
Ara dan Mas David berada di cafe milik Dean, jujur saja Ara tidak menyangka jika Mas David akan membawanya ke sana.
"Kenapa kita di sini, Mas David?"
"Untuk makan, dan kamu sangat suka minuman coklat Hazelnutnya, Kan?" Mas David menggandeng tangan Ara.
"Tapi aku sedang tidak ingin minum itu. Aku sudah bosan." Ara berbohong, sebenarnya dia malas kalau sampai bertemu dengan si pemilik cafe yang tak lain adalah Dean.
"Kamu nanti pesan minuman lainnya saja kalau begitu."
Tidak lama si pemilik cafe itupun datang dan menghampiri mereka. "Hai kalian!" sapanya.
"Hai, Dean. Kamu rajin sekali ya? Pulang kuliah langsung ke sini. Apa kamu tidak capek?"
Dean menggelengkan kepalanya pelan. "Aku malah senang sekali melakukan hal ini. Oh ya! Kalian hanya berdua saja?"
"Tentu saja kami hanya berdua?" jawab Ara cepat. "Memangnya kalau berkencan harus beramai-ramai?"
"Jadi ini kencan pertama kita ya, Ara?"
"Em ... bisa di bilang begitu sih, Mas David." Ara meringis.
"Kalau begitu, aku akan carikan tempat untuk kalian berdua." Dean sekilas melirik pada tangan Mas David yang menggandeng tangan Ara.
Ara memesan menu yang sama seperti apa yang di pesan oleh Mas David di sana. Tidak lama makanan mereka datang.
"Ini makanan kalian, selamat menikmati makanan kalian."
"Terima kasih, Dean," jawab Mas David.
"Kalau begitu aku permisi dulu." Dean masuk ke dalam ruangannya dan dia tampak menahan perasaan yang sakit melihat Ara dan Mas David.
"Apa itu putri dari Nala dan Akira?"
Tiba-tiba suara seseorang dari arah belakang Dean. "Iya, Yah."
"Gadis itu sangat cantik, hanya saja dia membawa wajah dari ayahnya. Orang yang sangat aku benci dan membawaku dalam penderitaan beberapa tahun yang lalu."
"Ayah, itu semua bukan kesalahan keluarga Ara. Aku sudah tau ceritanya."
__ADS_1
"Tetap saja mereka penyebab kehidupan kamu harus kekurangan kasih sayang dari Ibumu."
"Tapi Ara tidak ada sangkut pautnya dengan masa lalu kalian dulu."
"Kalau kamu benar-benar mencintainya, dapatkan dia, tapi kamu juga harus menjadi anak yang berbakti pada alm ibumu untuk membalas dendam pada mereka melalui anaknya," ucap tegas Radit dan Dean hanya terdiam di tempatnya.
***
Malam itu keluarga Akira makan bersama dengan sangat hangat. Uni melihat cemas beberapa kali pada Ibu Nala dan Ayah Akiranya. Kedua tangannya di tautkan beberapa kali. Posisi Uni sedang berdiri sambil menyiapkan makan malam.
Aro tampak kesal melihat Uni saat ini. Apa yang ada di pikirannya, sehingga dia ingin pergi dari rumahnya itu?
"Ibu Nala dan Ayah Akira, apa Uni boleh bicara sesuatu?" kata-kata itu akhirnya keluar dari mulut Uni.
"Kamu mau bicara apa, Uni? Tentu saja boleh, dan kamu duduk saja."
"Iya, ada apa? Kenapa ayah lihat kamu tampak begitu cemas?"
Uni duduk perlahan di kursinya. Dia melihat sekali lagi dengan perasaan takut.
"Kamu kenapa sih, Uni?" tanya Ara yang melihat gelagat Uni yang sangat aneh.
"Apa? Kamu mau pindah dari sini?" tanya Ara heran.
"Iya, Ara. Aku mau pindah tempat tinggal, aku akan kost di suatu tempat yang tidak jauh dari sini supaya waktu aku ke sini tidak kejauhan."
