
Gadis itu terdiam sendirian, tidak lama ada yang datang menghampirinya. Seorang pria tinggi semampai dengan kulit putihnya duduk di sebelah gadis itu.
"Via, kenapa kamu jadi seperti ini? Kamu benar-benar bodoh, Via." Pria itu meneteskan air matanya. Gadis yang di panggil Via itu tidak merespon hanya terdiam terpaku melihat ke arah depan.
"Vino, kamu di sini?"
"Mama." Pria itu memeluk mamanya yang baru datang.
"Via kenapa sampai berbuat senekat itu dan sekarang dia sendiri yang menerima akibatnya."
"Adik kamu jatuh cinta untuk yang pertama kali, tapi sayangnya pria itu tidak mencintai adik kamu. Pria itu memilih orang lain yang tak lain adalah sahabatnya sendiri."
"Kenapa Via tidak melupakan saja pria itu, kenapa dia sampai bisa berubah seperti ini, bahkan tega melukai orang lain yang akhirnya dia sendiri terluka."
"Mama juga tidak menyangka Via akan berbuat hal demikian, Vino. Via dan Uni adalah sahabat baik, hanya karena seorang pria mereka sampai begini. Uni juga masih koma di rumah sakit akibat perbuatan Via, dan Via sekarang seperti ini." Wanita itu bergantian menangis.
Di rumah sakit, di mana Uni di rawat Aro masih setia menunggu Uni di sana. Harapan Aro akan kesembuhan Uni semakin besar. Aro tidak ada menyerah untuk kesembuhan kekasih yang di cintainya itu.
"Uni, aku mohon bangunlah! Aku berjanji akan menikahi kamu jika kamu nanti membuka mata kamu." Aro mengecup tangan Uni lembut
Tidak lama Aro merasakan gerakan jemari Uni menggenggam telunjuk tangan Aro. "A-aro," suara panggilan sangat lirih, tapi Aro dapat mendengarnya.
Aro mengangkat kepalanya dan melihat ke wajah Uni. "Uni, sayang, kamu sudah sadar." Seketika wajah Aro tampak bahagia.
"Aku di mana?"
"Kamu jangan banyak bicara dulu, aku akan memanggil dokter untuk kamu."
Aro segera menekan tombol untuk memanggil perawat atau dokter. Tidak lama perawat dan dokter masuk ke ruangan Uni. Uni diperiksa dengan teliti.
Aro segera menghubungi keluarganya yang ada di rumah. Pagi itu setelah sarapan, mereka langsung menuju ke rumah sakit. Bahkan Akira memutuskan tidak masuk kerja.
Di rumah sakit, Uni yang sudah membuka kedua matanya melihat pada sekelilingnya. "Aro, kenapa aku bisa berada di rumah sakit?"
__ADS_1
"Justru hal itu yang aku tanyakan sama kamu, Uni. Keluargaku dihubungi oleh Selli waktu itu dan dia mengatakan kamu terluka parah di jalan, kemudian dia membawa kamu ke rumah sakit dan saat tiba di rumah sakit keadaan kamu seperti ini."
"Selli?"
"Dia sudah aku tanyai, aku takut dia yang melukai kamu, tapi dia bersumpah jika bukan dia yang membuat kamu terluka, dia malah menolong kamu."
"Uni, bagaimana keadaan kamu?" tanya Nala yang baru datang.
"Ibu Nala, aku baik-baik saja."
"Dok, bagaimana keadaan putriku?" tanya Akira.
"Uni, baik-baik saja dan dia sudah melewati masa kritisnya, tapi kami masih akan tetap memantau keadaan Uni dalam beberapa hari ke depan guna memastikan dia baik-baik saja."
"Lakukan hal yang terbaik buat putriku."
"Uni, bagaimana sekarang rasanya badan kamu? Apa ada yang sakit?"
"Tidak ada, Aro." Uni melihat pada salah satu kakinya yang di pasang gip. "Aro, apa kakiku patah? Tapi aku masih bisa berjalan, kan?"
"Uni, apa kamu dapat mengingat tentang kejadian yang menimpa kamu? Ayah sedang menyelidiki hal ini selama beberapa bulan, bahkan rekaman CCTV di sana ayah mintai, tapi pas kejadian CCTV di sana tidak dapat menjangkau tempat kamu. Sepertinya orang yang melukai kamu ini sudah tau di mana letak CCTVnya."
