My Secret Love

My Secret Love
49


__ADS_3

“Saat itu mas pun memutuskan untuk mengikutimu. Untung saja saat itu juga mas tidak memiliki jadwa mengajar di kelas sehingga bisa membuntutimu hingga ke mall. Lalu kita bertemu di mall dan pasti nya kau sudah tahu apa yang terjadi di mall. Mas mencari tahu kau dan dia menonton apa dan mas memesan kursi tepat di samping kalian. Jika di pikir-pikir saat ini, itu seperti kencan pertama kita.” Ucap Azzam mengakhiri cerita nya itu.


“Wah, ternyata suamiku ini pintar sekali menciptakan drama yaa. Aku sangat kagum padamu mas. Kau tahu mas aku saat itu sangat percaya padamu. Aku bahkan sudah berusaha dengan semampuku untuk menjawab pertanyaanmu yang memang menurutku agak kurang masuk akal. Tapi aku tetap menjawab nya karena aku percaya dengan alasan evaluasi yang kau buat saat itu. Tapi kini tidak tahu nya itu hanya alasanmu saja mas.” Ucap Husna.


Azzam pun terkekeh, “Lalu setelah menonton saat itu mas mengikutimu sampai ke gerbang elit kawasan kediaman kalian itu. Saat itu mas sadar bahwa kau bukan orang biasa. Lalu mas mencari tahu semua tentangmu lewat dan baru mas ketahui bahwa laki-laki yang pergi dengan mu saat itu adalah orang yang melamarmu. Jujur saja mas semakin cemburu tapi begitu mas mendengar bahwa kau menolak nya mas pun tidak membuang waktu sama sekali dan segera mengajukan lamaran untukmu hanya bermodalkan tekad karena begitu mengetahui kediaman utama semegah apa. Tapi untung nya abi dan umi tidak melihat mas dari kekayaan. Mereka menerima lamaran mas saat itu. Jadi saat di rumah sakit mas sudah dekat dengan mereka.” ucap Azzam.


“Ahh iya benar. Aku juga saat itu sedikit heran dengan apa yang terjadi pada kalian. Bagaimana mungkin abi dan umi saat aku memperkenalkan mas mereka tidak terlihat kaget sama sekali dan justru tersenyum. Aku sudah sedikit curiga sihh saat itu. Tapi tetap saja kalian berhasil membodohi aku.” Ucap Husna.


Azzam pun kembali terkekeh lalu dia membawa Husna ke dalam pelukan nya, “Maafkan apa yang mas lakukan yaa Azarine. Mungkin apa yang mas lakukan ini hingga kini berhasil menikah dengan mu dan menjadi suamimu saat ini terlihat licik cara yang mas tempuh. Tapi mas tulus padamu sayang. Bukan kah semua adil dalam perang dan cinta.” Ucap Azzam.


“Hum, mas menggunakan ungkapan yang lumayan bisa membuatku bungkam. Tapi aku juga tidak akan menyalahkanmu mas. Aku senang kok jadi istrimu. Walaupun belum jadi istri sepenuh nya untukmu. Tapi aku nyaman bersamamu mas. Aku yang tidak memiliki rencana untuk menikah di usia muda harus mengakui bahwa menikah di usia muda itu memang harus tetap di lakukan dan kini aku baru menyadari sesuatu.” ucap Husna dalam pelukan suami nya itu.


“Apa itu?” tanya Azzam.


“Hmm, ada deh.” Ucap Husna lalu melepas pelukan suami nya itu dan segera bangun dari ranjang lalu segera berlari keluar kamar.


“Sayang, mau kemana?” tanya Azzam.


“Aku mau memasak dulu mas untuk kita makan siang.” Ucap Husna lalu segera turun menggunakan tangga.


Azzam yang mendengar itu pun terkekeh dan mengingat kembali apa yang baru saja di ucapkan oleh istri nya itu, “Apa dia baru saja memberi kode kepadaku? Apa dia sudah siap untuk jadi istri sepenuh nya untukku? Ya tuhan tunjukkan jika itu yang dia maksud. Aku--” ucap Azzam.


Jujur saja dia juga tetap lah laki-laki yang punya naluri dan ingin menuntaskan hasrat yang dia miliki itu. Walaupun sudah mengatakan untuk menunggu sampai istri nya itu siap tapi jika memang istri nya itu menginginkan nya sekarang kenapa tidak, “Ya Allah aku tidak salah menafsirkan ucapan nya itu kan?” tanya Azzam pada diri nya sendiri. Lalu dia pun segera turun berniat untuk membantu istri nya itu memasak.


Sementara di bawah begitu Husna turun langsung berlari ke dapur, “Kakak ipar kau mau apa?” tanya Zahra yang memang berada di ruang keluarga sedang menonton.


“Mau memasak makan siang dek.” jawab Zahra.


“Ah Zahra ikut.” Ucap Zahra lalu langsung segera mengikuti kakak ipar nya itu menuju dapur.


Akhirnya Husna dan Zahra pun segera menuju dapur dan mulai mengeluarkan bahan di dalam kulkas yang seperti nya baru Azzam isi karena semua yang di dalam sana masih segar-segar.


