
Uni yang duduk di depan dengan penonton lainnya tidak sabar untuk melihat pertunjukkan di mulai. Uni melihat ke arah belakang di mana Ara dan yang lainnya duduk. “Kenapa mereka tidak mau duduk di depan? Dan kenapa
bangku di depanku juga banyak yang kosong? Apa mereka memang tidak mau duduk di
depan? Atau memang sudah sering melihat pertunjukan seperti ini?” Uni berdialog sendiri.
“Ara, kenapa kamu tidak mengajak Uni duduk bersama kita? Kamu kan tau jika nanti duduk di depan dia bakal terkena sesuatu hal yang
tidak menyenangkan?” tanya Aro pada Ara.
“Kamu santai saja, dia sedang bahagia karena tidak pernah ke sini dan nanti dia akan mendapat kejutan yang tidak akan bisa dia lupakan dan pastinya dia akan senang. Kamu kenapa sangat khawatir begitu? Lagian hal itu
juga tidak akan membahayakan dirinya.”
“Dasar kamu! Kasihan kalau kamu mengerjainya.” Aro akan berdiri dari tempatnya, tapi dengan cepat tangan Ara memegang tangan Aro. “Ara!”
“Sudahlah, Aro, tidak akan apa-apa, dia akan malah senang nantinya. Biarkan dia menikmati pertunjukan di sini dengan senang. Duduk saja
Aro.”
Aro akhirnya ikut duduk dan mulai menikmati pertunjukkan yang di tampilkan. Uni terdengar beberapa kali tampak sangat bahagia melihat
pertunjukan drama Action yang di tampilkan dan sesekali tertawa dengan senang saat ada adegan komedinya.
“Sekarang saatnya pertunjukkan di mulai,” Ara bermonolog sendiri.
Saat sang pemeran utama pria ingin menolong sang putri yang di sekap dengan di pasangi bom pada tubuhnya, ada penjahat yang menghalangi dan sang pemeran utama pria bisa mengalahkannya, lalu bom yang ada pada tubuh sang putri berhasil di lepaskan, setelah itu sang pemeran utama pria melempar bom yang di pegangnya pada sumur yang ada di tempat pertunjukan dan tidak lama terdengar ledakan yang cukup membuat kaget, tapi tidak hanya ledakan yang terdengar, ternyata air dari sumur itupun menyembur keluar dan ...
Byurr!
Para penonton yang duduk di barisan depan termasuk Uni terkena semburan air itu dan baju mereka pada basah semua. Ara yang duduk di
belakang malah tertawa dengan senangnya. Uni menoleh dengan wajah sedih dan lucunya
melihat ke belakang.
“Aku basah semua,” ucapnya dengan ekspresi lucu.
“Makannya aku tidak mau duduk di depan, enakkan duduk di sana, aku sudah pernah merasakannya dan sekarang kamu yang kena.” Ara malah tertawa dengan senangnya.
__ADS_1
“Kamu usil sekali, Ara!”
“Maafkan kami ya, Uni, tapi kata Ara agar membiarkan kamu mendapat kejutan pertama kali di sini,” Nala juga kasihan, tapi juga ingin
tertawa.
“Lalu, aku basah kuyup begini bagaimana nanti pulangnya?”
“Ya Ampun! Aku lupa jika tadi tidak memberitahu kamu untuk membawa baju.” Sekarang wajah Ara tampak bingung dan bersalah. “Aku juga tidak membawa baju ganti.”
“Ya sudah, nanti ayah akan belikan Uni baju ke distro yang ada di sini, kamu boleh memilih bau yang kamu inginkan.”
“Ide yanga bagus, Yah.”
Setelah selesai melihat pertunjukkan di sana, mereka mencari distro di mana Uni bisa membeli baju dan sekalian untuk ganti. “Kamu tega sekali mengerjaiku, Ara?”
“Maaf, habisnya kamu terlihat senang sekali tadi jadi aku tidak tega menyuruh kamu duduk belakang.”
“Iya, sih! Aku benaran suka sekali bisa masuk ke sini, seumur hidup mungkin aku tidak akan bisa masuk ke sini kalau tidak diajak oleh
keluarga kamu, tapi sekarang aku tidak enak harus dibelikan ayah kamu baju.”
