My Secret Love

My Secret Love
121


__ADS_3

Seperti permintaan Zahra yang tidak ingin jauh dari lingkungan kampus. Gentala pun memilih salah satu restoran dekat kampus dan segera memesan ruangan VIP karena tidak ingin pembicaraan mereka nanti akan di dengar orang lain. Zahra hanya mengikuti apa yang di lakukan oleh Gentala.


Begitu tiba di ruangan mereka, Gentala segera melihat buku menu di sana, "Kamu mau minum apa, dek?" tanya Gentala.


"Tidak perlu memesan kak. Kita bicara saja." sahut Zahra.


Gentala yang mendapatkan jawaban seperti itu dari Zahra pun hanya bisa menarik nafas saja. Dia harus bersabar menghadapi makhluk yang bernama wanita. Bukan kah wanita memang sudah di ciptakan seperti itu dengan bahasa mereka sendiri yang sulit di mengerti oleh orang lain bahkan oleh mereka sendiri juga. Lagi pula cinta nya pada makhluk cantik nan imut di hadapan nya itu menambah stok sabar yang sudah dia punya. Yah, cinta harus dia akui bahwa rasa kagum kepada gadis ceria di yang kini ada di hadapan nya itu sudah menjadi cinta. Cinta yang tumbuh tanpa dia sadari dan datang tanpa permisi sudah masuk ke relung hati nya saat ini sedang terombang ambing antara di simpan atau di lepaskan.


Gentala mengabaikan ucapan Zahra dan justru memesan minuman sekalian makan siang. Gentala yang tadi nya hanya ingin mendengar alasan Zahra kini berubah pikiran. Kenapa tidak memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baik nya. Bukan kah ini bisa jadi kencan pertama mereka berdua. Itu pikir Gentala tersenyum tipis.

__ADS_1


Zahra sendiri ingin rasa nya protes tapi apa lab daya jika Gentala sudah memesan makanan dan minuman itu. Dia memilih diam saja karena dia harus menyiapkan tenaga dan pikiran untuk menjawab dan menjelaskan dengan baik kepada Gentala terkait alasan nya kenapa menghindari Gentala akhir-akhir ini.


"Bisa kita bicara sekarang?" tanya Zahra begitu Gentala selesai memesan makanan.


Gentala pun menatap Zahra lekat, "Apa tidak bisa nanti saja setelah makan siang?" tawar Gentala. Dia hanya ingin menikmati makan siang mereka itu dengan suasana perasaan yang baik tanpa terbebani dengan jawaban yang akan di berikan Zahra nanti yang mungkin saja menyakitkan untuk bisa dia terima.


Dia ingin melewati makan siang ini dengan tenang karena ingin mengganggap ini sebagai kencan mereka. Kencan tanpa rencana.


Gentala pun menarik nafas nya lalu kembali menatap Zahra lekat. Dia bisa mengerti bahwa Zahra adalah gadis yang sedikit keras kepala atas keputusan nya.

__ADS_1


"Baiklah. Katakan apa alasanmu? Kenapa kau menghindari ku akhir-akhir ini padahal sebelum nya kita tidak memiliki masalah atau kesalahpahaman. Aku ingin mendengarkan alasan yang jelas yang bisa aku terima dengan otakku." ucap Gentala.


Zahra pun mengangguk, "Sebenar nya kakak tidak memiliki salah apapun. Hanya saja Zahra sendiri yang sadar bahwa ini tidak benar." Ucap Zahra.


Gentala mengangkat kening nya bingung, "Apa maksud nya?" tanya Gentala.


"Zahra masih sangat muda. Kakak juga sama. Kita tidak bisa membawa perasaan ini ke arah yang lebih serius. Zahra mengagumi kakak dan mungkin sudah naik tingkat menjadi suka atau pun mungkin cinta. Tapi Zahra sadar bahwa itu tidak benar. Ini murni salah Zahra. Kakak tidak salah sedikit pun. Maaf!" ucap Zahra.


"Jangan meminta maaf karena aku ingin mendengar alasan bukan sebuah permohonan maaf." ucap Gentala.

__ADS_1


"Kenapa bisa jadi tidak benar?" sambung nya.


__ADS_2