
Kini Husna dan Azzam sudah tiba di kediaman utama. Penjaga gerbang langsung membukakan pintu gerbang untuk nona mereka itu begitu mengenal mobil milik Azzam.
Azzam pun segera memasukkan mobil menuju halaman kediaman mertua nya itu, “Terima kasih paman.” Ucap Husna kepada penjaga gerbang itu yang di balas dengan senyuman oleh penjaga gerbang itu.
Azzam segera memarkirkan mobil di parkiran yang sudah di sediakan. Lalu setelah itu dia segera turun dan membukakan pintu untuk istri nya itu, “Silahkan turun istriku.” Ucap Azzam sambil mengulurkan tangan nya dan sedikit menunduk layak nya pangeran saat akan mengajak seorang putri dalam dunia kartun.
Husna pun tersenyum lalu menerima uluran tangan suami nya dan kedua nya pun saling berpegangan tangan satu sama lain dan masuk menuju pintu utama.
“Assalamu’alaikum!” salam Husna dan Azzam bersama-sama.
“Wa’alaikum salam.” Jawab abi Syarif tersenyum menyambut putri dan menantu nya itu.
Abi Syarif segera berdiri menatap putri dan menantu nya itu, “Abi, duduk saja. Tidak perlu berdiri begitu.” Ucap Husna segera mendekati abi nya itu dan memeluk abi nya itu penuh sayang.
Abi Syarif itu pun tersenyum lalu mengusap kepala putri nya itu, “Abi, rindu padamu nak.” ucap Abi Syarif lirih.
Husna pun tersenyum mendengar itu, “Husna juga merindukan abi.” Balas Husna.
“Eeehh ini ada putri dan menantu umi datang ke sini.” Ucap Umi Balqis datang dari arah dapur.
Husna pun melepas pelukan nya kepada abi nya itu lalu beralih memeluk umi nya. Sementara Azzam segera menyalami abi Syarif penuh hormat.
“Umi, Husna rindu.” Ujar Husna manja pada umi nya itu.
__ADS_1
Umi Balqis pun tersenyum, “Hum, gitu ya? Umi gak rindu tuh padamu.” Balas umi Balqis.
Husna pun melepas pelukan nya dan menatap umi nya itu dengan rawut wajah cemberut hingga membuat umi Balqis pun tertawa, “Umi memang tidak merindukanmu Na. Hanya saja dia selalu membuat makanan kesukaanmu.” Ucap abi Syarif.
“Abi jangan membongkar rahasia umi di sini. Umi kan malu.” Timpal umi Balqis.
Husna dan Azzam itu pun tersenyum mendengar ucapan abi Syarif dan umi Balqis itu.
“Gak usah gengsi umi jika memang rindu padaku.” Ujar Husna.
Umi Balqis pun tersenyum, “Iya, umi rindu padamu.” Ucap umi Balqis akhir nya.
“Aku juga rindu pada umi.” Balas Husna.
Kini Husna sedang duduk bersama umi nya di halaman belakang sambil menikmati pemandangan sore di taman bunga milik umi nya itu. Yah, umi Balqis mengajak putri nya untuk bicara di sana. Quality time antara seorang ibu dan putri nya. Sementara Azzam sudah tentu saja dia bicara dengan abi Syarif di ruang keluarga sambil menikmati kopi mereka.
“Umi, kenapa mengajakku bicara di sini?” tanya Husna melirik umi nya itu setelah cukup lama mereka duduk di sana dan hanya memandangi bunga saja.
Umi Balqis pun tersenyum lalu menatap putri nya itu lekat, “Umi mau menanyakan satu hal dulu kepadamu nak. Umi yakin ini pertanyaan yang lumayan dewasa tapi umurmu sudah cukup untuk itu. Jadi apa benar kamu dan suamimu sudah melakukan nya?” tanya umi Balqis.
Husna yang mendengar pertanyaan umi nya itu pun menelan ludah nya kasar, “Umi, kenapa menanyakan itu?” tanya Husna masih saja malu jika harus membahas hal yang berbau dewasa.