“Zahra, biasa nya siapa yang belanja bahan makanan seperti ini?” tanya Husna sambil memilih bahan apa yang akan dia masak untuk makan siang itu.


Zahra diam sebentar seolah berpikir, “Hm itu. Tentu saja abang.” Jawab Zahra.


Husna pun mengangguk percaya karena memang itu juga yang ada di pikiran nya. Emang siapa lagi yang akan belanja jika bukan suami nya itu.


“Kita akan masak apa kakak ipar?” tanya Zahra.


Husna yang hendak menjawab apa yang akan mereka masak terhenti begitu melihat suami nya itu yang sudah ada di dapur mengamati mereka.


“Mas kenapa ada di sini? Apa mas juga ingin memasak bareng kami?” tanya Husna kepada suami nya itu.


Azzam dia memandangi adik nya itu, “Awal nya begitu. Mas ingin memasak denganmu tapi seperti nya Zahra lebih suka memasak denganmu. Dia mengambil posisi mas itu. Jadi lebih baik hari ini kamu dan Zahra saja dulu yang memasak. Mas lihat dan mengamati kalian saja. Tapi lain kali gak boleh. Zahra gak boleh ikut. Aku hanya ingin memasak dengan istriku saja.” ucap Azzam.


Zahra pun hanya bisa mengelus dada nya mendengar ucapan abang nya itu, “Baiklah abangku yang terhormat. Hari ini aku saja yang membantu kakak ipar memasak. Lain kali aku tidak akan mengganggu kalian. Aku tahu abang pasti ingin memasak berdua dengan kakak ipar itu asal romantis seperti di novel.” Ucap Zahra.

__ADS_1


“Itu kamu tahu. Jadi mengerti lah lain kali. Sudah ayo sana kamu cuci bahan yang sudah di pilih oleh kakak iparmu itu. Awas saja tidak bersih.” Ucap Azzam.


“Ck iya. Gak usah protes bang. Kakak ipar aja tidak keberatan aku membantu.” Ucap Zahra.


“Kata siapa? Emang kau sudah bertanya pada kakak iparmu itu dia mau memasak denganmu? Tidak kan? Pasti itu hanya akal-akalan mu saja.” ucap Azzam.


“Ck, abang kau kenapa semakin menyebalkan yaa.” Ucap Zahra kesal.


Husna pun hanya bisa menggelengkan kepala nya melihat suami dan adik ipar nya itu yang berdebat. Dia mulai fokus memasak dan membiarkan mereka bertengkar.


“Kakak ipar kau tidak keberatan kan memasak denganku?” tanya Zahra kepada Husna.


Husna pun menatap suami nya itu, “Mas!” panggil Husna dengan nada rendah nya.


Azzam pun tersenyum, “Ahh iya sayang. Tidak akan lagi. Kalian memasak saja. Aku lebih baik ke ruang kerjamu saja. Masak yang enak yaa dua kesayanganku. Jangan bertengkar.” Ucap Azzam segera beranjak dari duduk nya itu dan pergi.


“Kami tidak akan bertengkar karena kami itu akrab hanya kedatangan abang saja yang membuat keributan dan mengajakku bertengkar.” Ucap Zahra sedikit keras kepada Azzam itu yang sudah pergi dari dapur. Azzam yang masih bisa mendengar ucapan adik nya itu pun tersenyum.


“Mih, Pih seperti nya rumah ini akan semakin ramai nanti. Aku janji akan menceritakan semua nya kepada nya. Dia patut tahu.” Batin Azzam memandangi foto kedua orang tua nya yang terpasang di dinding di ruang keluarga itu.


***


Singkat cerita, kini semua makanan untuk makan siang itu sudah siap dan Zahra pun segera menata nya di meja makan di sana. Meja makan yang hanya memilik enam kursi itu.


“Sudah siap.” Ucap Zahra melihat hasil penataan nya itu yang menurut nya seperti di restoran saja.


Husna pun mengangguk lalu dia segera menuju ruang kerja suami nya itu yang memang saat pertama kali dia datang ke sini beberapa hari lalu. Azzam sudah menjelaskan semua ruangan yang ada di rumah itu termasuk juga ruang kerja nya.


Tok … tok … tok …


“Mas, ayo kita makan. Makanan sudah siap.” Ucap Husna.


Azzam yang di dalam sana pun segera menutup komputer nya dan segera membuka pintu dan keluar. Dia tersenyum menatap istri nya itu dan menggandeng Husna menuju meja makan.


Begitu tiba di meja makan mereka pun segera duduk di tempat masing-masing dan makan siang bersama.


“Hm, lezat. Istriku ini pintar memasak deh.” Puji Azzam.


Husna pun hanya tersenyum saja, “Tentu saja kakak ipar pintar memasak.” Ucap Zahra.


“Sudah makan lah saja.” ucap Husna.


