
“Kita pulang?” tanya Gentala setelah dia masuk mobil.
Zahra diam tidak tahu mau menjawab apa, “Kita pulang saja dulu. Husna pasti ingin segera mencicipi rujak itu. Tapi bisa kah kita keluar nanti malam. Maksudku keluar sekedar makan malam biasa saja. Jika kau tidak keberatan. Jika kita pergi sekarang pun kita akan ketinggalan acara berbeque bersama. Jadi--”
Zahra mengangguk. Gentala pun tersenyum melihat anggukan Zahra itu.
“Baiklah. Sekarang kita pulang dulu.” Ucap Gentala penuh senyum lalu segera melajukan mobil kembali ke kediaman utama.
Beberapa saat lalu saat mereka sedang antri beli rujak satu pesan masuk ke ponsel nya yang ternyata itu dari Azzam.
[Gen, jaga adikku dengan baik. Rujak yang di pesan istriku hanya lah jalan agar kalian bisa dekat. Aku mengatakan ini bukan karena sudah merestuimu tapi jujur aku percaya padamu dalam hal menjaga adikku. Jadi jangan kecewakan kepercayaan yang sudah aku berikan padamu. Tolong buat dia senang. Terserah dalam hal apa yang penting adikku itu senang. Dia adalah sosok yang ceria dan aku suka melihat nya tersenyum tapi akhir-akhir ini dia menjadi sedikit dingin dan menjadi sosok yang kehilangan keceriaan nya. Tolong kembalikan sikap ceria nya itu lagi. Aku tahu permintaanku ini mungkin akan membebanimu tapi aku berharap kau tidak keberatan. Untuk saat ini kau sudah mendapatkan kepercayaanku untuk restuku itu semua bisa kau dapatkan tergantung dari bagaimana kau memperlakukan adikku dan bagaimana usahamu untuk memperjuangkan nya. Cinta itu harus di perjuangkan. Jika kau serius dengan adikku aku tunggu kedatanganmu dan orang tuamu. Tidak perlu menunggu mapan yang penting adikku tidak kelaparan saja itu sudah cukup. Tapi aku yakin kau pun sebagai sosok pria pasti akan malu jika tidak bisa mempertanggung jawabkan hal yang sudah jadi tanggung jawabmu. Sekali lagi jaga lah adikku.]
Itu adalah isi pesan panjang dari Azzam yang membuat tingkat kepercayaan diri dalam Gentala meningkat untuk memperjuangkan cinta nya. Zahra adalah satu-satu nya wanita yang dia inginkan. Dia memang pernah menjalin hubungan sebelum nya bersama Kania tapi itu semua di lakukan demi Gilang. Hubungan sandiwara yang di bangun dari awal hingga akhir dan tidak pernah membuat nya merasa jatuh cinta walaupun Kania adalah sosok yang cantik dan tidak begitu kejam di banding Kirana. Namun tetap saja hati nya tidak bisa mencintai Kania padahal sudah menjalin hubungan hampir setahun.
Terus bersama Zahra, dia langsung jatuh cinta pada gadis itu dalam sekejab saja. Hati nya sudah tertawan dan dia bisa sedih sampai menitikkan air mata hanya karena permintaan gadis itu yang meminta nya untuk menjauh. Sebenar nya harus dia akui bahwa apa yang di minta Zahra bukan sebuah kesalahan tapi itu adalah keputusan yang terbaik untuk mereka. Namun entah kenapa logika nya tidak bisa memaklumi nya dan hati nya tidak mampu menerima hal itu.
“Zahra!” panggil Gen saat suasana dalam mobil hanya di huni oleh keheningan saja.
“Iya kak.” Jawab Zahra menoleh ke arah Gentala.
Gentala tersenyum lalu menggeleng, “Gak, aku hanya ingin memanggilmu saja.” balas Gentala.
“Kak Gen aneh.” Ucap Zahra.
“Aneh? Kenapa aku aneh?” tanya Gentala balik. Jujur saja dia hanya ingin membuat Zahra bicara.
