My Secret Love

My Secret Love
Kehidupan Si Kembar part 2


__ADS_3

Kei dan Addrian tersenyum dan saling melihat tingkah pola kedua cucunya yang dianggap mereka beda dengan anak kecil pada umumnya. Mereka berdua sangat pandai dan cerdas. Kei dan Addrian menunggu mereka di depan kelas saat pelajaran di mulai.  Sita tampak beberapa kali menoleh ke arah Aro yang fokus mendengarkan penjelasan guru


mereka. 


Nara dan Naro tampak berani dan percaya diri memperkenalkan dirinya di depan kelas. Beberapa dari temannya bahkan banyak yang masih takut dan menangis saat di suruh memperkenalkan diri di depan kelas.


Jam istirahat akhirnya berbunyi.  Kei dan Addrian masuk dan membawakan mereka


makanan yang tadi sempat di beli Kei saat mereka menunggu Aro dan Ara.


“Sita, sini! Kenapa kamu duduk sendiri?” Ara menyuruh Sita bergabung dengannya.


Sita berjalan dan mendekat ke meja Aro di mana Ara dan kedua opah dan omanya duduk juga. Aro tidak mempedulikan Sita, dia sibuk menikmati makanan yang di bawakan oleh omahnya.


“Apa orang tua kamu tidak ke sini?” tanya Kei pada Sita. Sita menggelengkan kepalanya. “Mereka bekerja?”


“Iya, kedua orang tuaku bekerja, tadi aku hanya diantar sampai sekolah kemudian mereka meninggalkan aku dengan membawakan bekal ini.” Sita menunjukkan lunch box miliknya yang berwarna pink.


“Lalu nanti pulangnya kamu bagaimana?”


“Nanti aku dijemput sama mba yang di tugaskan mengasuh aku di rumah saat kedua orang tuaku pergi bekerja.”


“Kamu gadis yang sangat berani ya?” Addrian mengelus kepala Sita.


“Rumahku dekat sini, kok Kakek, jadi aku tidak takut pulang sendirian,” jelas anak kecil itu.


“Oh ...! Jadi rumah kamu dekat sini?” Sita mengangguk. “Ya sudah kamu makan dulu bekala makanan kamu yang sudah di buatkan oleh mama kamu.” Sita akhrinya menganggukkan kepalanya dan dia makan bersama dengan Ara dan Aro.  Sejak saat itu Nara berteman baik dengan Sita. Aro masih saja cool seperti ayahnya dan opahnya.


Malam hari di rumah Nala memeriksa tas si kembar dan melihat apa saja pelajaran yang di berikan oleh bu guru mereka, setiap hari Nala


melakukan hal itu. “Ayah, mulai besok aku dan Ara tidak perlu di tunggui oleh opah dan oma atau siapapun. Kita berdua sudah berani berangkat ke sekolah sendirian,” jelas bocah laki-laki yang memiliki wajah mirip Nala.


“Kenapa tidak mau di tunggui oleh oma dan opah?” tanya Nala sambil memeluk Ara.

__ADS_1


“Aku dan Ara sudah berani ditinggal di sekolah, kita juga bisa makan bekal kita sendiri, jadi tidak perlu di tunggui. Iyakan, Ara?”


“Iya, temanku Sita saja berani di tinggal sendiri di sekolah, cuma saat pulang dia dijemput oleh mba yang bekerja di rumahnya dan


begitu setiap hari.”


“Itu karena rumah Sita kan dekat seperti cerita kamu?”


“Nanti saat pulang saja aku dan Ara bisa dijemput oleh supir kita.”


Akira tersenyum mendengar perkataan bocah laki-lakinya. “Ya sudah, mulai besok kalian akan di bawa bekal oleh mama dan pulangnya kalian akan dijemput oleh supir. Bagaimana?” tanya Akira berhadapan dengan putranya itu.


“Iya, yah,” jawab mereka barengan.


Sejak saat itu juga Addrian dan Kei tidak lagi mengantar kedua cucunya, walaupun agak sedih mereka tampak senang karena kedua cucunya sangat mandiri sejak mereka masih kecil, hanya pas liburan sekolah saja mereka


pergi ke rumah utama untuk berkumpul dengan kedua cucunya dan Nala serta Akira.


