My Secret Love

My Secret Love
73


__ADS_3

Sesuai kesepakatan mereka semalam bahwa mereka akan melakukan pesta pernikahan dalam waktu seminggu lagi tepat di hari ulang tahun Husna. Kini Azzam dan Husna sudah berada di kediaman milik orang tua Husna untuk membicarakan rencana mereka itu.


“Kalian yakin nak mau mengadakan pesta pernikahan? Bukan kah kalian sudah selama ini saling menutupi identitas satu sama lain?” tanya umi Balqis.


Husna dan Azzam pun mendengar ucapan umi Balqis itu saling menatap satu sama lain, “Kami yakin bunda. Kami akan melakukan pesta pernikahan.” Jawab Husna.


“Hum, baiklah jika memang begitu. Untuk urusan vendor biar abi dan umi yang mengurus nya. Kecuali untuk WO jika kalian punya keinginan memakai jasa WO mana maka katakan saja. Lalu untuk gaun pernikahan dan jas juga kalian pilih sendiri saja.” ucap umi Balqis.


“Apa gak merepotkan umi? Biar kami saja yang mengurus nya umi.” Ucap Azzam sungkan.


“Hey, jangan sungkan begitu nak. Ini memang sudah jadi keinginan kami. Husna adalah putri kami satu-satu nya. Pesta pernikahan nya sudah kami tunggu. Jadi tentu saja kami ingin terlibat langsung dalam persiapan pesta pernikahan nya.” Ucap abi Syarif.


“Tapi abi dan umi tidak boleh lelah-lelah. Aku tidak mengizinkan nya.” Ucap Husna.


“Iya.”


Mereka pun kini membicarakan semua nya. Membicarakan semua persiapan pesta pernikahan yang tentu saja pasti mewah. Mereka menyepakati pesta pernikahan akan di gelar di ball room hotel milik keluarga Azzam. Yah, memang salah satu usaha milik Azzam adalah bisnis yang bergerak di bidang properti.


Sebenar nya jika pun di bandingkan keluarga mana yang lebih kaya antara keluarga Azzam dan keluarga Husna. Mereka sama-sama berasal dari keluarga kaya raya yang menyamar jadi orang paling sederhana. Terutama Husna. Dia memang seperti orang biasa saja hingga bahkan di juluki si culun hanya karena gaya pakaian nya yang kuno dan mengikuti syariat islam dengan ketat.


Kekayaan keluarga Azzam dan kekayaan keluarga Husna hanya berbeda tipis saja. Husna sedikit lebih kaya saja dari Azzam. Tapi mereka saling menyayangi satu sama lain bukan karena kekayaan. Mereka tidak menjadikan kekayaan sebagai tolak ukur saling menghormati satu sama lain. Kedua nya menjunjung kuat hukum islam. Di mana dalam pasangan suami istri. Istri harus menghormati suami nya apapun bentuk suami nya itu. Husna pun melakukan hal itu. Walaupun sebelum dia tahu bahwa suami nya itu ternyata adalah orang kaya. Husna tetap menghormati suami nya dan begitu dia tahu pun tetap saja Husna menghormati suami nya. Tidak ada yang berubah hanya karena status sosial mereka yang mungkin akan merasa bahwa siapa yang paling tinggi. Hal itu lah yang menjadi kunci adem ayem rumah tangga kedua nya. Lagi pula mereka masih bisa di katakan pengantin baru karena memang pernikahan mereka yang bahkan belum genap sebulan.


***


“Apa? Kalian akan melakukan pesta pernikahan?” teriak Betty keras hingga membuat Husna dan Andita menutup telinga mereka itu dari lengkingan suara Betty.


