My Secret Love

My Secret Love
68


__ADS_3

“Apa sudah puas sekarang? Sudah sampai situ saja cerita nya sayang. Untuk selanjut nya kamu pasti sudah tahu. Mas melamarmu dan kita menikah.” Ucap Azzam menatap istri nya lekat.


“Jadi ingatanku memang benar di hapus mas?” tanya Husna fokus pada ingatan nya itu.


Azzam pun mengangguk, “Hum, itu yang di katakan abi pada mas waktu itu. Untuk cerita detail nya mas kurang tahu.” Ujar Azzam.


“Ahh apa saja yang aku lupakan tentangmu mas. Kenapa coba abi dan umi menghapus ingatanku. Aku jadi lupa padamu kan.” Ucap Husna dengan nada sesal nya.


Azzam yang mendengar ucapan istri nya itu pun tersenyum lalu dia mengecup bibir sang istri sekilas.


“Kamu tahu sayang. Tidak masalah ingatan kita di hapus atau pun terhapus karena pada inti nya kita tetap saling bertemu dan hati kita saling tertaut satu sama lain. Kau bahkan menyimpan foto mas dan ingat warna bola mata mas dengan benar. Sedangkan mas merasa tidak asing dengan namamu saat pertama kali tahu namamu. Ingatan kita memang terhapus tapi hati kita mengingat memori itu. Tidak masalah ingatanmu itu terhapus sayang. Kita akan menciptakan kenangan yang indah nanti bersama agar kita bisa mengenang nya.” Ucap Azzam lembut.


Husna pun mengangguk sekilas, “Mas benar. Tapi aku tetap saja ingin tahu cerita sebenar nya tentang ingatanku. Aku tidak pernah ingat pernah masuk rumah sakit mas. Jadi kapan prosedur itu di lakukan. Aku ingin tahu semua nya.” Ucap Husna.


Azzam pun mengiayakan, “Tapi ingat sayang. Kamu bisa bertanya pada abi dan umi namun kamu tidak boleh menyalahkan mereka. Pilihan itu pasti mereka ambil demi keselamatanmu. Mereka hanya punya dirimu saja jadi mereka tentu saja akan melakukan yang terbaik untuk putri mereka. Kamu hanya boleh bertanya dan tahu keseluruhan cerita nya tapi tidak dengan menyalahkan mereka.” ucap Azzam.


Husna yang mendengar ucapan suami nya itu pun tersenyum lalu mengangguk, “Tentu saja mas. Aku juga tidak mungkin menyalahkan kedua orang tuaku. Aku tidak sedurhaka itu karena menyalahkan mereka. Aku hanya ingin tahu cerita nya saja. I am promise!” ucap Husna sambil mengangat dua jari nya.


Azzam pun tersenyum lalu membawa istri nya itu kembali ke dalam pelukan nya, “Apa kamu bahagia sekarang setelah tahu semua nya? Apa pertanyaan dalam otakmu itu sedikit berkurang?” tanya Azzam.


“Hum, sedikit terjawab. Aku senang kita bertemu lagi. Seperti nya aku harus berterima kasih pada ketua tingkatku itu mas.” Ucap Husna.


“Ketua tingkat? Gilang maksudmu? Untuk apa?” tanya Azzam sedikit cemburu saat istri nya itu menyebut ketua tingkat nya. Padahal sudah dia ketahui bahwa sang istri tidak memiliki perasaan sama sekali kepada Gilang. Tapi memang dasar nya saja dia yang posesif level dewa itu tidak bisa mendengar sang istri memuji pria lain.


Husna yang mendengar protes suami nya itu pun terkekeh, “Apa mas cemburu? Astaga, tidak perlu cemburu mas. Aku hanya milikmu saja. Hanya kau saja yang ada dalam hatiku ini sejak kecil sampai saat ini walaupun memoriku hilang. Aku tetap mengingat sosokmu. Jadi untuk apa cemburu begitu.” Ucap Husna.


