang itu alasan nya. Kenapa harus berbohong coba.” Sambung Abrar saat menyadari Ratna menatap nya tajam.
Husna dan Azzam pun tersenyum mendengar ucapan Abrar itu, “Maaf, Na. Maaf juga tuan Azzam. Kami memang memutuskan untuk menunggu karena tidak ingin mengganggu. Kemungkinan besar juga kalian sedang istirahat.” Ucap Andita.
Husna dan Azzam pun mengangguk mendengar penjelasan Andita yang sebenar nya tidak perlu itu. Azzam dan Husna sudah pasti bisa mengerti sendiri hanya dengan jawaban singkat yang di berikan oleh Abrar tetapi seperti nya Andita khawatir bahwa mereka akan tersinggung.
“Kakak ipar!” ujar Zahra lalu segera mendekati Husna dan memeluk nya.
Husna pun tersenyum dengan apa yang di lakukan oleh Zahra itu yang dia tahu sebagai pengalihan atas suasana yang tercipta agar tidak canggung lagi.
“Kakak ipar, kalian mau kemana?” tanya Zahra menatap Husna.
“Kami mau makan.” Jawab Husna.
“Makan? Terus kenapa keluar? Kenapa tidak meminta seseorang untuk membawakan nya untuk kalian?” tanya Zahra beruntun.
“Kami tidak ingin makan di sini. Kami ingin makan di luar.” Jawab Azzam.
“Kenapa?” tanya Zahra lagi.
“Karena kakak ingin makan di sana dek.” jawab Husna.
“Di mana? Apa kami bisa ikut?” tanya Zahra.
“Hee’ehh maaf nona Zahra. Saya bukan memotong pembicaraan tetapi bukan kah kita sudah memiliki rencana lain.” Ucap Gauri memberi kode kepada Zahra yang justru tidak di mengerti oleh gadis itu.
__ADS_1
“Rencana? Rencana apa kak?” tanya Zahra dengan polos nya hingga membuat mereka di sana ada yang menepuk kening mereka dan ada juga yang memilih menatap ke arah lain karena kepolosan Zahra yang tidak mengerti situasi itu.
Husna dan Azzam pun saling memandang satu sama lain lalu kemudian mereka tertawa, “Hey, kalian bisa ikut kok. Tidak perlu merasa canggung seperti itu. Tidak perlu juga membuat alasan yang pasti nya tidak di mengerti oleh adikku ini.” ucap Husna dengan mengusap pipi Zahra lembut.
Zahra baru mengerti situasi saat mendengar ucapan Husna, “Tunggu, jadi tadi itu kalian sedang memberikan kode untukku agar tidak ikut dengan abang dan kakak ipar?” tanya Zahra yang di angguki oleh mereka semua.
“Tapi kau tidak mengerti.” Ujar Betty.
Zahra yang mendengar itu pun tersenyum sambil memegang telinga nya yang di tutup hijab, “Maaf, aku memang tidak paham kode-kodean.” Ujar nya.
“Sudah lah, tidak perlu berdebat. Kalian mau ikut? Jika iya, ayo!” ucap Husna lagi.
“Ah gak usah kakak ipar. Kami di sini saja. Kami akan makan di tempat lain bersama-sama mewujudkan ucapan kak Gauri.” Tolak Zahra.
“Yakin? Tidak mau ikut?” tanya Husna memastikan.
Zahra mengangguk yakin, “Yakin kakak ipar. Jika tidak percaya tanya saja sama mereka.” ucap Zahra menunjuk teman-teman nya itu.
“Mereka sudah pasti setuju dek. Orang mereka yang peka dengan kode dari Gauri. Hanya kamu saja yang kadang-kadang tingkat kepekaan nya itu perlu di pertanyakan.” Ucap Azzam yang di balas dengan cengesan oleh Zahra.
“Ya sudah .. jika begitu kami pamit ya. Kalian nikmati waktu kalian juga.” Ucap Azzam segera menggandeng lengan Husna.
“Kami pamit. Kak Gauri masukkan tagihan nya ke rekeningku.” Ucap Husna kepada asisten nya itu.
“Baik nona.” Jawab Gauri.
