My Secret Love

My Secret Love
Kejutan part 1


__ADS_3

Malam itu di dalam kamar. Nala dan Akira belum tertidur mereka berdua sedang mengobrol tentang kehadiran Rhein.


"Sayang, kenapa malah membahas Rhien yang datang ke sini? Biarkan saja, bagaimanpun juga dia adik kamu dan paman si kembar."


"Aku aneh dan curiga saja, kenapa dia tiba-tiba datang ke sini. Apalagi meminta menginap di sini."


Nala tau jika suaminya masih cemburu dengan adiknya itu. "Mungkin dia kangen sama Indonesia dan keluarganya di sini. Kamu lihatka, kedua anak kita begitu cepat menerima Rhein, padahal kamu tau sendiri jika si kembar itu tidak gampang menerima kehadiran orang lain."


"Iya, hanya saja--?"


Nala sekarang berpindah tempat dan duduk di atas pangkuan Akira dengan membuka kedua kakinya. Tangan Nala melingkar pada leher Akira. Nala juga tidak lupa mendaratkan sebuah ciuman pada bibir Akira.


"Apa kamu tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain membicarakan masalah Rhein?"


Akira tersenyum miring mendengar apa yang di katakan oleh istrinya. "Ada, tapi aku tidak yakin jika istriku akan mau?"


"Aku mau Tuan Muda Akira," bisik Nala lembut pada telinga suaminya.


Akira sekali lagi tersenyum dan langsung memulai aksinya membuat adek buat si kembar. Aakakkak!


Keesokan harinya. Nala yang sudah terbangun menyiapkan makan pagi untuk seluruh anggota keluarga dibantu oleh bibi Anjani.


"Apa suami kamu masih tidur, Nala?"


"Iya, dia masih tidur, Bi. Anak-anak dan Rhein juga sepertinya masih tidur.


"Kamu coba bangunkan suami kamu dan anak-anak. Kita akan makan pagi bersama. Biar sisanya bibi yang membereskan."


"Ya sudah kalau begitu, aku akan membangunkan Akira kemudian anak-anak dan Rhein."


Nala mencuci tangannya dan dia masuk ke dalam kamar Akira. Nala membangunkan Akira dengan banyak kecupan di wajahnya sampai pria tampan itu akhirnya bangun.


"Sudah pagi, ya?"


"Sudah, kamu cepat bangun dan kita makan pagi bersama. Oh ya! Tadi aku barusan menerima pesan jika mommy dan daddy akan datang hari ini."


"Mungkin mereka mencari Rhein karena Rhein tidak tidur di rumah utama."

__ADS_1


Nala menggedikkan bahunya pelan. "Aku tidak tau. Kamu cepat mandi dan aku akan membangunkan anak-anak dan Rhein untuk sarapan pagi bersama."


"Membangunkan Rhein?" kedua alis Nala mengkerut.


"Iya, Rhein pasti tidur dengan Aro di kamar Aro. Aku lihat di sofa ruang tamu tidak ada Rhein, mungkin dia di kamar Aro, sekalian aku mau membangunkan mereka."


"Ya sudah kalau begitu aku akan ke kamar mandi kemudian kita makan pagi bersama." Akira beranjak dari ranjang dan mengecup cepat bibir Nala.


Nala masuk ke kamar Aro dan dia langsung tersenyum melihat putranya yang tidur bersandar pada dada Rhein dengan tangan kecilnya seolah-olah memeluk tubun Rhein, tapi tidak sampai.


"Mereka berdua lucu sekali."


Tidak lama, Rhein mengerjapkan kedua matanya perlahan dan melihat ada Nala berdri di depan pintu kamar.


"Nala? Ada apa pagi-pagi ke sini?" Rhein mencoba beranjak perlahan agar tidak membangunkan Aro.


"Aku ingin membangunkan kalian karena aku dan bibi Anjani sudah memasak untuk kita semua. Oh ya! Satu lagi. Nanti orang tua kamu akan datang ke sini."


"Oh itu, aku sudah tau."


"Ya sudah kamu bangun dulu dan mandilah. Aku akan membangunkan anak-anakku dan mengajak mereka makan bersama."


