My Secret Love

My Secret Love
Perjodohan


__ADS_3

Setelah memberikannya Uni masih melihat Aro duduk di meja makan, dia berpikir kenapa Aro tumben makannya lambat sekali atau dia sengaja memperlambat makannya karena ingin menunggu Uni untuk duduk dan makan siang di sebelahnya?


Ibu Nala kembali nyuruh Uni untuk makan siang sekarang, dan mau tidak mau Uni duduk bersebelahan dengan Aro dan dia makan siang bersama dengan Aro. Di atas meja makan, mereka berdua tak saling bicara, tidak lama Uni teringat ingin meminta izin datang ke acara bazar di kampus Via.


"Ibu Nala, apa Uni boleh mengatakan sesuatu?"


"Ada apa katakan saja, Uni?"


"Ibu Nala, apa boleh Uni izin untuk libur bekerja pada sore hari karena ingin diajak sama teman Uni ke kampusnya? Di sana akan ada acara bazar.


"Tentu saja kamu boleh ikut Uni."


"Uni janji akan menyelesaikan semua pekerjaan kemudian Uni akan pergi dengan teman Uni dan pekerjaan malamnya nanti Uni akan selesaikan sepulang dari bazar."


"Kamu tidak perlu khawatir nanti biar ibu Nala yang menyelesaikannya."


"Maaf ya ibu Nala."


"Tidak apa-apa Uni. Ya sudah sekarang habiskan makan siang kamu, kemudian kamu bisa melakukan pekerjaan selanjutnya."


"Aro yang duduk di sananhanya memperhatikan Uni dan mamanya sedang berbincang.


Nala kembali ke dapurnya. Aro kemudian mendekat pada Uni dan dia berkata dengan lirih. "Kenapa kamu tidak memberitahu Jika kamu akan pergi ke acara bazar di kampusku?"


"Ibu Nala, sebenarnya acara bazar itu ada di kampus Aro, sahabat aku adalah teman satu kelas dengan Aro, dan ia ingin mengajakku ke kampusnya."


"Oh jadi teman kamu satu kelas sama Aro? Apa teman kamu seorang perempuan?"


"Iya namanya Via dan dia sangat baik padaku dulu dia bekerja di restoran cepat saji di mana aku bertemu dengan Ibu Nala."


"Ya sudah tidak apa-apa, Aro juga akan ke sana. Apa sebaiknya kamu bareng juga sama Aro?"


"Tidak usa, Bu. Nanti aku janjian dengan temanku bertemu di suatu tempat. Saya belum cerita kalau saya bekerja di rumah Aro."


"Kalau dia kenal sama Aro, kamu katakan saja kamu bekerja di sini."


"Dia tidak hanya kenal Aro, Bu. Dia bahkan menyukai Aro," celetuk Uni asal dan secepat kilat tangan Uni di genggam erat oleh Aro. "Aduh! Sakit Aro." rintih Uni.


"Aro! Kamu kenapa menggenggam tangan Uni sampai seperti itu?" Nala mendelik pada Aro.

__ADS_1


"Habisnya, kenapa dia pakai bilang temannya menyukaiku? Aku saja tidak kenal walaupun satu kelas."


"Keterlaluan sekali putraku satu ini." Nala memutar bola matanya jengah


"Keterlaluan apanya, Bu?"


"Kamu keterlaluan, kenapa malah tidak kenal dengan teman satu kelas kamu, apalagi seorang cewek dan dia menyukai kamu? Sifat kamu dari kecil memang begitu, dulu sama Sita, sekarang sama temannya Sita."


"Iya, bagaimana kamu bisa memiliki kekasih kalau sifat kamu seperti itu, cucu Nenek."


"Mama sama nenek tenang saja, ada kok yang mau menjadi kekasihku," Uni sudah menahan napas saja takut jika Aro akan mengatakan jika dialah kekasih Aro. Auto semaput itu Ibu Nala dan Nenek Anjani.


"Siapa yang mau sama kamu kamu? Walaupun kamu tampan, tapi kamu sifatnya begitu. Wanita itu senang sekali di perhatikan, dan bersikap lembut sama dia. Apa kamu bisa cucuku?"


