My Secret Love

My Secret Love
58


__ADS_3

Kini Azzam dan Husna turun ke lantai bawah sambil bergandengan tangan satu sama lain. Azzam dengan pakaian kasual nya yang sudah di pilihkan oleh Husna sendiri kini membuat umi Balqis dan abi Syarif yang berada di lantai bawah tersenyum melihat nya.


“Tumben nak pakai pakaian begini.” Ucap umi Balqis.


Azzam pun tersenyum, “Ini pilihan istri Azzam umi. Dia yang membelikan nya. Jadi sudah pasti Azzam harus memakai nya. Kasihan kan.” Ucap Azzam.


“Kau juga terlihat lebih fresh dengan pakaian itu nak.” timpal abi Syarif.


“Iya abi benar. Saya jadi merasa seumuran dengan Azarine.” Ujar Azzam.


“Ck, jangan ngomong begitu mas. Kita itu masih seumuran kok. Hanya beda berapa tahun aja.” Timpal Husna.


“Iya sayang. Mas tahu.” Ucap Azzam lembut tersenyum ke arah istri nya itu. Husna pun membalas dengan senyuman.


“Abi … umi … Husna dan mas Azzam mau pamit dulu mau menjenguk teman yang sakit di rumah sakit.” Izin Husna.


Abi Syarif dan umi Balqis pun mengangguk, “Hati-hati di jalan nak.” ucap umi Balqis.


“Iya umi.” Jawab Husna.


Lalu setelah itu Husna dan Azzam pun menyalami umi Balqis dan abi Syarif untuk berpamitan. Setelah berpamitan mereka pun segera keluar sambil bergandengan tangan satu sama lain.


Umi Balqis dan abi Syarif yang melihat itu tersenyum dan saling memandang satu sama lain.

__ADS_1


“Umi bahagia bi karena putri kita sudah menemukan orang yang menjaga nya. Azzam juga sangat mencintai putri kita. Mereka sudah tidak canggung lagi. Semoga saja hubungan mereka akan selalu harmonis dan baik-baik saja.” ucap umi Balqis.


Abi Syarif pun mengangguk, “Mereka pasti akan bahagia. Takdir mereka sudah menuntun mereka untuk bersama satu sama lain sejak dulu. Walaupun saat ini takdir mereka itu masih menyimpan rahasia yang seperti nya belum terbongkar.” Timpal abi Syarif.


Umi Balqis yang mendengar ucapan suami nya itu pun hanya tersenyum saja.


***


Singkat cerita, kini Azzam dan Husna sudah tiba di rumah sakit tempat di mana Gilang di rawat.


Husna dan Azzam segera turun dari mobil lalu mereka berjalan masuk ke dalam dan segera menuju bagian administrasi untuk menanyakan di mana ruangan Gilang di rawat. Setelah mendapatkan ruangan di mana Gilang di rawat, Husna dan Azzam pun segera menuju ruangan perawatan Gilang itu yang ternyata ada di lantai dua rumah sakit ini.


“Ayo, ketuk saja sayang.” ucap Azzam saat mereka sudah tiba di pintu ruangan perawatan Gilang berada.


Husna pun tersenyum lalu mengangguk dan segera mengetuk pintu ruangan itu yang tidak lama ada yang membukakan pintu untuk mereka.


“Wa’alaikum salam.” Jawab Gentala terpaku menatap dua orang yang datang mengunjungi Gilang itu.


“Siapa Gen?” tanya Gilang dari dalam dengan suara lemah nya.


Husna pun tersenyum lalu masuk, “Ini aku ketua tingkat.” Jawab Husna masuk bersama Azzam.


“Husna … pak Azzam.” Ucap Gilang yang berbaring di tempat tidur nya itu.

__ADS_1


Azzam segera memberikan buah yang di bawa oleh mereka kepada Gentala, “Terima kasih Na, pak Azzam sudah datang menjenguk saya dan membawa buah juga.” Ucap Gilang.


“Maaf sudah merepotkan.” Lanjut Gilang.


