My Secret Love

My Secret Love
78


__ADS_3

“Hanya apa?” tanya Gentala.


Zahra pun memandang Gentala, “Hanya--”


“Apa kau ingin sebuah pengungkapan cinta yang romantis?” tanya Gentala lagi.


Zahra pun terdiam lalu kemudian dia mengangguk, “Bukan kah setiap wanita butuh kepastian. Dan setiap pria wajib untuk memberikan hal itu. Jangan pernah menggantung perasaan seseorang layak nya jemuran. Jadi jika kak Gen tidak punya perasaan apapun padaku. Jangan memperlakukan aku seperti seseorang yang special untukmu. Hati perempuan itu sangat lemah dengan sebuah perlakuan lembut. Mereka bisa menafsirkan hal itu sebagai sebuah perhatian dan rasa yang lain. Jadi jangan lakukan itu lagi jika memang kak Gen tidak memiliki perasaan apapun padaku. Bersikap lah seperti saat kita belum mengenal sebelum nya.” Ucap Zahra.


Gentala yang mendengar penuturan panjang dari Zahra pun tersenyum. Dia tidak menyangka bahwa gadis yang memiliki jarak usia 3 tahun lebih muda dari nya itu memiliki prinsip yang seperti itu terkait perasaan yang dia miliki. Gadis itu terlihat memiliki perasaan pada nya. Tapi hal itu tidak membuat nya mengemis cinta. Dia tetap melindungi harga diri nya. Memang definisi gadis yang menarik dan membuat nya tertarik untuk mendekat. Percaya lah, gadis seperti itu yang dia cari selama ini. Gadis yang tidak lemah akan perasaan nya.


“Aku menyukai prinsip yang kau pegang. Kau tidak lemah karena perasaanmu itu. Aku tidak ingin mengatakan apapun untuk memastikan perasaanku itu padamu. Tapi satu hal yang pasti semua perhatian atau apa lah yang ku berikan padamu dalam beberapa hari ini. Semua nya tidak ada yang palsu. Hatiku yang ingin melakukan nya. Kita juga baru beberapa hari ini mengenal dekat. Jadi untuk memastikan sebuah perasaan atau mengungkapkan perasaan pasti akan mendapatkan pertanyaan nanti. Untuk itu saya tidak akan mengungkan perasaan saya sebelum saya benar-benar memastikan nya. Saya juga tidak suka menggantung perasaan seseorang. Tapi tidak bisa kah kita menjalani hal ini tetap seperti ini?” tanya Gentala.


Zahra pun terdiam lalu kemudian dia tersenyum dan mengangguk, “Baiklah begitu saja dulu. Jangan libatkan perasaan apapun dalam hubungan kita ini. Jangan sampai ada yang baper. Kita bisa di katakan hanya menjalin hubungan pertemanan.” Ucap Zahra dengan senyum manis menghiasi wajah cantik nya itu.


Gentala walaupun sedikit keberatan dengan kata pertemanan itu tapi dia hanya bisa menurut saja tanpa basa basi menolak hal itu karena itu memang harus terjadi. Dia menurut saja tapi akan dia pastikan bahwa gadis di samping nya itu akan jadi milik nya. Untuk itu, untuk bersanding dengan gadis istimewa seperti Zahra maka dia pun harus mengupayakan hal terbaik agar jangan sampai dia malu karena tidak sepadan bersanding dengan Zahra.

__ADS_1


Bukan kah gadis istimewa memang harus di dapatkan dengan cara istimewa dan juga harus di perlakukan istimewa. Untuk itu dia harus mengusahakan semua nya. Dia akan melakukan hal terbaik untuk semua nya. Tidak akan dia biarkan Zahra menjadi milik orang lain. Gadis itu sudah dia tandai sebagai milik nya. Tidak akan pernah dia izinkan orang lain untuk mendekat apa lagi sampai menyentuh perasaan gadis itu.


***


Sementara di sisi Andita dan Gilang juga terjadi sesuatu yang serupa dengan hal yang terjadi pada Zahra dan Gentala tapi untuk hal itu mereka memulai nya dengan keheningan. Kedua nya canggung satu sama lain.


