My Secret Love

My Secret Love
Kencan masih Berlanjut


__ADS_3

Aro mengajak Sifa pergi dari danau karena sudah bosan di sana. Aro ingin mengajak Sifa makan di sebuah cafe yang tampak ada live musiknya di sana.


"Kita lanjutkan bicaranya di cafe itu saja."


"Wah! Kamu ternyata pria yang romantis ya? Tau saja jika ada lapar dari tadi."


"Jagan GR dulu, aku sendiri juga lapar karena tadi ke sini aku belum makan, apalagi tadi di rumah Uni sudah membuatkan aku makanan kesukaan aku." Aro berjalan sekali lagi mendahului Sifa.


"Oh ... aku kira kamu pengertian kalau berkencan dengan seorang gadis. Eh iya, Uni itu gadis yang manis, ya? Apa kamu tidak tertarik dengannya?"


Aro seketika menghentikan langkahnya dan menoleh pada Sifa yang ada di belakangnya. "Menurut kamu, jika kamu seorang pria, apa kamu akan tertarik dengan Uni?"


"Hah? Kalau aku seorang pria?" Sifa sepertinya sedang berpikir. "Kalau aku mungkin tertarik, dia manis, kelihatan baik, dan dia pintar, apalagi kamu bilang dia membuatkan kamu masakan kesukaan kamu. Namun, kalau di lihat dia bekerja menjadi pembantu rasanya pasti memalukan punya pacar seperti Uni."


"Memalukan?"


"Iya. Ya! Maksud aku, bukan merendahkan pekerjaannya, tapi kamu bilang kan kalau aku jadi seorang pria memandang Uni."


"Tapi aku tidak malu mencintai Uni," ucap Aro tegas dengan kembali menoleh ke arah depan.


Sifa sampai melongo mendengar ucapan Aro barusan. "Apa? Apa kamu bilang?"


Sifa yang tadinya berada di belakang Aro mendadak pindah tempat sekarang dia di depan Aro.


"Ayo kita pergi makan, aku lapar." Aro kembali berjalan menuju cafe itu. Sifa seolah masih mencoba mencerna apa kata-kata Aro barusan itu serius, atau pria ini memang pria yang unik? Dia menyukai seorang pembantu rumah tangga?


Aro memesan beberapa makanan, dan Sifa duduk di depannya memperhatikan Aro yang makan. Sifa malah mengamati perlahan-lahan wajah Aro. "Aro kamu serius menyukai Uni?"


"Makan dulu, kalau sudah kenyang kita berbicara lagi." Sifa akhirnya mau mengikuti Aro. Mereka makan malam bersama.


Dari kejauhan ada seseorang yang memperhatikan mereka berdua yang sedang makan, tampak sesekali Sifa tersenyum kecil saat makan. Entah apa yang di bicarakan antara mereka?


"Apa itu kekasih, Aro? Mereka tampak akrab sekali, aku bahkan tidak pernah melihat gadis itu?" dialognya sendiri.


"Jadi gadis yang kamu ceritakan itu, Uni? Oh my God! Aku benaran tidak percaya?" Sifa malah terkekeh.


"Apa ada yang lucu," kata Aro tegas.

__ADS_1


"Maaf-maaf, bukannya aku menertawakan kamu, hanya saja aku benar-benar tidak menyangka jika selera kamu kenapa sama Uni yang hanya--."


"Seorang pembantu?" potong Aro. "Apa status sosial penting untuk suatu hubungan? Uni juga jika boleh memilih dia tidak ingin menjadi seperti itu, tapi keadaan yang membuatnya seperti itu."


"Iya juga sih! Tapi dia kan bisa mencari pekerjaan yang lebih baik, Aro."


Aro tersenyum miring. "Kamu tidak tau apa saja yang sudah dilalui gadis itu. Aku mencintainya bukan karena statusnya atau melihat wajahnya. Ada sesuatu pada dirinya yang membuat aku jatuh cinta."


"Kamu memang pria yang baik, susah mencari pria seperti kamu."


"Aku malah senang Uni bekerja di rumahku, dengan begitu aku bisa setiap hari bertemu dengannya dan melihatnya lebih dekat."


