
Uni berteriak kaget dan dengan cepat tangan seseorang membungkam mulutnya dan membawanya pergi dari sana ke tempat yang agak sepi.
Uni di sandarkan pada dinding dan tangannya mengunci Uni di sana. "Aro," panggil Uni saat tangan Aro dilepaskan dari mulut Uni.
"Ternyata kamu masih mengingatku walaupun dalam keadaan gelap seperti ini?"
"A-aku tau itu kamu karena aku mengenali bau parfum kamu."
"Kamu tidak hanya mengenali bau parfum aku, Uni, tapi juga kamu mengenali semua tentang diriku."
"Aro, ada apa kamu membawaku ke sini? Aku mau pulang dan di sana Rendy pasti sudah menungguku."
"Katakan? Apa benar kamu dan si bodoh itu benar-benar berpacaran?"
"A-aku dan Rendy--." Uni tampak bingung. Rasanya berat menjawab pertanyaan Aro.
"Katakan, Uni?"
"Iya, aku berpacaran dengan Rendy. Kita baru saja jadian?"
"Sebenarnya apa yang ingin kamu harapkan dari semua tingkah bodoh kamu ini, Uni? Apa kamu ingin menyakitiku atau menyakiti diri kamu sendiri?"
"Aku tidak ingin menyakiti siapa-siapa, Aro. Aku jadian lagi sama Rendy karena aku melihat Rendy benar-benar serius denganku."
"Kamu pikir aku waktu itu main-main dengan kamu? Hah?" Aro membentak Uni kasar.
Aro yang kesal seketika memberikan ciuman paksaan pada Uni. Uni yang berontak, tapi kekuatannya kalah dengan Aro.
"Apa sekarang kamu masih tidak mau mengakui jika kamu menikmati ciumanku?"
Uni mengambil napas karena ciuman Aro barusan. "Aro, aku tidak menyukai kamu, dan aku tidak menikmati ciuman kamu, lagipula kamu sudah punya Sifa dan kalian lebih cocok dari pada aku."
"Iya, kamu benar, kamu memang sangat cocok dengan Rendy. Kalian sama-sama dari kelas bawah dan kamu memang tidak cocok sama aku yang seorang majikan dari kelas atas. Itukan yang ingin kamu dengar dariku?"
Seketika jantung Uni terasa ada yang sakit, seperti tersayat pisau. Air mata yang ingin jatuh, dia coba tahan sekuatnya.
__ADS_1
"Iya, apa kata kamu itu benar."
Uno berjalan pergi keluar dari ruangan yang gelap dan dia hendak menuju ke stand bazaar miliknya.
"Uni, kamu kenapa bisa ada di sini sama Aro?" tiba-tiba ada Rendy di sana.
"Memangnya kenapa? Siapa kamu melarang aku berbicara dengan Uni?" Aro tampak marah.
"Aku kekasihnya Uni dan aku berhak marah sama kamu jika kamu mendekati kekasihku."
"Apa kamu bilang?" Aro tiba-tiba mendekat dan mencengkeram baju Rendy.
Uni mendelik kaget melihat hal itu. Uni berusaha melepaskan tangan Aro pada baju Rendy. Namun, Aro tetap tidak mau melepaskan cengkeramannya, dia menatap tajam pada Rendy.
"Aro, sudah! Kamu jangan berbuat seperti itu pada Rendy. Dia tidak salah, apa yang dikatakan oleh Rendy memang benar."
"Tapi kamu itu pembantu di rumahku dan aku berhak juga kalau hanya bicara sama kamu."
Uni sekali lagi terdiam mendengar apa kata Aro.Aro akhirnya melepaskan cengkeramannya dari baju Rendy.
"Dia memang pembantu kamu, tapi dia juga kekasih aku, dan kamu jangan semena-mena sama dia."
"Tuan Muda Aro, saya pulang dulu. Rendy, ayo kita pulang saja." Uni menggandeng tangan Rendy dan mereka pergi dari sana.
