My Secret Love

My Secret Love
Ribetnya


__ADS_3

"Ih ...! Aku ingin rasanya mencakar muka kamu. Kamu kenapa keterlaluan begitu pada Ara? Apa salah dia sama kamu?"


"Dia tidak salah apa-apa."


"Lantas? Kenapa kamu lakukan itu pada Ara?"


"Ada sesuatu hal yang tidak bisa aku ceritakan sama kamu."


"Ada apa sih kamu sebenarnya? Jujur ya, awal melihat kamu itu, aku merasa kamu itu orangnya aneh dan misterius, tapi aku melihat ada sisi baik dari diri kamu. Pokoknya begitulah. Aku sendiri bingung menjabarkannya."


"Aku sebenarnya--."


Belum selesai Dean berbicara tiba-tiba jam masuk kelas sudah tiba. Tania segera berlari keluar dari perpustakaan dan menuju ke kelasnya.


Pelajaran kembali di mulai.


Jam kuliah sudah selesai, Ara keluar dari dalam kelasnya bersama dengan teman-temannya. "Kamu serius Ara mau makan malam dengan Mas David kamu itu?" tanya Marta.


"Iya, ayahku mengajak kita sekeluarga makan malam, dan Mas David juga ikut."


"Sepertinya hubungan kamu sama Mas David kamu mulai serius ya?"


"Aku belum tau, tapi yang jelas, kalau mas David itu orang yang sangat baik, humoris dan sangat menyenangkan"


Dean yang ternyata ada di belakang Ara mendengar semua yang dikatakan oleh Ara. "Dean! Tunggu aku!" terdengar suara seseorang memanggil Dean.


Seketika Ara dan teman-temannya menoleh ke arah belakang. "Eh, ada Dean."


"Kamu kenapa cepat sekali jalannya? Aku ingin bicara sama kamu."


"Maaf, aku harus segera pulang karena nenekku tadi menghubungiku." Tangan sahabat Dean memeluk pundak Dean.


"Eh! Aku pulang dulu ya? Aku juga mau siap-siap untuk makan malam dengan Mas David."


"Ya ampun! Yang lagi jatuh cinta." gida teman-teman Ara.


Ara segera turun dari anak tangga dan berlari ke bawah di mana sudah ada Aro di sana. Sifa pun juga tidak mau kalah. Dia berjalan melenggang ala-ala model dan memberitahu jika dia juga sudah di jemput oleh kekasihnya, yaitu Aro.


"Aku yakin, Aro pasti di sihir sama dia. Aku jadi ingin ke rumahnya mencari tau. Bapaknya Sifa kan orang pintar."

__ADS_1


Tania malah terkekeh mendengar ucapan Marta. "Orang pintar apaanya? Bapaknya itu memang orang pintar, tapi pintar pijat urat. Bukan yang begitua."


"Oh ... aku salah." Marta tertawa dan mereka berjalan saling merangkul.


Aro mengantar Sifa pulang setelah itu dia pulang bersama dengan Ara. Sampai di rumah, Aro melihat sudah ada Uni di sana. Dia sedang sibuk berada di dapur bersama nenek dan ibunya.


"Ibu, kalian sedang apa? Bukannya kita nanti makan malam di luar, kenapa Ibu malah membuat makanan?"


"Ini untuk makan siang kita karena tadi ayah kamu meminta Ibu mengantarkan masakan Uni yang tadi pagi ke kantor ayah kamu, ayah kamu sangat menyukai masakan Uni tadi pagi."


"Tadi pagi itu juga masakan buatan aku, Bu," cela Aro.


"Iya-iya, makanan buatan kamu. Ya sudah! sekarang kalian bersiap-siap, kita akan makan siang bersama."


"Uni, kamu ikut aku ke kamar aku sebentar mau? Aku ada perlu sama kamu."


"Iya, nanti aku ke sana."


"Ya sudah, aku akan menunggu kamu." Ara dan Aro berjalan menuju kamar mereka masing-masing.


Tidak lama Uni yang sudah menyelesaikan pekerjaanya langsung izin pergi ke kamar Ara. Saat membuka pintu kamar Ara. Uni melihat Ara sedang mengeluarkan beberapa baju dress cantiknya atau lebih tepatnya gaunnya.


