My Secret Love

My Secret Love
70


__ADS_3

Kini Husna dan Azzam berjalan keluar gedung fakultas, Azzam menuju kelas nya hari ini sementara Husna menunggu Betty dan Andita yang masih dalam perjalanan.


“Mas, pergi lah saja lebih dulu. Husna bisa menunggu mereka di sini sendiri kok.” ucap Husna meminta suami nya itu untuk pergi lebih dulu.


Azzam yang mendengar ucapan sang istri pun melihat jam di tangan nya itu, “Hum, masih ada waktu seperempat jam lagi. Mas akan menemani di sini menunggu mereka.” ujar Azzam.


Husna yang mendengar itu pun hanya mengangguk karena jika suami nya itu sudah bersabda begitu maka dia pun hanya bisa menyetujui nya saja. Tidak perlu membantah sama sekali. Itu sudah jadi hal yang harus di lakukan.


Husna dan Azzam pun menunggu Betty dan Andita di depan gedung fakultas itu yang membuat beberapa mahasiswa berbisik-bisik ketika melihat kedua nya bersama. Tapi Azzam dan Husna tidak mempermasalahkan hal itu lagi.


Lima menit kemudian, akhirnya Betty datang dan segera mendekati Husna dan Azzam. Betty pun segera memberi salam dan menunduk penuh hormat kepada Azzam karena bagaimana pun Azzam tetap dosen nya yang perlu dia hormati selain status nya sebagai suami dari teman se angkatan nya.


“Dita belum tiba?” tanya Betty.


Husna pun menggeleng, “Entah lah. Dia mengatakan sudah dalam perjalanan tapi tidak tahu deh kenapa sampai saat ini belum juga tiba.” Ujar Husna menjawab pertanyaan Betty itu.


“Padahal jarak dari ke rumah ke sini gak menghabiskan waktu selama ini. Ini pasti ada sesuatu. Mungkin saja dia singgah di suatu tempat.” Ujar Husna membatin.


“Ee’ehh mas. Kamu pergi lah ke kelas. Aku di sini sudah ada Betty menunggu Dita nanti. Setelah Dita tiba kami akan segera jalan.” Ucap Husna menatap suami nya.


Azzam pun mengangguk, “Ya sudah hati-hati.” Ucap Azzam lembut.


Husna mengangguk dan tersenyum. Dia segera menyalami suami nya itu dan Azzam tidak lupa memberikan kecupan lembut di kening hingga membuat Betty iri setengah mati. Bagaimana tidak, dia lah yang paling heboh saat itu akan kedatangan Azzam ke kampus ini sebagai dosen baru tapi ternyata kini dosen yang dia kagumi ketampanan nya itu sudah memiliki pemilik nya yang tidak lain ada teman nya sendiri.


“Hum, pak kira-kira juga dong untuk bermesraan nya. Ini tempat umum loh dan ada orang jomblo di sini. Sungguh ngenes saya pak.” Ucap Betty dramatis sambil mengelus dada nya.


Azzam pun terkekeh mendengar ucapan Betty itu yang selalu di ambil dengan canda nya, “Biarin, sengaja sebenar nya. Biar kamu iri. Maka nya segera cari suami.” Ucap Azzam.


“Ck, mau si gitu pak. Tapi ya begitu lah yang datang hanya ingin datang saat butuh saja dan pergi pun tanpa pamitan. Sudah sakit hati saya pak. Mau cari suami yang mau nikahin saya aja pak. Semoga saja ada yang mau ngelamar saya yang seperti ini.” ucap Betty.


Azzam pun tersenyum, “Pasti ada kok. Ya sudah saya pamit. Kamu hati-hati sayang.” ucap Azzam menatap sang istri yang juga tersenyum menatap nya. Setelah itu Azzam pun benar-benar pergi menuju kelas tempat dia akan berbagi ilmu hari ini.


