My Secret Love

My Secret Love
Pertemuan part 1


__ADS_3

Addrian melihat-lihat bagian dalam ruangan Akira yang tidak lebih besar dari ruangan yang ada di kantornya di kota.


"Kamu kenapa tertarik untuk memimpin perusahaan di sini? Di sini apa akan ada keutungan yang lebih besar dari pada perusahaan yang sekarang kamu percayakan pada Reno?"


"Dad, aku kasihan dengan pemilik perusahaan ini. Perusahaan ini sebenarnya cukup memiliki peluang yang besar jika di pegang oleh tangan yang benar, produksi tas di sini cukup memuaskan, hanya saja waktu itu pemimpin mereka mendapat masalah dengan penjualan dan akhirnya hampir mengalami kebangkrutan.'


"Lalu kamu membelinya? Nak, aku sudah tau cara kerja kamu, tapi kali ini daddy benar-benar tidak tau dengan caramu kali ini?"


"Karyawan mereka sangat banyak, dan kasihan jika mereka semua harus menjadi pengangguran. Perkampungan ini lama kelamaan akan menjadi perkampungan yang besar. Mereka juga memiliki tempat wisata yang perlahan-lahan akan di ketahui banyak orang dan akan berkembang pesat. Tempat ini akan ramai pastinya."


"Kasihan?" Addrian menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Sayang, biarkan saja Akira melakukan hal yang menurutnya baik. Jujur saja aku sangat menyukai tempat ini walaupun tadi perjalananya di sini agak sulit, tapi tempat ini memiliki pemandangan yang indah dan natural. Mommy sangat menyukainya meskipun hari ini mommy baru datang ke sini."


Pria paruh baya itu duduk di kursi kebanggaan milik Akira. "Kamu tinggal di mana selama di sini, Akira? Jangan bilang kamu tinggal di rumah perkampungan di sini?"


"Aku tinggal di hotel yang tempatnya agak jauh dari sini karena hanya hotel itu yang masih terjangkau dari tempat ini."


"Apa yang kau cari di tempat ini, Nak. Semua di sini pasti tidak semudah yang biasa kamu dapatkan di tempat kamu."


Kebetulan Akira sudah menyimpan foto Nala dia atas mejanya saat dia merencanakan untuk menjebal Silvia, jadi Addrian juga tidak melihat ada foto Nala di atas meja Akira.


"Addrian, kalau Akira berbuat seperti ini, kita harus mendukungnya, dia tidak lagi menjadi pria yang tidak peduli serta dingin seperti dulu."


"Ini karena kamu selalu membela putra-putramu. Akira, kamu tau tentang tempat ini dari mana, Akira?"


"Dari Rhein, Dad."


"Apa? Dari anak itu? Dia ada urusan apa ke sini?"


"Rhein mendapat tawaran kerja sama dengan pemilik tempat ini untuk membantu mempromosikan barang yang mereka produksi dan dia setuju."

__ADS_1


"Dia menerima tawaran membantu pengusaha kecil dan sekarang dia pergi ke California untuk menenangkan diri karena kehilangan gadis pembantu yang dia cintai. Sungguh kasihan putraku itu. Namun, itu lebih baik daripada aku harus melihat dia dengan gadis pembantu itu."


"Addrian kamu jangan bicara begitu. Nala juga tidak seburuk yang kamu duga, dia gadis baik, hanya nasibnya saja yang kurang baik." Mata Kei melihat ke arah Akira.


Akira baru sadar jika daddynya belum tau tentang hubungan Nala dan Akira. Sepertinya mommynya belum menceritakan tentang hal ini.


"Dad, aku ingin bicara mengenai suatu hal dengan Daddy."


Kei yang seperti tau tentang hal yang di maksud oleh Akira mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.


"Sayang, mommy ingin kamu mengajak mommy jalan-jalan mengelilingi tempat ini, mommy ingin melihat seperti apa suasana perusahaan liliput kamu ini." Kei tersenyum.


"Apa kalian tidak lelah? Atau ingin makan siang dulu?"


