
“Apa?” teriak Betty sampai berdiri dari duduk nya saking kaget nya tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
“Maaf. Maaf. Aku kaget mendengar nya hingga dengan refleks saja berteriak.” Ucap Betty saat menyadari bahwa suara nya keras.
“Tapi benar Na? Kau mengandung kembar?” lanjut Betty bertanya pada Husna untuk memastikan pendengaran nya.
Husna mengangguk, “Hum, Alhamdulillah. Doakan ya mereka baik-baik saja.” ucap Husna.
“Ahh ini kabar yang sangat membahagiakan. Aku yakin ini adalah berita penting yang di katakan Dita di telepon.” Ucap Betty bergantian memeluk Husna untuk memberikan selamat.
“Aku tidak menyangka akan menjadi saksi teman yang melahirkan kembar. Aku akan menjadi aunty dari dua keponakan sekaligus. Ah senang nya.” ucap Betty setelah melepas pelukan nya.
“Hai calon keponakan aunty. Perkenalkan ini aunty Betty. Kalian panggil saja mami boleh. Ah iya aku mau di panggil mami saja oleh mereka Na.” ucap Betty senang.
Husna pun tersenyum, “Kami saja belum memutuskan mau di panggil apa oleh anak kami Bet. Tapi kamu sudah memutuskan mau di panggil apa oleh mereka.” ucap Husna.
“Yah tidak masalah. Pokok nya aku mau di panggil mami oleh mereka. Itu keputusan final.” Ucap Betty.
“Yah terserah padamu saja Bet yang penting kau senang.” Timpal Husna.
Dia senang berita kehamilan nya itu menjadi berita yang membahagiakan semua orang. Tidak pernah dia bayangkan sebelum nya bahwa di umur nya yang sekarang akan merasakan kebahagiaan seperti ini. Rencana Tuhan memang yang paling indah.
Kurang lebih lima belas menit, akhirnya Jalal dan Abrar tiba tapi dengan Jalal yang tiba dua menit lebih dulu karena dia dari perusahaan sementara Abrar seperti biasa dari tempat nya sendiri karena memang tugas nya hanya mengawasi kantor dari jauh.
Azzam dan Husna segera mempersilahkan kedua asisten Azzam itu masuk. Begitu tiba di ruang tengah terlihat Jalal dan Abrar menghentikan langkah mereka saat melihat Betty dan Ratna ada di sana. Walaupun sebenar nya mereka sudah di beritahu sebelum nya bahwa ada kedua nya di sini hanya saja tidak menyangka bahwa mereka benar-benar ada di sini. Mereka pikir Azzam hanya sedang bergurau saja mengatakan bahwa Ratna dan Betty ada.
“Duduk lah.” Ucap Husna.
“Terima kasih, nyonya muda.” Ucap Jalal dan Abrar bersamaan.
Husna pun hanya mengangguk saja dan tidak protes dengan panggilan yang di sematkan pada nya walaupun dia tidak nyaman dengan hal itu. Tidak nyaman karena memang tidak terbiasa walaupun selama ini dia tidak pernah luput dari hal itu. Namun dia memang sering protes ketika ada yang memanggil nya dengan nona muda tapi kini dia tidak protes walaupun di panggil dengan nyonya karena dia tahu kedua asisten suami nya itu hanya menyesuaikan panggilan saja. Mereka memanggil Azzam dengan tuan muda jadi sudah pasti sebutan nyonya muda itu tersemat untuk nya karena dia sudah menikah walaupun usia nya masih muda bahkan yang termuda dari ketiga teman nya itu.
Selang lima menit kemudian, Gauri juga tiba dan segera memeluk Husna yang memang sudah seperti adik bagi nya. Begitu juga Husna yang menganggap Gauri adalah kakak nya. Walaupun di situasi formal kedua nya terlihat seperti seorang asisten dan nona bos.
Seperti yang terjadi pada Gilang, Andita, Betty dan Ratna sebelum nya yang kaget bercampur senang mendengar kehamilan Husna apalagi kehamilan nya yang kembar. Hal itu juga yang terjadi kepada Gauri, Jalal dan Abrar.
