My Secret Love

My Secret Love
47


__ADS_3

“Selain itu juga aku sadar bahwa aku masih sangat jauh mengenal agama dan aku merasa tidak pantas jika harus menanggung tanggung jawab sebagai istri dari seorang gus yang pasti nya akan memiliki kedudukan sebagai pemimpin pesantren kelak. Aku tidak sanggup mengemban amanah besar itu. Lagi pula aku memikirkan bagaimana dengan perusahaan yang di dirikan dengan susah payah oleh abi dan umi. Aku adalah anak satu-satu nya yang mereka miliki. Aku sudah berjanji akan jadi ahli waris mereka. Lalu bagaimana jika aku pergi ke pesantren dan tinggal di sana. Siapa yang akan mengurus perusahaan. Aku bukan wanita gila harta tapi bagaimana dengan orang-orang yang mengantungkan hidup nya di perusahaan jika perusahaan itu bangkrut. Aku mungkin di beri izin untuk tetap bekerja tapi aku yakin suatu saat nanti hal itu tetap akan jadi masalah. Maka untuk itu aku menolak lamaran dari Gus Rahman selain aku tidak merasa cocok karena kami yang berasal dari dua latar kehidupan yang berbeda. Aku juga tidak mendapatkan petunjuk apapun yang harus membuatku menerima lamaran nya itu saat aku melakukan sholat istikharah waktu itu.” ucap Husna menyelesaikan ucapan panjang nya itu.


Azzam yang mendengar itu pun seketika tersenyum karena seperti nya memang takdir sedang berada di pihak nya.


“Kau tahu saat mas melihat mu bersama nya mas cemburu dan pada akhirnya membuat mas mengikutimu ke kediamanmu saat itu.” ucap Azzam.


“Saat itu? kapan?” tanya Husna.


“Ahh saat itu saat kita nonton bareng di bioskop.” Jawab Azzam.


Husna pun seketika teringat lalu tersenyum, “Jangan katakan hal itu bukan lah suatu kebetulan tapi karena mas memang sudah merencanakan nya.” Ucap Husna penuh selidik.


Azzam pun tersenyum lalu mengalihkan pandangan nya ke luar karena tidak ingin mata nya itu bertatapan dengan manik mata istri nya yang pasti nya akan membuat nya tidak bisa berbohong.


“Mas tatap aku dan jelaskan semua nya. Itu bukan kebetulan kan? Bukan kebetulan seperti yang mas ucapkan saat itu.” ucap Husna lalu meraih wajah suami nya agar menatap nya.


Azzam pun tersenyum lalu mengangguk, “Hum, kau benar. Bukan kah kau tidak percaya dengan nama nya kebetulan. Maka itu lah yang terjadi. Tidak kebetulan di dunia ini sayang.” Ucap Azzam.


“Jadi? Ayo ceritakan.” Ucap Husna.


“Aku ingin tahu semua nya.” Sambung Husna.


Azzam pun tersenyum lalu memilih menjalankan mobil dari pada menanggapi ucapan istri nya itu, “Ish mas ayo cerita.” Ucap Husna kesal karena suami nya itu membuat nya penasaran.


“Mas akan cerita sayang tapi nanti. Kita pulang ke rumah dulu. Mas takut di gerebek oleh polisi karena di duga melakukan hal buruk kepada istri mas sendiri hanya karena mobil kita yang berhenti lama di sini.” Ucap Azzam.


Husna pun tetap mengerucutkan bibir nya tanda dia kesal. Husna melihat ke arah lain, “Mas janji akan cerita sayang. Sungguh. Semua yang ingin kau ketahui akan mas ceritakan. Tapi nanti. Tidak di sini.” Ucap Azzam.


Husna pun tetap saja melihat ke arah luar dan tidak memandang suami nya itu, “Ouh ayo lah sayang. Jangan begini. Mas sungguh janji akan menceritakan nya. Tapi jangan mengabaikan mas seperti ini sayang.” Ucap Azzam.