“Lalu kenapa harus mengucapkan terima kasih pada nya sayang? Kamu kan tahu dia itu mencintaimu. Dia saingan mas. Pokok nya kamu gak boleh ketemu dengan nya lagi. Sudah cukup kita menjenguk nya kemarin di rumah sakit. Tidak boleh la--”


Cup


Satu kecupan singkat dari Husna mendarat tepat di bibir suami nya, “Mas jadi cerewet deh. Tapi aku suka.” Ucap Husna tersenyum.


“Dengar penjelasanku mas. Aku ingin mengucapkan terima kasih pada nya karena jika bukan karena dia memaksaku ke ulang tahun nya hari itu mungkin saja kita tidak bertemu di toko buku saat itu. Jadi bukan kah pertemuan kita itu berhubungan dengan nya. Tidak masalah bukan mengucapkan terima kasih pada orang yang berjasa mempertemukan kita.” Lanjut Husna.


“Itu hanya kebetulan saja sayang. Jadi tidak perlu berterima kasih. Tidak boleh.” Ucap Azzam posesif.


“Hum, baiklah. Padahal hanya ucapan terima kasih saja loh mas. Bukan ungkapan cinta.” Goda Husna.

__ADS_1


“Awas saja jika ucapan cinta mas akan menghukummu sayang. Kamu hanya milik mas saja baik dulu, kini maupun di masa depan.” Ucap Azzam dengan posesif nya.


Husna pun tersenyum, “Baik lah suamiku. Aku tidak akan berterima kasih. Tapi bukan kah tidak ada yang nama nya kebetulan mas. Semua yang terjadi sudah seharus nya terjadi bukan. Namun kenapa ini jadi kebetulan ya?” tanya Husna.


“Itu memang benar tidak ada yang kebetulan tapi untuk kejadian dan situasi satu ini anggap saja kebetulan.” Ucap Azzam bersikeras.


Husna yang mendengar itu pun tertawa, “Hahah, baiklah. Kejadian itu kebetulan.” Ucap Husna akhir nya menghentikan untuk menggoda suami nya itu. Jujur saja dia senang saat di posesifin oleh suami nya seperti itu. Dia juga memang tidak memiliki niatan untuk berpaling dari suami nya itu. Bukan kah dalam keadaan ingatan di hapus saja dia tetap tidak bisa menghilangkan bayangan suami nya itu. Jadi untuk apa berpaling saat dia sudah menemukan kenyaman nya.


“Mas, katamu kita memiliki perjanjian untuk bertemu di Hagia Shopia. Aku ingin kita mewujudkan itu. Walaupun bukan untuk pertemuan pertama kita saat dewasa tapi setidak nya kita menepati janji itu. Aku juga ingin ke sana.” Ucap Husna kemudian.


Azzam yang mendengar keinginan istri nya itu pun mengangguk, “Baiklah. Kita akan berbulan madu ke sana. Tapi nanti setelah kau menyelesaikan pendidikanmu. Tidak apa-apa bukan?” tanya Azzam.


Husna pun menggeleng, “Gak apa-apa kok mas. Tidak masalah untuk waktu nya kapan yang terpenting kita tetap ke sana bersama. Ohiya, apa setelah aku lulus juga mas akan segera mengundurkan diri dari posisi dosen seperti yang sudah aku katakan waktu itu?” tanya Husna.


Azzam pun mengangguk, “Hum, kita harus menepati janji yang sudah kita buat dan sepakati bukan. Saat kau lulus mas pun akan mengundurkan diri dari dosen.” Ucap Azzam.


“Lalu mas akan kerja apa dong jika tidak sebagai dosen? Lalu juga bukan kah keinginan mas ingin jadi dosen? Maafkan aku yang sudah membuat janji seperti itu.” ucap Husna merasa bersalah karena saat dia terbawa emosi maka dia membuat keputusan yang salah.


Azzam menyadari ekspresi bersalah dari wajah istri nya itu, “Jangan merasa bersalah sayang. Mas gak apa-apa kok. Mas juga memang tidak bisa menjadi dosen terus menerus. Setidak nya mas sudah pernah merasakan bagaimana menjadi dosen itu. Setidak nya juga dengan mas jadi dosen mas bisa bertemu denganmu. Belahan jiwa mas.” Ucap Azzam lalu mengeratkan pelukan nya.