Mereka secara bergantian memberikan selamat kepada Azzam dan Husna. Selepas itu terbit lah ide untuk berbeque di taman belakang karena berhubung juga waktu sudah menunjukkan waktu yang pas untuk melakukan acara berbeque.
Mereka segera berbagi untuk mempersiapkan apa saja yang di butuhkan untuk sebuah acara berbeque. Tentu saja yang melakukan itu adalah mereka selain Azzam dan Husna tentu nya.
Azzam dan Husna hanya di tugaskan berada di rumah saja. Mereka yang lain yang sudah berbagi mempersiapkan.
Ratna, Betty, Jalal dan Abrar yang pergi berbelanja untuk keperluan bahan-bahan berbeque. Sementara Gilang, Andita, Gauri serta Zahra yang mempersiapkan tempat di halaman belakang serta alat-alat yang di butuhkan.
“Mas, apa kita hanya bertindak sebagai pengawas saja?” tanya Husna saat melihat teman-teman nya itu sibuk dengan urusan mereka sementara dia dan sang suami hanya diam saja.
Azzam mengangguk, “Seperti nya begitu. Kita hanya di tugaskan jadi mandor saja sayang.” balas Azzam.
Tiba-tiba Husna terdiam dan ingat satu hal saat melihat adik ipar nya, “Mas!” panggil Husna.
Azzam pun menatap istri nya itu bertanya, “Ada apa sayang?” tanya Azzam.
“Tuh!” tunjuk Husna ke arah Zahra.
“Ada apa dengan nya?” tanya Azzam mengikuti arah yang di tunjuk istri nya itu.
Husna pun menatap suami nya itu sambil menarik napas, “Apa mas gak ngerti yang ku maksud?” tanya Husna.
Seketika Azzam paham lalu mengangguk, “Aku akan segera menghubungi nya meminta nya untuk datang. Ah sayang maaf aku tidak peka. Untung saja kau cepat peka hingga aku tidak membuat nya sedih.” Ucap Azzam.
“Ya sudah segera hubungi dia. Aku akan ke sana mau bicara dengan kak Gauri.” Ucap Husna segera menuju halaman belakang itu.
“Dek, kenapa ke sini. Nanti saja kau ke sini jika semua nya sudah siap.” Ucap Gauri yang menyadari kedatangan Husna.
__ADS_1
“Aku ingin melihat kalian dari dekat saja kak. Jangan melarangku. Aku menginginkan nya.” ucap Husna.
“Baiklah jika memang kau menginginkan nya. Duduklah.” Ucap Gauri segera mengambilkan kursi untuk Husna.
“Terima kasih kak. Ohiya setelah siap aku ingin bicara denganmu sebentar kak.” Ucap Husna.
“Mau bicara apa dek?” tanya Gauri dengan wajah bingung nya.
“Ada. Tapi nanti. Selesaikan dulu urusan kakak.” Ucap Husna misterius.
“Baiklah.” Balas Gauri segera menyelesaikan pekerjaan nya.
“Aku ingin kau bahagia kak.” Gumam Husna.
Sepuluh menit kemudian, akhirnya semua persiapan tempat dan alat yang di gunakan sudah siap. Tinggal menunggu bahan yang masih di beli baru lah mereka akan mengeksekusi nya bersama.
“Apa yang ingin kau bicarakan dek? Apa terkait perusahaan? Aku akan melaporkan semua perkembangan perusahaan pada--”
“Ck, bukan tentang perusahaan kak. Aku percaya perusahaan baik-baik saja. Aku tidak ingin membicarakan perusahaan saat kita sedang bersantai seperti ini. Jadi lupakan tanggung jawabmu sebagai asisten untuk beberapa jam ke depan dan nikmati lah waktumu.” Ucap Husna.
“Baiklah. Kau ingin membicarakan apa? Seperti nya sangat serius.” Ucap Gauri.
Husna menatap sekeliling nya yang memang hanya ada mereka berdua di sana karena Zahra, Andita dan Gilang sibuk dengan urusan mereka sedangkan Azzam dia memberikan kesempatan untuk istri nya itu bicara dengan Gauri hingga hanya mengawasi dari dalam kediaman saja setelah melakukan tugas nya untuk menghubungi seseorang.
