My Secret Love

My Secret Love
Seperti Anabella


__ADS_3

Akira menggedikkan bahunya seolah mengatakan jika dia juga tidak tau siapa yang membuatkan minuman itu. “Aku sudah bilang pada office girl lainnya jika hanya kamu yang boleh mmebuatkan aku minuman tiap pagi, kecuali jika aku yang menyuruh mereka nantinya.”


“Lalu siapa yang membuatkannya?” Nala meletakkan coklat hangat di atas meja Akira.


Saat berbalik, Akira memeluk pinggang istrinya itu dan mengecupi pipi Nala. Nala sedikit menggeliat dengan kecupan yang Akira berikan. “Akira, kamu jangan begini. Nanti kalau ada yang masuk bagaimana?”


“Aku pecat mereka jika berani masuk tanpa permisi.”


“Semoga besok anak kita tidak seperti kamu. Orang yang angkuh, dan suka berbuat semaunya karena memiliki kekuasaan.”


“Tapi jangan lupa jika aku orang yang sangat mencintai kamu, dan rela berkorban untuk kamu,” ucapnya masih dengan tangan memeluk pinggang Nala.


Tidak lama terdengar suara ketukan pintu dari luar. Nala segera melepaskan pelukan Akira yang berada di pinggangnya. “Masuk!”


“Permisi, Pak.”


“Silvi ada apa?”


Silvi berjalan masuk dan melihat ke arah Nala yang berdiri di sana dengan membawa baki di tangannya. “Akira, tadi aku membuatkan


cappuccino untuk kamu dan aku meletakkannya di atas meja kerja kamu.”


“Jadi kamu yang mmebuatkannya?”


“Iya, aku harap kamu menyukaianya.


“Silvi, tolong jika di kantor kamu memanggilku dengan sebutan Pak karena kamu pegawai di sini dan aku bosnya, jadi gunakan panggilan


yang sopan agar karyawan lainnya tidak salah paham.”


Wajah Silvi langsung berubah aneh. Wajah cerianya tadi berubah datar dan sekali lagi dia melihat ke arah Nala. “Pak, saya pergi dulu


kalau begitu.”


“Terima kasih coklat hangatnya Nala,” ucap Akira dan Nala pergi dari sana. Silvi yang melihat Nala sudah pergi dari ruangannya berpikiran jika sekarang dia punya kesempatan untuk merayu pria yang baginya adalah sospk pria yang sempurna.


“Akira. Em ... maksud saya Pak Akira, saya ingin memberikan dokumun yang harus Pak Akira tanda tangani, Silvi mengulurkan tangannya


memberikan dokumen pada Akira.

__ADS_1


“Dokumen penjualan? Kenapa bukan Ita yang memberikannya? Dia,kan sekertaris yang menangani masalah ini?”


“Maaf, dia tadi sedang banyak pekerjaan jadi saya menawarkan bantuan.” Akira memeriksa dokumen di tangannya.


“Pak Akira, apa Bapak menyukai cappuccino yang saya buatkan? Saya membuatkan sendiri dengan resep yang biasa saja minum.”


“Aku belum mencicipinya, lagian aku tiap pagi lebih suka minum coklat hangat yang dibuatkan oleh Nala.” Akira berkata tanpa melihat ke arah Silvi. Akira fokus ke arah dokumen di tangannya.


Silvi membuka satu lagi kancing kemeja yang di pakainya, dia sengaja ingin membuat Akira tergoda olehnya. “Jadi tiap pagi Pak Akira suka


dengan coklat hangat ? Kalau begitu saya akan membuatkan coklat hangat yang spesial.”


“Tidak perlu, aku sudah terbiasa dengan coklat hangat buatan Nala. Ini dokumennya sudah aku tanda tangani, kamu bisa serahkan pada Ita.”


Akira menyerahkab kembali dokumen itu pada Silvi.


Silvi mengambilnya dan dia meminta izin pergi dari sana. “Auw!” Silvia tiba-tiba terjatuh di atas lantai. Akira yang melihatnya segera berjalan


menolongnya. “Terima kasih, Pak.


“Kamu baik-baik saja, Kan?”


yang saya kira mantan kekasih saya dulu , tapi ternyata bukan.” Silvia pura-pura terlihat bersedih.