"Memangnya kenapa kamu ingin kost sendiri? Apa kamu tidak nyaman tinggal di sini? Apa kamar yang kami buat untuk kamu tidak sesuai dengan keinginan kamu?" tanya Nala.
"Bukan begitu, Ibu Nala. Kamar itu bahkan lebih baik dari kamarku di rumah tanteku dulu, hanya saja aku mau pindah dan mencoba hidup mandiri seperti kehidupan aku seharusnya," ucap Uni lirih.
Aro menatap Uni dengan tatapan dinginnya dan Nala tau akan hal itu.
"Kamu memangnya sudah memikirkan ini baik-baik, Uni?" tanya Akira.
"Sudah, Yah. Aku sudah memikirkan semua ini baik-baik dan aku sudah menyiapkan semua untuk biayanya dari tabunganku selama bekerja di sini."
"Jujur saja Ibu sangat tidak setuju sama keputusan kamu ini. Kenapa harus pindah? Kamu sudah seperti anak Ibu Nala sendiri, lagian enak tinggal di sini, kamu tidak perlu mondar mandiri nantinya."
"Tidak apa-apa, Ibu Nala. Aku akan mencari kost yang dekat sini, jadi aku bisa dengan mudah jalan kaki ke sini dari tempat kost aku."
__ADS_1
"Tapi Uni, kamu ini kenapa harus pindah?" Muka Ara tampak sedih.
"Ara, kitakan tetap bisa bertemu tiap hari saat aku datang bekerja, dan kita tetap bisa saling curhat."
"Baiklah, Uni. Kalau ini sudah keputusan kamu, kamu lakukan saja, ayah akan mendukungnya."
"Akira? Kenapa malah membiarkan begitu saja?" tanya Nala heran.
"Dia itu sudah dewasa, dan pemikirannya untuk mandiri juga sudah benar. Apa salahnya kita mendukungnya?"
"Terima kasih Ayah Akira. Aku juga minta maaf sama keluarga ini, jika selama tinggal di sini sudah membuat kalian kesal."
"Kamu memang sangat mengesalkan, Uni. Benar juga kata Ayahku, kamu sudah memutuskan apa yang terbaik untuk kamu, maka lakukanlah," ucap Aro tegas.
Uno hanya terdiam melihat pria itu. Makan malam akhirnya berlanjut dengan menerima apa yang ingin Uni lakukan.
Hari ini Kampus mereka libur, hanya Akira yang masuk kerja, tapi hanya setengah hari.
"Uni, kamu mau tidak ikut ke acara pesta ulang tahun Mas David hari ini di cafenya Dean?" ajak Ara.
"Maaf, Ara, aku tidak bisa ikut karena aku mau pergi dengan Via mencari tempat kost, dan kalau sudah pas, aku mau mengemas barang-barangku."
"Kamu benaran serius mau pindah dari sini?"
"Serius."
"Lalu? Apa kamu nanti tidak kangen sama Aro?"
"Kenapa cuma sama Aro? Aku sangat menyayangi kalian semua." Mereka sedang berbicara di dalam kamar Ara.
"Uni, kamu itu kenapa sih? Mau menghindar dari Aro? Apa begini caranya?"
Uni melihat pada Ara, lalu kepala gadis itu menggeleng pelan. "Aku tidak menghindar. Aku, kan sudah bilang jika aku ingin mandiri, Ara. Kamu jangan sangkut pautkan dengan Aro terus."
"Ya sudah lah! Aku tidak akan membahas masalah ini. Kamu itu terlalu keras kepala dan masih saja tertutup tentang suatu hal, tapi aku tidak ingin memaksa, aku hanya akan mendukung apa yang ingin kamu lakukan asal kami bahagia."
"Iya, aku hanya butuh dukungan dari seseorang, apalagi sahabat seperti kamu."
"Ya sudah. Sekarang bantu aku untuk bersiap-siap ke acara Mas David, ya?"
__ADS_1
"Kamu mau tampil cantik supaya si Dean menyesal menyakiti kamu atau mas David supaya menyatakan cintanya?" goda Uni.