My Secret Love

My Secret Love
72


__ADS_3

Kini Husna dan Azzam baru saja menyelesaikan makan malam mereka bersama. Kedua nya tadi sudah memasak makan malam itu bersama dan kini pun mereka merapikan bekas makan malam mereka itu pun bersama-sama. Baik Husna dan Azzam mengerti tugas dan kewajiban masing-masing. Mereka selalu saling berbagi dan saling membantu bila melakukan pekerjaan rumah tangga. Tidak pernah Azzam membiarkan istri nya itu hanya sendiri melakukan pekerjaan rumah. Dia selalu membantu.


“Sayang, kita pakai jasa asisten rumah tangga saja ya!” ucap Azzam saat mereka telah selesai merapikan semua pekerjaan di dapur itu.


Husna yang mendengar ucapan suami nya itu pun tersenyum lalu sambil berpikir, “Apa mas sudah merasa lelah membantuku membersihkan rumah ini sendiri?” tanya Husna balik.


Azzam yang mendengar itu pun segera menarik istri nya itu ke sisi nya lalu dia menggeleng, “Mas gak keberatan sama sekali sayang. Mas senang bisa membantumu mengerjakan pekerjaan rumah tangga namun bagaimana jika mas tidak bisa membantumu. Kau pasti kelelahan nanti. Selain itu juga mas tidak ingin kamu kelelahan karena ini. Kita hanya pakai jasa bersih-bersih saja jika kau tidak suka mereka yang akan memasak untuk kita. Kamu tetap bisa memasak. Semua sesuai keinginanmu.” Ujar Azzam menjelaskan nya dengan lembut hingga Husna pun tidak pernah marah jika suami nya itu memberikan pendapat nya.


Husna pun pada akhir nya mengangguk, “Baik lah terserah padamu saja mas. Aku menerima idemu itu. Tapi kau tetap makan makanan hasil masakanku kan?” tanya Husna.


Azzam pun mengangguk, “Tentu saja sayang. Aku ini sudah kecanduan masakanmu.” Ucap Azzam.


Husna yang mendengar ucapan suami nya itu pun terkekeh, “Mas ada-ada saja deh. Bisa aja gombal nya.” Ucap Husna tertawa.


“Ya sudah jadi benar mau ambil jasa asisten rumah tangga?” tanya Azzam memastikan.


Husna pun mengangguk, “Sesuai keinginanmu mas. Tapi ingat aku tidak suka asisten rumah tangga yang masih muda. Cari lah yang di atas umur 35 tahun. Aku pencemburu mas.” Ucap Husna jujur.


Kini giliran Azzam yang terkekeh mendengar ucapan istri nya itu. Percaya lah di balik kekehan nya itu dia sangat bahagia saat sang istri mengatakan kecemburuan nya, “Baiklah sesuai keinginan nyonya. Aku juga tidak akan berpaling darimu sayang. Hanya kau saja yang ku cintai di kehidupanku ini dan kehidupan-kehidupan selanjut nya.” Ucap Azzam.


“Aku percaya itu mas. Kau tidak akan berpaling tapi ujian rumah tangga itu berbeda-beda. Jadi aku hanya ingin menjaga rumah tanggaku saja tetap utuh dengan menjaga sesuatu yang buruk yang mungkin akan terjadi.” Ujar Husna.


Azzam pun mengangguk tersenyum. Dia menyetujui dan mengagumi pemikiran makhluk yang bernama wanita. Pemikiran mereka secara keseluruhan.


Kini Azzam dan Husna sudah berada di kamar mereka. Kedua nya segera bersiap untuk melaksanakan sholat bersama.


Singkat cerita, kedua nya sudah selesai melakukan sholat bersama dan juga membaca Qur’an yang sudah jadi kegiatan rutin mereka yang tidak boleh di lupakan sama sekali. Mereka sangat mendetail akan hal itu, “Mas, aku mau bicara sesuatu sebentar. Semoga saja kau tidak akan kaget nanti.” Ucap Husna bercanda sambil memakai perawatan nya itu.