"****!" Aro yang sangat marah melampiaskan kemarahannya dengan memukul dinding di depannya sampai tangannya terluka dan berdarah, tapi luka di hatinya lebih sakit jadi Aro tidak merasakan sakit pada tangannya.
Malam itu Aro memilih pulang tengah malam saja daripada nanti orang rumah melihat keadaanya yang sedang tidak baik itu. Uni dan Rendy sudah pulang dari tadi.
Mobil Aro sudah dia masukkan ke dalam garasi rumahnya dan dia segera masuk rumah dengan kunci yang di bawanya sendiri.
Aro melemparkan tubuhnya di atas sofa, bersandar dengan sangat nyaman setelah melepaskan suitnya.
"Kenapa gadis itu bisa membuat aku seperti ini? Aku sangat membencinya," Aro menekankan ucapannya.
Aro beranjak dari tempatnya dan menyeret suitnya, meletakkan seenaknya pada pundaknya dan berjalan gontai masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Di ruang belakang tepatnya di ruang mencuci baju. Uni tampak sedang menangis dengan melihat pada bak besar yang berisi cucian. Uni ternyata memilih tidak tidur, tapi malah mencuci baju. Pokoknya dia ingin menghabiskan waktunya dengan bekerja saja. Jika dia sedang banyak pikiran di memilih mencari kesibukan saja.
"Aku tidak bisa tinggal di sini terus, akan sangat sakit jika aku tetap berada di sini. Perasaanku pada Aro semakin besar jika aku terus dekat dengannya. Akan sangat sulit melupakan Aro." Uni menghapus air matanya yang jatuh menetes perlahan.
Uni berpikir jika dia lebih baik tidak tinggal di sana, dia akan pulang pergi saja dari rumahnya Aro, tapi apa kedua orang tua Aro akan mengizinkan hal itu? Apalagi Uni sudah di buatkan kamar untuk Uni.
Tidak lama Uni mendengar sesuatu dari arah dapur. Uni segera menghapus air matanya dan mencari tau suara apa itu?
"Aro?" Uni melihat Aro yang sedang membalut lukanya, dan tidak sengaja menjatuhkan kotak P3K. Uni mendekat dan mengambil kotak P3K.
"Uni? Kenapa kamu belum tidur? Memangnya ini jam berapa?"
"Aku sedang mencuci baju karena aku tidak mau menumpuk baju-baju ini. Tangan kamu kenapa? Kenapa bisa berdarah begitu?" Uni memegang tangan Aro ingin memeriksanya.
"Aku tidak apa-apa, sebaiknya kamu tidak perlu khawatir." Aro menarik tangannya dengan gerakan cepat.
"Aro, aku akan bantu kamu untuk mengobati luka kamu."
"Aku tidak perlu bantuan kamu karena aku bisa sendiri.
"Aro, kamu tidak akan bisa membalutnya sendiri."
"Apa pedulimu! Aro menangkis tangan Uni.
"Aro, jangan begitu. Tangan kamu satunya sudah terluka dan sekarang tangan satunya lagi juga terluka."
Aro tidak memperdulikan ucapan Uni, dia malah meninggalkan meja dapur tanpa membalut lukanya.
Uni menangis melihat hal itu. Dia terduduk lemas di kursi pantry dapur. Uni menghapus air matanya dan dia ingat jika Aro pasti akan kesakitan jika memaksa mengganti bajunya sendiri.
"Dia boleh marah padaku, tapi dia tidak boleh menyiksa dirinya sendiri."
Uni berjalan menuju kamar Aro dan mengetuk pintu kamar Aro. Tidak lama pintu di buka oleh pria tampan itu dengan kemeja yang sudah terbuka semua kancingnya.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Apa kamu bisa mengganti baju kamu dengan baju tidur? Kalau tidak bisa, aku akan membantu kamu."
"Tidak perlu! Kamu pergi saja dan urus pekerjaan kamu." Aro menutup pintu tepat di depan Uni. Sebenarnya Aro juga tidak tega berbuat hal seperti itu pada Uni. Aro kesal dan marah sekali pada Uni.