
“Untuk apa aku melakukan nya?”
Setelah mengatakan hal itu Gentala pun segera masuk ke dalam mobil dan duduk di depan kemudi padahal itu adalah mobil milik Gilang.
“Masuk Lang. Jika tidak kau akan ku tinggal.” Ujar Gentala kepada sepupu nya yang terlihat bengong itu.
Bagaimana Gilang tidak bengong coba jika mendengar jawaban Gentala yang seolah tidak peduli padahal tadi mengatakan bahwa dia tidak akan melakukan hal bodoh yang sama seperti yang sudah di alami oleh Gilang. Tapi ini apa? Jika bukan kebodohan yang sama.
Gilang segera tersadar dan segera masuk ke dalam mobil tepat nya di samping kemudi, “Ini adalah mobilku Gen. Kenapa kau seolah bertingkah sebagai pemilik nya hingga harus mengancamku seperti itu. Emang apa ada ya pemilik mobil di tinggal.” Ucap Gilang begitu dia sudah ada di dalam mobil dan memasang seat beal di tubuh nya.
“Ada lah. Aku bukti nya. Selain itu juga salah sendiri bengong seperti itu. Macam apa saja.” timpal Gentala.
“Bagaimana aku tidak bengong coba jika tanggapanmu seperti itu? Padahal tadi kau sedang menggebu-gebu mengatakan bahwa tidak akan melakukan kebodohan yang sama denganku. Tapi apa kenyataan nya. Kau bahkan tidak menyapa nya sama sekali padahal sudah di depan mata. Apa nama nya itu jika tidak bodoh.” Ucap Gilang sinis.
Gentala pun tersenyum mendengar ucapan sepupu nya itu dan segera menjalankan mobil meninggalkan gedung fakultas, “Untuk apa aku menyapa nya jika dia saja tidak ingin ku sapa. Bukan kah kau juga melihat nya bagaimana respon nya terhadapku. Dia hanya menyapa abang dan kakak ipar nya padahal kita juga tidak jauh dari nya. Dia bahkan tidak melihat ke arah kita. Tidak masalah jika memang tidak ingin menyapaku tapi bukan kah untuk sekedar menyapamu bisa dia lakukan. Namun dia tidak melakukan nya. Itu berarti dia memang tidak ingin ku sapa. Jadi untuk apa aku harus bersusah payah untuk menyapa nya jika dia sendiri tak menginginkan nya. Buang-buang waktu, pikiran dan tenaga saja.” ucap Gentala panjang.
“Ck … apa kalimat panjangmu ini karena terbawa emosi? Aku yakin ini bukan kalimat yang ingin kau ucapkan. Aku tahu ada sudut lain hatimu yang bertolak belakang dengan apa yang kau katakan ini. Memang kita sebagai laki-laki selalu berpikir dan mengambil keputusan berdasarkan logika dan bersifat rasional. Tapi tidak dapat kita pungkiri bahwa kita juga memiliki perasaan walaupun sekecil apapun dia. Lagi pula bukan kah kau yang mengatakan bahwa laki-laki itu harus berani mengungkapkan perasaan nya. Jangan jadi pengecut. Tapi kini kau … apa yang kau lakukan. Sama saja. Pengecut.” Balas Gilang.
“Aku bukan pengecut Lang. Aku hanya sedang merencanakan keputusan apa yang harus ku ambil ke depan nya. Aku ini sedang menenangkan perasaanku. Jangan mengataiku pengecut. Aku tidak menyukai nya.” ucap Gentala.
“Aku hanya mencoba mengingatkan apa yang kau katakan dulu padaku. Itu saja. Ingatan akan masalalu agar kau sadar bahwa apa yang kau ucapkan dulu padaku itu sangat menyakitkan untukku.” ucap Gilang santai.
Tiba-tiba Gilang kaget dan dia pun memposisikan tubuh nya dengan duduk yang benar karena Gentala melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata padahal jalanan lumayan ramai.
“Gen, apa yang kau lakukan? Aku belum ingin mati muda. Aku belum menikah dan masih ingin menikah dengan Dita dan memiliki anak-anak yang tampan dan juga cantik. Hentikan Gen, pelankan kecepatan nya. Jangan gila.” Ucap Gilang keras.