“Ya aneh. Masa iya memanggil nama tapi tidak ada yang ingin di katakan atau pun di bicarakan. Jika bukan aneh. Apa itu nama nya?” ucap Zahra.
“Aku menyukaimu.” Jawab Gentala cepat.
Zahra pun terdiam, “Kak, jangan--”
“Yah aku tahu. Kita harus menjaga jarak tapi tentu aku tidak ingin membohongi hatiku. Jadi aku harus mengatakan apa yang berada di hatiku. Di tambah lagi aku bukan lah orang yang suka memendam sesuatu.” potong Gentala.
“Bukan seperti itu maksudmu kak.” Ucap Zahra lirih.
Gentala pun tersenyum mendengar ucapan Zahra itu lalu mereka kembali diam dan larut dalam pikiran masing-masing hingga tiba di kediaman utama.
Kedua nya segera turun dan menuju halaman belakang di mana acara berbeque itu berada. Begitu mereka masuk area halaman belakang bumbu khas berbeque langsung masuk ke indera penciuman kedua nya. Bumbu khas yang mengggugah selera.
“Eh kalian sudah tiba?” itu suara Husna yang terkejut karena Zahra dan Gentala sudah pulang padahal dia dan sang suami sudah mengirimkan pesan kepada kedua nya.
“Tentu kami harus pulang kakak ipar. Kami harus mengantarkan rujak pesananmu. Aku tidak ingin calon keponakanku itu memiliki kesan buruk pada aunty nya di kesempatan pertama dia menginginkan sesuatu.” ucap Zahra segera memberikan rujak pesanan kakak ipar nya itu.
Husna pun menerima nya dengan tersenyum.
“Kami juga tentu tidak ingin melewatkan acara berbeque bersama ini yang mungkin saja tidak akan terulang lagi karena kesibukan kita masing-masing di masa yang akan datang.” sambung Gentala.
“Hm, benar juga.” Ucap Husna lalu segera membuka rujak pesanan nya itu dan mulai menikmati nya. Begitu juga yang lain yang ikut menikmati rujak karena memang Zahra beli lumayan banyak untuk mereka nikmati bersama.
“Terima kasih Na. Rencanamu sangat bagus. Aku memang harus berterima kasih padamu dan padamu juga calon kakak ipar.” Ucap Gentala pada Husna dan Azzam tapi tentu saja setelah Zahra menjauh.
Azzam dan Husna pun tersenyum mendengar ucapan Gentala itu dan membiarkan saja saat Gentala ikut bergabung dengan para pria di sana sedang bakar-bakar.
“Aku senang melihat Zahra tersenyum seperti itu, mas.” Ucap Husna menikmati rujak nya.
Azzam pun mengangguk, “Aku juga sama, sayang.” balas Azzam.
__ADS_1
Setelah itu Azzam dan Husna pun membicarakan kepentingan mereka sendiri sampai ada pelayan yang melapor.
“Nona, di depan ada tamu yang ingin--”
“Siapa nama nya bi?” tanya Husna.
“Itu nama nya tuan Digo, nona.” Jawab pelayan itu.
Husna dan Azzam pun tersenyum lalu segera memanggil Gauri, “Kak, tolong jemput seseorang di depan.” Ucap Husna yang langsung di pahami oleh Gauri.
“Baik, terima kasih ya bi. Silahkan bibi kembali.” Ucap Husna lembut.
“Bawa ke sini kak dan perkenalkan kepada kami semua. Aku juga ingin mengenal nya sebagai pasanganmu bukan sebagai bawahan.” Sambung Husna kepada Gauri yang berlalu menuju ke depan.
Tidak lama Gauri segera kembali bersama dengan Digo di samping nya. Digo adalah manajer di perusahaan orang tua Husna.
“Selamat sore, nona muda.” Ucap Digo penuh hormat.
Husna pun mengangguk, “Tidak perlu formal seperti itu kak ah bukan apa kakak ipar? Ini di luar kantor. Aku bukan atasanmu.” Ucap Husna.
