
Uni berjalan duluan meninggalkan Rendy setelah mengambil toples air gulanya pada Rendy. Aro masih menatap tajam pada pria itu.
"Uni! Tunggu." Rendy mengejar Uni.
Aro yang tampak geram menahan emosi, dengan erat mengepalkan tangannya. Dia lantas segera pergi dari sana dan dengan cepat menuju kampusnya.
"Aro, kamu kenapa? Pagi-pagi mukanya sudah tidak enak dilihat begitu?" sapa sahabat laki-laki Aro.
"Jangan ganggu aku, Rian. Aku mau ke ruangan panitian dulu." Aro berjalan dengan tegas.
"Aro kenapa, Rian?"
"Tidak tau, Dina. Di habis putus kali sama ceweknya."
"Cewek? Aro mana punya pacar? Kalau kamu itu yang kebanyakan pacar, tapi ya gitu setiap hari bikin pusing." Gadis yang di panggil Dina itu memutar kepalanya kesal.
"Maaf, apa kalian melihat Aro?" Tiba-tiba suara Via bertanya pada salah satu teman Aro.
"Aro ada di ruangan panitia. Kamu ada perlu apa?" tanya Rian.
"Sebenarnya aku mau tanya tentang stand bazar yang aku minta, aku ingin tau aku mendapat stand bazar nomor berapa?"
"Oh ... kamu yang namanya Via yang satu kelas sama Aro? Kamu dan teman kamu dari kampus lain yang ingin jualan jus itu?" sela Dina.
"I-iya."
"Uni? Kayak pernah dengar namanya? Eh, Uni itu apa gadis yang bekerja di restoran cepat saji itu? Aku lupa nama tempatnya."
"Iya, kamu dan Aro pernah makan di sana dan temanku Uni yang waktu itu kalian mintai tolong untuk memesankan makanannya."
"Jadi dia nanti akan ke sini?" Wajah Pria bernama Rian tampak sumringah.
"Iya, dia temanku dan dia sebenarnya yang pandai membuat jus."
"Wah! Aku senang sekali bisa bertemu dia sekali lagi. Aku waktu itu pergi ke restoran itu, tapi dia ternyata sudah tidak bekerja di sana. Dia sudah keluar."
"Iya, dia sudah dikeluarkan karena kesalahan yang tidak dia lakukan. Aku juga mau keluar dari sana setelah mendapatkan pekerjaan baru."
"Kamu tau? Aku suka sekali melihat wajah teman kamu itu. Wajahnya itu sangat manis dan membuat orang teduh jika melihatnya."
__ADS_1
"Kamu menyukainya?"
"Hati-hati, dia itu playboy cap kampret di sini. Jangan kenalkan teman kamu sama dia, bisa-bisa menderita teman kamu itu," sela Dina.
"Eh, jangan ikut-ikutan. Aku sedang usaha, siapa tau nanti aku dengan Uni itu bisa insaf."
"Wakakakak! Kamu insaf? Kalau dunia bentuknya kotak mungkin kamu bakal insaf."
"Cerewet! Oh ya, Via! Dia sekarang bekerja di mana?"
"Aku belum tau pasti karena aku baru berkomunikasi lagi sama dia, nanti saja kamu tanya sendiri sama dia kalau kalian bertemu."
Via tidak tega kalau harus mengatakan jika Uni bekerja sebagai asisten rumah tangga.
"Ya sudah! Nanti saja aku tanya semua sama dia, itung-itung biar ada bahan omongan yang bisa aku bicarakan sama dia."
"Lalu, nomor untuk stand bazarku mana?"
"Ini punya kamu, Via. Tempat kamu berada di sebelah panggung itu." Dina memberikan nomornya dan Via segera permisi ke standnya.
Di kampus Ara saat jam istirahat mereka sedang berada di kantin untuk membahas masalah Sifa yang dekat dengan Aro.
"Kayaknya habis di beri mantra sama si Sifa ini," lanjut Tania.
"Kalian ini kenapa pada syirik sama aku sih? Memangnya salah kalau Aro suka sama aku? Aku juga berhak untuk di cintai dan mencintai. Apalagi sama Aro." Wajah Sifa tampak sumringah.