Sementara Gentala hanya menyeringai mendengarkan ucapan keras sepupu nya itu dan tetap mempertahankan kecepatan nya, “Hentikan Gen. Jangan ajak aku jika kau ingin segera menemui malaikat pencabut nyawa. Tinggalkan aku sendiri. Bukan seperti ini jika kau sedang patah hati.” Ucap Gilang.
Tiba-tiba Gentala mengerem mendadak karena mendengar ucapan sepupu nya itu. Gilang pun mengumpat karena dia hampir saja terjatuh jika tidak memakai seat beal. Tapi untung saja seat beal nya itu terpasang dengan baik jika tidak dia akan terjatuh ke depan dan pasti nya akan terjadi kecelakaan.
“Gen, apa kau sedang patah hati?” teriak Gilang keras.
“Aku tidak sedang patah hati Lang. Mana ada seorang Gentala Samudra patah hati.” Ucap Gentala tidak terima.
“Jika tidak sedang patah hati kenapa kau melajukan mobil dengan kecepatan seperti itu? Mana kau mengajakku lagi. Dasar bodoh.” Umpat Gilang.
Gentala pun tersenyum sinis, “Ouh jadi begitu kau karena sudah menemukan penyembuh patah hatimu itu kau jadi takut mati. Aku baru tahu dan ingin tertawa saat mendengar seorang Gilang Samudra takut mati padahal dulu dia juga melakukan hal yang sama saat sedang patah hati. Ahh itu bukan dulu karena baru terjadi beberapa hari yang lalu sekitar dua mingguan yang lalu.” Sindir Gentala.
“Ck … tidak perlu menyindirku seperti itu Gen. Aku tahu itu adalah kegilaanku dan aku tidak ingin kau melakukan hal yang sama dengan apa yang ku lakukan. Lagi pula aku sedang mencoba melupakan kebodohan itu dan mencoba untuk sadar dan bangkit untuk melanjutkan hidupku agar bisa lebih baik lagi.” Ucap Gilang.
“Yah sudah aku juga tadi itu hanya sedang mencoba medan jalanan. Apa cocok di jadikan jalanan balap atau tidak. Selain itu juga aku sedang mencoba kecepatan mobilmu ini. Ternyata memang cocok untuk di gunakan sebagai mobil balap.” Ucap Gentala lalu kembali menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.
“Jika kau ingin melakukan itu maka jangan lakukan bersamaku. Sungguh saat sedang sadar aku sangat takut merasakan kecepatan mobil yang seperti itu. Padahal saat aku sendiri yang melakukan nya aku tidak merasakan apapun. Hormon adrenalinku pasti sedang naik saat ini.” ucap Gilang.
“Itu juga memang salah satu tujuanku. Seperti nya sedikit memberikan rangsangan bisa membuatku semakin sehat nanti.” Balas Gentala dengan senyum.
“Iya sehat jika kita belum menemui kecelakaan.” Timpal Gilang.
Gentala yang mendengar itu pun kembali tersenyum.
“Aku ingin menyapa nya tapi seperti dia yang tidak menyapaku itu sudah membuatku sadar bahwa dia memang sedang mencoba menghindariku. Aku akan menurut untuk beberapa saat jika memang itu keinginan nya. Tapi aku janji ini bukan langkah untuk menyerah. Karena menyerah tidak ada dalam kamusku. Aku sangat menyayangi nya ah bukan aku mencintai nya tapi seperti nya cinta saja tidak cukup. Aku akan mencoba memantaskan diri untuk nya. Setelah itu nanti aku akan mendatangi nya. Semoga saja aku tidak terlambat seperti apa yang terjadi padamu sepupuku.” Batin Gentala di akhir menoleh sekilas ke arah Gilang.
***
__ADS_1
Di sisi lain, kini para ciwi-ciwi sedang sibuk menentukan menu utama yang akan mereka pesan hari ini.
“Ra, apa kau tahu hari ini tuan Jalal dan tuan Abrar akan datang juga ke sini.” Ucap Betty saat Ratna sudah selesai memesan hasil diskusi mereka untuk makanan utama hari ini.
