
Mereka kembali duduk menunggu Sifa dari kamar mandi, tapi kenapa Sifa lama sekali berada di dalam kamar mandi? Apa memang masih antri, ya?
"Aku akan menyusul Sifa ke toilet."
"Aro, kita juga ikut saja, jadi kita bisa langsung pulang."
Mereka bertiga akhrinya menyusul Sifa ke dalam toilet dan ternyata di sana banyak orang sedang berkerumun, Ara yang penasaran jadi ingin mencari tau.
"Ada apa, Sih?"
"Ada seorang gadis pingsan tadi, dia jatuh di anak tangga dari toilet.
"Apa?
Mereka bergegas ke sana dan ternyata itu Sifa. "Ya Tuhan, Sifa!" Aro segera menolong Sifa dan menggendongnya. Uni dan Ara tampak ikut panik dan mereka membawa tas milik Sifa.
Aro segera membawa Sifa ke klinik dekat pusat perbelanjaan itu karena dia tidak mau terjadi apa-apa pada Sifa.
Mereka bertiga menunggu di depan klinik dengan cemas. "Kenapa Sifa bisa ceroboh sekali? Kenapa dia tidak hati-hati?" Ara ngedumel.
"Mungkin dia keburu-buru mau menemui kita makannya dia tidak hati-hati, Ara."
"Iya, Uni. Dia itu memang agak ceroboh."
"Waktu kita jalan berdua kemarin dia juga jatuh di dalam kamar mandi, dan kakinya terkilir, aku mau membawa ke rumah sakit dia tidak mau, katanya bapaknya bisa mengobati kakinya itu dan akhirnya dia sembuh. Apa karena pengaruh hal itu kakinya masih sakit? Kalau memang benar, aku akan memeriksakan kaki dia sampai benar-benar pulih."
Uni melihat Aro yang sangat cemas pada Sifa. Mungkin Aro memang sudah jatuh cinta pada Sifa. Uni yang air matanya hendak keluar segera di tahannya.
Tidak lama dokter datang dan memberitahu jika Sifa sudah sadar dan keadaanya baik -baik saja. Mereka bertiga masuk dan menemui Sifa.
"Sifa, kamu tidak apa-apa?"
"Aku, baik-baik saja, Aro. Kepalaku saja yang agak pusing." Sifa memegangi kepalanyan yang memang ada perban menempel.
"Kaki kamu apa tidak apa-apa?"
"Kakiku juga baik-baik saja."
Dokter mengatakan agar Sifa rutin minum obat dan dia bisa pulang hari ini. Aro membantu membawa Sifa pergi dari klinik itu dan dia mengantar Sifa pulang. Aro dan Sifa menjelaskan tentang kenapa Sifa sampai bisa seperti itu dan akhirnya orang tua Sifa dapat mengerti.
"Sif, kamu kenapa tidak hati-hati, Sih?" tanya Ara yang sekarang mereka berada di dalam kamar Sifa.
__ADS_1
"Aku sudah berhati-hati turun anak tangga itu, tapi entah kenapa aku seolah ada yang mendorongku dari belakang, aku belum sempat melihat sudah terjatuh saja, lalu aku tidak ingat apa-apa."
"Mungkin setannya mall itu gemas sama kamu yang rada centil," celetuk Ara.
"Enak saja!"
"Ya sudah, kalau begitu kita pulang saja supaya kamu bisa istirahat."
"Aro, sekali lagi terima kasih, Ya."
Aro mengangguk dan memegang kepala Uni lembut. "Semoga cepat sembuh." Mereka bertiga pergi dari sana.
Malam hari di meja makan, Ara menceritakan semua kejadian yang terjadi pada Sifa. "Kalau Sifa bilang dia seperti ada yang mendorong, bisa jadi dia memang di dorong oleh seseorang dari belakang. Apa di sana tidak ada CCTVnya?" tanya Akira.
"Hem ... itu mungkin halusinasi Sifa, Ayah. Sifa itu memang rada ceroboh. Dia saja sering lupa menaruh dompetnya, alhasil kita bertiga pada ribet cariin dompetnya yang ternyata dia taruh di rumah."
"Lalu keadaanya bagaimana?"
"Dia sudah baikkan hanya kepalanya masih pusing."