“Gak repot kok. Kamu juga mahasiswa saya. Jadi menjenguk mahasiswa saya itu pasti tidak merepotkan. Cepat lah sembuh dan segera selesaikan proposal dan skripsimu itu. Jangan terlalu lama sedih dan patah hati atas sesuatu yang sudah tidak bisa kau miliki lagi. Setidak nya jika tidak bisa bersatu dalam buku nikah dan foto pernikahan. Apa tidak lebih baik memiliki foto wisuda bersama dengan orang yang kita cintai.” Ucap Azzam panjang lebar. Kata-kata nya memang terdengar seperti menyiram luka di atas luka Gilang tapi di balik itu ada kata penyemangat terselip di sana.


“Terima kasih atas perhatian anda pak. Saya akan mengingat nya. Saya akan segera sembuh dan mengejar ketertinggalan saya. Seperti kata bapak saya akan lulus nanti bareng orang yang saya cintai dan memiliki foto bersama nya. Semoga saja bapak mengizinkan dan tidak keberatan nanti akan hal itu.” balas Gilang.


Azzam pun tersenyum lalu dia merangkul pinggang Husna erat, “Tidak masalah. Yang terpenting dia istri saya dan dia pun tidak mungkin memiliki rasa kepadamu.” Ujar Azzam percaya diri.


“Ahh bapak benar. Anda memang sudah menang. Semoga saja kita bisa jadi teman baik.” ucap Gilang yang langsung di angguki oleh Azzam.


Husna dan Gentala yang hanya jadi pendengar di antara dua pria yang memiliki perasaan kepada satu gadis yang sama itu hanya bisa saling memandang satu sama lain.


“Mas … sudah deh. Jangan bertengkar di sini. Kita mau menjenguk Gilang kan. Aku sudah jadi milikmu. Jangan menabur garam di luka nya lagi.” Bisik Husna kepada suami nya itu yang di balas oleh Azzam dengan senyuman.


“Ketua tingkat, aku mau mengucapkan terima kasih kepadamu karena selama ini kau melindungimu secara diam-diam. Aku tahu kau selalu melindungiku. Tapi maaf aku tidak bisa membalas perasaanmu itu. Aku sudah memiliki seseorang yang ku cintai. Aku harap kau pun akan segera menemukan seseorang yang mencintaimu. Jangan selalu terpaku pada seseorang saja sehingga kau tidak bisa melihat bahwa ada cinta yang lain untukmu. Aku tahu kata-kata yang ku katakan ini tidak akan bisa menyembuhkan luka di hatimu yang mungkin masih belum sembuh. Tapi setidak nya jangan terpuruk terus menerus. Berbahagia lah dan sambut lah bahagiamu itu sendiri. Hidup ini masih berlanjut dan yakin lah ada bahagia yang menyambutmu di depan sana.” Ucap Husna lembut.


“Aku hargai keikhlasanmu itu atasku. Aku akan berdoa semoga kau bisa menemukan kebahagiaanmu. Kau pria baik ketua tingkat. Aku yakin kau pun akan menemukan gadis yang mencintaimu dengan tulus.” Lanjut Husna lembut.


Gilang yang mendengar ucapan dari gadis yang dia cintai selama hampir empat tahun itu pun seketika hati nya itu terasa sesak. Tapi tidak harus dia pungkiri bahwa apa yang di katakan oleh Husna itu benar. Dia terlalu terpuruk akan perasaan nya sehingga dia lupa bahwa hidup ini masih berlanjut.


“Terima kasih Husna. Aku akan ingat apa yang kau sampaikan. Aku ikhlas melepasmu. Aku yakin pak Azzam memang menyayangimu lebih dariku. Dia memang pantas untuk jadi pasanganmu. Aku akan melanjutkan hidupku. Aku pastikan juga aku akan lulus bersamamu dan kau harus berfoto denganku. Ohiya, jangan lupa juga kau masih punya janji padaku yang belum kau tepati.” Ucap Gilang dengan tersenyum.

__ADS_1


“Aku akan menepati nya.” Balas Husna.


Akhirnya setelah keikhlasan itu ada semua pun berakhir damai. Walaupun kita tahu bahwa ikhlas itu adalah sesuatu yang sulit untuk di lakukan karena siapa juga yang bisa ikhlas melepaskan seseorang yang kita cintai. Yang ada itu hanya berdamai dengan keadaan saja dan berpura-pura baik-baik saja dengan semua yang terjadi.


__ADS_2