Ratna pun menoleh dan menatap kedua teman nya itu, “Aku tidak tahu dan aku tidak peduli.” Balas Ratna.
“Are you sure?” kali ini bukan Betty yang bertanya tapi Andita.
“Kenapa kau bertanya begitu, Dit? Apa kau meragukanku?” tanya Ratna balik.
Andita pun mengangkat bahu nya, “Aku gak tahu. Aku hanya ingin menanyakan apa kau yakin dengan ucapan yang kau berikan itu.” ucap Andita.
“Tentu saja aku sangat yakin dengan apa yang ku ucapkan. Aku tidak peduli jika mereka mau datang atau tidak.” Ucap Ratna santai.
“Tapi kok aku gak percaya ya. Aku ragu.” Timpal Andita tersenyum. Betty pun ikut tersenyum saat menyadari bahwa Andita sedang mencoba menggoda Ratna.
“Ckk … jika kalian ragu maka itu masalah kalian. Tidak ada hubungan nya denganku.” ucap Ratna kesal.
“Hey, tidak perlu kesal juga Ra. Kami hanya bertanya baik-baik.” ucap Betty.
“Yah kalian memang bertanya baik-baik tapi senyum kalian itu sangat meremehkanku. Sangat menyebalkan.” Ucap Ratna dengan wajah cemberut nya.
Andita dan Betty pun seketika tertawa dan kemudian mendekati Ratna dan memeluk nya.
“Kami hanya ingin menggodamu saja Ra. Lagi pula menurutku kau cocok dengan tuan Abrar.” Ucap Andita.
“Siapa? Tuan Abrar? Gak, aku tidak cocok dengan nya. Ini bukan karena dia yang seorang asisten karena aku pun tahu dan sadar bagaimana keadaanku sekarang. Tapi dia memang tidak masuk dalam tipeku. Dia itu dingin bagai kutub.” Ucap Ratna.
“Tapi yang ku lihat dia tidak seperti itu Ra. Bukan kah saat dia dengan Zahra saat itu tidak kaku dan dingin. Dia sangat akrab dengan Zahra.” Ucap Betty.
“Kok kamu tahu sih hal itu? Apa dia mengatakan nya padamu?” tanya Andita tersenyum.
“Stop hentikan hal ini. Aku tidak menyukai pembahasan tidak berfaedah seperti ini.” ucap Ratna kesal.
“Ra, ini sangat berfaedah dan bermanfaat untuk masa depan kita. Kau ini … kalau aku jujur saja aku menyukai tuan Jalal. Dia sangat ramah dan sesuai dengan tipeku namun mungkin--”
“Kau yang bukan tipe nya.” sambung Andita.
“Dita kau sangat blak-blakkan. Hatiku langsung patah ah bukan hancur berkeping-keping karena ucapanmu itu. Tidak bisa kah kau juga ikut mengatakan sesuatu yang bisa membuatku senang sedikit apa. Kau justru langsung mengultiku.” Ucap Betty dengan wajah cemberut nya.
Andita yang mendengar itu pun tertawa, “Tapi seperti nya kalian memang cocok kok jika jadi pasangan. Satu nya sangat ramah, peka dan bertanggung jawab sedangkan kau tukang gosip, ceroboh, cerewet dan cukup bertanggung jawab sedikit saja jika tidak lupa.” Ucap Ratna.
“Ra .. kau ini sedang memujiku atau menjelekkanku?” tanya Betty.
“Tidak kedua nya. Aku hanya mencoba menyadarkanmu.” Balas Ratna tertawa.
“Ck kalian ini kenapa tidak mendukung perasaanku.” Ucap Betty dramatis.
“Kami mendukungmu kok Bet.” Ucap Gilang dan Gentala bersamaan yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan privat itu.
Ketiga gadis itu pun menoleh kepada dua pria yang datang di sana dari arah pintu, “Kalian sudah tiba?” tanya Betty tersenyum.
“Tentu saja Bet. Jika tidak mana mungkin kami di sini. Apa kau pikir ini hanya roh kami saja atau kami bisa memperbanyak diri seperti amoeba hingga bisa ada dua tempat yang berbeda dalam satu waktu yang sama.” balas Gilang dan segera duduk di samping Andita.