“Lalu mas akan kerja apa? Ahh mas kerja di perusahaanku aja.” Ucap Husna.


“Mas, kenapa tersenyum begitu? Aku ini sedang memikirkan kehidupan mas di masa depan gimana. Mas pasti akan merasa bosan nanti jika tidak punya pekerjaan.” Ucap Husna.


“Mas gak akan bosan kok sayang. Mas bisa bersantai dan menunggu di rumah.” Ucap Azzam mengikuti arus istri nya itu.


“Ih, mas serius. Aku ini sedang memikirkan apa yang akan kita lakukan. Ahh, aku akan membuatkan sekolah atas nama kita mas lalu mas yang jadi kepala sekolah nya. Bagaimana?” tanya Husna.


Azzam yang mendengar itu pun tertawa, “Sayang, kenapa kau panic seperti itu? Apa kau tidak suka memiliki suami yang tidak memiliki pekerjaan?” tanya Azzam penasaran. Entah kenapa dia ingin tahu respon istri nya itu.


Husna pun melepas pelukan suami nya itu dan menatap suami nya itu lekat, “Pertanyaan macam apa itu mas. Aku menerimamu bukan karena kau kaya atau pun apa. Tidak masalah jika kau tidak bekerja. Aku sudah kaya. Aku jamin hidup kita tidak akan kekurangan apapun.” Ucap Husna tersenyum di akhir kalimat nya itu.


Azzam pun ikut terkekeh mendengar ucapan istri nya itu, “Itu kalimat yang harus mas ucapkan sayang. Kenapa jadi kamu. Tidak perlu khawatir dengan pekerjaan mas setelah mengundurkan diri jadi dosen. Apa kau lupa atau tidak ingat mas juga punya perusahaan peninggalan keluarga sayang. Ohiya, perusahaan itu juga saat ini sedang menjalin kerja sama dengan perusahaanmu.” Ucap Azzam.


Husna yang mendengar ucapan suami nya itu terdiam mencoba memahami apa yang di ucapkan suami nya, “Perusahaan yang mana mas?” tanya Husna mengingat kontrak kerja sama yang dia tanda tangani.


“Ahh, perusahaan kecil itu yang mengajukan kerja sama saat aku sedang KKN?” lanjut Husna saat bisa mengingat kontrak kerja sama yang dia tanda tangani.

__ADS_1


Azzam pun mengangguk, “Hum, itu perusahaan mas sendiri. Jadi masih kecil. Untuk perusahaan warisan keluarga mas. Itu besar sayang. Walaupun tidak sebesar milik kedua orang tuamu.” Ucap Azzam.


Husna yang mendengar itu pun kaget, “Ahh apa ini? Apa aku menikah dengan seorang pria kaya? Kenapa kau menyembunyikan nya mas?” tanya Husna.


“Bukan kah kau juga sama sayang. Kau bahkan menutup semua identitasmu itu bukan. Jadi kenapa kaget begitu sayang. Kita adalah orang sama. Memiliki identitas yang di sembunyikan. Lihat lah walaupun dalam keadaan tidak saling mengingat kita melakukan hal yang sama.” ucap Azzam.


Husna pun masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar itu. Kenyataan bahwa sang suami adalah orang yang sama dengan nya. Maksud nya berasal dari keluarga yang setara dengan nya itu membuat nya kaget karena mengingat suami nya itu yang selama ini terlihat sederhana. Bahkan rumah ini yang terlihat sederhana. Ahh mereka memang pasangan aneh yang menyembunyikan identitas dan terlihat seperti tidak memiliki apapun, “Lagi pula sayang. Mas tidak menyembunyikan apapun darimu. Kau saja yang tidak pernah bertanya. Lalu mas juga sudah mengatakan padamu dalam cerita bukan tentang warisan dan perusahaan. Kamu saja yang gak ngeh.” Ucap Azzam.


Husna pun mengingat dan kemudian menepuk kening nya yang seperti nya tidak mengingat hal itu. Karena dia memang hanya fokus saja pada cerita pertemuan mereka dulu. Terkait status sosial dia tidak begitu memperhatikan. Bukan kah sama saja. Tidak ada yang berbeda, “Memang aku gak ngeh sama sekali mas. Aku hanya fokus pada ceritamu saja yang tentang kita.” Ucap Husna jujur.


