
“Uni! Apa yang kamu lakukan?” Suara bariton terdengar keras dan marah tepat di depan Uni. “Kamu benar-benar tidak becus dalam bekerja, memang seharusnya kamu saya pecat dari dulu, lihat semua piring yang kamu pecahkan.”
“Pak Jono, saya bisa jelaskan semua ini, tadi saya--.”
“Cukup! Kamu cepat kemas semua barang-barang kamu dan pergi dari sini, gaji kamu bulan ini tidak akan saya berikan, saya anggap gaji kamu untuk membayar semua kerugian yang sudah kamu lakukan.” Wajah bos Ara tampak terlihat sangat marah.
Uni yang tidak bisa berkata apa-apa lagi segera berlari masuk ke dalam dengan menangis. Via yang melihatnya ingin mengajak Uni berbicara, tapi Uni lebih memilih masuk ke dalam kamar mandi dan menang
Nala mencoba menjelaskan kepada bos Uni, tapi Pak Jono seolah tidak mau mendengarkan penjelasan Nala. “Saya yang salah dalam hal ini, Pak. Uni karyawan Bapak tidak salah dalam hal ini. Saya yang menabraknya tadi dan akan mengganti semua ganti rugi yang sudah terjadi.
“Bu, Karyawan saya itu memang beberapa hari ini kerjanya tidak becus, jadi memang dia pantas saya pecat dari sini daripada nantinya akan membuat saya mengalami kerugian terus. Kalau begitu saya permisi dulu.” Pak Jono meninggalkan Nala di tempatnya.
Wajah Nala tampak sangat sedih melihat hal itu, dia tidak bermaksud membuat gadis itu dipecat dari pekerjaannya.
“Uni, kamu tidak apa-apa, Kan?” tanya Via di depan pintu kamar mandi. Tidak lama Uni keluar dengan mata sembab dan Via memeluk
sahabatnya itu.
“Bukan aku yang melakukan kesalahan, Via, tapi kenapa Pak Jono tidak mau mendengarkan penjelasan aku malah langsung memecat diriku.”
“Orang itu memang keterlaluan, kalau dia ada masalah keluarga kenapa juga harus kena imbasnya?” ucap Via sebal.
“Apa maksud kamu?”
“Tadi aku tidak sengaja mendengar dia sedang bertengkar dengan istrinya karena uang penghasilannya di sini banyak di pakai oleh
istrinya jadi dia pusing sekarang untuk mengatur keuangan keluarganya.”
“Tapi kan itu tidak ada hubungannya denganku, Via? Kenapa aku juga menjadi luapan emosinya?”
“Nanti coba aku kana bicara dengan Pak Jono, kamu tenang saja.” Via memeluk sekali lagi sahabatnya.
__ADS_1
Orang yang mereka bicarakan tidak lama datang dan dengan ketusnya mengusir Uni agar secepatnya keluar dari restoran cepat saji itu. Uni segera membereskan barang-barangnya dan berpamitan pada beberapa temannya di sana. Via menangis melihat sahabatnya itu pergi dari sana.
Uni dengan berat melangkahkan kakinya keluar dari restoran ini. Uni melihat ke luar dengan mata nanar dan sayu, dia bingung sekarang harus berbuat apa? Kalau pulang pasti nanti di tanya oleh tantenya di rumah kenapa
dia pulang pada saat jam segini?
Tidak lama Uni di datangi oleh Nala yang ternyata masih menunggu Uni dari tadi keluar dari restoran itu.
“Uni, saya yang tadi menabrak kamu di dalam.”
Uni melihat Nala dan dia mengingat Nala. “Iya, Ibu orang yang tadi. Ada apa Ibu masih di sini?”
“Kamu bisa ikut sebentar dengan saya? Saya ingin bicara sama kamu.”
“Maaf, tapi saya mau pergi untuk mencari pekerjaan lagi.”