"Lalu, kata kamu dia menolak kamu? Kenapa dia sok jual mahal begitu? Kalau jadi dia aku akan sangat senang dan bangga dicintai pria seperti kamu."


"Status sosial antara aku dan dia yang membuat dia menolakku. Di berpikir jika dia tidak pantas dicintai karena dia hanya seorang pembantu."


"Dia sadar diri juga ternyata. Ops! Maksud aku, dia tau menempatkan dirinya, tapi apa kamu yakin karena itu? Atau bisa saja dia memang tidak menyukai kamu, Aro."


"Dia mencintaiku dan aku dapat merasakannya, hanya saja dia tidak mau membuat diriku malu dan dalam masalah. Dia benar-benar gadis bodoh!" Aro tampak kesal.


"Maksud kamu?"


"Ya ... Uni kan tidak mau, daripada kamu mencoba mengejarnya, lebih baik kamu cari lainnya. Kan masih ada gadis yang lebih dari Uni. Misalnya aku." Sifa terkekeh.


Aro menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak tertarik."


"Hem ... aku kan masih usaha, siapa tau kamu mau berubah pikiran."


"Tidak akan," kata Aro tegas sambil menyeruput lemon tea kesukaannya.


"Tidak di sangka, aku bisa dikalahkan dengan Uni yang hanya seorang pelayan di rumah kamu." Sifa menundukkan kepalanya di meja.


"Kamu kan memang dari awal bukan masuk kriteria aku, Sifa. Kalau aku menyukai kamu, dari dulu pasti aku akan mengejar kamu," terang Aro santai.


Sifa mengangkat kepalanya. "Iya, sih! Lalu apa usaha kamu sekarang pada Uni? Kamu membiarkan Uni begitu saja? Atau kamu masih mencoba meyakinkan jika kamu tidak memperdulikan tentang status kalian?"


"Aku tidak tau, sekarang aku sedang marah dengan gadis keras kepala yang aku cintai itu. Dia benar-benar membuatku harus menahan emosi dalam-dalam."

__ADS_1


Sifa sedang berpikir. "Bagaimana kalau aku membantu kamu?"


"Membantu? Maksud kamu?" Kedua alis Aro bertaut.


"Ya membantu agar Uni mau mengakui dia mencintai kamu dan menghilangkan tembok pembatas status sosial itu."


"Caranya?"


"Buat dia cemburu sama kamu. Kamu berpura-pura dekat sama seseorang. Aku misalnya."


"Kamu?"


"Iya, kita hanya pura-pura saja."


"Kamu masih usaha, Ya?"


"Huft! Usaha pun percuma, kamu kelihatannya pria yang sangat-sangat setia dan susah berpindah ke lain hati. Namun, kalau kamu jatuh cinta padaku pada akhirnya ... ya aku mau bilang apa?" Sifa menggedikkan bahunya pelan.


"Baiklah aku setuju. Ini rahasia kita berdua, kan? Jangan memberitahu Ara karena dia berteman baik dengan Uni."


"Tidak akan, kamu tenang saja. Kapan lagi aku jalan dan pura-pura pacaran sama pria setampan dan mempesona seperti kamu."


Aro hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Sifa. Tidak lama Sifa izin pergi ke toilet sebentar dan Aro menunggu Sifa di sana.


Di dalam toilet itu kebetulan agak ramai, jadi Sifa menunggu di depan pintu. Mungkin karena menunggu lama, Aro menghubungi ponsel Sifa.


"Ada apa, Aro?"


"Kamu belum selesai? Ini sudah malam soalnya, dan aku berjanji pada orang tuaku tidak akan malam-malam mengantar kamu pulang."


"Sebentar lagi ya, Baby. Ini aku masih mengantri. Lagipula aku tidak akan di marahi jika pulang malam. Aku sudah izin keluar sama kamu."


"Baby? Dasar! Ya sudah, aku tunggu."


"Hihihi!" Sifa mematikan panggilannya. "Pria ini benar-benar menyenangkan.


Hanya tinggal satu orang di depan Sifa, gadis di depan Sifa malah memberi izin pada Sifa agar masuk duluan.

__ADS_1


__ADS_2