Husna pun tersneyum lalu mereka pun segera berlalu dari sana dan meninggalkan mereka semua di sana.
“Kau lucu dek.” ucap Ratna kepada Zahra.
“Lucu bagaimana kak. Aku mengacaukan semua nya. Kalian juga tidak mengatakan padaku sebelum nya jika tidak boleh mengganggu waktu kakak dan abang.” Ucap Zahra.
“Sudah lah. Tidak perlu di pikirkan. Lagi pula mereka juga paham kau itu terlalu polos.” Timpal Gauri yang mendapat kekehan dari semua nya.
Mereka semua pun segera berlalu dari sana dan menuju restoran yang mereka tuju.
***
Sementara di sisi lain, Husna dan Azzam kini sudah tiba di tempat yang di maksud oleh Husna setelah mengendarai mobil beberapa waktu.
“Apa ini tempat nya?” tanya Azzam sebelum mereka turun dari mobil.
Husna pun mengangguk, “Apa tidak layak?” tanya Husna balik.
Azzam menggeleng, “Bukan, ini sudah layak kok. Tapi kenapa kau suka makan di kedai sederhana seperti ini?” tanya Azzam penasaran.
“Ini adalah tempat favoritku selain rumah keduaku itu jika sedang sedih dan merasa bosan dengan ucapan orang-orang yang menghinaku. Aku akan datang ke sini dan memesan mie goreng pedas leve 10.” Jawab Husna.
“Level 10? Apa itu tidak pedas?” tanya Azzam khawatir.
Husna menggeleng, “Lumayan pedas. Tapi semua itu tidak akan terasa jika sedang sedih. Jika sedang sadar begini dan sedang bahagia pasti akan sangat terasa pedas nya.” jawab Husna.
“Terus apa kamu makan mie di sini?” tanya Azzam.
Husna mengangguk, “Itu adalah makanan favorit di sini mas. Banyak yang membeli itu.” jawab Husna.
“Ayo ah turun agar kita masih bisa menemukan tempat nya.” sambung Husna.
Azzam pun mengangguk lalu segera turun dan membukakan pintu untuk istri nya, “Ingat sayang. Kamu boleh makan mie tapi level satu saja. Aku tidak mau lambungmu itu rusak karena makan pedas.” Bisik Azzam.
Husna yang mendengar itu pun hanya tersenyum dan tidak menanggapi ucapan suami nya. Dia tahu bahwa suami nya itu adalah orang yang sangat protektif terhadap diri nya.
__ADS_1
Mereka pun segera masuk ke kedai sederhana itu yang lumayan ramai pengunjung nya tapi syukur lah masih ada tempat yang kosong. Para pengunjung di sana pun memandang Husna dan Azzam lekat.
“Mas, kenapa mereka menatap kita seperti itu? Apa aku salah memakai baju?” tanya Husna berbisik saat dia merasa bahwa pandangan orang-orang di sana itu tertuju pada nya. Dari dia masuk sampai mereka duduk di tempat yang kosong.
“Maaf sebelum nya. Tolong jangan menatap istri saya seperti itu. Itu mengganggu kenyamanan.” Ucap Azzam.
Para pengunjung itu pun tersenyum lalu mereka menurut, “Apa benar anda adalah nona muda dan pewaris dari ASH Industries?” tanya salah satu pengunjung dengan sopan.
Husna pun tersenyum lalu dia mengangguk, “Benar. Maaf juga sebelum nya jika kedatangan saya ke sini mengganggu kalian.” ucap Husna berdiri dan menatap para pengunjung di sana.
“Kami tidak keberatan kok. Kami justru senang karena bisa bertemu dengan nona muda yang seorang pewaris perusahaan besar tapi mau makan di tempat yang sama dengan kami. Kami juga senang kami bisa melihat langsung sosok nona muda yang selama ini di sembunyikan dari public.” Ucap salah satu pengunjung lagi.
Husna pun tersenyum, “Ini adalah tempat favorit saya. Saya sering ke sini sebelum nya dan hari ini saya ingin makan di sini. Saya harap kalian tidak keberatan dan santai saja. Tidak perlu bersikap formal.” Ujar Husna.