“Na, di mana kamu mendapatkan suami seperti itu Na? Aku juga pengen satu. Sudah cape aku Na di sakitin mulu. Pengen nikah aja. Bisa di CO gak Na?” tanya Betty yang langsung mendapat pukulan lembut dari Husna di lengan Betty.


“Aish, penganiayaan Na.” ucap Betty cemberut.


“Hai, teman-teman … maaf aku terlambat.” Ucap Andita yang kini sudah di dekat Husna dan Betty.


“Hum, kamu lumayan telat. Jadi dengan cara apa kau ingin menebus waktu yang gunakan untuk menunggumu itu?” tanya Betty dan memberi kode kepada Husna untuk diam saja. Dia ingin mengerjai Andita.


“Maaf Bet. Aku tadi masih--” ucap Andita menghentikan perkataan nya itu lalu menatap Husna. Husna pun tersenyum.


“Hey, kenapa kalian tatap-tatapan begitu? Apa kalian bicara lewat telepati? Ayo katakan alasanmu kenapa bisa terlambat begitu?” tanya Betty.


“Sudah, gak apa-apa Bet. Dia masih ada urusan sedikit. Tidak perlu tahu. Itu urusan pribadi nya. Ayo, kita jalan aja.” Ucap Husna lalu segera menggandeng tangan Betty dan Andita bersamaan.

__ADS_1


“Ck, kamu gak asik Na. Aku kan masih mau ngerjai Dita. Selain itu juga aku ingin tahu kenapa dia bisa terlambat begitu. Seperti bukan diri nya saja. Dia sudah berubah.” Ujar Betty.


“Sudah gak usah. Hum, kita pakai mobil siapa ini?” tanya Betty kemudian.


“Hum, aku tidak punya mobil. Aku hanya pergi dengan suamiku tadi.” Jawab Husna.


“Ck, orang yang punya suami. Ampun!” ucap Betty menggoda Husna. Husna pun hanya tersenyum mendengar ucapan Betty itu.


“Kalau aku memang tidak punya mobil Bet.” Ujar Andita.


“Kalau begitu kita pakai mobilku saja.” ucap Betty lalu mengajak kedua teman nya itu menuju mobil nya di parkir.


Hingga begitu mereka tiba di tempat parkir ada seorang gadis yang mengatakan kalimat sindiran.


“Ck, sudah menggoda dosen nya lalu masih membuat seseorang sakit juga.”


Betty yang hendak membuka mobil menghentikan gerakan nya dan menatap gadis itu tajam. Sementara Husna hanya tersenyum saja dan Andita sendiri dia juga ikut kesal.


“Kenapa menatap saya seperti itu kak? Apa kakak merasa atas ucapan saya itu?” tanya gadis itu lagi kepada Betty.


Betty yang mendengar itu pun mendekati gadis itu dan hendak memegang dagu adik angkatan nya itu tapi Husna menahan nya, “Dek, kamu ke kampus ini untuk belajar bukan? Maka untuk itu belajar lah dengan baik. Jangan sok tahu urusan orang lain. Kasihan orang tuamu yang sudah membiayaimu kuliah tapi ternyata anak nya adalah tukang gosip. Ingat juga jangan menilai seseorang hanya dari satu sisi saja. Kau tidak tahu sisi nya yang lain. Kau bisa saja malu nanti.” Ucap Husna lembut namun terdengar pedas bagi siapa saja yang mendengar nya.


“Tidak masalah saya tukang gosip kak yang terpenting saya tidak ganjen dan suka menggoda pria.” Balas nya.


“Terima kasih atas ucapanmu itu. Saya anggap itu adalah pujian. Jika memang banyak yang menyukai saya itu berarti saya lebih cantik darimu yang sudah memakai make up setebal ini.” Ucap Husna lalu menyentuh wajah cantik itu dengan tangan lentik nya dengan lembut dan senyum sinis tersungging di bibir nya.


Husna sebenar nya adalah dua orang yang berbeda yang memiliki dua kepribadian sekaligus. Dia bisa jadi sosok yang tenang. Bisa juga menjadi sosok yang jahat. Gadis itu pun kesal dan merasa di permalukan segera pergi meninggalkan Husna, Andita dan Betty. Husna menatap kepergian gadis itu dengan kesal.


