My Secret Love

My Secret Love
Kenapa Aku Ini?


__ADS_3

Via mengantar Uni sampai pada tepi jalan agar Uni dapat mencari angkutan umum. "Kenapa tidak menunggu angkutan umum di tempat biasa?" tanya Via penasaran.


"Ini kan belum terlalu malam, dan aku bisa minta tolong kamu. Lagian kalau menunggu di sini lebih cepat dapat angkutan umumnya, Via." bohongnya.


"Kalau mau aku antar saja kamu sekalian pulang ke rumah kamu, Uni."


"Janganlah! Kamu pulang saja, terima kasih sudah mengantarkan aku ke sini. Sekarang kamu bisa pulang biar tidak terlalu malam kamu sampai rumah."


"Kamu yakin tidak mau diantar?"


Uni mengangguk beberapa kali. Iya, aku yakin, sana pulang dan hati-hati kamu jangan mengebut."


Via pergi dari sana dan Uni menunggu angkutan umum datang. Dalam hatinya Uni merasa sangat lega karena dia malam ini tidak akan bertemu dengan pria bernama Naro


"Di mana dia? Kenapa dia tidak ada di sana?" dialog seorang pria dari dalam mobilnya. Pria itu adalah Naro yang ada di tepi jalan melihat ke arah luar di mana dia biasanya bertemu dengan Uni.


"****! Kenapa juga aku datang ke sini?" Dia seolah mengumpat dirinya sendiri karena kenapa dia malah berada di sana?


"Mungkin dia sudah pulang ke ke rumahnya. Sebaiknya aku pergi saja dari sini." Naro menjalankan mobilnya dan bergegas pergi dari sana.


Di rumahnya Ara yang sudah sampai dan di baringkan di atas tempat tidur oleh ayahnya tampak sangat senang mengetahui bahwa kakinya baik-baik saja.


"Kata dokter tidak apa-apakan Nala kakinya Ara?" tanya Bibi Anjani.


"Tidak apa-apa, Bibi. Kaki Ara akan segera sembuh, hanya butuh waktu beberapa hari saja. Bibi Anjani jangan khawatir."


"Ya sudah kalau begitu biarkan saja Ara istirahat, lagian ini sudah malam. Oh ya, Bibi, putraku di mana?"


"Dia keluar sebentar tadi katanya mau membeli sesuatu. Mungkin sebentar lagi dia akan pulang."


Akhirnya mereka keluar dari kamar Ara dan membiarkan Ara untuk beristirahat. Naro pun tidak lama juga sudah datang.


Di dalam kamarnya Ara yang mau beristirahat malam mendapat panggilan video call dari teman-temannya, mereka berempat melakukan panggilan video call.


"Ara, bagaimana keadaan kaki kamu?" tanya Sifa.


"Tadi ayahku sudah membawaku ke rumah sakit dan kata dokternya kalau kaki aku tidak ada masalah dan akan segera membaik."

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu, tapi Minggu lusa kamu tidak bisa ikut kita nonton bioskop sama teman-teman Rio lainnya."


"Maaf, aku tidak bisa. Kalian tau sendiri kalau kaki aku seperti ini, jadi kalian saja yang pergi nonton."


"Iya, memang lebih baik kamu tidak perlu ikut, Ara," celetuk Marta.


"Lebih baik? Kamu memang berharap aku tidak ikut ya, Marta?" tanya Ara keheranan.


"Em ... bukan begitu. Maksudnya--?" Marta tampak bingung.


"Maksud Marta itu, dia senang kamu tidak bisa ikut karena dia punya kesempatan biar bisa bersama dengan si Dean," terang Sifa.


"Dean? Memangnya apa hubungannya sama Dean?" Sekali lagi Ara tampak bingung.


"Hem ... kalian ini. Iya-iya aku mau jujur, memang maksud aku juga itu salah satunya, tapi aku juga khawatir sama kaki Ara, kalau di paksakan ya kasihan nanti kaki Ara. Jadi mending Ara tidak ikut dulu."


"Marta itu suka sama Dean, Ara," jelas Tania.