“Sebaiknya kamu mulai melupakan  semuanya, kamu pikirkan saja masa depanmu sendiri, tanpa harus melihat lagi kebelakang, aku yakin kamu wanita yang kuat dan tangguh.”


“Iya, Pak. Saya berharap bisa seperti yang apa Pak Akira katakan.” Silvia memegang tangan Akira.


Akira melepaskan tangannya pada Silvia. “Kalau kaki kamu masih sakit, kamu sebaiknya jangan memakai high heel. Sekarang kamu boleh pergi.”


“Saya permisi dulu.”


“Silvia, rapikan juga kemeja kamu, aku tidak mau mereka berpikiran jika aku sama kamu melakukan sesuatu di ruangan ini.” Akira berbalik badan dan duduk kembali di kursinya. Silvia keluar dari ruangan Akira.


Jam makan siang akhirnya tiba, semua para karyawan semua berada di kantin. Akira menghubungi Nala dan mengatakan jika Akira sudah menyiapkan makan siang untuk Nala di ruangannya.


“Tapi temanku mengajak aku untuk makan di kantin, Sayang. Kalau aku sering tidak makan siang di kantin, mereka nanti curiga sama aku


makan siang di mana?”

__ADS_1


“Bilang saja kamu makan siang di luar karena ingin makan dibluar kantin. Aku sudah membelikan semuanya, kamu pasti menyukainya.”


“Tapi sayang--.”


“Atau mau aku yang ke sana?”


“Jangan bicara yang tidak-tidak. Ya sudah aku akan ke sana saja.” Nala mematikan ponselnya. Lalu dia berjalan menuju ke ruangan Akira,


saat Nala mau ke ruang Akira, dia melihat Silvia ada di sana dan Nala melihat Silvia masuk ke dalam ruangan Akira.


“Ada apa dia ke ruangan Akira? Mungkin dia mau mengajak Akira makan siang, aku kenapa merasa jika Silvia ingin merayu suamiku? Dia kan tau jika Akira sudah menikah.”


Seketika bayangan masa lalu dulunya, di mana Anabella selalu merayu suaminya walaupun dia sudah tau jika Akira memiliki seorang istri.


Tidak lama Nala melihat Silvia keluar dari dalam ruangan Akira dengan muka kesalnya. Nala berpapasan dengan Silvi.


“Nala, kamu mau ke ruangan Akira?” tanya Silvi.


“Iya, tadi Pak Akira memanggil saya ke ruangannya sebentar.”


“Untuk apa? Inikan jam istirahat.”


“Saya tidak tau, mungkin saya di suruh membersihkan ruangannya, kalau begitu saya permisi dulu.” Nala mengetuk pintu ruangan Akira dan dari dalam Akira menyuruhnya masuk. Silvi pergi dari sana.


Nala masuk dan dengan gerakan cepat Akira memeluknya serta memberondong ciuman pada Nala.


"Kamu lama sekali."


"Jangan begini, di luar masih ada Silvia. Aku tadi sudah ke sini, tapi aku melihat Silvi masuk ke dalam ruangan kamu jadi aku memutuskan menunggu dia keluar."


"Iya, tadi dia masuk ke sini dan ingin mengajakku untuk makan siang di luar, tapi aku menolaknya, dan bilang jika istriku sudah menyiapkan makan siang untukku."


"Tadi dia bertanya padaku juga kenapa aku masuk ke ruangan kamu. Aku bilang saja jika kamu memanggilku dan mungkin ingin menyuruhku membersihkan ruangan kamu."


Akira tersenyum, dan menggandeng tangan istrinya duduk di ruang tamu yang ada di dalam ruangan Akira. "Kamu pintar sekali mencari alasan. Ya sudah, kita makan saja dulu sebelum para karywanku datang."


Nala melihat suaminya itu sangat telaten menyiapkan makanan untuknya. "Akira, kenapa aku merasa Silvia itu menyukai kamu."


Akira menghentikan gerakannya dan melihat ke arah Nala. "Dia tidak menyukaiku, dia hanya ingin berterima kasih karena sudah menolongnya, dia juga masih teringat oleh mantan kekasihnya sampai saat ini."

__ADS_1


__ADS_2