My Secret Love

My Secret Love
62


__ADS_3

Kini Azzam sudah membalut jari istri nya yang terluka itu, “Terima kasih mas.” Ucap Husna tersenyum tulus menatap suami nya itu yang terlihat khawatir membalut luka nya padahal dia sendiri tidak begitu khawatir karena memang luka nya itu hanya kecil tapi lumayan mengeluarkan darah.


Azzam selama membalut luka nya itu menceramahi Husna ini itu harus hati-hati atau apa lah. Husna pun hanya mendengarkan saja tanpa membantah sama sekali. Dia senang saat suami nya itu cosplay jadi ibu ibu yang cerewet saat anak nya terluka. Dia merasa di perhatikan dan sangat di cintai oleh suami nya itu.


Azzam yang mendengar ucapan terima kasih sang istri pun hanya tersenyum saja lalu kembali memeriksa balutan luka istri nya itu, “Sudah rapi mas. Sudah cantik. Aku saja kalah jika menyangkut soal kerapian membalut luka begini.” Ujar Husna.


Azzam yang mendengar apa yang di ucapkan istri nya itu mengangguk, “Lain kali hati-hati sayang.” ucap Azzam masih dengan raut wajah khawatir nya.


Husna pun mengangguk, “Hum, baik mas.” Balas Husna hendak berdiri.


Azzam menahan lengan istri nya itu, “Mau kemana?” tanya Azzam.


“Mau lanjut masak mas. Lihat sudah hampir waktu makan siang.” Jawab Husna sambil melirik ke arah jam dinding.


Azzam menggeleng, “Gak usah memasak. Kamu masih terluka. Kita makan di luar saja atau kita gofood saja.” ucap Azzam.


Husna menggeleng tanda dia tidak setuju, “Gak apa-apa mas. Lukaku sudah tidak sakit lagi kok. Aku bisa melanjutkan masak nya.” Ucap Husna.


“Tapi mas yang gak setuju. Hari ini kita pesan makanan saja. Tidak boleh menolak. Ini keputusan final.” Ucap Azzam tegas.

__ADS_1


Husna yang mendengar itu pun menghela nafas nya, “Hari ini saja sayang. Kamu terluka.” Lanjut Azzam kembali lembut.


Husna pun akhirnya mengangguk, “Baiklah terserah mas saja.” jawab Husna lalu melepaskan genggaman tangan suami nya itu dari lengan nya.


“Mau kemana?” tanya Azzam saat melihat istri nya itu mau ke dapur lagi.


“Mas mau menyimpan bumbu bumbu di dapur ke kulkas.” Ujar Husna.


“Bisa mas bantu.” Ucap Azzam segera menyusul istri nya itu dan tidak lupa dia juga segera mengembalikan kotak P3K ke tempat nya semula. Lalu setelah itu dia segera membantu istri nya itu menyimpan bumbu masakan yang tadi di keluarkan Husna kembali ke tempat nya karena mereka tidak jadi memasak.


***


“Kamu mau makan yang mana sayang?” tanya Azzam sambil menunjukkan menu di layar ponsel nya itu kepada sang istri.


Setelah itu Azzam segera meletakkan ponsel nya di meja yang ada di ruang keluarga itu lalu dia segera menatap sang istri lekat. Husna yang menyadari di tatap lekat oleh suami nya itu pun seketika menghentikan aktivitas nya yang sedang menghidupkan tv.


“Ada apa mas? Kenapa menatapku sampai begitu nya?” tanya Husna sambil memilah chanel yang ingin dia tonton sambil menunggu makanan mereka di antar.


“Kenapa sampai terluka sayang? Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Azzam. Dia penasaran kenapa istri nya itu bisa terluka karena biasa nya istri nya itu bukan lah orang ceroboh sama sekali. Mana mungkin bisa melakukan kesalahan seperti ini. Pasti ada sesuatu yang salah dengan pikiran istri nya. Pasti ada yang sudah mengganggu pikiran istri nya itu hingga tidak fokus dan akhirnya membuat tangan istri nya terluka.