Digo pun tersenyum, “Ayo kak kenalkan siapa dia kepada kami semua. Kami penasaran siapa dia.” Lanjut Husna.
Setelah mengatakan itu dia segera melihat sekeliling yang memang saat ini tengah memandang ke arah Gauri dan Digo dengan pandangan pensaran, “Kalian penasaran juga siapa dia teman-teman?” tanya Husna yang mendapat anggukan dari semua nya.
Gauri pun tersenyum, “Ini adalah tuan Digo dia seseorang yang special untuk saya.” ucap Gauri singkat padat dan jelas. Tapi mampu membuat suasana di sana heboh karena nya.
“Tuan Digo apa anda puas dengan perkenalan singkat dari kak Gauri?” tanya Husna.
“Ah nona itu sudah cukup.” Balas Digo.
“Saya sudah kenal nona.” Balas Digo.
“Syukur lah jika begitu.” Ucap Husna lalu segera meminta semua nya untuk memperkenalkan diri mereka.
Setelah itu acara berbeque lima pasangan anak muda itu pun berjalan dengan meriah.
Para tetua hanya melihat dari dalam kediaman karena mereka tidak mungkin ikut bergabung walaupun Husna sudah mengatakan tidak masalah jika kedua orang tua itu ingin ikut bergabung tapi mana mungkin hal itu di lakukan. Topik pembicaraan nya akan berbeda nanti. Sangat jauh berbeda karena mereka berasal dari generasi yang berbeda.
Sebelum magrib akhirnya acara berbeque itu selesai. Mereka melaksanakan sholat bersama di mushola keluarga dan baru lah setelah itu mereka pamit dan kembali menghadapi kesibukkan masing-masing.
***
Di sisi Zahra, saat ini dia sibuk memilih pakaian yang akan dia gunakan untuk pergi makan malam bersama Gentala. Saking serius nya dia memilih pakaian hingga tidak sadar Husna masuk ke kamar nya.
Husna tersenyum melihat apa yang di lakukan adik ipar nya itu. Semua pakaian nya sudah terletak di ranjang. Memang definisi gadis pada umum nya. Mereka punya banyak pakaian tapi begitu pergi merasa tidak memiliki pakaian satu pun.
Ehem
Husna pun berdehem saat Zahra tetap sibuk dengan urusan nya ini dan tidak menyadari keberadaan nya sama sekali.
Zahra pun terkejut dan segera menoleh menatap Husna, “Ah kakak ipar kau mengagetkanku saja.” ucap Zahra sambil mengelus dada nya.
“Maaf!” ucap Husna segera duduk di ranjang adik ipar nya itu.
“Mau kemana?” tanya Husna pura-pura tidak tahu.
Zahra pun segera duduk di ranjang dan berhadapan dengan kakak ipar nya itu, “Kak Gen mengajak untuk makan malam bersama kak.” Jawab Zahra menatap pakaian nya yang berserahkan di ranjang nya itu.
__ADS_1
Husna pun tersenyum, “Oh begitu. Lalu apa masalah nya sekarang?” tanya Husna.
“Aku bingung mau pilih pakaian yang mana yang cocok untuk makan malam. Semua sudah ku coba dan rasa nya tidak ada yang cocok. Jadi kakak ipar bisa kah kau membantuku memilih satu pakaian.” Ucap Zahra.
“Pakaian? Baiklah.” Ucap Husna.
Zahra pun tersenyum lalu kembali bersemangat kembali memilih pakaian nya.
Husna pun membantu memilihkan, “Ah kakak ipar seperti nya aku harus belanja. Aku merasa pakaianku tidak ada yang cocok sama sekali.” Ucap Zahra dengan wajah murung nya.
“Ah aku akan terlambat kakak ipar. Aku belum mandi dan ba’da isya dia akan datang menjemputku.” Ucap Zahra melihat jam dinding di kamar nya yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh.
“Sudah. Jangan panic. Lebih baik sekarang kamu mandi dulu. Nanti untuk pakaian nya kita pilih-pilih lagi setelah kau selesai mandi.” Ucap Husna.