Umi Balqis pun tersenyum lalu meraih tangan putri nya itu dan mengusap nya lembut, “Kau tahu nak, usia abi dan umi sudah tua. Kami bahkan hampir terlihat seperti kakek dan nenekmu saja. Jadi umi dan abi sangat berharap kami bisa melihat cucu kami lahir. Umi tahu mungkin permintaan umi ini berat untukmu karena kau yang awal nya memang tidak begitu menyukai dan tidak memiliki rencana ingin menikah di usiamu ini tapi tetap harus menikah karena abi dan umi. Lalu kini abi dan umi juga ingin segera memiliki cucu darimu. Umi tahu permintaan umi Balqis memang terlihat egois. Umi menyadari hal itu dan umi hanya berharap kau mengerti. Tidak perlu melakukan program hanya jangan menundang nya.” Ujar umi Balqis lalu mengusap perut putri nya itu di akhir kalimat nya.
__ADS_1
Husna pun tersenyum terharu lalu memeluk umi nya itu, “Aku tahu umi. Husna juga memang tidak ingin menunda. Husna dan mas Azzam juga sudah membicarakan hal ini tadi dan kami memang sepakat untuk tidak menunda tapi juga tidak melakukan program. Kami ingin semua nya berjalan sebagaimana mesti nya. Jadi doakan saja agar cucu umi dan abi sudah hadir di sini.” Ucap Husna tersenyum lalu ikut mengusap perut nya itu.
Umi Balqis itu pun tersenyum, “Jadi apa bisa umi simpulkan kalian sudah melakukan nya?” tanya umi Balqis menatap putri nya itu lekat.
Husna pun menutup wajah nya itu dengan telapak tangan nya, “Umi … kenapa harus menanyakan itu jika memang umi sudah tahu apa jawaban nya.” Ucap Husna malu.
Umi Balqis pun tertawa, “Hahahh, maaf sayang.” ucap umi Balqis.
Husna pun ikut tersenyum melihat umi nya itu tersenyum, “Semoga saja apa yang kalian harapkan itu terjadi. Semoga saja Allah mendengar doa kalian dan segera menghadirkan seorang cucu di rahimku.” Batin Husna.
“Aku tidak pernah memimpikan bahwa di usiaku belum genap 22 tahun ini akan memiliki harapan punya anak padahal sebelum nya itu tidak ada dalam pikiranku. Namun menikah dengan mas Azzam membuat semua rencana yang sudah ku buat dengan rapi sebelum nya menjadi buyar seketika. Tapi perasaanku justru tidak kecewa melainkan senang karena hal itu.” lanjut batin Husna.
“Ayo kita masuk. Sebentar lagi mau magrib.” Ajak umi Balqis setelah kedua nya puas memandangi pemandangan taman bunga itu.
Husna pun mengangguk lalu kedua wanita berbeda generasi itu pun segera masuk ke dalam kediaman sambil bergandengan tangan satu sama lain. Husna dan umi Balqis segera menuju ruang keluarga dan duduk di samping suami masing-masing.
“Umi, ayo bantu abi ke kamar.” Ucap abi Syarif berdiri. Umi Balqis pun segera menurut dan membantu suami nya itu dan mereka pun segera menuju kamar mereka.
“Mas, kita menginap di sini ya.” Ucap Husna manja dan meletakkan kepala nya itu di bahu sang suami.
Azzam pun mengangguk, “Baiklah. Kita menginap di sini.” Ucap Azzam.
Husna pun tersenyum lalu dia segera berdiri, “Ayo!” ajak Husna mengulurkan tangan nya.
__ADS_1
Azzam pun berdiri dan kedua nya segera menuju lantai lantai dua di mana kamar milik istri nya itu berada. Mereka segera masuk ke dalam yang memang kamar itu selalu di bersihkan walaupun Husna gak ada. Husna dan Azzam sambil menunggu waktu sholat tiba kedua nya membaca buku pengetahuan umum dan mendiskusikan nya bersama. Sungguh pasangan suami istri yang berbeda.