Uni mencoba mengingat sesuatu. "Waktu itu aku pergi dengan Selli, kemudian aku bertemu Via saat aku pergi ke luar mencari minuman. Via mengajakku berjalan di jalanan menuju toko buku karena dia ingin mencari buku, dan saat kita mengobrol, tiba-tiba dia mengatakan jika dia tau kalau aku dan Aro memiliki hubungan, Via tidak marah, tapi dia agak kecewa karena aku tidak menceritakan kepadanya."
"Via? Apa gadis itu yang melukai kamu?"
"Aku minta maaf sama Via atas hubunganku dengan Aro."
"Aku tidak marah sama kamu, Uni. Aku tau Aro mencintai kamu dan kamu juga mencintai Aro, dan seharusnya aku tau akan hal itu." Via memeluk Uni.
"Via, sebenarnya sebelum kamu menceritakan tentang pria yang kamu cintai, aku dan Aro sudah kenal, bahkan dia sudah mencintaiku."
"Iya, tidak apa-apa. Uni, kamu tau kan jika aku juga mencintai Aro. Dan jujur saja aku hanya marah sama kamu karena aku seolah menjadi orang bodoh yang kamu bohongi, aku meminta tolong agar kamu dekatkan dengan Aro, tapi kamu malah yang mengambilnya."
__ADS_1
Uni menarik dirinya dari pelukan Via. "Aku sudah berusaha agar Aro bisa menerima kamu, Via, tapi memang perasaan tidak bisa dilawan."
"Iya, aku tau Uni. Makannya kalau saingan kita ada di dekat kita. Akan sangat sulit untuk kita mendapatkan orang yang kita cintai. Kamu tau Sifa, Kan? Aku sangat membencinya karena dia terlalu genit sama Aro. Sayangnya, saat aku ingin melukainya, dia masih bisa selamat." Seketika sorot mata Via tampak menakutkan.
"Apa? Jadi kamu yang melukai Sifa waktu itu?"
"Tentu saja, siapa lagi. Aku sangat mencintai Aro dan dia sudah merebut Aro dariku. Kamu juga."
"Via ...!" Tidak lama terdengar suara benda menghantam sebuah mobil dan tergeletak di tanah.
Uni dapat mengingat jika Via lah yang mendorongnya pada tepi jalan saat ada mobil yang melintas, dan kebetulan di sana sangat sepi. Via langsung pergi dari sana.
Tidak lama Selli yang sebenarnya bersama dengan Uni mencari Uni dan melihat tubuh Uni sudah bersimbah darah di tanah.
"Uni, katakan? Apa Via yang melakukannya?" Aro seketika emosi.
Uni hanya terdiam melihat pada Aro. Uni memang mengingat jika Via yang melakukannya, tapi Uni tidak mengatakan jika Via pelakunya, dia masih melindungi sahabatnya itu."
"A-Aro, bukan Via pelakunya."
"Tidak mungkin, kamu pasti berbohong. Aku tau, pasti Via pelakunya dan kamu masih melindungi dia. Uni! Dia sudah berbuat hal yang sangat berbahaya sama kamu, kita tidak boleh membiarkan dia begitu saja."
"Benar, Uni. Apa yang dilakukan Via sudah termasuk kejahatan besar. Kita harus melaporkannya.
"Dia melakukan itu karena dia sangat mencintai Aro dan karena aku sudah mengkhianatinya."
"Itu tidak bisa menjadi alasan dia untuk melukai kamu. Nyawa kamu hampir melayang karena perbuatannya. Aku tidak akan tinggal diam, Via benar-benar sakit jiwanya jika dia sudah berani melakukan hal ini."
"Aro, sebaiknya kita temui Via dan keluarganya, agar mereka tau kelakuan putrinya yang sangat berbahaya itu." Akira dan Aro beranjak dari tempatnya.
Tinggal satu bab lagi ini mau tamat ya. Jangan lupa mampir di ceritaku selanjutnya, Kak.
Maaf jika cerita ini sempat berhenti aku up, aku barusan lahiran kak, dan buat duduk aja susah, akibat operasi SC. Sekali lagi maaf ya, Kak 🙏
__ADS_1