Husna pun tersenyum lalu segera memandang suami nya itu, “Janji ya mau menceritakan semua nya kepada Husna?” ucap Husna memandangi suami nya itu dan Azzam pun mengangguk yakin.


“Ya sudah ayo kita pulang. Kita harus menyiapkan semua nya sebelum pindahan nanti.” Ucap Husna kembali ceria. Azzam yang melihat itu pun tersenyum. Istri nya itu memang ajaib dengan segala tingkah yang dia miliki. Bisa jadi sosok yang dingin, tegas, penuh kasih, manja dan lain nya. Pokoknya komplit istri nya itu. Tapi tentu saja sikap manja yang di miliki istri nya itu hanya di tunjukkan pada nya saja dan orang terdekat nya seperti umi dan abi nya bukan orang lain.


Husna dan Azzam memang saat ini sedang berkemas untuk melakukan pindahan ke kediaman Azzam. Seperti yang sudah menjadi janji sebelum nya seminggu lalu bahwa mereka hanya akan tinggal seminggu di kediaman utama seperti apa yang di minta abi dan umi maka itu pun yang akan terjadi. Sebenar nya sudah lewat sehari dari perjanjian mereka tapi tidak apa lah selama semua nya baik-baik saja. Lagi pula umi Balqis dan abi Syarif tidak keberatan sama sekali putri dan menantu mereka itu untuk tetap tinggal bersama mereka. Justru mungkin kepindahan kedua nya itu akan membuat rasa sedih untuk umi Balqis dan abi Syarif. Untuk hal ini seperti nya harus Azzam bicarakan kembali dengan istri nya itu.

__ADS_1


***


Kini mereka sudah tiba di kediaman dan seperti biasa kini Husna di bukakan pintu mobil oleh suami nya itu dan kedua nya pun segera masuk sambil bergandengan tangan.


“Ehem, kak Dita seperti nya kita ini transparan sehingga abang dan kakak ipar tidak melihat keberadaan kita di sini. Mereka melenggang masuk dengan memamerkan kemesraan mereka itu ke hadapan umum.” Sindir Zahra yang duduk bersama Andita di ruang keluarga.


Andita pun hanya tersenyum mendengar ucapan Zahra itu lalu dia memandangi Husna dan Azzam yang juga hanya tersenyum jengah kepada mereka.


“Sudah, biarkan saja nak. Abang dan kakakmu itu sedang menjalin kedekatan mereka. Siapa tahu aja keponakanmu akan segera ada nanti.” Ucap umi Balqis yang berjalan dari arah dapur dengan camilan di tangan nya. Bukan tanpa alasan umi Balqis itu mengatakan hal itu karena dia tahu bahwa putri dan menantu nya itu belum melakukan hubungan itu, terlihat dari putri nya yang tetap masih dengan aura gadis nya di tambah lagi putri nya itu masih sedang dalam keadaan tidak suci karena baru saja kedatangan tamu nya. Tapi seperti nya sudah selesai karena ini sudah seminggu.


Azzam dan Husna tersenyum mendengar ucapan umi Balqis itu lalu kedua nya segera menyalami umi Balqis penuh hormat, “Umi doakan saja yaa semoga cucu umi akan segera ada.” ucap Azzam memandangi istri nya itu dengan tersenyum. Dia tahu dan sangat tahu bahwa istri nya itu pasti merasa bersalah akan hal ini. Tapi dia akan tetap menunggu sampai istri nya itu siap. Dia tidak akan memaksa sama sekali.


“Aamiin. Semoga secepat nya ya di agendakan pembuatan nya. Umi ingin segera memelu cucu.” Ucap umi Balqis memandangi putri nya itu seolah memberikan kode untuk tidak menunda lagi memberikan hak suami nya.


“Doakan saja umi. Semoga saja takdir berkehendak dan umi segera di beri cucu.” Ucap Husna tersenyum.