Pagi itu di rumah Nala, di mana saat kedua anaknya sudah berangkat ke kantor dan Akira pun juga sudah berangkat ke kantor. Nala dan Bibi Anjani sedang membersihkan meja makan dan membersihkan rumah.


“Nanti biar aku saja yang menyiramnya, sekalian aku mau menanam bungan mawar yang kemarin aku beli dan belum aku pindahkan dari pot.


“Ya sudah kalau begitu.”


Setelah membereskan semua, Nala membawa pot bunga dari halaman belakang menuju ke kebun depan dengan memakai sarung tangan dan mulai mengeduk tangah dengan sekop. Tidak lama Nala melihat mobil berhenti tepat di


depan rumahnya. Nala tampak bingung siapa yang datang ke rumahnya.


Nala terkejut melihat siapa yang turun dari dalam mobil dengan menggunakan pakaian rapi dan kacamata hitamnya.” Pagi, Nala,” sapanya.


Nala berdiri dari tempatnya memperhatikan pria itu dari atas sampai bawah dan kembali ke atas lagi. “Kamu?"


Pria itu berjalan mendekat dan melepas kacamata hitamnya kemudian memeluk Nala dengan erat. Nala yang mendapat serangan dadakan itu hanya bisa terdiam, apalagi tangannya juga kotor terkena tanah yang tadi dia keduk.

__ADS_1


“Apa kamu merindukan aku?”


“Rhein! Kamu jangan main peluk begini.” Nala agak menggeliat dipeluk oleh Rhein.


“Kenapa? Kakakku tidak akan tau, dia pasti sudah berangkat ke kantor, Kan?” Rhein melepaskan pelukanya dan melihat ke arah Nala. “Kenapa kamu masih terlihat cantik saja? Padahal kamu sudah melahirkan dua anak


sekaligus?”


“Aku kan memang masih muda, kamu sendiri kapan datang? Apa kamu tidak pulang ke rumah dulu dan langsung ke sini?” Nala melihat serius pada Rhein.


“Aku tadi barusan dari rumah dan kemudian aku ke sini karena di rumah hanya ada mommyku. Oh ya! Mana kedua ponakan kembarku? Aku mau melihat apa mereka ada yang mirip denganku?” celetuk Rhein sambil memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya.


“Mirip kamu? Jangan bicara yang tidak-tidak. Mereka anak Akira, jadi mirip dengan ayahnya.”


“Siapa tau waktu kamu hamil mereka yang kamu pikirkan hanya aku, kamu saja yang tidak mau mengakui.” Rhein melirik pada Nala.


Nala memutar bola matanya jengah. “Kamu masuk dulu, biar aku menyelesaikan ini menanam tanaman aku dulu.” Nala kembali duduk dan ingin menyelesaikan menanam bunga mawarnya.


“Biar aku bantu.” Rhein melepaskan jasnya dan menggulung lengan kemejanya.


“Jangan, Rhein, nanti baju kamu kotor, kamu masuk saja di dalam ada bibi Anjani. Biar aku selesaikan sebentar bungaku ini, kasihan kalau


dia sampai layu.”


“Tau begitu aku bawakan kamu bungan mawar satu truk.” Rhein sudah duduk berjongkok dan mengambil sekop dari tangan Nala.


“Rhein, tidak perlu! Nanti baju kamu kotor.” Mereka berdua malah berebut sekop. Dan benar saja ucapan Nala, sekop kecil itu mengenai baju Rhein dan akhirnya kemeja Rhein terkenak cipratan tanah. “Benarkan apa yang aku bilang.” Kedua alis Nala mengkerut melihat baju Rhein.


“Tenang saja, aku bisa berganti dengan menggunakan baju Akira nanti.” Rhein tetap mengambil sekop itu dan mengaduk lebih dalam agar bunga mawar Nala dapat di tanam.


“Kamu itu tetap saja tidak berubah. Sebenarnya kamu ada keperluan apa datang ke sini, Rhein?” tanya Nala yang duduk di samping Rhein.


“Aku rindu sama kamu, Nala,” ucap Rhein tanpa melihat ke arah Nala karena tanganya sibuk menekan-tekan tanah yang sudah dia tanami

__ADS_1


bungan mawar.


“Jangan bercanda terus, Rhein! Memangnya kamu selama di California tidak bertemu dengan seseorang wanita yang bisa kamu ajak serius?”


__ADS_2