My Secret Love

My Secret Love
116


__ADS_3

"Apa abi juga menyukai umi secara diam-diam?"


Husna menanyakan pertanyaan itu dengan menatap abi nya lekat. Abi Syarif pun tersenyum lalu melirik sekilas sang istri sebelum dia kembali menatap sang putri yang menunggu jawaban nya dengan penasaran.


Abi Syarif mengangguk, “Abi juga menyukai umi secara diam-diam.” Jawab abi Syarif.


“Wah … seperti nya memang sangat manis saat cinta kita di balas oleh crush kita. Umi dan Abi adalah contoh nyata bisa berjodoh dengan crush. Zahra jadi pengen juga.” Timpal Zahra yang menerbitkan senyum di wajah orang di sana.


Husna dan Azzam yang mendengar ucapan Zahra itu saling menatap satu sama lain lalu tersenyum.


“Lalu setelah itu apa abi mendekati umi?” tanya Andita yang ikut penasaran dengan kisah kedua orang tua Husna.


Abi Syarif terkekeh, “Tidak semulus itu nak. Umi itu sangat cantik saat itu. Dia yang introvert dan taat agama menjadi idola banyak pria mulai dari teman angkatan nya sampai para senior. Dia walaupun introvert tapi termasuk salah satu mahasiswa yang berprestasi hingga banyak yang mengagumi umi.” Ucap abi Syarif.


“Terlalu berlebihan bi. Tidak seperti itu. Umi tidak pintar-pintar amat saat kuliah. Umi hanya ikut apa yang menurut umi bagus dan umi senangi. Umi tidak pernah mengikuti kegiatan yang tidak umi sukai. Prestasi umi juga tidak sebanyak anak-anak ambis. Umi bisa di katakan adalah orang normal yang bisa di katakan hidup mengikuti arus hidup.” Ucap umi Balqis.


Azzam yang mendengar perkataan ibu mertua nya itu tersenyum dan menggenggam tangan Husna erat, “Kau sangat mirip umi, Azarine.” Bisik Azzam lembut. Husna yang mendengar itu pun tersenyum.


“Umi juga sebenar nya tidak begitu banyak memiliki penggemar. Abi terlalu melebihkan. Umi hanya focus cepat lulus saja dengan mengagumi abi secara diam-diam.” Sambung umi Balqis.


“Lalu setelah itu bagaimana abi dan umi bisa sampai menikah?” tanya Husna.


Kembali abi Syarif terkekeh, “Sebenar nya ada kejadian yang lucu saat itu. Abi yang mengagumi umi secara diam-diam mencari tahu semua identitas umi sampai di mana alamat rumah nya dan umi memiliki saudara atau tidak. Tapi walaupun begitu abi sempat cemburu saat pamanmu datang menjemput umi saat kami baru saja melakukan kajian rutin yang di laksanakan setiap minggu nya. Abi yang cemburu tanpa berpikir panjang langsung mendekati umi dan pamanmu yang saat itu tengah berpelukan. Abi memukul pamanmu hingga babak belur yang heran nya juga pamanmu tidak membalas sedikit pun.” Ucap abi Syarif.


“Apa yang umi lakukan saat itu?” tanya Azzam.

__ADS_1


“Umi saat itu syok tentu saja untuk beberapa saat. Lalu setelah itu umi pun melerai abi yang memukul kakak umi.” Jawab umi Balqis tertawa.


“Lalu setelah itu apa yang terjadi bi? Apa abi langsung mengetahui itu kakak dari umi atau seperti apa?” tanya Zahra.


Abi menggeleng, “Abi yang emosi dan kecewa pun hanya bisa pasrah saat umi membawa kakak nya pergi ke rumah sakit untuk berobat. Saat itu abi pulang dengan emosi dan segera meminta orang tua abi melamar umi. Saat itu respon kakek dan umi tentu saja kaget tidak percaya dengan apa yang abi minta. Bagaimana juga mereka tidak kaget jika anak yang mereka yang baru saja kuliah tahun ketiga tiba-tiba datang meminta untuk di lamarkan seorang gadis. Tapi walaupun mereka sempat kaget mereka pun tetap menanyakan baik-baik keinginan abi itu. Mereka menanyakan siapa gadis yang akan di lamar dan apa abi yakin menikah di saat masih kuliah atau tidak? Saat itu abi masih terbawa emosi dan hanya ingin umi menjadi milik abi saja pun mengiyakan dengan sangat yakin. Hingga malam itu pun abi dan kedua orang tua abi datang ke rumah umi dan orang tua nya. Di sana lah semua nya terbongkar bahwa laki-laki yang berpelukan dengan umi itu adalah saudara nya yang baru saja kembali dari menuntut ilmu di luar negeri. Saat itu abi yang syok dan tentu saja merasa malu atas apa yang sudah abi lakukan pada saudara umi.” Jelas abi Syarif.


“Wah … tragis juga ya kisah abi. Lalu bagaimana respon paman saat itu bi? Apa dia merestui laki-laki yang sudah memukul nya jadi adik ipar nya?” tanya Husna tersenyum.


“Pamanmu saat itu menerima nak. Pamanmu tahu bahwa abi adalah pria yang umi sukai. Pamanmu itu adalah orang pertama yang tahu semua hal yang umi lakukan. Walaupun pamanmu dan umi tinggal berjauhan tapi umi selalu cerita pada nya semua nya. Jadi itu lah kenapa dia tidak membalas dan hanya menerima saja pukulan dari abi, karena saat itu juga bagian dari ide nya yaitu memeluk umi saat itu. Dia memang ingin membuat abi cemburu dan ternyata berhasil.” Jelas umi tertawa.