Azzam yang mendengar ucapan istri nya itu pun menjadi penasaran, “Emang tentang apa sayang? Mas jadi penasaran.” Ujar Azzam.


“Hum, coba tebak!” Husna bukan langsung menjawab justru meminta suami nya itu untuk menebak.


Azzam pun tampak berpikir mencoba menebak apa yang akan di bicarakan oleh istri nya itu tapi lagi-lagi dia pusing tidak bisa menebak apapun, “Mas gak tahu sayang. Ayo lah katakan saja. Gak usah main tebak-tebakan begini.” Ujar Azzam.


“Ish, tetap saja tebak kak. Clue nya itu tanggal.” Ucap Husna masih saja tidak ingin menjawab pertanyaan suami nya itu dan tetap saja meminta Azzam untuk menebak.


“Tanggal? Hum, apa ulang tahunmu? Ahh iya benar ini bulan--”


“Astaga sayang. Mas hampir lupa jika seminggu lagi ulang tahunmu. Untung saja kau mengatakan nya. Jika tidak maka mas lupa. Maaf yaa!” ucap Azzam mendekati istri nya itu di cermin rias nya lalu memeluk sang istri dari belakang dan mengecup puncak kepala sang istri.


Husna pun tersenyum lalu memegang tangan suami nya dan berbalik, “Aku mau hadiah yang besar darimu mas.” Ucap Husna.


Azzam yang mendengar itu pun mengerutkan alis nya, “Gak boleh ya?” tanya Husna melihat perubahan ekspresi suami nya itu.


“Hum, tentu saja boleh sayang. Katakan saja. In Syaa Allah mas bisa memenuhi nya maka mas akan penuhi.” Ucap Azzam lembut lalu mengecup kening istri nya itu.


“Hum, kita bicara di sana saja mas.” Tunjuk Husna ke arah ranjang. Azzam pun segera menggendong istri nya itu ke ranjang.

__ADS_1


“Katakan sekarang mau hadiah apa?” tanya Azzam lalu segera naik ke ranjang juga dan dia menjadikan paha istri nya itu sebagai bantal nya.


“Mau hadiah perayaan ulang tahun. Terakhir kali Husna membuat perayaan ulang tahun hanya saat ulang tahun ke-17. Setelah itu hanya perayaan kecil-kecil saja. Jadi boleh yaa untuk ulang tahun kali ini di rayakan dengan besar-besaran.” Ucap Husna menatap suami nya itu lekat.


“Perayaan ulang tahun? Hum, baiklah. Mau konsep seperti apa?” Tanya Azzam langsung menyetujui tanpa banyak bertanya lagi. Dia pikir tadi nya istri nya itu akan meminta sesuatu yang sulit tapi ternyata hanya perayaan ulang tahun saja.


Husna yang mendengar sang suami lansung menyetujui permintaan nya itu tanpa ba bi bu pun menjadi kaget. Seperti nya suami nya jadi suami spek CEO di novel-novel buatan nya. Yah, walaupun memang suami nya itu seorang CEO juga sih. Tapi kan setidak nya bertanya dulu kenapa harus membuat perayaan, “Mas gak mau tanya dulu gitu apa alasanku meminta perayaan ulang tahun?” tanya Husna.


“Untuk apa mas bertanya sayang. Mas sudah tahu kok. Kamu ingin mengundang teman-temanmu bukan dan membongkar identitasmu itu. Tapi apa kau yakin akan membongkar identitasmu?” Tanya Azzam.


Husna yang mendengar ucapan suami nya itu bertambah kaget. Jangan katakan bahwa suami nya itu tahu apa yang sudah terjadi hari ini di kampus, “Kenapa bengong sayang? Apa kau bertanya-tanya dari mana mas tahu hal itu? Tentu saja mas tidak akan mungkin membiarkan istri mas keluar tanpa perlindungan. Jadi mas tahu apa yang kau lakukan sayang. Tidak perlu kaget dan mas harap kau pun tidak keberatan mas menempatkan bodyguard bayangan untuk menjagamu.” Ucap Azzam menjelaskan.


