
Jantung Ara berdegup sangat kencang di kunci oleh Dean seperti itu, dia tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Sorot mata tajam dan rasanya menusuk sampai ke relung itu benar-benar membuat Ara tidak bisa berkutik, tapi dia ingin menghentikan waktu saat ini juga agar hal ini tidak berakhir.
"Dean," ucapnya lirih dan tatapannya tidak lepas dari mata Dean.
"Hem ...." Pria di depannya itu hanya menjawab dengan berdehem.
Ara semakin bingung mau mengatakan apa kali ini. "A-aku--?"
"Apa kamu mencintai David?" Tiba-tiba Dean bertanya hal itu dengan tangan menelusup pada sela-sela rambut Ara.
"Apa?" Ara tampak kaget.Kamu
"Apa kamu mencintai David, Ara?" tanyanya sekali lagi.
"A-aku dan Mas David tidak ada perasaan apa-apa, aku saja baru mengenalnya."
"Jangan bertunangan dengannya, Ara. Aku mohon," ucapnya lirih.
"Ma-maksud kamu apa?"
Tiba-tiba Dean mendekatkan bibirnya dan mengecup bibir Ara perlahan. Kebetulan di sana sedang sepi, coba kalau ramai, pasti mereka berdua sudah kena masalah.
"De-Dean." Kedua mata Ara membulat lebar setelah Dean melepaskan ciumannya.
"Buku kamu." Dean memberikan bukunya dan dia berjalan pergi dari sana meninggalkan Ara yang terdiam di tempatnya.
Ara dengan susah payah menelan salivanya dan mencoba menyadarkan dirinya bahwa apa yang barusan terjadi adalah hal yang nyata, dia tidak sedang bermimpi saat ini.
"Apa Dean tadi benaran menciumiku? Atau itu tadi bukan dia? Tapi itu tadi benaran Dean."
Ara segera membawa bukunya dan mendaftar untuk meminjamnya kemudian dia segera naik ke dalam kelasnya. Di dalam kelas dia duduk sendirian sambil mengingat kembali ciuman Dean dan kata-kata Dean barusan.
"Kenapa dia memintaku agar tidak menerima pertunangan aku dengan Mas David?"
***
Di kampus Via, dia sudah keluar dari kelasnya, dan melihat Aro yang berjalan menuju mobilnya.
"Auw!" tiba-tiba terdengar suara rintihan kesakitan dari belakang Aro. Aro langsung menoleh dan melihat Via yang duduk di tanah dengan memegangi kakinya dengan wajah menahan sakit."
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Aro dengan berdiri datar tepat di depan Via.
"Aku tadi sedang berjalan ingin mengejar kamu, tapi aku malah tersandung kakiku sendiri dan jatuh."
"Untuk apa kamu mengejar aku?"
"Aku mau bicara sama kamu, Aro."
"Soal apa?" Aro masih dengan sikap dinginnya berdiri di depan Via yang masih terduduk di tanah.
"Soal acara bazar itu, apa masih ada stand untuk bazar yang tersisa, maaf kalau mendadak aku tanya hal ini karena aku juga mendadak mendapat idenya."
"Aku tidak tau karena ini bukan tugasku."
Via mencoba bangun, tapi dia malah terjatuh dan meringis kesakitan. "Aro, apa bisa minta tolong? Kakiku benar-benar sakit."
"Apa kamu serius sampai tidak bisa bangun?" Aro berjongkok dan memeriksa kaki Via. Kaki Via ternyata memang terkilir karena ada bengkak pada kakinya.
Aro dengan cepat menggendong Via dan membawanya pergi dari sana. Via tampak terkejut dan tidak percaya melihat dirinya berjarak sangat dekat dengan Aro.
"Kita mau ke mana, Aro?"
"Ke lapangan basket. Kamu itu bodoh ya! Begini saja tanya. Kamu akan aku bawa ke rumah sakit untuk memeriksakan kaki kamu, kamu tidak mau kan kaki kamu tambah parah."