“Wah … paman menjebak abi dan abi seperti nya langsung memakan umpan itu hidup-hidup.” Ucap Husna.


Abi Syarif pun tertawa, “Tapi paman kalian tetap membalas pukulan yang abi lakukan pada nya dengan dua kali pukulan mematikan nak.” Ucap abi Syarif.


“Kenapa?” tanya Zahra.


“Jadi apa kakek dan nenek menerima lamaran abi saat itu?” tanya Husna.


Umi Balqis mengangguk, “Tentu saja mereka menerima lamaran dari abi nak. Kakek dan nenek itu menganut system tidak boleh menolak jodoh yang datang. Itu adalah bagian dari rezeki. Singkat cerita abi dan umi pun di nikahkan tapi dengan syarat tidak boleh tinggal bersama sampai abi memiliki pekerjaan tetap hingga bisa membiayai kehidupan umi. Kami pun menerima hal itu kami menikah dan tetap tinggal terpisah selama enam bulan kalau tidak salah. Abi kemudian membuktikan diri nya bisa jadi suami yang bertanggung jawab hingga kakek dan paman pun mempercayakan kehidupan umi sepenuh nya kepada abi. Rumah pertama kali yang kami tempati yang kini sudah jadi kawasan perumahan. Di sana abi membangunkan sebuah rumah sederhana untuk umi.” Jawab umi Balqis.


“Kisah cinta abi dan umi sangat mulus ya.” Ucap Zahra.


“Tidak juga. Umi pernah salah paham pada abi saat itu kelulusan abi dan umi melihat abi yang pergi dengan teman organisasi nya tanpa izin pada umi hingga umi yang sudah menyiapkan makanan hasil masakkan umi pun sedih. Umi menangis dan pada akhirnya membuat umi dan abi harus tinggal terpisah selama sebulan karena kakak umi datang dan melihat umi menangis. Umi yang memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari nya mengatakan semua nya dan umi pun di bawa pulang dan baru di izinkan di bawa oleh abi kembali saat umi sendiri yang menginginkan untuk pulang. Abi harus mendapatkan kata maaf dari umi.” ucap umi Balqis.


“Selain itu juga abi pernah cemburu dengan umi karena banyak nya yang mengidolakan nya. Saat itu abi sadar kenapa umi marah saat abi lebih memilih pergi dengan teman-teman abi ketimbang pulang dan menikmati makanan buatan umi. Itu adalah pertengkaran terakhir kami kalau tidak salah. Setelah itu kami selalu ke mana pun pergi bersama dan tidak menyembunyikan lagi hubungan kami yang sudah menjadi sepasang suami istri. Untuk itu lah kenapa abi dan umi tidak setuju saat Husna dan Azzam memilih untuk merahasiakan hubungan pernikahan mereka tapi untung lah apa yang terjadi pada abi dan umi tidak terjadi pada Husna dan Azzam. Selain itu juga mungkin Husna dan Azzam memiliki komunikasi yang baik dan pemikiran dewasa yang saat itu kami tak memiliki nya.” Sambung abi Syarif.

__ADS_1


“Jadi kesimpulan nya adalah jika kalian sudah memiliki pasangan nanti komunikasi itu sangat penting dalam sebuah hubungan. Lalu kepercayaan satu sama lain juga hal penting. Tidak boleh meragukan pasangan kalian.” Ucap umi Balqis.


Husna dan Azzam pun tersenyum dan saling menatap, “Terima kasih umi, abi sudah membagikan cerita ini untuk kami. Kami akan menjadikan nya pelajaran.” Ucap Husna.


“Baiklah kalau begitu kita akhiri cerita itu di sini.” Ucap abi Syarif lalu segera bangkit dari tempat duduk nya dan segera meninggalkan ruangan makan itu dengan di temani umi Balqis.


Husna dan Azzam juga segera meninggalkan tempat itu menuju kamar mereka. Begitu juga Zahra, Andita dan ibu nya yang juga segera pergi dari sana.


***


“Mas, aku harap kita bisa seperti umi dan abi yang bisa mengatasi permasalahan rumah tangga kita bersama.” Ucap Husna saat mereka kini sudah di ranjang dan dia yang tengah bersandar di dada Azzam.


Azzam pun tersenyum dan memilih memeluk istri nya itu erat, “Kita pasti akan melakukan itu.” ucap Azzam.


Husna pun mengangguk, “Mas … malam ini aku mau segera beristirahat. Aku tidak ingin belajar lagi dengan tumpukkan skripsiku itu. Aku mau bersantai dalam pelukanmu.” Ucap Husna manja.


Azzam pun mengangguk, “Kau lakukan saja apa yang kau mau sayang. Tidak ada yang akan melarang. Lagi pula sudah cukup kau belajar beberapa hari ini hingga membuatku sedikit merasa di abaikan. Ayo tidur saja.” Ucap Azzam.


“Maaf!” ucap Husna.


“Tidak perlu di pikirkan sayang. Aku juga paham.” Balas Azzam.


“Mas … jika mas mau kita bisa melakukan itu malam ini. Aku akan mela--”


“Tidak. Kita istirahat saja. Aku bukan tidak ingin sayang hanya saja aku tahu bahwa kau lelah dan butuh istirahat. Jadi lebih baik kita istirahat agar kamu besok bisa fresh menghadapi ujian. Jangan merasa bahwa mas menolakmu. Mas sangat menginginkan nya tapi mas paham bahwa kau pun butuh istirahat.” Ucap Azzam lalu segera melabuhkan kecupan di kepala istri nya itu.

__ADS_1


Husna pun tersenyum dalam pelukan suami nya. Azzam adalah suami yang tidak egois.


__ADS_2