“Jika mau melakukan hal seperti itu jangan kepada adik kelas.” Ucap Kirana yang di dampingi oleh Kania di samping nya.


Husna yang mendengar suara yang sangat dia kenal itu pun segera membalikkan tubuh nya menatap Kirana dan Kania dengan penuh senyuman.


“Lama tidak berjumpa! Apa kalian merindukanku?” tanya Husna.


Kirana yang melihat Husna yang diam saja dan hanya tersenyum membuat nya kesal setengah mati, “Siapa yang merindukan gadis sok suci sepertimu!” balas Kirana.


“Kirana, jaga mulutmu itu. Kau tidak tahu apa yang sebenar nya terjadi.” Ucap Betty kesal.


“Sudah, tidak apa-apa Betty.” Ucap Husna menahan teman nya itu agar tidak emosi.


“Wah …Kania, ternyata dia sudah tidak misterius lagi. Dia sudah punya dua bodyguard di samping nya hingga sudah berani melawan kita.” Sindir Kirana.


Husna yang mendengar itu pun hanya tersenyum lalu bertepuk tangan, “Bagus, bukan kah kalian harus memberikan tepuk tangan Dita, Betty. Aku sudah punya perkembangan. Sementara mereka masih sama saja. Suka ngejulid orang lain karena merasa kalah. Apa Gilang masih saja mengabaikanmu Kirana? Apa dia tidak menerima kau menjenguk nya? Lalu kau Kania, apa kau akan diam saja hanya karena keinginan Kirana kau bahkan sampai di tinggalkan oleh Gentala. Sungguh miris sekali hidup kalian. Kini aku tidak heran lagi kalian merasa kesal padaku karena memang kalian sudah merasa kalah dariku. Ohiya, aku mengundang kalian ke ulang tahunku minggu depan. Untuk undangan resmi nya akan menyusul nanti.” Ucap Husna.


Setelah itu Husna pun segera menggandeng Betty dan Andita untuk masuk ke mobil, “Siapa yang mau ke pesta ulang tahun orang kere sepertimu.” Ucap Kirana.

__ADS_1


Husna yang mendengar nya pun segera menghentikan aktivitas nya yang hendak masuk mobil dan kini justru memilih mendekati Kirana dan berbisik di telinga nya, “Untuk itu datang lah nanti ke pesta ulang tahunku agar kau tidak penasaran lagi dengan identitasku sebenar nya. Lalu kita buktikan juga siapa yang sebenar nya kere sebenar nya.” Ucap Husna tersenyum sinis lalu dia segera masuk ke mobil Betty yang tidak lama segera melaju pergi meninggalkan Kirana dan Kania yang menatap kepergian mobil itu dengan tatapan kesal terutama Kirana.


“Kurang ajar sekali dia. Baiklah dia mengundangku ke pesta ulang tahun nya kan. Baiklah aku pastikan akan datang ke sana. Tapi jangan salahkan aku jika ulang tahun itu akan hancur berantakan.” Ucap Kirana kesal dan sudah memikirkan rencana apa yang akan dia buat untuk menghancurkan ulang tahun Husna itu.


“Kirana, aku pikir kau tidak perlu sampai seperti itu. Lagi pula bukan kah dia sudah menikah dengan pak dosen kita itu. Kenapa kau masih ingin memusuhi nya?” tanya Kania.


Kirana yang mendengar ucapan Kania itu pun seketika menatap Kania tajam, “Apa kau sudah terpengaruh dengan ucapan nya itu? Apa kau masih ingin kembali kepada Gentala? Ingat, Gentala itu tidak punya apa-apa hanya bisa jadi pengikut Gilang saja. Apa kau sungguh ingin jadi pengikutku saja jika aku berjodoh dengan Gilang dan kau dengan Gentala?” tanya Kirana.


