
Tiba-tiba ada dua anak kecil yang berlari menuju eskalator dan menabrak orang yang hendak turun. Tangan Nala reflek menarik orang itu agar tidak terjatuh
"Hei! Kalian ini bagaimana?" bentaknya marah.
"Anda baik-baik saja?" tanya Nala terbata.
Orang itu menoleh ke arah Nala dan agak kaget melihat siapa yang tadi menariknya sehingga tidak jatuh.
"Kamu? Kenapa kamu bisa ada di sini?"
"Sa-saya sedang bersama Akira mencari kebutuhan bayi kita, Tuan Besar Addrian."
Kedua mata pria paruh baya itu menatap Nala dari atas sampai bawah dan juga matanya melihat ke arah perut besar Nala.
"Bi, Nala mana?" tanya Akira yang baru saja mengakhiri panggilannya.
"Tadi dia sedang melihat baju-baju bayi." Akira dan Bibi Anjani menelusuri lorong baju bayi.
"Itu, Nala." Akira melihat ke arah luar jendela dan segera berjalan keluar menemui Nala dengan daddynya.
"Akira," ucap Nala lirih.
"Hai, Dad," sapa Akira, tapi Addrian tidak membalas sapaan putranya. "Nala, kenapa kamu bisa bertemu dengan daddyku?"
"Tadi aku melihat daddy kamu dan aku ingin menyapanya dan tadi juga ada--."
"Permisi, aku tidak ada waktu untuk bicara." Addrian memasukkan ponselnya pada saku celananya dan langsung pergi dari sana.
Nala terdiam di tempatnya. "Nala, ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, ayo kita kembali ke dalam toko."
"Apa daddynya Akira tadi bicara yang tidak-tidak sama kamu, Nala?" tanya bibi Anjani.
"Tidak kok, Bi. Ayo kita kembali ke toko."
Mereka berjalan menuju ke dalam toko dan memilih lagi beberapa kebutuhan bayi mereka.
Di rumah besar milik keluarga Akira, di sana Kei sedang membungkus sebuah kado yang tadi dia beli di toko di mana Nala juga ada di sana. Tadi sebenarnya Kei ada di lantai bawah dan Addrian di lantai atas karena akan membeli sesuatu.
"Mom, ini apa untuk miss Nala?"
"Iya, Orlaf, tapi kamu jangan ramai-ramai, nanti kalau daddy kamu tau pasti mommy tidak boleh memberikan ini untuk Nala." Mereka berdua sedanf ada di ruang tengah dan daddynya ada di ruang kerjanya. Kei tau jika suaminya ada di ruang kerja pasti akan betah di sana.
"Memangnya daddy tidak tau kalau mommy membeli ini?"
__ADS_1
"Tau, tapi mommy bilang jika mommy membeli ini untuk kado buat anaknya teman mommy."
"Mommy pandai berbohong sekarang." Orlaf terkekeh.
"Sshht! Kamu jangan berisik, mommy terpaksa melakukan ini karena kalau tidak begini mommy tidak bisa memberikan sesuatu sama calon cucu kembar mommy."
"Daddy kapan ya, Mom, mau menerima kehadiran Miss Nala?"
"Huft! Mommy juga menunggu hal itu, Nak." Tangan wanita cantik itu mengusap pucuk kepala Orlaf.
Tidak lama Addrian sudah berdiri di sana melihat istri dan putranya. "Ini apa, Kei?" tanya Addrian sambil memberikan beberapa foto pada Kei.
Kei melihat foto-foto yang di berikan Addrian. "Kamu dari mana bisa mendapatkan foto ini, Addrian?"
"Kenapa kamu diam-diam melakukan hal itu?"
"Addrian, aku minta maaf. Aku rindu pada putraku dan aku ingin bertemu dengan Nala dan melihat keadaan cucuku. Kamu boleh marah denganku, tapi jangan melarangku melakukan hal itu."
"Kamu sudah berani melawanku, Kei."
"Daddy, Mommy tidak melawan Daddy. Aku juga salah dalam hal ini."
"Orlaf, kamu kembali ke kamar kamu, ini pembicaraan antara orang dewasa," ucapnya tegas.
"Daddy, aku ingin kita bisa berkumpul seperti dulu, apalagi sekarang ada miss Nala dan cucuk Daddy. Apa Daddy tidak bosan seperti ini?" Bocah kecil itu berusaha untuk meyakinkan daddynya.