“Kakak ipar jika bisa kembar yaa. Aku ingin punya keponakan kembar seperti di novel ka--” Ucap Zahra terhenti memandangi Andita di hadapan nya itu.


Andita tersenyum, “Kenapa tidak di lanjutkan dek?” tanya Andita.


“Ahh itu salah ngomong.” Ucap Zahra yang justru membuat semua orang di sana tertawa.


Husna menghentikan tawa nya lalu segera mendekati adik ipar nya itu, “Dita sudah tahu kakak penulis novel.” Ucap Husna kepada adik ipar nya itu.


Zahra yang mendengar ucapan kakak ipar nya itu pun membelalakkan mata nya saking terkejut nya karena di pikir Andita belum tahu. Setelah itu lalu dia menatap Andita yang berada di hadapan nya itu. Husna yang melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh adik ipar nya itu hanya tersenyum lalu dia mengecup pipi Zahra sekilas, “Jangan kaget seperti itu.” ucap Husna lalu dia segera menggandeng Azzam menuju lantai dua di mana kamar nya berada.


Yah, Husna memang sudah menceritakan hal itu kepada Andita dua hari lalu. Awal nya Husna tidak ingin mengatakan nya tapi saat Andita mengatakan bahwa dia memiliki idola penulis novel yang sangat dia sukai alur cerita nya dan keinginan Andita yang ingin bertemu dengan penulis itu membuat Husna jujur pada akhirnya karena ternyata Andita juga adalah salah satu penggemar nya. Tapi berbeda dengan penggemar nya yang lain yang memiliki koleksi buku novel nya maka berbeda dengan Andita yang baru bisa membeli satu saja dan untuk novel lain nya itu dia baca dari hasil meminjam.


***


Kini Husna sedang berkemas. Husna hanya membawa beberapa saja yang sekira nya cukup untuk dia pakai tinggal di kediaman suami nya itu. Dia akan membeli lagi nanti.


Azzam pun membantu istri nya itu berkemas lalu setelah semua nya selesai. Azzam segera menarik istri nya itu untuk duduk di pangkuan nya di sofa.


“Mas mau ngapain? Husna masih harus mengemas yang lain mas.” Ucap Husna sebenar nya hanya mencari alasan saja karena saking gugup nya berada dekat dengan suami nya itu. Walaupun sudah seminggu mereka menjadi pasangan suami istri dan berbagi tempat tidur dan hal lain nya tetap saja dia masih gugup jika berada dekat suami nya itu.

__ADS_1


Azzam mengabaikan pertanyaan istri nya itu dan lebih memilih mendekatkan wajah nya dengan milik Husna. Husna menutup mata nya. Azzam pun tersenyum lalu dia yang awal nya hanya ingin mendekatkan kening nya dengan kening sang istri kini berubah pikiran setelah melihat istri nya itu menutup mata nya seolah mempersilahkan diri nya untuk melakukan sesuatu yang jujur saja membuat nya candu sejak hari itu.


Cup


Tanpa menunggu lama satu kecupan lembut mendarat di bibir pink milik Husna itu. Kecupan lembut yang mulai berubah menjadi kecupan penuh tuntutan dan perlahan-lahan berubah menjadi ******* dan pada akhirnya menjadi sebuah ciuman yang panas antara kedua nya.


Husna pun dengan pengalaman nya selama beberapa hari ini bersama suami nya itu pun mencoba untuk membalas ciuman suami nya dengan sebisa nya karena pada kenyataan nya dia itu paling banyak menerima ciuman saja dari suami nya itu.


Cukup lama mereka berciuman seolah mereka ingin meredakan dahaga mereka itu. Rasa haus yang seperti baru saja mendaki gunung pasir yang tandus di cuaca terik panas matahari. Azzam baru melepaskan ciuman nya itu saat mereka sudah hampir kehabisan pasokan oksigen.