Betty yang melihat dan menyadari bahwa suara nya keras pun seketika cengesan dan meminta maaf, “Maaf guys! Aku lupa bahwa kita ada di kampus dan berada di tengah-tengah orang yang mungkin saja bisa mendengar dan bisa bicara. Maaf ya sudah merusak gendang telinga kalian. Bagaimana juga kamu Na tiba-tiba saja mau mengadakan sesuatu. Mau mengadakan pesta pernikahan dalam waktu seminggu. Bayangkan saja pesta pernikahan dalam waktu seminggu. Seminggu itu waktu yang singkat. Ahh aku tidak bisa membayangkan nya. Bagaimana bisa juga pesta ulang tahun bisa berubah jadi pesta pernikahan coba.” Ucap Betty panjang lebar.


“Apa sudah selesai?” tanya Husna setelah Betty menyelesaikan ucapan nya itu di sertai dengan helaan nafas.


Betty pun mengangguk, “Ya sudah dengarkan. Aku juga sebenar nya ingin nya pesta ulang tahun saja dulu seperti apa yang ku katakan kemarin. Tapi mas Azzam mengusulkan pesta pernikahan juga. Ya sudah sekalian saja. Lagi pula mas Azzam yang sibuk mengurus nya. Aku hanya memikirkan gaun pernikahan saja yang bahkan umi ternyata sudah menyiapkan sejak setahun lalu. Menyebalkan bukan. Usiaku saja baru mau 21 tahun tapi ternyata umiku sudah menginginkan aku menikah sejak setahun lalu.” Ucap Husna.


“Memang agak lain ya orang tuamu. Tapi kamu memang sudah cocok juga Na jadi seorang ibu. Kamu memang masih terlihat muda bahkan jauh lebih muda dari usiamu itu. Tapi kau dewasa dalam segala hal. Kau pasti bisa memikul tanggung jawab jadi ibu muda.” Ucap Betty bijak.


Husna pun tersenyum, “Aku tidak sedewasa itu Bet. Kamu muji nya terlalu.” Balas Husna.


“Ya sudah sekarang apa nih yang bisa kami bantu?” tanya Andita.


“Bantu aku mencatat siapa saja yang akan kita undang dari teman-teman kampus dan juga para dosen di kampus.” Ucap Husna


“Ahh itu. Baiklah. Serahkan saja pada kami nyonya bos. Biar kami saja yang menulis nya. Nyonya bos menunggu saja ya.” Ucap Betty.

__ADS_1


Husna pun hanya tersenyum saja dan memilih untuk menunggu karena memang Betty dan Andita melarang nya untuk melihat atau memberi pendapat saat mereka belum menyelesaikan pekerjaan mereka itu.


“Apa masih lama?” tanya Husna.


“Hum, sepuluh menit lagi.” Ucap Betty.


“Na … berapa orang yang akan kita undang di antara teman-teman kita ini?” tanya Andita.


“Ya terserah kalian.” ucap Husna.


“Wah, parah. Ternyata begini ya orang kaya memutuskan sesuatu. Aku tidak menyangka akan melihat hal yang seperti ini. Terserah kami saja. Okay.” Ucap Betty.


“Aku tidak sekaya itu Bet. Aku hanya ingin mengundang teman-teman saja untuk ikut dalam euphoria kebahagiaanku. Tidak kah kalian senang akan hal itu?” tanya Husna.


“Hm, tentu saja kami senang Na. Jangan menanyakan pertanyaan seperti itu.” ucap Andita di angguki oleh Betty. Husna pun tersenyum mendengar ucapan Andita itu.


“Na … setelah ini aku mau melihat kediamanmu. Ajak lah aku ke sana Na. Jujur saja aku semalam melihat kekayaan milik keluargamu Na dan aku pusing saat tidak bisa menghitung nol nya semalam. Jadi aku ingin tahu kediamanmu.” Ucap Betty.


“Baiklah. Aku akan mengajakmu ke sana. Tapi apa sudah selesai?” tanya Husna.


Betty dan Andita pun mengangguk lalu segera memberikan catatan itu kepada Husna yang segera dia baca, “Hmm, okay. Semua sudah cukup. Terima kasih. Aku akan mengirim nya ke pihak percetakkan.” Ujar Husna tanpa memberi komentar apapun karena menurut nya apa yang sudah di tulis oleh kedua teman nya itu layak di percayai tanpa harus di komentari lagi.


