
"Baiklah aku setuju. Kita menikah saja." potong Abrar saat Ratna belum menyelesaikan kalimat nya.
Abrar mengatakan itu dengan ekspresi serius nya. Tidak terlihat sama sekali keraguan di sana.
Ratna dan yang lain nya yang ada di sana terdiam. Sungguh Ratna tidak menyangka akan mendengar kalimat itu dari Abrar.
"Apa anda gila tuan Abrar!" ucap Ratna sedikit keras.
Abrar segera berdiri dari posisi nya dan segera memberikan bunga di tangan Ratna.
"Bukan kah kau tidak ingin memiliki kekasih maka aku bisa menjadi suamimu. Aku serius!" ucap Abrar.
Ratna menggeleng lalu menutup telinga nya dengan kedua tangan nya hingga buket bunga jatuh dari tangan nya, "Stop! Jangan katakan lagi. Saya tidak ingin mendengar kalimat konyol seperti itu lagi. Anda menyebalkan tuan Abrar!" ucap Ratna segera berlari meninggalkan gedung fakultas itu.
Seketika air mata yang coba dia tahan jatuh dan mengalir deras di pipi nya.
__ADS_1
Logika nya mengatakan jangan menangis tapi hati nya sakit hingga air mata itu jatuh dengan sendiri nya tanpa bisa dia tahan.
"Kenapa dengan Ratna?" tanya Husna yang kini kembali dengan di gandeng oleh Azzam.
Mereka berniat pulang ke mansion karena memang Azzam sudah tidak ada jam mengajar lagi. Tapi justru melihat pemandangan yang canggung.
Husna dan Azzam mengamati keadaan sekitar dan melihat Zahra memunguti buket bunga. Setelah nya kedua nya melihat Abrar yang memandangi Ratna yang sudah jauh di sana.
"Ada apa Abrar?" tanya Azzam memahami bahwa asisten nya itu sudah melakukan sesuatu.
Abrar menatap Azzam lalu dia menggeleng, "Saya akan menjelaskan nya lain kali, tuan .. nyonya. Untuk kali ini saya ingin pergi mengejar nya dulu. Dia salah paham!" ucao Abrar lalu segera pergi menyusul Ratna. Dia bahkan mengabaikan buket bunga yang ada di tangan Zahra. Yang dia pikirkan hanya lah bagaimana Ratna tidak menganggap apa yang dia lakukan barusan bukan lah sesuatu yang konyol tapi karena memang keinginan hati nya.
"Jangan khawatir, sayang. Aku kenal Abrar. Dia akan menyelesaikan masalah yang sudah dia buat. Percaya lah Ratna akan baik-baik saja. Abrar tidak akan membiarkan nya kenapa-kenapa." ucap Azzam menenangkan Husna.
Husna pun mengangguk dan percaya dengan ucapan suami nya itu.
__ADS_1
"Kalian lanjutkan acara kalian. Ambil lah foto bersama. Mereka akan baik-baik saja." ucap Azzam kemudian.
"Jalal ... Jika kau serius dengan apa yang kau lakukan hari ini. Maka jangan mencoba mempermainkan nya." lanjut Azzam kepada Jalal.
Jalal pun mengangguk memahami apa yang di maksud oleh Azzam itu dengan sangat baik. Dia menatap Betty lalu kedua nya tersenyum.
"Mas .. Ayo pulang. Aku mengantuk dan pusing. Pengen istirahat di kamar kita." ucap Husna manja.
Azzam pun mengangguk lalu dia menoleh pada sang adik dan kemudian menatap Gentala, "Gentala ... Tolong antarkan adikku ke mansion. Aku titip dia padamu. Jaga dia dengan baik." ucap Azzam lalu segera menggandeng Husna ke mobil
"Bunga mawar yang cantik." ucap Husna tersenyum menggoda kepada Betty sebelum dia masuk ke dalam mobil.
Betty yang mendengar itu pun tersenyum malu saat di goda seseorang. Baru kali ini sisi bobrok nya itu hilang.
"Abang ... Kakak ipar ... Aku pulang bareng kalian saja." ucap Zahra.
__ADS_1
"Pulang lah dengan Gentala. Dia akan menjagamu. Abang percaya pada nya. Tolong jangan permalukan abang. Abang sudah meminta nya mengantarmu pulang." ucap Azzam.
Zahra yang mendengar itu pun akhir nya menurut saja.