Orlaf tidak berkata lagi, dia lalu berlari menuju kamarnya.
"Addrian, apa yang di katakan Orlaf benar, aku juga ingin kita bisa berkumpul lagi seperti dulu, apalagi kita akan memiliki anggota baru. Cucu kita Addrian, cucu kita tidak hanya satu, bahkan langsung dua. Apa kamu tidak ingin mendengar dirimu di panggil oleh mereka kakek?"
Addrian hanya diam di tempatnya. Kedua matanya sekarang malah fokus melihat ke arah kado yang sedang di bungkus oleh Kei.
"Apa itu juga akan kamu berikan pada gadis itu?"
"Namanya Nala, dan Dia adalah istri dari Akira menantu kamu Addrian."
Addrian tidak banyak bicara lagi, dia pergi dari sana. Kei hanya menghela napas panjang merasakan betapa kakunya suaminya itu.
Di rumahnya Nala dan bibi yang sedang menyiapkan makan malam, sedangkan Akira sedang berada di ruang kerjanya.
"Nala, coba kamu cerita sama Bibi. Apa yang kamu dan daddynya Akira bicarakan tadi?"
"Tidak ada apa-apa, Bi."
"Jangan berbohong sama Bibi kamu, Nala."
__ADS_1
Nala hanya terdiam. "Hei! Bibi ini tanya sama kamu, kamu jangan diam saja."
"Sebenarnya tadi aku mau menyapa, aku berharap daddynya mau menerima sapaanku, bagaimanapun juga daddy Akira adalah ayah mertuaku, beliau sudah seperti ayahku sendiri," cerita Nala sedih.
"Kamu jangan terlalu memikirkan hal itu, Nala. Kita berdoa saja semoga daddynya Akira bisa menerima kamu."
"Tadi juga beliau hampir jatuh saat akan turun eskalator saat ada dua anak kecil menabraknya, aku menarik tangannya ke belakang supaya tidak jatuh. Apa mungkin karena itu daddynya Akira terlihat marah padaku?"
"Apa? Kamu menolongnya? Dan dia tidak mengucapkan terima kasih?"
"Aku tidak mengharap dapat ucapan terima kasih, Bi. Aku sudah senang bisa menolongnya."
Bibi Anjani langsung memeluk Nala. "Tetaplah berbuat baik meskipun orang itu tidak menghargai perbuatan baik kita." Nala mengangguk perlahan.
Tidak lama terdengar suara ketukan pintu dari luar. Bibi Anjani menyuruh Nala melanjutkan membuat makanan dan Bibi Anjani yang membuka pintunya.
Ternyata ada orang mengirim sebuah paket untuk Nala.
"Dari siapa, Bi?" Nala melihat paket yang dikirim tampak bingung. Tumben ada kiriman paket untuk dia.
"Tidak tau, ini tidak ada namanya." Bibi Nala membolak balikkan paketannya. Namun, tidak ada nama pengirimnya.
Akira yang barusan keluar dari dalam ruang kerjanya melihat ada sebuah paketan di tangan bibi Anjani.
"Aku dapat paketan, Akira, tapi tidak ada nama pengirimnya," jelas Nala.
"Paketan itu dari mommy, mommy yang mengirim paketan itu untuk kamu Nala."
"Dari nyonya Kei?"
"Iya, tadi mommy menghubungiku dan mengatakan jika dia mengirimkan paketan untuk Nala."
Nala meletakkan spatulanya dan menghampiri bibinya, dia terlihat sangat senang sekali menerima paketan dari ibu mertuanya.
"Kamu buka saja, Nala."
"Iya, Bi."
"Bibi juga tidak sabar melihatnya."
Nala segera membuka paketan yang di berikan padanya. Alangkah terkejutnya saat Nala melihat isi paketan itu.
"Ini apa?" Nala membentangkan sebuah baju seperti baju pengantin dan ada bekas merah di sana.
Nala langsung berdiri menjauh dari paketan yang di terimanya. Nala memeluk tubuh Akira. Bibi Anjani mencium bau anyir pada baju yang ternyata itu bekas darah.
__ADS_1
"Akira itu apa?" Nala tampak ketakutan.
Satu bab dulu ya, author ini sedang opname jadi ngetiknya di rumah sakit