Azzam pun tersenyum mendengar ucapan istri nya itu. Dia memang tahu dan sangat ingat bahwa Husna itu memang bukan perempuan yang gila harta karena memang dia pun sudah kaya. Tapi walaupun sudah kaya istri nya itu tidak sombong dan tetap sederhana. Azzam bukan ingin mengatakan bahwa istri nya itu tidak matre atau apalah. Karena memang tidak ada perempuan yang matre yang ada hanya perempuan itu bertemu dengan lelaki kere saja. Perempuan itu hanya realistis. Mereka memikirkan akan hidup seperti apa nanti jika tanpa uang.


“Mas, aku masih tidak menyangka bahwa kita saling menutupi rahasia satu sama lain.” Ucap Husna.


Azzam pun hanya tersenyum, “Tapi aku menyukai nya. Ini seperti sebuah kejutan saja untukku. Pertemuan kita terasa indah karena kita yang saling tidak ingat. Itu adalah pertemuan yang indah. Aku menyukai nya. Aku mensyukuri aku yang datang ke toko buku waktu itu dan mas yang menyebut nama penaku. Jika mas tidak menyebut nya maka aku tidak bertatapan dengan mas dan melihat bola mata mas itu.” sambung Husna.


Azzam pun tersenyum lagi, “Mas juga mensyukuri hal itu karena memilih hari dan waktu itu untuk datang mengunjungi toko buku. Tapi mas tetap tidak ingin kamu mengucapkan terima kasih kepada ketua tingkatmu itu. Bisa-bisa dia tidak akan bisa move on darimu sayang.” ucap Azzam tetap dengan posesif nya.


Husna pun terkekeh, “Ya baik lah. Aku tidak akan mengucapkan nya. Dasar posesif!” ledek Husna.


“Mas memang posesif sayang. Bukan kah kau sudah tahu bagaimana mas jika sedang posesif. Mas bisa melakukan apa saja termasuk membuatmu di evaluasi waktu itu.” ucap Azzam.


Husna pun terkekeh mendengar ucapan suami nya itu. Dia mengingat kejadian kebun teh yang sudha di ceritakan oleh sang suami, “Ohiya sayang perlu kamu tahu. Kebun teh yang kamu kunjungi waktu itu adalah milik mas. Mas ke sana ingin mengecek hasil nya. Tapi karena melihatmu dan Gus Rahman saat itu mas menunda nya dan membuatmu sedikit kesulitan. Walaupun harus mas akui kamu jenius sayang.” ucap Azzam tersenyum.


“Kebun teh? Kebun teh itu milik mas? Mas gak bohong kan?” tanya Husna kaget.


Azzam menggeleng, “Untuk apa mas bohong sayang. Itu memang milik mas. Nanti kapan-kapan kita ke sana untuk melihat nya dan memperkenalkan dirimu sebagai istri mas kepada mereka.” ucap Azzam.


“Ahh kau sangat kaya suamiku. Kita ke sana week end minggu depan mas. Aku ingin menginap di sana dan menghirup serta menyeduh daun teh asli yang baru di petik.” Ucap Husna.


Azzam pun mengangguk, “Sesuai perintahmu nyonya.” Ucap Azzam tersenyum.


“Ck, mas ada-ada aja. Aku harus tahu semua tentangmu mas. Jangan sembunyikan apapun dariku.” Ujar Husna.


“Bukan kah kamu memang sudah tahu semua nya sayang. Kamu sudah tahu luar dalam nya mas sayang. Jadi apa lagi yang ingin kau ketahui.” Ucap Azzam menggoda.


“Ck, bukan itu mas. Dasar mesum!” ucap Husna lalu segera meninggalkan suami nya. Azzam yang melihat itu pun hanya tertawa saja. Dia senang menggoda istri nya itu yang ternyata adalah sahabat nya.

__ADS_1


“Sayang, tungguin mas.” Ucap Azzam segera menyusul istri nya itu.


__ADS_2