“Uni, saya minta maaf karena kesalahan yang saya buat kamu di pecat dari tempat kerja kamu, tadi saya sudah mencoba berbicara dengan bos kamu, tapi bos kamu tidak mau mendengarkan, bahkan saya mau mengganti rugi semua hanya saja bos kamu tidak mau .”
“Tidak apa-apa, Bu. Saya tidak menyalahkan Ibu, mungkin memang sudah takdir saya keluar dari tempat itu. Kalau begitu saya permisi dulu.”
kan?” Nala mencoba mendesak dan akhirnya Uni mau.
Mereka duduk di restoran dekat tempat kerja Uni. Nala menawarkan Uni untuk memesan sesuatu, tapi gadis manis itu tidak mau memesan apa-apa.
"Maaf, apa yang ingin Ibu bicarakan sama saya?"
"Uni, saya akan mengganti semuanya, kalau bos kamu tidak mau menerimanya, uang itu buat kamu saja."
Uni menggeleng. "Tidak usah, Bu. Saya nanti bisa mencari pekerjaan sendiri, walaupun saya tau mencari pekerjaan saat ini sangat sulit. Namun, saya akan tetap berusaha."
Nala melihat gadis di depannya ini permisi sekali dengan dirinya yang dulu. "Kamu tinggal sama siapa?" tanya Nala yang tiba-tiba ingin mengetahui tentang gadis di depannya ini.
__ADS_1
Uni hanya diam dan melihat ke arah Nala. Uni agak bingung ini kenapa tiba-tiba wanita yang usianya mirip dengan ibunya bertanya seperti itu.
"Kamu jangan takut, saya bukan orang jahat, saya hanya ingin tau saja tentang kamu. Entah kenapa saya melihat sosok diri saya waktu muda dulu ada pada diri kamu."
"Saya di rumah tinggal sama tante dan anaknya, om saya juga hanya saja om saya jarang di rumah karena beliau sering kerja di luar kota."
"Tinggal dengan tante dan om kamu? Memangnya kedua orang tua kamu di mana?"
"Kedua orang tua saya sudah meninggal dalam kecelakaan saat saya masih kecil, jadi tante dan om saya yang mengasuh dan membesarkan saya selama ini."
Seketika jantung Nala berdetak kencang, dia benar-benar tidak menyangka jika gadis di depannya ini nasibnya sama seperti dirinya.
"Kamu kuliah?"
"Iya, saya kuliah, hanya saja tidak tau bisa melanjutkan atau tidak nantinya karena sekarang saya sudah tidak punya penghasilan."
"Memangnya tante dan om kamu tidak membiayai kamu kuliah?"
"Om membantu sedikit-sedikit biaya kuliah saya, tapi saya tetap berusaha tidak mau menyusahkan mereka karena mereka juga memiliki keluarga yang butuh di biayai."
"Kamu memang benar-benar gadis yang baik dan tidak mau menyusahkan orang lain. Apa kamu mau jika saya menawarkan pekerjaan buat kamu?"
"Pekerjaan? Pekerjaan apa, Bu?"
"Mungkin menurut kamu pekerjaan ini tidak lebih baik dari pekerjaan kamu sebelumnya, tapi saya bisa memberikan gaji yang lumayan banyak di banding kamu bekerja di restoran itu."
"Tentu saya mau, asal pekerjaan itu halal saya mau menerimanya." Wajah Uni tampak bahagia.
"Kamu mau bekerja menjadi pelayan di rumah saya?"
"Pelayan?"
__ADS_1
"Iya, karena kamu masih kuliah juga, dan tidak mungkin kamu bekerja di perusahaan suami saya, kalau menjadi pelayan di rumah saya kamu bisa bekerja setelah pulang kuliah. Pekerjaan di rumah juga tidak akan berat."
Nala sengaja menawarkan pekerjaan itu karena di rumah Uni bisa bekerja tanpa beban, dia bisa tetap kuliah dan mendapatkan gaji yang akan bisa di gunakan untuk biaya kuliahnya. Nala ingin membantu gadis ini dengan caranya karena dia tau jika langsung di beri uang, gadis ini tidak akan mau.