"Aku malah bisa sangat romantis jika aku sudah benar-benar menemukannya, Nek."


"Ya sudah, secepatnya kenalkan oleh nenek, dan nanti nenek yang akan menilanya."


"Nenek tidak akan kecewa dengan pilihanku." Aro melihat pada Uni dengan tatapan datar dan menyeringai.


Uni langsung membuang wajahnya melihat ke arah piringnya.


"Kamu serius akan mengadakan acara ulang tahun kecil-kecilan di cafe Dean?"


"Iya, aku serius. Asal kamu tau, Ara. Aku di sini jarang punya teman, jadi aku senang bisa berkenalan sama kamu dan teman-teman kamu yang ramai itu. Undang mereka semua dan teman-teman yang kamu kenal. Aku akan mentraktir mereka semua. Aku sudah bilang tadikan sama Dean akan menyewa cafe miliknya."


Ara mengangguk, dan karena David harus kembali ke kantornya, dia mengantarkan Ara sampai ke depan pintu rumahnya, tak lupa David pamit pada Nala."


"Ara, kamu itu kenapa memanggil David dengan namanya saja? Usia dia di atas kamu, akan lebih sopan kamu memanggil dia dengan menyertakan nama Mas."


"Hah? Aku memanggilnya dengan nama mas David?" Ara tampak tidak percaya.


"Iya, Sayang." Mereka ini sudah ada di meja makan. Sedangkan Uni pergi ke halaman belakang mengurusi tanaman Nala dan membersihkan setiap ruangan di rumah itu.


Aro? Dia tentu saja ada di kamarnya sedang video call dengan teman-temannya membahas acara besok lusa.


"Memangnya ada yang aneh kalau kamu memanggi David dengan sebutan mas?" tanya Nala.


"Agak aneh si, Bu, seperti kita memanggil suami kita saja dengan sebutan Mas."

__ADS_1


"Memangnya panggilan mas hanya untuk suami? Untuk orang yang lebih tua dari kita juga di haruskan, itu tandanya kita menghormati dia."


"Iya, kalau begitu, mulai besok aku akan memanggil Mas David."


"Sayang, bagaimana menurut kamu tentang David?"


"Mas David orangnya baik, menyenangkan dan dia cepat sekali akrab dengan seseorang. Tadi saja di kampus dia langsung bisa kenal dengan teman-teman gank cewekku yang ramai itu. Malahan mereka mengira aku dan mas David ada hubungan, tapi mas David sudah menjelaskannya.


"Ara, apa kamu tidak menyukai David?"


"Suka. Eh, tapi tunggu. Maksud Mama menyukai dalam arti yang bagaimana?"


"Suka, tapi semacam perasaan jatuh cinta begitu." Nala juga bingung mau menjabarkan yang bagaimana?


"Oh itu? Aku biasa saja sama dia."


"Kemarin tante Maya bilang pada mama apakah mama menyukai David? Mama bilang saja jika mama baru mengenal David, tapi memang mama lihat David pria yang baik dan dia dari keluarga yang kita kenal."


"Lalu?"


"Lalu, tante Maya menawarkan apa mama mau jika menjodohkan David dengan kamu?"


"Hah? Menjodohkan aku dengan David?" Ara tampak terkaget.


"Tapi mama bilang itu semua keputusan ada di tangan kamu, jadi ayah sama mama tidak mau memaksakannya."


"Aku kan masih kuliah, Ma."


"Kami juga tidak akan menikahkan kamu cepat-cepat, Ara. Kamu bisa menyelesaikan kuliah kamu dulu, tidak harus langsung."


"Memangnya kamu mau, Ara?" tanya Nenek Anjani.


"Aku tidak tau, Nek. Cuma aku tidak siap jika di jodohkan dengan David, terasa aneh saja, apalagi kita baru kenal."


"Apa kamu di kampus sudah punya pacar?"


Deg!


"Pacar?"

__ADS_1


"Iya, apa kamu sudah punya kekasih di kampus, Sayang? Katakan saja sama mama karena mama senang kamu mau bercerita sama mama.


__ADS_2