
"Hiks .. Hiks .. Lalu kenapa tetap memaksa menemaniku menonton? Padahal sudah tahu film yang akan ku tonton film horor."
Betty mengatakan itu dengan mata nya yang sudah berkaca-kaca dengan air mata. Dia tidak bisa membayangkan apa yang di rasakan oleh Jalal saat tadi mencoba melawan rasa trauma nya. Jujur saja dia merasa sangat bersalah.
Jalal segera mengusap air mata di pipi Betty lalu menggeleng, "Hey tenang. Saku baik-baik saja. Aku tidak merasakan apapun. Hanya mengalami pingsan saja. Ini bukan salahmu karena kau sudah menanyakan apa aku takut sebelum nya. Tapi karena aku yang tidak ingin egoku terluka maka aku berbohong padamu. Ini salahku. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Its okay. Aku baik-baik saja." ucap Jalal.
Betty tetap saja menangis, "Jangan lakukan itu lagi kak. Kenapa harus tampil sempurna di hadapanku. Aku tahu kau pasti melakukan nya karena aku yang menyukai film itu yang sangat menginginkan menonton nya. Tapi jangan memaksakan dirimu juga kak. Aku tidak ingin menjadi penyebab--" ucapan Betty terhenti karena jati tekunjuk Jalal sudah berada di bibir nya memotong pembicaraan nya.
"Stt,, stt,, jangan mengatakan itu. Lihat aku. Aku baik-baik saja sekarang. Jangan pikirkan hal yang belum terjadi. Aku janji tidak akan mengulangi nya lagi. Aku janji tidak akan bohong saat kah menanyakan sesuatu. Sekarang jangan menangis lagi. Aku tidak ingin di hati pertama kita, aku sudah membuatmu menangis. Maafkan aku!" ucap Jalal.
Betty pun menatap mata Jalal lalu dia segera menghapus air mata nya menggunakan tisu yang di berikan Jalal.
"Lihat gara-gara kakak make up yang ku pakai luntur." ucap Betty sambil bercermin di cermin yang ada di mobil Jalal itu.
__ADS_1
Jalal yang mendengar itu pun tersenyum karena dia tahu saat Betty berkata seperti itu berarti gadis sudah baik-baik saja.
"Tinggal perbaiki lagi dek." ucap Jalal lembut.
"Ish tidak segampang itu, kak. Semua butuh proses. Ah sudah. Aku mau pulang saja. Tidak mau jalan-jalan lagi." ucap Betty jengkel karena make up nya sudah berantakan.
Jalal pun mengangguk dan menjalankan mobil nya keluar dari parkiran mall. Sementara Betty tetap sibuk memperbaiki riasan nya.
Di pertengahan perjalanan menuju kediaman Betty, tiba-tiba Jalal memperlambat mobil nya.
"Kita beli sesuatu dulu untuk di bawa ke rumahmu." ucap Jalal hendak turun dari mobil begitu mobil nya dia parkirkan di parkiran supermarket.
Tapi Betty segera menahan lengan Jalal, "Tidak perlu kak. Tidak perlu membawa apapun. Mereka pasti akan menyambutmu." ucap Betty.
__ADS_1
Jalal menggeleng, "Mungkin saja seperti itu. Tapi ini adalah pertemuan pertamaku dengan mereka. Jadi harus meninggalkan kesan yang baik bukan. Jangan halangi aku." ucap Jalal tetap dengan nada lembut nya.
Betty pun hanya bisa mengangguk setuju karena tidak mungkin bagi nya menghalangi Jalal jika memang laki-laki itu sudah mengambil keputusan nya. Di sisi ini dia bisa melihat sisi Jalal yang berprofesi sebagai asisten dari perusahaan nomor dua.
Jalal segera melepaskan tangan Betty yang masih menahan lengan nya dengan lembut.
"Kamu tunggu di sini saja. Saya tidak akan lama atau kamu mau ikut?" Tawar Jalal.
"Aku di sini saja." jawab Betty.
Jalal pun mengangguk, "Ohiya apa aku bisa mendapatkan sedikit bocoran terkait hal yang mungkin di sukai orang tuamu?" tanya Jalal sebelum pergi.
Betty pun tersenyum, "Ibu suka buah Anggur. Kalau ayah dia menyukai semua nya. Jadi terserah kakak saja mau membelikan apa. Percaya lah ini tidak perlu." ucap Betty.
__ADS_1
Jalal hanya mengangguk dan tidak menimpali ucapan Betty. Dia memilih segera masuk ke dalam supermarket.
"Dia, calon menantu yang perhatian."