Zahra mengangguk dan segera menuruti ucapan Husna. Dia segera berlalu menuju kamar mandi.
Sementara Husna segera mengambil paperback yang dia bawa tadi dan meletakkan di ranjang adik ipar nya itu. Tidak lupa dia menuliskan beberapa kata di sana. Setelah melakukan itu dia segera keluar karena jam makan malam akan segera di mulai.
Husna turun ke lantai dasar dan menuju meja makan di mana di sana sudah ada Azzam, ibu Diyah dan abi Syarif serta umi Balqis.
Jangan tanya di mana Andita pergi karena dia tadi segera di ajak oleh Gilang untuk pergi ke suatu tempat.
“Zahra mana sayang?” tanya umi Balqis.
“Dia tidak akan ikut makam malam, umi. Dia akan makan malam di luar hari ini.” jawab Husna.
“Sama siapa?” tanya abi Syarif.
“Sama teman nya abi.” Jawab Husna.
“Apa pria yang dekat dengan nya itu? Pria yang juga temanmu?” tanya abi Syarif.
Husna mengangguk, “Azzam, kamu--”
“Azzam sudah mengizinkan nya abi. Azzam percaya pada Zahra dan juga pria itu. Mereka sudah dewasa untuk bisa membedakan mana yang buruk dan mana yang baik. Azzam juga tidak mungkin mengekang nya walaupun Azzam adalah abang nya.” ucap Azzam lembut.
“Abi ngerti maksud kamu. Tapi tetap saja Zahra itu perempuan dan pergi bersama seorang pria hanya berdua saja, itu--”
“Sudah abi. Kita makan saja. Biarkan itu jadi urusan Zahra. Umi yakin dengan keputusan yang sudah di ambil menantu dan putri kita. Mereka tidak mungkin akan menjerumuskan Zahra. Jangan larang mereka dengan pemikiran kolot kita. Jangan samakan zaman mereka dengan zaman kita.” Ucap umi Balqis memotong ucapan suami nya itu karena dia tahu jika tidak segera di potong maka semua nya akan berlarut-larut dan makan malam akan tertunda.
Abi Syarif pun mengangguk menuruti apa kata umi Balqis. Husna dan Azzam pun saling memandang satu sama lain dan tersenyum. Makan malam pun segera berlangsung.
Azzam dan Husna paham kekhawatiran seperti apa yang di miliki abi Syarif untuk Zahra yang sudah dia anggap seperti putri nya sendiri. Tapi Azzam dan Husna tentu memiliki pemikiran lain, tidak semua orang mampu di kekang seperti Husna yang menerima apa saja bentuk larangan kedua orang tua nya dengan alasan perlindungan untuk nya. Husna memang memiliki jiwa introvert jadi tidak keberatan di larang ini itu. Sedangkan Zahra tentu saja berbeda, dia adalah sosok yang ekstrovert jadi jika di kekang maka justru akan membahayakan nya.
Kembali ke kamar Zahra, dia yang sudah menyelesaikan mandi kilat nya itu pun segera keluar dari kamar mandi.
“Kakak ipar kemana?” tanya nya bingung tapi kemudian dia ingat bahwa ini waktu nya makan malam.
Zahra pun segera mengeringkan rambut nya lebih dulu dan baru lah melihat pakaian di ranjang dan seketika dia diam melihat sebuah paper back dengan sebuah kertas di sana.
Zahra meraih nya dan membaca tulisan nya.
[Nikmati waktumu malam ini bersama orang yang kau cintai. Kami percaya padamu dan kami yakin kau tidak akan mengecewakan kepercayaan yang sudah kami berikan. Ini ada pakaian untukmu semoga kau menyukai nya dan cocok untukmu.]
Itu lah isi tulisan Husna itu. Zahra segera membuka paper back dan segera mencoba pakaian pemberian kakak ipar nya yang sangat sesuai dengan keinginan nya.
“Kakak ipar memang terbaik.”
__ADS_1