“Dita!” panggil Gilang lembut setelah cukup lama di dalam mobil itu keadaan nya hening.


Andita pun menoleh dan menatap Gilang, “Ya!” jawab nya singkat.


Yah, dia memang merasa bahwa Andita sudah berubah. Andita yang dia kenal adalah Andita yang sering menyela nya bicara dan Andita yang sedikit heboh walaupun tidak seheboh Betty. Tapi Dita juga tidak sedingin dan semisterius Husna. Dia adalah tipikal gadis yang menyenangkan dan humoris ketika di ajak bicara. Hingga beberapa hari ini sejak dia sakit dekat dengan Andita yang tidak secerewet yang dia kenal membuat nya merasa kehilangan Andita yang dia kenal. Andita berubah menjadi sosok yang diam. Dia menyembunyikan perasaan nya sendiri. Entah kenapa kini dia merasa Andita dan Husna menjadi dua orang yang berkebalikan. Andita yang humoris kini jadi seperti Husna yang dia kenal dulu. Sedangkan Husna kini menjadi Andita yang dia kenal dulu. Mereka seperti sedang bertukar jiwa saja.


Andita yang mendengar ucapan Gilang pun tersenyum saja, “Aku tidak berubah kok. Aku masih Andita yang kau kenal. Hanya saja dalam versi lebih baik lagi. Kau tidak akan menemukan Andita yang akan menyelamu lagi. Aku sedang mencoba versi terbaik diriku. Aku sadar bahwa aku harus dewasa. Tidak bisa lagi bertindak kekanakan. Jadi ini lah hal yang ku lalui untuk bisa bertransformasi jadi sosok yang dewasa.” Balas Andita.


“Tapi aku menyukaimu yang seperti dulu.” Ucap Gilang lirih hingga Andita pun hampir tidak bisa mendengar nya.

__ADS_1


“Kenapa harus melakukan hal seperti itu? Bukan kah kita bisa bertransformasi jadi sosok yang dewasa tanpa harus mengubah hal-hal sebelum nya terutama dengan sikap.” Ucap Gilang lagi.


Andita yang mendengar itu pun tersenyum, “Mungkin apa yang ketua tingkat katakan itu benar. Tapi setiap proses pedewasaan diri setiap orang berbeda-beda. Memiliki jalan yang berbeda. Tidak semua orang sama. Ini adalah jalan dan proses pendewasaan diri yang saya pilih maka hal itu pasti akan saya lakukan.” Ucap Andita.


Gilang pun yang mendengar itu diam, “Baiklah. Jika memang itu adalah pilihanmu saya bisa apa lagi untuk menolak pilihan yang sudah kau pilih. Semoga saja kau berhasil dengan metode yang sudah kau pilih itu. Saya tidak akan memberatkanmu lagi.” Ucap Gilang.


“Tapi bisa kah kita berteman?” sambung Gilang.


Andita yang mendengar itu pun terkekeh, “Pertanyaan macam itu? Tentu saja kita bisa berteman. Bukan kah selama ini kita memang teman.” Ucap Andita.


Gilang pun tersenyum lalu mengangguk, “Kau benar kita adalah teman. Entah kenapa aku bisa menanyakan pertanyaan tidak bermutu itu.” ucap Gilang.


“Hum, tidak masalah. Setiap orang memang terkadang akan membuat pertanyaan yang berbeda dengan keinginan hati nya.” Balas Andita.


“Itu bukan hanya penawaran teman Dita. Apa kau tidak memahami maksud tersirat dari penawaran itu? Kenapa kau jadi sosok yang tidak peka akan hal itu. Tapi jadi teman juga tidak masalah. Namun aku tidak ingin kehilangan lagi untuk kedua kali nya.” Batin Gilang melirik Andita.

__ADS_1


“Aku bukan tidak memahami maksud dari penawaran itu. Hanya saja aku mencoba untuk tidak memahami nya. Aku tidak ingin berharap lebih walaupun hatiku ingin. Aku tidak ingin merasakan sakit.” Batin Andita.


__ADS_2