"Baju-baju ini mau kamu apakan, Ara?"


"Ada apa?"


Ara merangkul pundak Uni. "Coba kamu pilih baju mana yang kamu suka?"


"Hah? Buat apa?"


"Aku mau memberikan baju yang cocok buat kamu, kamu pilih saja."


"Tapi aku tidak pernah memakai gaun-gaun seperti ini. Aku jarang keluar atau menghadiri acara-acaran yang di haruskan memakai baju ini. Jadi tidak akan pernah aku pakai. Lagian ini bajunya masih bagus semua. Kenapa kamu tidak pakai saja?"


"Aku sudah bosan, lagian ada yang sudah tidak muat denganku."


"Bosan? Padahal bajunya masih bagus."


"Kamu aku suruh memilih karena aku ingin nanti malam kamu pakai salah satu gaun ini untuk makan malam, Uni."

__ADS_1


"Hah? Aku pakai gaun untuk makan malam nanti? Aku tidak mau, Ara. Memangnya kenapa harus pakai gaun?"


Tok!


Tangan Ara malah menggetok kepala Uni. Uni sontak kaget dan mengusap -usap kepalanya yang terkena getok Ara.


"Memangnya kamu mau pakai baju apa ke acara makan malam nanti, Uni? Mau pakai celana jeans dan kemeja itu?"


"Aku memang hanya punya ini. Lagian aku tidak terlalu suka memakai dress begini, Ara."


Ara langsung menepuk jidatnya. "Walaupun tidak suka, tapi seenggaknya kamu ya harus memakai baju yang sesuai dengan keadaan."


Uni malah menggaruk-garuk kepalanya dan meringis pada Ara. "Lalu, aku harus memakai salah satu gaun kamu ini?"


"Tentu saja. Aku akan pilihkan gaun yang cocok sama kamu. Soalnya ada yang memang sudah kekecilan sama aku, pasti sama kamu juga."


Ara mengambilkan tiga buah baju dan Uni mencobanya satu persatu. Uni mencoba gaun pertama dan menunjukkan pada Ara. "Ini bagaimana?"


"Em ... kenapa wajah kamu kelihatan tua memakai baju ini?" Tangan Ara mengetuk-ketuk dagunya, kemudian dia menggeleng. "Tidak cocok, kamu ganti."


Uni kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti bajunya.


Tidak lama Uni keluar dengan gaun kedua. Ara yang melihat langsung tertawa ngakak. "Baju ini agak ketat dan sempit Ara." Muka Uni sudah di tekuk saja, sambil membenarkan gaunnya yang tidak nyaman.


"Kamu seperti lontong pakai itu. Bajunya ketat sekali kamu pakai, tapi kelihatan sexy sih!"


"Sexy apanya? Sesak iya."


"Ya sudah! Kamu ganti sana!"


Uni kembali masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti lagi dengan gaun ketiga. Tidak lama Uni keluar dengan gaun ketiganya.


"Ara, gaun ini panjang sekali?" Uni melihat bagian bawah gaunnya yang menempel pada tanah, kaki Uni sampai tidak terlihat. "Ini seperti oranga mau menyapu lantai. Aku tidak mau merusakkan gaun kamu."


"Iya, juga, tapi kenapa waktu aku pernah pakai dulu tidak sepanjang itu?"


"Kamu kan jauh lebih tinggi dari aku, dan mungkin kamu pakai heels, jadi ya beda."


"Mungkin saja. Ketiganya tidak ada yang cukup, lalu kamu pakai apa?" Ara kembali berpikir sejenak. Ini Uni enaknya di pakaikan baju apa?"

__ADS_1


Ara kembali melihat-lihat ke dalam lemarinya, mungkin ada gaun yang tertinggal. Tiba-tiba kedua mata Ara membelalak melihat ada gaun berwarna hitam polos dan modelnya sederhana. "Ini pasti cocok kalau di pakai oleh Uni yang memang dia sangat sederhana."


"Ara, kalau tidak apa-apa, aku tidak masalah. Aku pakai baju seadanya saja."


__ADS_2