Husna yang mendengar penjelasan suami nya itu pun seketika mengangguk mengerti, “Aku tidak keberatan sama sekali mas. Lagi pula aku memang sudah terbiasa dengan bodyguard bayangan selama ini. Bodyguard yang di minta umi dan abi untuk melindungiku. Jadi aku tidak masalah sama sekali hal itu. Aku justru senang karena mas memperhatikan keselamatanku. Terima kasih mas.” Ucap Husna.


Azzam pun mengangguk, “Jadi gimana?” tanya Azzam.


“Gimana apa nya?” tanya Husna balik tidak mengerti apa maksud istri nya itu.


Azzam yang mendengar pertanyaan balik dari istri nya itu pun menjadi gemas sendiri hingga membuat nya tidak tahan dengan kegemesan istri nya itu dan segera menyentuh hidung sang istri, “Pertanyaan mas tadi belum di jawab sayang. Emang kamu sudah siap identitasmu terbuka di public dan mereka mengenalimu sebagai pewaris ASH industries?” ucap Azzam mengulangi pertanyaan nya itu.


Husna pun tampak berpikir lalu dia menatap suami nya dan mengangguk, “Aku sudah siap mas. Lagi pula ada mas yang akan melindungiku nanti jika sesuatu terjadi padaku. Tapi aku berdoa tidak akan ada masalah yang akan mengganggu kita.” Ucap Husna.


Azzam yang mendengar ucapan istri nya itu pun tersenyum dan tidak tahan hingga bangkit dan mengecup sekilas bibir istri nya itu dengan lembut, “Mas!” protes Husna.


Azzam pun terkekeh, “Hum, baiklah mas akan membuat perayaan ulang tahunmu dengan besar-besaran. Kita akan mengumumkan semua nya di sana. Ee’ehh tunggu dulu sayang. Bagaimana jika ulang tahunmu kita rangkaikan dengan pesta pernikahan kita saja.” usul Azzam.


Azzam pun mengangguk, “Mas, ulang tahunku seminggu lagi loh. Apa mas pikir untuk persiapan pesta pernikahan kita bisa selesai dalam seminggu? Itu ide yang buruk mas.” Ucap Husna.


“Kamu gak mau yaa kita membuat pesta pernika--”


“Ck, ucapan macam apa itu mas. Aku tentu saja suka. Aku suka apapun yang kita lakukan bersama. Jadi untuk apa aku menolak pesta pernikahan. Tapi bagaimana bisa kita mempersiapkan pesta pernikahan dalam waktu sesingkat itu mas. Itu saja yang aku pikirkan.” ucap Husna.


Azzam yang mendengar itu pun seketika tersenyum, “Bisa sayang. Yang penting kau setuju dulu. Selama kau setuju maka semua nya akan baik-baik saja.” ucap Azzam.


“Huh, baiklah. Terserah padamu saja mas. Lagi pula aku akan tetap jadi pengantin paling cantik nanti walau dengan persiapan singkat.” Ucap Husna narsis.


Azzam yang mendengar itu pun terkekeh, “Aduh narsis nya istriku. Tapi memang beneran cantik sih.” Ucap Azzam.


Husna pun terkekeh, “Ck, kepedean banget aku kan mas.” Ucap Husna.


Azzam menggeleng, “Gak kok. Kamu bicara fakta nya.” Balas Azzam. Husna pun hanya mendelik saja.


“Jadi gimana? Pesta pernikahan kita akan kita buat atau tidak?” tanya Azzam.


“Terserah padamu mas. Tapi emang waktu nya cukup? Kita masih harus memesan gaun pengantin, undangan mana hal yang lain nya.” Ucap Husna khawatir.


“Bisa sayang.” ucap Azzam meyakinkan.

__ADS_1


“Hm, baiklah jika memang begitu mas. Aku setuju saja sih. Aku akan minta Betty dan Andita untuk ikut membantu. Aku juga akan meminta kak Gauri untuk ikut juga.” Ucap Husna.


“Sudah serahkan sama mas saja semua nya sayang. Di jamin selesai tepat waktu. Tapi untuk gaun pengantin apa kau punya butik langganan?” tanya Azzam.