“Ya sudah kita pulang. Kita pakai mobil Betty dulu ya. Aku tidak punya mobil Bet. Aku ini beban suamiku.” ucap Husna.


“Kau terlalu percaya dengan apa yang di tulis di google terkait kekayaan kami Bet. Itu semua bohong.” Ujar Husna.


“Ahh aku seperti nya lebih percaya google dari pada kamu Na.” timpal Betty kembali.


Andita yang mendengar ucapan Betty pun tersenyum karena memang apa yang di katakan Betty itu adalah kebenaran nya. Keluarga Husna memang sekaya itu. Seperti sebuah pepatah lama. Merendah untuk meroket ahh atau apa lah ungkapan nya yang pasti seperti itu lah makna nya.


Ketiga wanita itu pun segera menuju tempat di mana mobil Betty di parkir. Husna menghubungi sang suami untuk meminta izin pulang lebih dulu.


“Dita!” panggil seseorang dari arah belakang mereka. Ketiga wanita itu pun menoleh ke arah sumber suara.


Seketika yang memanggil itu diam di tempat nya. Tubuh nya terasa kaku dan tegang melihat siapa yang jalan bersama Andita, “Ck, kenapa aku bisa lupa bahwa Husna dan Andita itu dekat. Sekarang apa yang harus aku lakukan. Lagi pula kenapa juga aku sudah tida bisa lagi mengenali Husna dari belakang padahal biasa nya aku mengenali nya.” Batin Gilang. Yah, pria itu adalah Gilang yang sudah keluar dari rumah sakit kemarin dan memutuskan untuk memulai aktivitas nya di kampus dan menyelesaikan skripsi nya agar bisa lulus bareng bersama teman-teman angkatan nya yang sudah lebih dulu selesai.


Husna yang melihat Gilang hanya diam saja di tempat nya pun kini beralih menatap Andita yang juga hanya diam saja, “Dita, pergi lah. Temui dia. Dia mungkin butuh bantuanmu.” Ucap Husna.


Andita pun segera tersadar dan tersenyum menatap Husna, “I-itu mungkin tidak penting Na. Jika pun penting. Dia pasti akan mendekatiku.” Ucap Andita.


“Tuh, dia berjalan mendekati kita.” Ucap Betty lirih.

__ADS_1


Tidak lama Gilang dan Gentala pun sudah berada di depan mereka, “Selamat pagi menjelang siang semua.” Sapa Gilang.


“Pagi juga.” Balas Husna tersenyum hingga mata nya pun terlihat mengecil.


“Kamu ada perlu sama Dita?” tanya Husna.


Gilang pun mengangguk perlahan. Suasana canggung di antara mereka itu tetap ada walaupun kedua nya mencoba untuk berdamai dengan apa yang sudah terjadi. Tapi perasaan tetap lah perasaan yang tidak bisa hilang dengan semuda itu. Terutama Gilang yang mencintai Husna sejak tiga tahun lalu. Jadi tentu saja melupakan hal itu tidak semuda membalikkan telapak tangan. Semua nya terasa sangat sulit untuk di lakukan. Tapi Gilang berjanji akan melanjutkan masa depan nya. Akan berusaha melupakan Husna dan menemukan kebahagiaan nya sendiri yang seperti nya sudah dia sadari beberapa hari ini. Tapi dia masih ingin meyakinkan bahwa itu bukan sebuah rasa pelarian saja.


“Ya sudah jika begitu. Kamu bisa pergi bersama Dita. Kami pergi dulu. Dita kamu temani Gilang dulu. Kasihan dia butuh bantuanmu.” Ucap Husna menatap Andita.


Andita yang mendengar ucapan Husna pun kini menatap Husna balik, “Tapi aku ingin ikut kalian.” ucap Andita.


“Ahh kamu masih punya urusan ya. Okay … tidak apa-apa. Aku bisa menanyakan hal itu nanti saja. Kalian pergi lah dulu selesaikan urusan kalian.” ucap Gilang.