Para pengunjung itu pun mengangguk, “Kami dengar juga hari ini adalah ulang tahun anda nona. Jadi kami mengucapkan selamat ulang tahun untuk anda.” Ucap mereka.
“Terima kasih atas ucapan nya. Saya juga akan berdoa semoga kalian selalu dalam lindungan Allah.” Ucap Husna.
“Aamiin. Silahkan anda memesan nona. Maafkan kami yang sudah mengganggu.”
Husna menggeleng, “Tidak masalah. Silahkan juga kalian makan.” Ucap Husna.
“Hari ini kalian semua saya dan istri saya traktir. Silahkan ambil makanan apa saja yang kalian inginkan.” Ujar Azzam yang di sambut oleh mereka dengan senang.
Tidak lama pemilik kedai itu mendatangi Husna yang memang dia tahu adalah pelanggan di sini, “Selamat datang di kedai kami ini nona, tuan.” Ucap seorang ibu berumur sekitar 50-an itu.
“Ahh tidak perlu bersikap seperti itu ibu. Anggap saja saya ada pelanggan seperti yang lain.” Ucap Husna yang memang tidak menyukai sikap seperti itu.
Ibu itu pun menurut dan segera mencatat pesanan Husna dan Azzam, “Saya mau pesan mie level--”
“Satu.” Sambung Azzam.
Husna pun tersenyum mendengar ucapan suami nya itu lalu dia mengangguk kepada ibu pemilik kedai untuk menurut apa ucapan suami nya. Setelah itu Azzam pun segera memesan makanan untuk nya sendiri. Tidak lupa juga mereka memesan minuman.
Azzam juga tidak lupa mengatakan bahwa mereka yang akan membayar semua tagihan dari pengunjung yang datang selama mereka berada di sana.
***
Kini Husna dan Azzam dalam perjalanan pulang, “Mas, aku sangat kenyang sekarang. Aku yakin jika aku selalu makan maka aku pasti akan gendut nanti.” Ucap Husna.
Azzam pun hanya terkekeh mendengar ucapan istri nya itu, “Mana ada gendut. Kamu saja baru makan banyak nanti hari ini. Ingat sayang tidak perlu diet atau pun membatasi makan. Mas tidak suka kamu melakukan itu. Mas tidak keberatan jika kamu gendut atau apapun itu. Mas akan tetap sayang dan cinta padamu.” Ucap Azzam.
Husna pun tersenyum, “Aku tahu mas. Aku tahu bahwa suamiku ini adalah suami terbaik. Suami dan sahabat ahh tidak dosenku juga. Mas itu paket komplit untukku. Aku tidak tahu entah bagaimana jika aku menolak lamaranmu mas.” Ucap Husna mengingat masa lalu.
“JIka kamu menolak mas saat itu. Mas pasti akan datang lagi sampai kamu menerima mas. Mas tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu.” Ujar Azzam yang membuat Husna terharu.
“Aku mencintaimu mas.” Ujar Husna.
“Mas lebih mencintaimu sayang.” balas Azzam.
“Mas, aku akan segera maju ujian hasil. Aku ingin segera menyelesaikan kuliahku agar bisa segera memantau perusahaan secara langsung. Apalagi saat ini semua orang sudah tahu identitasku.” Ucap Husna.
“Jika terkait ujian hasil maupun ujian sidang mas setuju kamu percepat karena skripsimu pun memang tidak ada kesalahan lagi. Sudah pantas untuk segera ujian. Tapi terkait perusahaan kamu tidak perlu khawatirkan hal itu.” ucap Azzam.
“Aku tahu. Mas pasti akan membantuku jika menemui kesulitan.” Ucap Husna.
Azzam pun tersenyum, “Mas, apa kau juga akan mengumumkan dirimu sebagai CEO dari HF Company?” tanya Husna.
Azzam pun tampak berpikir lalu kemudian mengangguk, “Seperti nya begitu. Lagi pula sudah tidak ada guna nya juga menyembunyikan semua nya. Aku yakin para media yang haus akan berita itu pasti akan mencari identitasku sampai dapat.” Ucap Azzam.
“Aku akan selalu mendukung apapun keputusanmu mas.” Ucap Husna.
__ADS_1
“Mas tahu itu sayang. Kami mau bulan madu kemana?” tanya Azzam.