Setelah makan malam mereka berkumpul di ruang tengah untuk saling berbicara dan bercanda. Uni berada di dapur menyiapkan camilan dan coklat hangat yang sudah di ajarkan oleh Ibu Nalanya.
"Nenek hanya membantu sebentar."
"Nek, aku mau--."
Uni melihat pada Aro. "Tuan Muda Aro mau apa?"
"Aku mau segelas air putih."
"Kamu kan bisa ambil sendiri. Kamu jangan manja, nanti saja kamu manja sama istri kamu sendiri kalau kamu sudah menikah nantinya." Tangan wanita paruh baya itu mencubit pipi Aro.
"Aku akan ambilkan airnya." Uni mengambilkan segelas air dan memberikan pada Aro.
"Uni, kamu bisa bawa ini ke ruang tengah, nenek mau ke kamar sebentar."
"Iya, Nek."
Uni menaruh camilan dan beberapa gelas coklat hangat pada nampan. "Aku kira, kamu tidak mau memakai jam tangan itu. Kalau tidak mau aku buang saja nantinya." Aro berdiri mendekat pada Uni.
"Aku terpaksa memakainya, daripada kamu buang. Inikan jam tangan mahal, belinya pakai uang, kamu kenapa tidak ada sayang-sayangnya? Padahal mencari uang itu susah."
__ADS_1
"Aku sadar mencari uang susah, tapi akan lebih membuat sakit hati jika pemberian kita tidak di hargai." Aro berjalan pergi dari sana dengan membawa nampan berisi minuman dan camilan.
Uni hanya dia melihati pria itu. Di ruang tengah Nala sedang berbincang dengan putrinya.
"Jadi bulan depan mamanya mas David akan datang dan ingin bertemu denganku?" Kedua mata Ara mendelik.
"Iya, tapi tidak kamu saja, mereka akan bertemu dengan kita juga, bahkan mengundang ayah sama mama makan malam bersama. Apa kamu mau?"
"Apa makan malam itu akan membicarakan tentang perjodohan antara aku dan mas David?"
"Ayah belum tau, Nak. Ayah hanya akan mengikuti saja apa kata kamu, apa kamu mau jika dijodohkan dengan David? Kalau buat ayah, ayah sangat menyukai David, dia pasti bisa membahagiakan kamu."
"Tapi Ara kan masih kuliah, Yah?"
"Kami tau kamu masih kuliah, kita hanya melakukan pertunangan, dan nanti setelah lulus kamu bisa menikah."
"Kami tidak akan memaksa kamu, Sayang."
"Kenapa Aro juga tidak dijodohkan sekali?" Ara melihat ke arah Aro yang membawa nampan dan Uni yang ada di belakangnya.
"Kenapa jadi bawa-bawa namaku?"
Uni mengambil piring yang berisi camilan dan gelas menaruhnya di atas meja.
"Kitakan kembar, jadi apa salahnya kalau aku iri kenapa kamu tidak di jodohkan sekalian?"
"Hei! Aku itu laki-laki, dan laki-laki tanggung jawabnya lebih besar dari wanita. Aku harus memiliki masa depan dan mapan dulu, baru aku bisa melamar seseorang."
"Kamu, kan, sudah memiliki perusahaan kecil yang kamu sudah bangun perlahan-lahan, jadi kamu sudah mapan."
"Iya, tapi kan aku ingin memperbesar perusahaanku agar kelak aku bisa benar-benar membahagiakan istriku."
"Menikah saja sama Uni, dia itu istri yang sederhana dan tidak menuntut apa-apa."
Uni dan Aro langsung saling melihat. "Ara, kamu ini bicara apa? Kenapa jadi aku juga diikutkan?" Uni langsung beranjak dari sana.
"Ara!" seru Akira.
"Aku hanya bercanda, Yah. Lagian aku juga berkata jujur dan apa adanya. Ayah tau sendirikan kalau Uni memang gadis yang sederhana. Apa salahnya jika Aro dan Uni bersama? Kalian tidak keberatan, Kan?"
"Ayah tidak pernah mempermasalahkan hal apapun tentang jodoh, asal dia baik dan benar-benar memiliki tanggung jawab dalam rumah tangga," jelas Akira.
__ADS_1