Azzam melepas ciuman nya dan terlihat sang istri yang menghirup banyak oksigen agar pasokan oksigen dalam tubuh nya itu kembali normal. Azzam tersenyum lalu mengusap sisa saliva di bibir istri nya itu dengan ibu jari nya dengan lembut. Bibir pink milik istri nya itu terlihat semakin pink hingga membuat nya ingin merasakan nya lagi dan lagi. Tapi hal itu harus dia tahan karena tidak ingin membuat istri nya itu takut akan hasrat nya yang mungkin sangat tinggi. Terbukti dari ciuman saja dia sudah membuat bibir istri nya itu sedikit bengkak.


“Mas, jangan menatap ku begitu. Aku malu.” Ucap Husna lalu menyembunyikan kepala nya itu di balik dada milik suami nya.


Azzam pun tersenyum seperti biasa saat istri nya itu tengah malu maka pasti dada nya itu akan jadi tempat persembunyian wajah nya. Jika ada yang bertanya apa Azzam keberatan tentu tidak sama sekali. Dia justru senang istri nya itu bermanja-manja pada nya.


“Gak usah malu sayang. Kita juga sudah melakukan nya hal itu beberapa kali kan. Kenapa masih saja malu.” Ucap Azzam.


“Ish, jangan katakan itu. Tetap saja malu. Kalau malu ya malu mas. Tidak butuh alasan. Seperti jika cinta ya cinta tidak butuh alasan apapun.” Ucap Husna.


“Yah, kau benar. Seperti cinta mas untukmu.” Ucap Azzam.


“Maas!” ucap Husna manja.


Azzam pun terkekeh, “Hehehehh, sudah mas tidak akan menggodamu lagi. Ayo mas mau bicara serius.” Ucap Azzam dengan nada serius juga karena dia memang tidak sedang berbohong akan hal itu.


Husna yang mendengar itu pun perlahan mengangkat kepala nya dan menatap suami nya dengan tatapan lembut nya yang selalu bisa membuat Azzam jatuh cinta lagi dan lagi.


“Sayang, mas mau tanya apa kau yakin akan pindah ke rumah mas dan meninggalkan segala kemewahan yang kau punya ini?” tanya Azzam hati-hati karena dia tahu ini adalah topic yang sensitive.


Husna pun menatap suami nya itu dalam, “Kenapa mas bertanya begitu? Aku ini ikut ke mana pun suamiku membawaku. Lagi pula aku tidak begitu suka dengan kemewahan mas. Aku lebih suka dengan kehidupan sederhana di rumah kecil, di mana di sana aku yang mengurus semua nya. Aku yang akan memasak untukmu dan kita akan bersama-sama untuk bekerja membersihkan rumah. Aku lebih suka hal-hal sederhana seperti itu mas.” Jawab Husna jujur tanpa ada kebohongan sama sekali di sama.


“Aku tahu apa yang membuat mas bertanya begini, pasti karena aku yang memiliki beberapa kediaman mewah sendiri. Iya kan? Ayo ngaku?” sambung Husna.


Azzam pun tertawa lalu kemudian mengangguk, “Kau benar sayang.” Ucap Azzam.

__ADS_1


“Jangan pikirkan hal itu mas. Aku memang tinggal di kediaman mewah dan memiliki beberapa kediaman mewah tapi itu adalah bentuk investasi masa depan untukku. Jika aku di minta memilih maka aku pasti akan lebih suka tinggal di kediaman sederhana saja. Tapi biasa lah itu adalah rancangan tukang desain yang di setujui oleh abi dan umi saat itu.” ucap Husna.


Azzam yang mendengar itu pun tersenyum dan terharu dengan istri nya itu, “Maaf mas meragukan ketulusanmu.” Ucap Azzam. Husna menggeleng dan memeluk suami nya itu lalu memberikan kecupan lembut di pipi suami nya.


__ADS_2