Mereka pun menikmati makanan itu dengan suasana hati yang bahagia dan tersenyum. Azzam menyentuh tangan Husna di balik meja makan itu lalu Husna pun menatap suami nya itu seolah bertanya ada apa tapi Azzam hanya tersenyum saja. Akhir nya mereka pun makan sambil berpegangan tangan.


Zahra menyadari itu dan dia hanya tersenyum saja. Dia ikut bahagia jika abang nya itu bahagia, “Terima kasih mih, pih sudah mengirimkan sosok kakak ipar seperti kak Husna untukku. Dia sangat baik dan cantik.” batin Zahra tersenyum.


***

__ADS_1


Kini mereka sudah selesai makan dan yang merapikan bekas makanan mereka itu pun Husna dan Azzam yang melakukan nya. Azzam melarang adik nya untuk membantu. Zahra pun menurut saja karena dia yakin abang nya itu ingin bermesraan dengan kakak ipar nya. Zahra pun menuju kamar nya saja untuk segera melaksanakan sholat.


Azzam dan Husna pun segera menyelesaikan mencuci piring kotor itu lalu mereka segera kembali ke kamar Azzam untuk melaksanakan sholat.


“Kamu juga mau sholat sayang?” tanya Azzam saat melihat istri nya itu menyiapkan alat sholat yang akan mereka gunakan.


Husna pun mengangguk, “Aku sudah suci mas.” Jawab Husna lalu segera menuju kamar mandi untuk berwudhu bergantian dengan suami nya yang sudah berwudhu itu.


Azzam pun tersenyum melihat mukenah istri nya itu. Jujur saja pikiran nya mulai terkoneksi ke arah sana. Bukan kah pikiran mesum seperti itu memang sudah mendarah daging di setiap pria. Tidak memilih pria itu pendiam atau pun play boy. Semua sama saja.


Tidak lama Husna keluar dari kamar mandi dan mereka pun segera melakukan kewajiban mereka itu secara berjamaah. Setelah sholat Azzam segera mengecup kening istri nya itu dan Husna mencium punggung tangan suami nya.


“Siapa nih yang mau baca Al-Qur’an?” tanya Azzam.


“Hum, mas aja deh.” Jawab Husna.


Azzam pun mengangguk, “Baiklah.” Ucap Azzam lalu dia pun segera membaca ta’awuz dan basmalah dan memulai bacaan nya.


Husna mendengarkan bacaan suami nya itu dan tenang mendengar suara merdu suami nya, “Aku jatuh cinta padamu mas. Aku yakin ini bukan perasaan nyaman lagi tapi ini cinta. Aku tahu. Aku mencintaimu suamiku.” batin Husna menatap suami nya.


“Ada apa? Kenapa menatap mas seperti itu sayang? Mas jadi salting di tatap olehmu seperti itu.” ucap Azzam setelah menyelesaikan bacaan nya.


Husna menggeleng, “Gak ada apa-apa kok. Husna hanya selalu kagum aja dengan bacaan mas. Aku beruntung jadi istrimu mas.” Ucap Husna tersenyum.


Azzam pun gemas sendiri dan menyentuh hidung istri nya itu gemas, “Kamu sangat menggemaskan sayang.” ucap Azzam.


“Mas juga sangat tampan.” Ucap Husna lalu dia segera bangkit dan melepas mukenah nya itu dan merapikan alat sholat mereka.


“Sayang, ayo sini berbaring di samping mas. Kita istirahat.” Ucap Azzam setelah istri nya itu selesai merapikan alat sholat mereka.


Husna pun menurut dan segera berbaring di samping suami nya, “Mas--” ucapan Husna itu terpotong karena langsung di kecup oleh suami nya itu dengan kecupan singkat yang lembut.


“Maas!” ucap Husna protes tapi dengan nada manja nya.


Azzam pun segera memeluk istri nya itu erat, “Mas, sesak.” Ucap Husna protes atas pelukan suami nya itu.


Azzam pun melonggarkan pelukan nya tapi tetap memeluk istri nya itu. Azzam menjadikan bantal tangan istri nya itu dan dia menyembunyikan kepala nya di ceruk leher Husna yang tertutupi hijab tentu nya.


Azzam bermanja kepada istri nya itu. Husna pun membiarkan saja apa yang di lakukan oleh suami nya itu.


“Sayang, mas ingin--” ucap Azzam terhenti.


“Ingin apa mas?” tanya Husna penasaran dan menatap suami nya itu.


Azzam pun menatap istri nya itu dan mereka beradu tatapan lalu kemudian dia menggeleng, “Sudah lah. Lupakan saja. Gak penting kok.” ucap Azzam lalu kembali memeluk erat istri nya itu.


“Kau ingin apa mas? Kenapa tidak melanjutkan nya? Apa kau menginginkan hubungan itu?” tanya Husna dalam batin nya.

__ADS_1


“Aku ingin melakukan itu sayang. Ciuman denganmu saja sudah menjadi candu untukku. Aku selalu menginginkan nya. Tapi seperti janjiku aku akan menunggumu sampai kau siap walaupun itu sulit untukku. Aku akan tetap bersabar.” Batin Azzam.


__ADS_2