Mereka sampai pada distro dan Uni masuk ke dalam di temani oleh keluarga Ara. Uni tampak bingung melihat baju di sana terdiri dari atasan
yang kebanyakan lengan u can see karena yang model lengan pendek hanya ada ukuran anak-anak.
“Kenapa bajunya lengan u can see semua? Aku tidak biasa memakai baju seperti ini.” Wajah Uni tampak bingung. “Ini ada dress juga
lengannya kelihatan begini?”
“itu ada baju cowok, tapi kalau kamu pakai pasti kebesaran sangat.” Ara merentangkan kaos khusus cowok.
“Jadi pilih yang mana, Uni?” tanya Nala.
“Ibu Nala, tidak ada yang lengan pendek, aku tidak terlalu nyaman memakai lengan seperti itu.”
“Tidak apa-apa hanya sementara, nanti sampai rumah kamu bisa memakai baju Ara.”
Akhirnya Uni memilih kaos panjang hanya saja lengannya u can see, daripada dia memakai baju basah, tapi Uni tampak terlihat tidak nyaman. Aro yang melihatnya tampak juga tidak nyaman melihat Uni dari tadi menarik
__ADS_1
lengan bajunya agar terlihat agak panjang.
“Pakai saja jaket milikku.” Aro memberikan jaket model Hoodie bahan baby terry mix jeans
miliknya pada Uni. Uni tampak speechless menerima jaket milik Aro. “Cepat pakai! Dari pada aku melihat kamu dari tadi menarik-narik lengan baju kamu, malah terlihat aneh.” Aro berjalan pergi dari sana.
Uni langsung memakai jaket itu dan ternyata cocok walaupun agak kebesaran sedikit. Ara saling melihat pada nenek Anjani. Bahkan Nala dan Akira juga saling melihat, mereka tidak menyangka Aro akan bisa lebih peduli seperti itu.
Mereka berjalan menuju di mana mobil Akira di parkir karena hari sudah mulai malam, dan tempat itu juga akan di tutup jadi mereka
memutuskan untuk pulang.
“Akira, aku haus, apa bisa kamu carikan air minum sebentar?”
“Baiklah, aku akan belikan di toko dekat sana.” Saat Akira akan turun, Uni menawarkan jika dia saja yang akan membelikan air minum untuk
Nala. Akhirnya Uni turun dari mobil dan dia berjalan menuju toko yang agak jauh sedikit dari mobil mereka dan Uni membeli dua botol besar air mineral.
“Ayah akan menyusul Uni karena ayah juga mau membelikan sesuatu untuk pacar ayah ini.” Akira melihat pada Nala.
“Kamu itu, kenapa bersikap begitu di depan anak-anak, memangnya kamu mau membeli apa?”
“Ada pokoknya.” Akira turun dan dia menyusul Uni ke toko di mana Uni sedang mengantri untuk membeli air mineral.
“Ayah Akira, ada apa ke sini?” tanya Uni.
“Belum selesai, Ya?”
“Ini tinggal menunggu antri di kasir.”
“Kalau begitu kamu tunggu sebentar karena ayah akan membeli sesuatu untuk Ibu Nala.” Uni mengangguk dan Akira pergi dari sana.
Dari kejauhan ada seseorang yang sedang memperhatikan Uni, dan gadis itu tampak terkejut melihat Uni dan Akira ada di sana. “Itukan, Uni? Kenapa dia bisa berada di sini? Apa dia tidak bekerja? Dan itu dia sama siapa?
Ganteng sekali, tapi usianya terlihat lebih tua dari Uni?”
Akira ternyata membelikan Nala permen Lollipop berbentuk hati yang berukuran agak besar dan kemudian dia membayarnya dan mengajak Uni kembali ke mobilnya.
“Iya, itu Uni dan dia sedang berkencan bersama om-om tajir. Ternyata benar dugaan aku, dia juga gadis yang memakai topeng, kelihatannya
__ADS_1
saja dia polos dan lugu, tapi ternyata dia sama saja seperti diriku. Dia pintar sekali, om nya sangat tampan.”