"Hem ...! Memang kamu berhak dicintai dan mencintai, tapi Aro ...?" Marta memutar bola matanya jengah.
"Kalian itu harusnya bersyukur, teman kalian ini bisa menaklukkan pria sekaku Aro."
Ara melihat curiga pada Sifa dengan menyipitkan kedua matanya. "Aku tidak yakin dengan ucapan kamu. Apa kamu dengan Aro sedang merencanakan sesuatu?"
"Merencanakan apa? Kamu pikir aku membayar Aro untuk pura-pura jadi pacar aku? Memangnya uangku berapa bisa membeli saudara kamu yang lebih tajir dari aku?"
Ara masih berpikir, dan tidak lama dia melihat Dean berjalan sendirian menuju ruang perpustakaan sepertinya.
"Eh! Aku ke toilet sebentar." Ara segera beranjak dari tempatnya dan diam-diam menemui Dean. Ara celingukan mencari Dean, padahal tadi dia melihat Dean ada di sana.
"Kamu mencariku, Ara?"
__ADS_1
Ara sangat kaget kenapa Dean tiba-tiba ada di belakangnya? Ara langsung menoleh dan melihat Dean berjalan mendekat pada Ara.
"De-Dean? Kamu kenapa bisa ada di belakangku?"
"Aku melihat kamu tadi. Apa benar kamu mencariku?"
"Iya, aku mencari kamu. Ada hal yang ingin aku tanyakan sama kamu."
"Tanya apa?"
"Tentang hal kemarin. Dean, apa maksud dari ciuman dan perkataan kamu waktu itu? Kenapa kamu bilang kalau aku jangan menerima tunangan dengan Mas David?"
Dean terdiam sejenak. "Aku minta maaf, waktu itu aku hanya sedang akting. Berpura-pura menganggap kamu adalah gadis yang aku sukai, aku ingin dapat dekat dengannya, tapi aku bingung caranya."
"Apa? Jadi kamu hanya menjadikan aku untuk boneka latihan kamu? Kamu bahkan tidak mengatakan apapun, Dean! Kamu juga menciumku dan kamu tau? Itu adalah ciuman pertamaku!" Ara tampak tidak percaya dengan ucapan Dean barusan.
"Maaf, seharusnya aku mengatakan dulu sebelum aku melakukanya."
"Maaf? Kamu dengan mudah dan enaknya mengatakan maaf? Aro memang pantas menghajar kamu dulu."
"Ara, aku benar-benar menyesal."
"Kamu benar-benar keterlaluan, Dean! Kalau kamu hanya ingin aku membantu kamu mengungkapkan rasa sayang kamu sama gadis yang kamu cintai, kamu katakan saja, tapi jangan berbuat hal lebih seperti itu. Kamu bahkan mencuri ciumanku." Ara mengusap-usap bibirnya kesal. Dean hanya berdiri menatapnya di tempatnya
Ara menangis berlari pergi dari sana. Dean masih menatapnya dengan tatapan sendu. "Maafkan aku, Ara. Andai kamu tau betapa aku mencintai kamu dari dulu, dari kita masih kecil."
Ara berada di dalam toilet dan menangis di sana. Kebetulan toilet di kampusnya sedang sepi.
"Aku tidak ingin mengenalmu lagi Dean! Kamu benar-benar pria yang aku benci dalam hidupku. Semua yang pernah kamu lakukan untukku akan aku lupakan, semuanya sudah tidak berarti lagi, bahkan ciuman itupun tidak ada artinya."
Ara menghapus air matanya dan keluar dari toilet. Dia kembali ke meja teman-temannya.
"Ara, kenapa mata kamu merah begitu? Kamu habis menangis?" tanya Tania.
"Siapa yang menangis. Aku tadi saat berjalan menuju ke toilet tiba-tiba ada serangga kecil masuk ke dalam mataku, aku membersihkan. mataku dengan air terus menerus sampai begini."
"Ya ampun! Nakal sekali serangga itu."
Ara terpaksa berbohong, dia tidak mau menceritakan kepada teman-temannya karena malu, dan bisa saja teman-temannya akan marah pada Dean.
__ADS_1