Tidak lama mereka sampai di rumah sakit dan Via langsung di suruh masuk ke ruang dokter untuk di periksa. Aro memilih menunggu di luar.
"Ini, Kan sudah waktunya Sita pulang." Aro merogoh sakunya dan ingin menghubungi Uni atau Sita.
Lama dering telepon yang Aro dengarkan, tapi tidak ada yang menjawab. "Dia ini ke mana? Kenapa tidak mengangkat teleponku?" Aro berdialog sendiri.
Tidak lama panggilan Aro diterima oleh Uni. "Ada apa, Aro?"
"Ada apa! Kamu itu ke mana saja? Aku sudah menghubungi kamu berkali-kali, tapi tidak kamu jawab!"
"Aku tidak dengar, aku tadi sedang berada di dalam toilet dan kamu menghubungiku."
"Kamu jangan pulang dulu, tunggu aku di sana, Mungkin aku akan datang agak terlambat."
Tidak lama Aro di panggil oleh dokter dan mengatakan jika kaki Via akan segera pulih. Via dan Aro akhirnya keluar dari gedung rumah sakit dan Aro akan mengantar Via pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Sesampai di rumah Via. Aro ikut turun memegang pundak Via agar tidak jatuh. Kedua orang tua Via melihat putrinya yang di bopong oleh Aro tampak agak kaget.
"Via, kamu kenapa? Dan siapa laki-laki ini?" Kedua alis tebal ayah Via sudah bertaut saja.
"Saya Aro temannya Via di kampus. Maaf sebelumnya jika saya datang dengan seperti ini. Via barusan terjatuh di kampus dan saya hanya menolong dan membawanya ke rumah ini."
"Jadi kamu yang menolong Via? Terima kasih sudah menolong anak kami."
"Tidak apa-apa, Pak. Aku baik-baik saja, malah jauh lebih baik."
"Kalau begitu saya permisi dulu karena saya masih ada keperluan lainnya."
"Aro!" panggil Via.
"Ada apa?" Aro kembali menoleh pada Via."
"Aku mau mengucapkan terima kasih atas bantuan kamu tadi."
"Tidak masalah, kalau orang lain yang jatuh seperti itu aku juga akan menolongnya."
Aro pergi dari sana dan segera menuju kampus Uni. Uni yang dari tadi tidak berani beranjak pergi, dia diam saja duduk sendirian di bangku taman.
"Uni, maaf aku tadi terlambat menjemput kamu. Aku tadi harus membawa Via ke rumah sakit karena kakinya terkilir."
"Apa? Via kakinya terkilir? Kok bisa?" cerocos Uni.
"Dia tadi mau mengejarku dan dia tidak sengaja terjatuh dan kakinya terkilir."
"Mau mengejar kamu untuk apa? Kamu pasti di panggil juga tidak peduli? Jaga seperti itu, Aro! Kamu membuat temanku terluka."
"Siapa yang membuat teman kamu terluka? Memangnya aku yang menyuruh dia mengejarku?"
"Bukan begitu! Susah sekali bicara dengan kamu," gerutunya kesal. "Sebaiknya aku menghubungi Via dan bertanya bagaimana keadaannya."
"Dia baik-baik saja, dan jangan hubungi dia karena kamu pasti di tanya, tau dari siapa kalau kakinya terluka."
Seketika telunjuk Uni yang akan menekan tombol pada ponselnya mendadak berhenti karena apa yang di ucapkan Aro memang benar. Dia nanti jawab apa pas ditanya Via bagaimana dia tau tentang kaki Via?
"Apa dia baik-baik saja, Aro?"
__ADS_1
"Apa aku harus mengatakannya berulang-ulang kalau dia baik-baik saja. Aku sendiri yang menolong dan menggendong Via sampai ke rumah sakit dan akhirnya kakinya di obati."
"Jadi, kamu menggendong Via, Aro?" tanya Uni lirih sambil menatap Aro