"Kita makan siang nanti saja di hotel kamu. Mommy dan Daddy ingin jalan-jalan dulu. Mau kan sayang?" Kei mendekat ke arah suaminya.


"Iya, baiklah." Pria gagah dengan rambut yang mulai tampak putih itu beranjak dari duduknya.


"Selamat siang, apa kalian berdua membutuhkan sesuatu?" Silvia langsung berdiri dari tempatnya.


"Apa kamu sekretaris pribadi Akira?" tanya Addrian.


"Bukan, Pak, saya hanya karyawan yang baru beberapa hari bekerja."


"Kalau begitu, lakukan saja pekerjaan kamu. Kamu harus banyak mengerti pekerjaan di sini. Supaya putraku tidak memecat kamu nantinya karena tidak becus dalam bekerja."


Addrian berjalan pergi dari sana. Kei dan Akira mengikutinya dari belakang. "Huft! Ayahnya Akira menyeramkan sekali. Akira tidak akan memecatku karena dia menyukaiku, dan kamu akan sangat terkejut jika mengetahuinya." Silvia tersenyum miring.


"Karyawan baru kamu itu terlihat terlalu mencari muka, dia lebih mirip wanita penggoda dari pada seorang karyawan," ujar Addrian.


Akira mengajak mereka naik mobil dan melihat pabrik di mana Seno bekerja menjadi mandor dan Addrian melihat mesin yang membantu para pekerja di sana memproduksi tas sebagai barang yang akan di pasarkan.

__ADS_1


"Dia Seno, Dad, Mom. Dia yang mengawasi para pekerja di sini."


"Selamat siang Tuan dan Nyonya besar. Kalian terlihat seperti arti di televisi, terlihat sangat keren," celetuk Seno.


"Terima kasih Seno." Kei terkekeh dengan logat bicara Seno. "Kamu juga sangat manis dan terlihat pintar."


"Saya memang pintar, dari zaman sekolah dulu, Nyonya Besar."


"Hihihi! Panggil saja saya Ibu Kei. Senang bertemu dengan kamu Seno."


"Terima kasih. Eh tunggu sebentar!" Seno langsung berlari ke arah ruangan miliknya dan mengambil sesuatu, setelah itu Seno kembali menemui kedua orang tua Akira. "Ini untuk Ibu Kei." Seno memberikan sesuatu yang di masukkan kantong kain berwarna cream.


"Ini apa, Seno?"


"Ini tas produk terbaru di sini, baru beberapa kita produksi semoga Ibu Kei menyukainya, walaupun harganya tidak semahal yang mungkin tas Ibu Kei miliki di rumah." Seno melihat ke arah Akira dan Akira mengangguk perlahan.


"Terima kasih, Seno. Aku akan memakai tas ini dan teman-temanku akan aku beritahu jika tas ini di produksi oleh tangan yang handal."


"Sama-sama."


"Seno, lanjutkan pekerjaan kamu, aku akan membawa kedua orang tuaku berjalan-jalan lagi."


"Iya, Pak Akira."


Mereka bertiga kembali diajak Akira berkeliling. Seno melihat takjub melihat penampilan kedua orang tua Akira.


"Pantas saja Akira begitu tampan dan seperti artis, orang tuanya saja seperti itu. Apa mereka sudah bertemu dengan Nala? Bagaimana reaksi kedua orang tua Akira melihat Nala bekerja dengan seragam office girlnya?" Seno berdialog sendiri sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Keuntungan yang kamu dapatkan di sini tidak ada apa-apanya dengan yang kamu peroleh di perusahaan kamu sendiri Akira, daddy benar-benar tidak habis pikir. Kalau kamu ingin membuat tas, kamu bisa menciptakan sendiri tas branded yang kamu inginkan dan keutungannya jauh lebih besar."


"Dad, aku sudah bilang, bukan hanya itu yang aku inginkan. Sudahlah! Sekarang kita kembali ke kantorku, kita belum melihat-lihat di sana."

__ADS_1


Akira memang mengajak kedua orang tuanya ke pabrik dulu baru nanti berkeliling ke kantornya, setelah itu Akira akan mengajak mereka makan siang di hotelnya.


__ADS_2