“Apa kakak tidak punya niat untuk menikah?” tanya Husna.
“Dek!” panggil Gauri dalam.
“Kenapa? Apa alasan nya?” tanya Husna menatap dalam Gauri.
“Maksudmu apa dek?” tanya Gauri.
“Kak, jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.” Ujar Husna.
“Bukan begitu dek. Mana mungkin kakak tidak ingin menikah. Tapi--”
Gauri menggeleng, “Tidak begitu dek. Kakak--”
“Kak, kenapa harus menyembunyikan perasaanmu dariku. Kenapa menyiksa batinmu hanya karena tanggung jawabmu pada perusahaan. Kau berhak meraih bahagiamu. Jika saja dia tidak mengatakan keluhan nya padaku maka aku tidak akan tahu masalah ini. Ingat kak. Jangan memarahi nya. Dia hanya menunjukkan keluh kesah nya karena sering di tolak olehmu padahal aku tahu kau pun memiliki perasaan yang sama kepada nya.” ucap Husna.
“Kak, raih lah cinta dan bahagiamu itu. Aku mendukungmu. Jangan terkekang karena perusahaan. Aku ingin kau bahagia. Menikah lah dan berikan teman untuk calon anakku.” Ucap Husna.
Gauri pun segera memeluk Husna. Dia menangis karena tidak menyangka bahwa Husna begitu menyayangi dan memperhatikan nya. Dia bahagia bisa menjadi orang yang di percaya oleh Husna dan orang tua nya. Dia bahagia saat ini sungguh sangat bahagia.
“Ajak lah dia datang untuk bergabung bersama kita di sini kak. Jangan tolak lagi dia jika kau pun menginginkan nya. Ohiya satu lagi aku menunggu undangan darimu.” Ucap Husna segera menghapus bekas air mata di pipi Gauri.
Cup
Husna melabuhkan kecupan di kening Gauri penuh kasih, “Menikah lah dan raih bahagiamu. Aku harus jadi orang pertama yang menerima undangan dari kalian. Bukan kah aku adalah adikmu.” Lanjut Husna.
“Dek, jangan katakan itu. Kau akan selalu jadi adikku dan selalu jadi nonaku. Aku pastikan undangan pertama akan jadi milikmu. Milik kedua keponakanku.” Ucap Gauri mengelus perut rata Husna.
“Aku menanti nya.” balas Husna lalu kedua nya pun kembali berpelukan layak nya saudara kandung padahal tidak ada ikatan darah yang mengikat kedua nya. Tapi cinta yang tulus lah jadi penyatu antara kedua nya.
Azzam yang melihat apa yang di lakukan istri nya itu tersenyum bangga. Dia bangga memiliki istri seperti Husna yang selalu memperhatikan orang sekeliling nya hingga bahagia dan sedih mereka pun menjadi hal yang perlu dia urus. Sungguh penyayang.
“Apa pelukan nya sudah bisa di lepas. Aku cemburu saat ada yang memeluk istriku lama walaupun itu adalah kakak nya sekaligus.” Ucap Azzam tiba-tiba.
Husna dan Gauri pun segera melerai pelukan mereka. Husna segera memegang lengan sang suami dan Gauri pun segera berdiri dari posisi nya.
“Hubungi dia kak. Minta lah untuk datang ke sini.” Ucap Husna yang di balas anggukan oleh Gauri. Lalu dia segera pamit untuk menghubungi seseorang yang di maksud Husna.
“Istriku ini sangat the best.” Ucap Azzam tiba-tiba saja memeluk Husna dari belakang dan melabuhkan kecupan bertubi-tubi di kepada sang istri.
__ADS_1
“Mas, terlalu memuji.” Ucap Husna.
“Benar sayang. Itu bukan hanya pujian semata. Tapi memang kenyataan nya. Kau selalu bisa memahami semua orang.” Ucap Azzam.
“Tapi hanya kau yang memahamiku mas. Aku adalah milikmu.” Ucap Husna.
Azzam yang mendengar perkataan sang istri pun tersenyum senang karena di akui sebagai pemilik.
