
Akira mengantar Silvia pulang terlebih dahulu, mereka sampai di depan hotel di mana Akira dan Silvia menginap.
“Pak, kenapa tidak megantar Nala dulu terus Pak Akira bisa pulang bersama denganku karena kita menginap di hotel yang sama?” Silvia agak heran saja.
“Aku masih ada urusan lain dan tempatku ada urusan dekat dengan rumah Nala.”
“Oh begitu, ya sudah kalau begitu, terima kasih atas tumpangannya, Pak. Nala, aku pulang dulu.” Nala mengangguk dan Silvia berjalan
masuk ke dalam hotelnya.
“Sayang, kenapa kamu masih duduk di situ? Kamu bisa pindah duduknya di sampingku.”
“Iya.”
Nala keluar dari mobil Akira dan berpindah duduk di sebelah Akira. “Apa malam ini tidak menginap di sini lagi?”
“Aku mau pulang saja, aku tidak enak juga sama bibi Anjani dan bibi Sekar.”
“Tidak enak kenapa? Mereka sudah tau kalau kamu dan aku sudah menikah jadi tidak masalah jika aku sama kamu bersama.”
“Iya, tapi aku kan masih tinggal di sana. Sudahlah! Antarkan aku pulang saja, kapan-kapan kita akan bisa bertemu lagi nantinya.
Akira menyetujui permintaan Nala dan dia mengantar Nala pulang. Sesampai di depan rumah, Nala dan Akira melihat ada Seno dan Radit yang sedang duduk dan mengobrol di sana. “Pria itu sepertinya menyukai kamu. Dia kan mantan bos kamu di cafe itu, kan?”
“Iya, mas Radit itu orang baik. Aku juga tidak bisa melarang seseorang menyukaiku yang terpenting aku tidak membalas cintanya.” Nala dan Akira keluar dari dalam mobil.
“Nala, kamu pulang juga, aku kira kamu menginap lagi di tempat pria ini.” Seno melihat ke arah Akira seperti dia tidak menyukai Akira.
“Jangan melihatiku seperti itu, Seno. Kalau aku marah, aku akan memecat kamu, ingatlah jika aku adalah atasan kamu sekarang,” ucap Akira
tegas dan kedua mata Seno langsung mendelik.
“Akira! Jangan seperti itu.” Nala menarik lengan tangan suaminya.
“Seno tidak salah jika dia membenci kamu, Akira. Apa yang kamu perbuat kepada Nala memang sudah sangat menyakitkan. Nala saja yang masih memiliki hati baik memaaafkan kamu,” Radit akhirnya ikut bicara.
“Apa yang terjadi denganku dan Nala itu adalah urusanku dengan Nala. Orang lain tidak perlu tau, kamu dengar itu?” Akira terlihat kesal
__ADS_1
pada Radit.
Nala dan Seno saling berpandangan bingung. “Em ... Dit sebaiknya kita ke rumah kamu saja, kalian berdua jangan ribut, ini sudah malam. Pak Akira saya minta maaf, dan tolong maafkan teman saya.” Seno yang takut di pecat dan supaya tidak ada keributan di antara mereka, dia mengajak Radit pergi dari sana.
“Kamu kenapa minta maaf, dia pria yang tidak baik yang tega menyakiti Nala. Aku hanya ingin mengingatkan kamu Nala, bisa saja pria ini
melakukan lagi hal yang lebih sakit dari apa yang pernah dia lakukan sama kamu.”
“Jangan ikut campur urusanku!” Akira dengan marah mencengkeram baju Radit.
“Akira sudah!” Nala mencoba melepaskan tangan suaminya dari Radit.
“Kenapa kamu marah? Kamu takut jika ucapanku benar adanya?” Radit malah seolah menantang Akira.
“Sayanganya ucapan kamu tidak akan pernah menjadi kenyataan. Kenapa? Kamu berharap aku melakukan hal itu dan akhirnya kamu bisa mendapatkan Nala? Jangan bermimpi kamu Radit.” Akira menyeringai.
“Akira sudah lepaskan tangan kamu, kita sedang di rumah Seno, jangan membuat keributan di sini.”