“Ee’ehh tidak bisa begitu. Begini saja katakan saja kau butuh bantuan apa ketua tingkat yang terhormat?” kali ini Betty yang bertanya.


“Itu hanya butuh bantuan saja untuk menyusun bab 3 untuk proposalku. Selalu saja salah dan mendapat revisi. Berhubung kalian sudah selesai menyusun proposal. Bisa tidak membantu memberi tips sedikit saja agar aku bisa menyelesaikan proposalku. Terutama bab tiga itu.” ucap Gilang menjelaskan.


“Hum, jika begitu Andita dan Husna ahli nya. Kau tahu kan ketua tingkat. Aku ini hanya ratu gosip saja. Aku kurang paham dengan yang begini. Aku hanya beruntung bisa satu bimbingan dengan mereka sehingga aku juga ketularan rajin nya. Jadi bisa maju proposal deh.” Jawab Betty cengesan.


Kini Gilang pun menatap Andita dan Husna bergantian, “Baiklah. Kami akan membantu kalian dulu. Baru nanti kita pergi. Bisa kan Betty seperti itu?” tanya Husna kepada Betty karena Betty lah yang ingin mengunjungi kediaman milik Husna.


Betty pun mengangguk, “Hmm, boleh lah. Kasihan juga ketua tingkat kita ini. Baru saja pulang dari rumah sakit tapi harus menghadapi revisian proposal dari dosen. Kita sebagai makhluk yang baik hati dan berbudi luhur harus saling membantu.” Ucap Betty seperti biasa pasti selalu dramatis. Hal itu sudah jadi kebiasaan bagi teman sekelas Betty sehingga ke empat orang di sana sudah tidak merasa aneh lagi dan justru merasa bahwa hal itu biasa.


“Ya sudah jika begitu. Kita selesaikan di kantin saja.” usul Gentala.


“Gak usah di kantin. Di sana saja.” tunjuk Andita di salah satu tempat yang memang di sediakan untuk mahasiswa bersantai atau menunggu jam kuliah di mulai.


“Kenapa gak di kantin, Dit?” protes Betty.


“Tentu saja untuk menyusun hal seperti itu tidak boleh di kantin. Yang ada jika kita di kantin. Bukan menyusun proposal nama nya tapi makan.” Ucap Andita.


“Yah kan memang itu tujuan nya kantin Dita.” Timpal Betty lagi.


“Dan karena alasan itu lah aku menolak usul kantin. Kita tidak akan bisa fokus nanti jika memilih kantin sebagai tempat nya. Jadi di sana saja sebelum keburu. Lagi pula Husna juga pasti tidak nyaman jika di kantin.” Ucap Andita melirik Husna.


Husna pun tersenyum. Dia senang Andita yang mengerti diri nya. Walaupun sudah mengirimkan pesan kepada sang suami bahwa akan membantu Gilang bersama yang lain dan sudah di izinkan. Tapi Husna tetap saja punya batasan sendiri terhadap perasaan nya dan status nya yang sudah tidak lagi lajang tapi wanita bersuami.


“Ya sudah deh kita ke sana saja.” ucap Betty akhir nya setuju.


Mereka berlima pun segera menuju tempat yang sudah di setujui itu. Begitu di sana Gilang segera membuka laptop nya dan memberikan nya kepada Andita. Dia juga sudah sadar diri bahwa Husna bukan lagi seorang wanita lajang yang bisa dia miliki lagi. Dia sudah sadar diri bahwa Husna sudah memiliki pasangan nya sendiri. Dia sudah mencoba berdamai dengan keadaan nya.

__ADS_1


Andita dan Husna pun berdiskusi bersama Gilang dan Gentala terkait proposal mereka itu. Betty hanya sesekali saja memberikan pendapat nya untuk hal yang tentu saja yang dia mengerti. Jika tidak dia mengerti maka dia diam saja tanpa ikut campur sama sekali.


__ADS_2