“Ehem!”
“Kebiasaan deh kita selalu di lupakan saat bermesraan.” Ucap Zahra yang tiba-tiba sudah berada di sana dengan Andita dan Gilang di belakang nya.
Azzam pun segera melepas pelukan nya.
“Kau juga sudah menjadi kebiasaan selalu jadi pengganggu.” Ucap Azzam.
“Biarin. Wlee!” ucap Zahra menjulurkan lidah nya tapi kemudian dia segera diam begitu melihat siapa yang datang bersama Jalal, Abrar, Ratna dan Betty.
Husna dan Azzam yang memang membelakangi kediaman pun menoleh begitu melihat perubahan ekspresi Zahra. Seketika Husna tersenyum lalu menatap sang adik ipar yang juga menatap nya seolah ingin bertanya. Husna hanya diam saja dan menatap sang suami yang segera menyambut Gentala.
“Pak!” ucap Gentala penuh hormat.
“Hey, tidak perlu seperti itu. Bersikap lah seperti biasa nya. Masa iya kau sudah pernah meminta izin padaku mengajak adikku pergi dengan berani kini bersikap seperti ini lagi?” ucap Azzam.
Gentala pun hanya bisa tersenyum dan melirik Zahra yang tengah menunduk, “Kami bertemu dia di depan tadi lalu kami mengajak nya masuk karena dia terlihat ragu.” Ucap Betty.
Husna pun hanya tersenyum mendengar ucapan Betty, “Zahra!” panggil Husna.
Zahra pun segera mendekat ke arah kakak ipar nya itu, “Iya kak. Apa kau butuh sesuatu?” tanya Zahra.
Husna mengangguk, “Tiba-tiba saja aku ingin rujak yang ada di pertigaan sebelum di muka gerbang komplek.” Ucap Husna.
“Aku akan membelikan nya untukmu kak.” Ucap Zahra cepat lalu segera berlalu dari sana.
Husna dan Azzam mengamati Gentala dan mereka melihat Gentala yang melirik melihat kepergian Zahra.
“Kau akan membiarkan nya pergi sendiri?” tanya Azzam menatap Gentala.
“Apa bisa saya menemani nya pergi pak?” izin Gentala.
“Pergi lah. Jangan lama.” Ucap Azzam lalu segera mendekati sang istri kembali.
Gentala yang ragu menatap Husna, “Kenapa menatapku? Pergi lah sebelum dia pergi dengan supir.” Ucap Husna.
Gentala yang mendengar itu pun segera berlari menuju halaman depan hingga Husna dan Azzam pun tersenyum.
Gilang yang melihat itu pun ikut tersenyum di sana, “Apa kau bahagia melihat nya?” tanya Andita yang saling membantu mengeksekusi bahan-bahan untuk berbeque.
Gilang mengangguk, “Aku sedih melihat nya yang beberapa hari ini terlihat murung.” Balas Gilang.
“Husna dan Pak Azzam seperti nya sedang memberikan mereka kesempatan untuk dekat.” Ucap Betty.
“Iya. Bukan kah tidak ada yang menjual rujak di muka gerbang komplex?” timpal Ratna.
“Ah iya juga. Kenapa aku baru sadar.” Balas Betty.
Setelah itu ketiga pasangan itu pun fokus kembali ke makanan yang mereka olah.
Kembali lagi kepada Husna, “Kak, apa dia akan datang?” tanya Husna saat Gauri kembali.
“Dia akan ke sini sebentar lagi dek. Dia ingin menyelesaikan jam kantor nya dulu.” Balas Gauri.
“Padahal dia bisa saja pulang lebih dulu karena tidak mungkin kau akan memotong gaji nya kan sayang?” ucap Azzam.
__ADS_1
Husna mengangguk, “Dia orang yang disiplin, mas. Sama seperti kakak.” Ucap Husna.
Gauri pun hanya tersenyum merona karena ternyata hubungan yang selama ini dia sembunyikan bisa semudah itu terbongkar kepada Husna. Tapi dia bahagia dengan apa yang terjadi. Keterbukaan memang membawa bahagia.