Akira langsung melepaskan tangannya pada Radit dan Nala membawa Akira masuk ke dalam rumah, Nala mencoba menenangkan suaminya itu. Bibi Anjani yang barusan keluar dari dapur sangat heran melihat wajah Akira.
“Nala, ada apa? Kenapa wajah suami kamu seperti marah begitu?”
“Apa? Bertengkar dengan Radit? Memangnya ada masalah apa?” Bibi Anjani duduk di sebelah Akira.
“Aku tau pria itu sangat menginginkan Nala. Aku tidak akan membiarkan dia mendekati kamu, Nala.”
“Akira, jangan berpikiran begitu, aku dan mas Radit hanya berteman baik. Aku juga sudah jelaskan padanya jika aku sangat mencintai kamu dan aku tidak akan bisa menerima dia, jadi kamu jangan marah-marah lagi.”
“Sudah aku duga dia menyatakan cinta sama kamu. Kamu ikut denganku, jangan di sini, aku tidak mau kamu dekat-dekat dengan pria itu.”
Akira berdiri dari tempatnya dan menggandeng tangan Nala.
Nala mencoba menahan tangannya. “Akira, apa kamu tidak percaya denganku? Memangnya aku pernah menyakiti kamu dengan berselingkuh dengan pria lain?”
“Iya, Akira. Bibi tau siapa keponakan bibi ini, dia sangat mencintai kamu dan setia sama kamu, Nala tidak akan mengkhianati kamu, bahkan
setelah kamu sakiti, dia masih setia sama kamu.”
__ADS_1
“Maafkan aku, Bi. Aku benar-benar terbawa emosi dengan semua ini.”
“Ya sudah kamu pulanglah kamu istirahat di hotel, besok pagi kamu akan merasa baikkan.”
Nala mengusap perlahan pipi suaminya. Akira akhirnya berpamitan pada mereka dan
pergi dari sana. Di luar Radit dan Seno sudah tidak ada, mungkin Seno mengantarkan Radit kembali ke rumahnya.
Akira yang sudah sampai di hotelnya. Saat dia ingin membuka pintu kamarnya, dia melihat pintu kamar Silvia terbuka dan keluar seorang pria dengan memakai topi dan jaket hitam, Akira tidak dapat melihat dengan jelas
wajah pria itu, dan sekarang terdengar suara tangis dari dalam kamar Silvia. Akira tau itu pasti suara tangisan Silvia.
“Silvia,” panggil Akira mendekat ke arah Silvia.
“Akira!” Tiba-tiba Silvia berlari dan memeluk Akira dengan erat, tentu saja hal itu membuat Akira kaget mendapat pelukan secepat kilat
dari Silvia.
“Silvia, jangan seperti ini. Aku tidak mau orang lain melihat dan berpikiran kita ada apa-apa.” Akira melepaskan tangan Silvia dari rangkulannya.
“Aku minta maaf, Akira, tapi aku benar-benar sedih.” Akira melihat luka di pelipis Silvia.
“Kamu terluka? Apa pria tadi yang melakukannya? Siapa dia?”
“Di mantanku yang tadi datang ke sini dan marah-marah, aku tadi dapat menghubunginya dan yang mengangkat panggilannya adalah kekasihnya, aku bilang saja jika aku juga adalah kekasihnya. Dia marah dan datang ke sini
untuk memperingatkan aku dan aku marah kami bertengkar.”
“Apa perlu aku melaporkan hal ini kepada pihak berwajib agar kamu bisa lebih aman?”
“Jangan, Akira. Aku tidak mau masalah ini tambah membesar, aku tidak akan menghubunginya lagi. Aku akan melupakannya dan semoga aku bisa.” Sekali lagi Silvia menangis sesenggukan.
“Kamu jangan berhubungan lagi dengannya, dia sudah sangat kasar sama kamu. Sebaiknya kamu obati luka kamu atau aku panggilkan room girl untuk membantu kamu membersihkan luka kamu itu.”
“Tidak perlu, aku bisa sendiri, terima kasih sudah perhatian kepadaku.”
“Tidak masalah, mungkin orang lain juga akan melakukan hal itu, Silvia."
__ADS_1
Akira pergi dari sana, hal itu malah membuat Silvia kesal, ternyata Akira adalah pria yang sulit sekali di takhlukan, ini akan pasti
sangat sulit untuk merayu Akira.