__ADS_1


Husna pun menghentikan mencari chanel yang dia sukai. Dia mengalihkan pandangan ke arah sang suami dan menatap suami nya itu lekat, “Kenapa bertanya seperti itu? Aku memang tidak sengaja terluka saja tadi.” Ucap Husna.


“Kamu bohong sayang. Jangan menyembunyikan sesuatu dari suamimu ini. Ayo cerita, ada apa sebenar nya.” Ucap Azzam segera meraih tangan istri nya itu dan menggengam jemari nya erat.


Husna pun menghela nafas nya lalu dia segera menyandarkan kepala nya itu di bahu sang suami, “Mas, aku seolah merasa bahwa aku pernah bertemu dengan orang tuamu sebelum nya. Setiap kali aku menyapu dan menatap foto itu aku merasa pernah bertemu dengan mereka sebelum nya. Tapi aku gak tahu dan gak bisa mengingat di mana aku pernah bertemu mereka.” tunjuk Husna pada foto kedua mertua nya itu yang tertempel di dinding ruang keluarga itu.


“Lalu saat tadi penjaga makam mengatakan pernah bertemu denganku sebelum nya dan dia juga tahu namaku sebelum aku mengatakan nya. Itu membuat aku semakin penasaran. Terus saat tadi di makam juga saat sedang berdoa dan membaca nama kedua orang tuamu yang di tertulis di nisan itu aku juga merasa bahwa pernah bertemu dengan mereka sebelum nya. Nama orang tua mas terasa tidak asing untukku. Ohiya juga warna bola matamu mengingatkanku pada seseorang.” Sambung Husna memandangi mata suami nya itu.


Azzam yang mendengar penuturan istri nya itu pun terdiam, “Jadi itu yang di pikiran sampai terluka begini?” tanya Azzam sambil mengangkat tangan istri nya yang terluka.


Husna pun hanya cengesan saja mendengar pertanyaan suami nya itu, “Hm, iya mas. Aku merasa seperti ada ingatanku yang hilang. Aku tidak bisa mengingat sesuatu yang terasa tidak asing untukku.” Ucap Husna.


“Tapi aku tidak ingat pernah menghapus ingatanku dan jika pun memang ingatanku di hapus oleh seseorang. Itu di lakukan kapan dan kenapa harus di lakukan hal yang seperti itu. Lagi pula aku tidak ingat pernah di rawat di rumah sakit. Jadi mana mungkin ingatanku di hapus. Tapi entahlah aku pusing sendiri mas.” Ucap Husna dengan tetap menyandarkan kepala nya di bahu suami nya itu.


Azzam kembali terdiam mendengar ucapan istri nya itu, “Kamu kritis dan jeli sayang. Aku akan mengatakan semua nya nanti. Tapi untuk sekarang kita makan dulu.” Batin Azzam sambil melihat jam dinding.


Seperti dugaan Azzam sebelum nya bahwa makanan mereka akan segera tiba. Tidak lama juga makanan mereka itu tiba dan di antarkan.


“Biar mas yang ambil sayang. Mas tidak rela wajah cantik istri mas di lihat oleh abang-abang tukang gofood.” Ucap Azzam posesif lalu dia pun segera berdiri dan menuju pintu untuk menerima pesanan nya.

__ADS_1


Husna yang mendengar ucapan suami nya itu pun hanya tersenyum saja dan dia memilih untuk menuju meja makan menyiapkan alat makan untuk mereka.


Setelah itu mereka pun segera menikmati makan siang berdua dengan penuh suka cita. Saling menyuapi satu sama lain. Walaupun Husna belum mengungkapkan cinta untuk suami nya itu tapi percaya lah di hati nya sudah ada cinta untuk suami nya itu dan tinggal mencari waktu yang tepat saja untuk mengatakan nya.


__ADS_2