"Kalau suka ya tidak apa-apa, memang apa hubungannya denganku? Aku dan Dean tidak ada hubungan apa-apa?"


"Aku tidak mau gara-gara cowok persahabatan kita jadi rusak, teman-teman. Kita sudah berteman cukup lama, sayang sekali jika harus rusak gara-gara seorang cowok."


"Betul apa kata kamu, Ara. Makannya Marta kamu jangan mengejar Dean, biar Dean sama Ara saja, mereka terlihat lebih cocok, kamu ingat waktu Dean menggendong Ara, mereka tampak benar-benar romantis dan membuat iri yang melihat."


"Iya, aku jadi iri." Muka Marta di tekuk kesal. Ketiga temannya langsung tertawa.


"Ya sudah kamu kejar saja Dean, aku tidak ada apa-apa sama dia."


"Begini saja, biar Dean saja yang nanti memilih antara kamu Marta atau Ara, adil kan?"


"Tidak perlu, aku tidak mau mengejar-ngejar cowok, daripada begitu mending aku fokus kuliah saja."


"Sudahlah! Kenapa kita malah ribut masalah Dean, siapa tau Dean malah memilih orang lain," timpal Tania.


"Betul itu, kalau begitu aku mau istirahat dulu, aku sudah mengantuk."


"Iya, aku tidur juga, siapa tau aku nanti memimpikan Dean dalam tidurku."

__ADS_1


"Jangan mimpi yang aneh-aneh, ya Marta," celetuk Sifa.


"Yeah! Memangnya kenapa kalau aku mimpi yang aneh tentang Dean, kalau aku mimpi bercinta dengannya pun tidak akan ada masalah."


Mereka bertiga tampak terkejut mendengar ucapan Marta barusan. "Sudahlah! Kita akhiri pembicaraan yang semakin melantur ini. Bye semua." Ara menutup panggilannya.


Pagi seperti biasanya mereka makan pagi bersama-sama, hari ini kampus Ara dan Naro sedang libur, jadi mereka berada di rumah.


"Nak, apa kamu tidak ada acara dengan teman-teman kamu?" tanya Nala pada putranya.


"Sebenarnya ada, tapi nanti siang, memangnya kenapa, Bu?"


"Ibu sebenarnya ingin minta tolong sama kamu untuk mengantar ibu berbelanja beberapa barang kebutuhan, tapi ya sudah nanti Ibu sama supir pribadi saja."


"Maaf Ya, Bu. Aku memang ada acara nanti siang di kampus untuk mengurusi bazar amal yang akan di selenggarakan Minggu depan. Nanti banyak yang aku akan kerjakan dan mungkin akan pulang larut malam."


"Iya, tidak apa-apa. Bibi nanti aku minta tolong untuk menjaga Ara sebentar di rumah."


"Kamu itu kenapa harus minta tolong. Ara cucuku sendiri, sudah sewajarnya aku menjaganya."


"Ara, kamu nanti mau di belikan apa saat ibu pulang dari berbelanja?"


"Terserah Ibu saja, aku akan mau semua yang dibelikan oleh Ibu."


"Kalau begitu, ayah mau berangkat dulu ke kantor. Kalian semua baik-baik di rumah." Akira beranjak dari tempatnya dan kedua anaknya berpamitan pada ayahnya.


"Sayang, nanti malam kamu mau aku buatkan k


masakan apa?" tanya Nala yang mengantar suaminya sampai ke depan mobil.


"Terserah kamu mau membuatkan aku apa, aku akan menikmati semua masakan yang kamu buatkan. Apalagi malamnya nanti kamu memberiku bonus tambahan." Akira mulai mendekat pada leher istirnya.


"Akira, ada supir kita, apa kamu tidak malu?" Nala mendorong pelan tubuh Akira.


"Biarkan saja. Lagian ada masalah kalau aku bermesraan dengan istriku sendiri?"


"Tidak masalah, hanya saja tidak enak di lihat orang di sini, Akira. Sudah sana pergi bekerja." Nala menepuk lengan suaminya. Akira tersenyum dan mengecup pucuk kepala Nala.

__ADS_1


__ADS_2