Nala tersenyum. "Aku senang mereka membawa sifatku. Kamu kapan akan menikah dengan wanita yang bisa membuat hidup kamu sempurna?"


"Apa di dunia ini ada wanita seperti kamu satu lagi? Kalau ada aku akan mengejarnya sampai bisa aku dapatkan dan tidak akan aku mengalah kali ini." Setelah mengatakan itu Rhein berjalan pergi dari sana.


Author kok pengen nangis ya? Rhein, segitunya kamu.


Nala hanya terdiam di tempatnya melihat punggung Rhein keluar dari kamar Aro.


Nala kemudian membangunkan Aro dan memandikan dia. "Putra mama tampan sekali, kita keluar dan mama mau ke kamar Ara untuk membantu Ara mandi. Kita akan makan bersama ya, Sayang." Nala mengecup pucuk kepala Aro dan mengajak dia keluar.


"Ayah," Aro berlari dan dengan cepat Akira menggendong putra kecilnya itu.


"Wangi sekali anak ayah."


"Iya, aku kan sudah mandi. Oh ya, Yah! Paman Rhein ke mana?"

__ADS_1


"Paman Rhein sedang di kamar ayah berganti baju."


"Akira, aku ke kamar Ara dulu." Akira mengangguk dan Nala pergi ke kamar Ara. Dia menyiapkan juga keperluan Ara dan setelah itu mereka berkumpul di meja makan.


"Kita makan tunggu mommy dan daddy saja, katanya mereka akan makan pagi bersama kita."


Tidak lama kedua orang yang mereka tunggu datang. Di tangan Kei, dia membawa dua tas besar dan masuk ke dalam rumah.


"Sayang, kamu kenapa tidak tidur di rumah? Mommy kangen sama kamu." Kei memeluk dan mengecup pipi putranya.


"Aku kan bilang kalau kedua keponakan aku ini ingin lebih mengenal pamannya, jadi aku tidur di sini." Rhein mengajak tos Aro dan Ara.


"Kalian cepat sekali akrab dengan Paman kalian. Apa kalian menyukai Paman Rhein?" tanya Kei kepada kedua cucunya.


"Kami sangat menyukai Paman Rhein, Oma. Paman Rhein orangnya menyenangkan."


"Dia juga tampan. Sayang, aku masih kecil jadi tidak boleh menyukainya," celetuk si kecil Ara dengan senyum yang memperlihatkan giginya yang lucu.


Mereka di sana langsung tertawa. "Memangnya kalau kamu sudah besar, kamu mau dengan Paman Rhein?" tanya Rhein menggoda keponakannya.


"Em ... bagaimana ya? Sepertinya tidak jadi karena Paman adalah Pamanku."


"Aku di tolak." Rhein memegang dadanya seolah dia kecewa. Ibu dan anak ternyata memiliki perasaan yang sama," celetuknya lirih pada bagian itu.


"Aku mendengarnya, Rhein," sahut Akira.


"Sudah-sudah! Oh ya, Akira, Nala. Ini untuk kalian berdua." Kei memberikan goodie bag besar yang di bawanya dan memberikan pada Akira dan Nala.


"Ini apa, Mom?"


"Nanti malam daddy akan mengajak klian ke acara perusahaan daddy. Dan Daddy ingin kalian semua ikut. Anjani juga akan ikut, semua orang di sini harus datang," jelas Addrian.


Akira mengkerutkan alisnya heran. Kenapa acara perusahaan daddynya mengajak semua orang?


"Dad, apa Daddy membuka perusahaan baru?"


"Bukan perusahaan baru, tapi memang daddy ingin membuat acara--?" Addrian bingung menjelaskannya.

__ADS_1


"Semacam syukuran untuk perusahaan itu karena perusahaan itu habis memenangkan tender besar." Kei juga mencoba mencari alasan."


"Wah! Bibi senang sekali bisa hadir di acara iru. Sudah! Kita makan saja, nanti makanannya keburu dingin." Bibi Anjani yang sudah tau akan acara kejutan itu mencoba mengalihkan pembicaraan.


__ADS_2