“Butik langganan?” Husna menggeleng.


“Emm tapi umi seperti nya punya. Aku itu jarang ke butik atau ke mall mas. Jika membeli pakaian pun itu umi yang membeli nya. Aku hanya tahu memakai saja. Semua pakaian yang ku punya itu selera umi semua.” Ucap Husna.


Azzam yang mendengar itu pun terkekeh, “Kamu ini unik sayang. Masa iya ada putri orang kaya tidak pernah ke mall.” Ucap Azzam.


“Tentu ada mas. Aku--”


“Lagi pula untuk apa ke mall jika semua nya sudah ada. Melelahkan saja mas.” Ucap Husna.


“Ya yah mas tahu kau itu introvert.” Ucap Azzam.


“Kita sama mas.” Balas Husna. Seketika mereka pun tertawa.


“Ohiya sayang mas baru ingat mas belum memberikan nafkah lahir untukmu. Mas hanya memberikan nafkah batin saja untukmu. Maaf yaa sayang!” ucap Azzam segera bangkit dari ranjang dan mengambil sesuatu dalam lemari nya dan segera memberikan dompet nya itu kepada sang istri.


“Ambil saja kartu yang kau inginkan di sana sayang. Mau kau pakai untuk apapun terserah padamu yang penting tetap dalam kebaikan.” Ucap Azzam.


“Untuk apa mas? Aku sudah punya kok. Lagi pula semua kebutuhanku sudah kau penuhi mas. Aku lebih suka meminta jajan darimu dari pada harus menyimpan kartu-kartu ini.” ucap Husna membuka dompet suami nya itu dan dia pun tersenyum karena ada foto nya di dalam sana.


“Kok bisa ada foto ini mas?” tanya Husna menunjuk foto nya saat ulang tahun nya yang ke 17 tahun waktu itu.


“Itu foto yang mami tinggalkan sayang. Mas menyimpan nya di sana. Lihat lah ada pesan di sana.” Ucap Azzam.


Husna pun membuka foto itu dan melihat tulisan di belakang nya yang seperti yang sudah di ceritakan oleh suami nya itu kepada nya.


“Sayang, kamu ambil saja satu deh. Kan mas tidak bisa terus-terus bersamamu. Apa lagi kini kau pun sudah tahu mas memiliki tanggung jawab lain selain jadi dosen. Selama ini mas bekerja dari balik layar saja tapi kini seperti nya mas akan jadi anak kantoran. Karena tidak perlu ada lagi yang mas tutupi darimu.” Ucap Azzam.


“Terus aku gunakan untuk apa mas?” tanya Husna menatap jejeran kartu di sana mulai dari limit yang kecil sampai limit yang besar. Sama seperti kartu milik nya yang berjejer di dompet nya itu hingga sedikit membuat nya bingung.


“Apa saja sayang.” ucap Azzam.


“Gak deh. Nanti aja.” Ucap Husna lalu menutup dompet suami nya itu.


“Kok gitu?” ucap Azzam lalu segera membuka dompet nya itu dan mengambil dua buah kartu di sana. Black card dan satu kartu kredit. Dia mengambil dompet sang istri dan menyimpan nya di sana.


“Mas gak usah deh. Lihat lah mau di taru di mana? Gak muat mas?” ucap Husna menunjuk dompet nya itu yang memang ada beberapa kartu juga di sana. Kartu yang sama seperti milik sang suami.


“Mas akan belikan dompet baru untukmu. Ini simpan saja di rumah. Nanti kau pakai dompet baru untuk di bawa-bawa pergi.” ucap Azzam memutuskan.


Husna menggeleng, “Gak usah mas. Aku punya dompet lain kok.” Ucap Husna menolak lalu segera mengambil dompet milik nya yang berada di laci di meja sisi ranjang itu.


Azzam pun tersenyum lalu segera menyimpan kartu kredit di sana, “Puas?” tanya Husna menatap suami nya itu kesal.

__ADS_1


Azzam pun mengangguk dan tersenyum. Kedua nya pun segera melanjutkan pembicaraan mereka terkait pesta pernikahan.


__ADS_2