My Secret Love

My Secret Love
Perasaan Tidak Karuan Aro


__ADS_3

Semua orang yang melihat pada mereka tampak terkejut, apalagi Aro, dia tampak mengeraskan kedua rahang tegasnya dan tangannya mengepal erat. Rian yang melihat hal itu langsung memegang pundak Aro untuk menenangkan sahabatnya.


“Kalian berpegangan tangan? Ada apa ini? Apa ada berita bahagia dari kalian?” tanya Via curiga.


“Aku dan Uni akan mencoba untuk bersama lagi seperti saat kita jadian dulu. Aku janji hubungan kita kali ini tidak akan mengganggu kuliah Uni. Iya, kan, Uni?” Rendy tampak tersenyum bahagia.


“Kalian pacaran lagi?” Ara tampak terkejut.


“Iya, Ara. Kamu tau kan kalau aku masih menyukai Uni dan aku berjanji akan membahagiakan Uni. Aku juga tidak akan meninggalkan Uni lagi seperti dulu karena sekarang dia tidak bersama tantenya, dan walaupun ada tantenya aku tidak takut, Aku akan melindungi Uni.”


Ara langsung melihat pada Aro. Ari hanya berdiri terdiam di tempatnya. Dia ingin sekali menyeret Uni dari sana dan bertanya langsung pada Uni agar Uni mengakui sendiri tentang perasaanya. Aro benar-benar tidak tau


dengan jalan pikiran gadis yang dicintainya itu.


“Selamat kalau begitu untuk kalian berdua. Ternyata kamu benaran berubah menjadi lebih berani dan bertanggung jawab, jangan sakiti Uni lagi, atau aku yang akan menjadi orang pertama yang mengomeli kamu.” Via tampak


bahagia dan memeluk Uni. Uni mencoba tersenyum walau terlihat dipaksakan.


“Kami ikut senang Uni kalau kamu ingin dekat dengan seseorang, tapi ayah ingatkan agar kamu bisa menjaga diri dan kamu Rendy. Kamu


jaga Uni baik-baik, berpacaran sewajarnya.”


“Iya, Om. Aku juga tidak akan mengganggu kuliah Uni dan pekerjaan Uni. Aku sudah cukup senang Uni mau menerimaku lagi.” Tangan Rendy masih menggandeng tangan Uni. “Nanti kalau aku sudah lulus, aku akan bekerja


keras agar bisa pantas untuk kamu, Uni.”


Uni hanya bisa mengangguk dalam diamnya. “Cie ... cie! Kamu sudah memikirkan masa depan kalian,” goda Via. Nala melihat pada putranya dan kemudian pada Uni yang tampak wajahnya aneh sendiri di sana.


“Aro, kita harus ke atas panggung untuk mengumumkan siapa juara stand bazaar terbaik.” Rian berhasil membuat Aro tersadar dari lamunannya.”


“Iya. Maaf ya semua, aku harus pergi ke atas panggung lagi untuk acara terakhir.” Aro segera pergi dari sana dan semua orang mengikuti Aro


pergi mendekat ke panggung. Hanya tinggal Uni dan Rendy yang ada di sana untuk membereskan stand Bazaarnya..


“Uni, apa kamu bahagia dengan semua ini?”

__ADS_1


“Iya, aku bahagia. Ren, aku minta tolong jangan terlalu menuntutku apapun, misalnya kita tidak bisa keluar atau berkencan karena kamu


tau sendiri jika aku bekerja di rumah seseorang.”


“Tenang saja, aku tau akan hal itu.”


Tidak lama pengumuman di bacakan dan stand milik Via yang menjadi pemenangnya. Via tampak berjingkat senang. Nala dan Akira serta lainnya mengucapkan selamat pada Via. “Kamu hebat sekali bisa mendekorasi stand itu dan akhirnya menang,” ucap Nala.


“Terima kasih, Tante. Aku juga tidak menyangka jika akan memenangkan juara pertama.” Via naik ke atas panggung untuk menerima hadiah dan piala.


“Selamat ya, Via. Uni mana? Kenapa dia tidak ikut naik?” tanya Rian.