Kania pun hanya diam saja tapi percaya lah di dalam batin nya dia mengumpati Kania. Entah bagaimana mereka bisa terlibat pertemanan toksik ini. Terserah lah, Kania sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan di lakukan oleh Kirana itu. Untuk saat ini dia pastikan bahwa dia tidak akan jadi pengikut Kirana untuk menghancurkan ulang tahun Husna. Dia hanya ingin melihat ulang tahun Husna saja seperti apa.


***


Sementara di sisi Husna, Betty dan Andita. Kini ketiga gadis itu diam tidak ada pembicaraan dalam mobil itu selama perjalanan mereka. Ketiga nya larut dalam pikiran masing-masing.


“Na, apa benar ulang tahunmu minggu depan?” tanya Betty memandang Husna yang serius mengendarai mobil Betty itu. Yah, dia yang jadi sopir nya hingga sedikit membuat Betty bertanya-tanya akan status Husna. Dia semakin yakin bahwa Husna bukan berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Pasti ada sesuatu yang di sembunyikan di sini. Dia harus segera tahu apa itu. Dia ingin tahu hal itu. Karena satu hal yang tidak mungkin jika Husna bisa mengendarai mobil padahal diri nya selama ini selalu menggunakan sepeda motor ke kampus. Vespa kesayangan nya yang jadi cibiran orang-orang.


Husna pun melirik sekilas ke arah Betty itu lalu dia tersenyum, “Hum, seperti itu lah. Kenapa? Apa kalian kaget?” tanya Husna.


Betty mengangguk sama seperti Andita juga yang lumayan kaget karena memang dia belum bertanya tanggal lahir Husna, “Iya lah. Kau itu selalu membuat jantungku tidak aman Na. Ulang tahun ke berapa? Jangan salahkan aku yang bertanya hal ini karena selama ini kau sangat tertutup dan tidak pernah mengundang kami dalam perayaan apapun ulang tahunmu. Jadi sekarang katakan ulang tahunmu yang ke berapa?” tanya Betty.


“21 tahun. Aku adalah yang termuda di angkatan kita.” Ucap Husna tersenyum.


“Wah … parah ini. Aku saja sudah mau 23. Jika kau Dita berapa?” tanya Betty melihat Andita dari kaca mobil karena memang Andita duduk di bangku kedua.


“Aku juga sudah mau 23.” Jawab Andita.


“Itu berarti apa aku harus memanggil kalian kakak?” tanya Husna menggoda.


“Ck, apa’an itu. Awas saja jika kau mengatakan itu. Kita se angkatan. Jangan pernah memanggil kami dengan begitu.” Ucap Betty menolak sikap formal.


Husna yang mendengar itu pun tertawa, “Hum, baiklah. Aku akan menganggap kita seumuran.” Ucap Husna.


“Ee’ehh tapi tunggu kenapa kau bisa se angkatan kami padahal seharus nya jika melihat usiamu itu kau adalah adik tingkat kami?” tanya Betty penasaran.


“Aku sempat mendapat percepatan kelas saat sekolah menengah pertama. Selain itu juga aku masuk sekolah dasar saat usiaku belum genap 6 tahun.” Jawab Husna.


Betty yang mendengar itu pun menganggukan kepala nya tanda dia mengerti, “Pantasan saja. Aku jadi seperti sekolah dengan adikku saja.” canda nya. Husna pun hanya tersenyum menanggapi nya.


“Na, tunggu aku mau tanya satu hal lagi. Katakan apa yang kau bisikkan kepada Kirana tadi hingga membuat nya kesal setengah mati bahkan mengepalkan tangan nya itu.” ucap Betty kemudian.


“Apa yang aku katakan? Aku sudah lupa. Aku itu pelupa Bet.” Ucap Husna.


“Ck, jangan bohong Na. Aku tahu kau ingat. Cepat jujur. Dita kau juga pasti tahu kan?” Ucap Betty menatap Andita.


“Apa?”

__ADS_1


__ADS_2