__ADS_1
“Hee’ehh aku hanya bertanya saja. Menyebalkan kalian.” ucap Betty.
“Kami ini sudah mendukungmu tapi kau justru mengatakan kami menyebalkan.” Ucap Gentala.
“Aku tidak butuh dukungan kalian. Aku hanya mau dukungan dari Andita dan Ratna saja.” ucap Betty menatap kedua teman nya itu.
“Kalian aneh. Bukan kah mereka tidak tidak mendukungmu?” ucap Gentala.
“Memang tapi itu hanya candaan.” Balas Betty.
“Huft, sungguh aneh. Bahasa wanita itu memang sulit di pahami.” Ucap Gentala.
“Hey, Gen. Kenapa kau mengatakan hal seperti itu? Apa kau sedang patah hati?” tanya Ratna.
“Seperti nya begitu. Zahra tidak menyapa nya.” ceplos Gilang.
“Dasar ember bocor.” Kesal Gentala.
“Ouh jadi begitu ya. Adik kecil kita itu sudah membuatmu gelisah setengah mati? Hahahaahh, aku tidak menyangkah orang sepertimu yang bersedia jadi mata-mata sepupumu dengan berhubungan dengan Kania ternyata bisa patah hati juga karena seorang gadis yang tidak menyapamu.” Ucap Betty di sertai tawa.
“Menyesal aku sudah mendukungmu Bet.” Timpal Gentala pasrah.
“Aku juga tidak memintamu.” Ucap Betty.
“Lalu di mana dia?” tanya Andita yang dari tadi diam sejak kedatangan Gilang dan Gentala.
“Dia ikut abang dan kakak ipar nya.” jawab Gilang lembut.
“Kemana?” tanya Ratna dan Betty bersamaan.
Gilang mengangkat bahu nya, “Kami juga tidak tahu. Husna hanya mengatakan mereka akan ke suatu tempat dulu. Dan menitipkan kepada kami untuk mengatakan bahwa mereka mungkin saja akan terlambat datang makan siang tapi mereka akan usahakan untuk datang tepat waktu. Lalu dia juga mengatakan jika nanti mereka terlambat makan siang nya bisa di mulai saja. Biaya nya tetap akan di tanggung oleh mereka.” jelas Gilang dengan tidak mengalihkan pandangan nya dari Andita.
“Lang … apa kau hanya bicara dengan Dita saja? Kami ada di sini loh tapi kau seolah menjelaskan nya hanya untuk Andita sendiri.” Sindir Ratna tersenyum.
“Ra!” protes Andita lembut.
Ratna pun hanya tersenyum sementara Gilang dia terlihat memperbaiki posisi duduk nya agar menghadap meja di hadapan nya, “Betty … apa tuan Abrar dan tuan Jalal akan datang juga?” tanya Gentala mengalihkan topic.
Betty mengangguk, “Hum, mereka akan datang. Husna sudah menghubungi mereka dan di pastikan mereka akan datang karena tidak bisa menolak permintaan yang nona muda.” Jawab Betty tersenyum karena mengingat bagaimana Husna itu membuat Abrar tidak punya pilihan untuk menolak makan siang.
“Kok bisa Husna melakukan itu?” tanya Gilang.
“Tentu saja bisa. Mereka itu adalah asisten pak Azzam. Terus di tambah lagi dengan status Husna yang seorang pewaris tunggal.” Jawab Betty.
“Iya aku tahu hal itu. Tapi apa mereka memang tidak punya kesibukkan.” Ucap Gilang.
“Waktu nya makan siang apa juga tetap bekerja?” timpal Andita.
Ratna dan Betty pun tersenyum mendengar ucapan yang keluar dari bibir Andita yang bisa membuat Gilang terdiam.
“Lang jawab lah pertanyaan Dita.” Ucap Betty.
“Ahh aku mengaku kalah. Kalian itu memang selalu menang.” Ucap Gilang pasrah.
__ADS_1
Bukan kah memang perempuan itu selalu benar. Jika pun salah tetap saja kembali ke perempuan selalu benar. Hehehehe!