“Dia sedang berada di stand bazaar dengan kekasihnya, sepertinya dia lebih bahagia dengan hubungannya yang baru terjalin daripada dia harus menerima hadiah juara ini.”


Rian langsung tersenyum kecil dan sekali lagi melihat pada Aro. Aro sebagai ketua panitia memberikan hadiah pada Via berubah uang sebesar satu juta rupiah dan sebuah piala.


“Terima kasih, Aro.”


“Selamat ya,” ucap Aro lirih.


kesenangan.


“Ada apa, Via?”


“Kita menang, stand bazaar kita menang, dan ini hadiahnya serta pialanya. Uang ini semua untuk kamu.” Via memberikan uang hadiah itu pada Uni.


“Ta-tapi ini semua kan karena kita berdua, jadi kamu juga berhak menerimanya, dan modal kamu untuk membeli semua ini juga harus kamu hitung, Via.”


“Kamu itu bagaimana? Aku kan dari awal niatnya membuka stand ini untuk kamu dan nanti semua keuntungannya kamu yang ambil. Ternyata sekarang kita menang jadi ini rezeki kamu, Uni. Sudah! Kamu ambil jangan pakai menolak atau kamu marah.”


“Tapi Via, kamu juga harus dapat, kamu pasti habis banyak untuk modal semua ini.”


“Aku ada uang tabunganku, kamu tenang saja, kamu yang lebih membutuhkan untuk uang kuliah dan bisa untuk kamu tabung nantinya.”


Uni tampak tidak enak. Nenek Anjani juga menyarankan agar Uni mau menerima kebaikan Via. Uni akhirnya mau menerimanya dan memeluk erat sahabatnya itu. “Terima kasih ya, Via. Kamu terlalu banyak berbuat baik untukku

__ADS_1


dan aku belum bisa membalasnya.”


“Sudahlah! Kamu tidak perlu berkata seperti itu, apalagi kita ini sahabatan.”


“Kamu memang gadis yang baik, Via,” puji nenek Anjani.


“Oh ya, bagaimana jika besok aku mengundang kalian semua makan malam di restoran jam tujuh malam?” tanya Akira.


“Benar, Om?” tanya Via tidak percaya.


“Tentu saja. Ya anggap saja ini untuk merayakan kemenangan kalian. Lagian pekerjaanku besok juga tidak terlalu padat. Bagaimana Nala, apa kamu setuju?”


“Iya, aku setuju, Sayang.” Nala mengusap lengan tangan Akira.


“Ya sudah, kalau begitu, besok sebelum jam tujuh malam kalian bisa berkumpul di rumahku. Kita nanti akan berangkat bersama-sama.”


“Terima kasih ya Om.”


“Sama-sama Rendy.”


Tidak lama Aro datang dan mengatakan acara sudah selesai, tapi dia masih belum bisa pulang karena dia harus membereskan semuanya. Keluarga Aro izin pulang karena ini sudah malam dan hanya tinggal Uni, Via serta Rendy di sana. Rendy dan Uni sudah memasukkan semua barang-barang peralatan Via yang tadi sudah dibersihkan oleh Uni.


“Kamu tidak mau ikut pulang denganku, Uni?” tanya Via.


“Nanti Uni biar sama aku saja pulangnya, Via. Kamu tenang saja, aku akan mengantarkan Uni sampai rumah tidak akan aku ajak belok ke


mana-mana.”


“Ya sudah kalau begitu. Aku pulang dulu ya? Aku hari ini capek sekali karena tadi mengantarkan calon mertuaku berkeliling,” ucapnya lirih sambil terkekeh.


“Iya-iya yang usaha pendekatan sama calon mertua,” goda Rendy.


“Hati-hati ya, Via. Aku juga mau membereskan meja dan beberapa alat-alat lainnya yang masih ada di stand.”


Setelah kepergian Via. Uni dan Rendy kembali ke sana dan mulai mengembalikan meja dan kursi yang tadi dipinjam oleh Via. Saat Uni sedang meletakkan meja di gudang belakang tiba-tiba dia dikejutkan oleh tangan yang

__ADS_1


menariknya dari belakang.


__ADS_2