My Secret Love

My Secret Love
Rumah Impian


__ADS_3

Akira membawa Nala dan bibinya pergi dari perkampungan itu. Di sepanjang perjalanan Nala sedikit cemas, dia cemas jika nanti di kota dia pasti akan bertemu dengan kedua orang tua Akira.


"Akira, sebenarnya bibi tidak apa-apa jika tinggal di rumah Bibi Sekar, mereka sama sekali tidak keberatan bibi di sana. Kalau bibi di sana kalian bisa menjalani rumah tangga berdua."


"Tidak apa-apa, Bi. Di rumahku bibi bisa tinggal dan menemani Nala, apalagi Nala sedang hamil dan nanti kalau Nala melahirkan Bibi juga bisa membantu merawat cucu Bibi. Kita berduakan masih awam dalam hal ini."


"Iya, aku kan nanti kesepian kalau Akira pergi bekerja. Kalau aku minta ingin bekerja pasti tidak akan di bolehkan."


"Jangan meminta hal yang tidak akan aku kabulkan. Kamu duduk manis saja di rumah menungguku datang, tidak perlu memikirkan bekerja, kalau kamu jenuh, kamu bisa pergi berjalan-jalan atau berbelanja dengan Bibi Anjani," ucapnya tegas.


"Akira, lalu perusahaan kamu di perkampungan siapa yang mengurusi?"


"Waktu itu aku sudah meminta Seno mengurusnya, tapi dia bilang di tidak bisa, dia masih mencintai pekerjaannya jadi mandor, jadi aku meminta pemilik perusahaan yang dulu saja untuk menjalankannya dan aku akan tetap memantaunya."


Beberapa jam kemudian mereka sampai di sebuah halaman rumah yang Nala tidak pernah tau. "Akira, ini rumah siapa?" Nala mengamati dari dalam mobil rumah dengan didominasi warna putih, warna kesukaan Akira.


"Rumah kita." Akira keluar dari dalam mobil diikuti Nala dan bibinya. Akira mengajak mereka masuk ke dalam rumah. Nala tampak terkesiap melihat dalam rumah yang terlihat nyaman dan asri karena ada taman kecil di dalam rumah serta kolam ikan.


"Ini rumah kamu? Kamu membeli rumah lagi? Lalu yang dulu?"


"Aku sudah menjualnya karena di sana banyak kenangan buruk tentang hubungan kita. Aku tidak mau kalau sampai kamu teringat kejadian yang menyakitkan di sana." Akira memeluk Nala dari belakang. "Apa kamu menyukai tempat ini?"


"Suka sekali, rumah kamu sangat nyaman."


"Rumah kita karena rumah ini sudah aku atas namakan dengan nama kamu, Sayang." Akira mengecup pipi Nala.


"Atas namaku?" Nala menoleh ke samping melihat pada Akira. Akira mengangguk dengan diiringi senyuman.


"Ehem ...!" Ada suara berdehem dari belakang mereka. "Kalian lupa kalau ada bibi di sini?" sindir bibi Anjani.


Akira dan Nala langsung menoleh ke arah belakang dengan muka malunya. "Akira, kamu itu!" Nala menepuk tangan suaminya dan berjalan ke arah bibinya.

__ADS_1


"Memang salahku apa?"


"Ini kamar bibi kira-kira ada tidak? Nanti lupa menyiapkan kamar untuk bibi?" lirik bibi Anjani pada Akira.


Akira tersenyum. "Tentu saja ada. Aku sudah menyiapkan 4 kamar di sini, kamar anak kita juga sudah aku siapkan, aku akan menunjukkan kamar Bibi."


Mereka berjalan menuju kamar untuk bibi Anjani, rumah itu hanya ada satu lantai. Namun, rumah itu cukup besar dan luas.


"Kamar bibi bagus sekali." Bibi Anjani masuk ke dalam kamarnya dan dia merasa takjub melihat kamar miliknya yang dari dulu dia tidak pernah merasakan tidur di kamar sebagus ini."


"Bibi bisa menata baju-baju bibi di dalam lemari itu, dan nanti kalau Bibi ingin membeli baju baru, akan aku ajak kalian berbelanja karena Nala sudah harus menyiapkan baju khusus untuk wanita hamil. Aku tidak mau dia memakai baju yang menyiksa perutnya begitu." Akira melihat Nala dari atas sampai bawah.


"Memang kenapa dengan bajuku?" tanya Nala heran.


"Baju kamu mulai kekecilan, dan itu menyiksa bayiku"


"Iya, itu benar, Akira. Kalau begitu nanti saja saat kamu libur kerja kita jalan-jalan. Sekarang bibi mau menata baju bibi dan kalian pergi saja ke kamar kalian yang baru."


Mereka menuju pintu kamar yang lebih besar dan saat di buka, Nala tampak kaget melihat dalamnya yang sangat cantik. Di sana juga ada box bayi besar dengan kelambu dan mainan menggantung.


"Box bayi?"


"Iya, untuk si kembar kelak, mereka berdua akan tidur dengan kita sampai mereka nanti berani tidur sendiri."


"Tapi ini terlalu cepat kamu menyiapkan."


"Tidak apa-apa. Aku senang menyiapkan semua ini. Kamu menyukai kamar ini?"


"Suka sekali, kamar ini sangat indah dan cantik apalagi sofa besar itu bentuknya sangat unik." Nala menunjukkan sofa besar yang bentuknya panjang seperti bulan sabit.


"Itu untuk kita besok saat si kembar sudah lahir?" Akira melirik pada Nala.

__ADS_1


Nala sudah merasa tidak enak saja ini dengan maksud dan lirikan suaminya. "Maksud kamu? Untuk aku menyusui si kembar?"


Akira menggeleng. "Kalau untuk menyusui si kembar nanti aku carikan kursi yang cocok, jadi kamu bisa nyaman. Itu untuk kita membuat adik buat si kembar jika mereka sudah dewasa," bisik Akira.


Raut wajah Nala langsung berubah aneh. "Ini saja belum lahir, kamu sudah memikirkan untuk membuat adik si kembar? Kalau begitu kamu saja yang hamil."


"Kalau aku bisa hamil tidak apa-apa, asal membuatnya sama kamu." Akira mengecupi istrinya dengan gerakan cepat.


Nala tertawa dengan senangnya sambil menggeliat karena kegelian dengan kecupan yang Akira berikan. "Akira, hentikan! Nanti kalau bibi dengar bagaimana? Tidak enak nantinya Akira."


"Kamu tenang saja. Aku sudah mengatur kamar ini agar kedap suara karena aku tidak mau kegiatan kita di sini didengar dari luar."


"Ya ampun, kamu sudah menyiapkan semuanya?"


"Tentu saja. Nala, apa kamu tidak mau mencoba ranjang kita? Rasanya empuk dan nyaman."


"Pasti sama saja seperti yang di rumah kamu dulu."


"Ini beda, ranjangku kali ini lebih nyaman." Kedua tangan Akira mulai berada pada baju Nala. Dia perlahan-lahan membuka kancing baju Nala satu persatu. "Kamu pasti capek karena perjalanan tadi. Bagaimana kalau kita istirahat?"


"Iya, aku capek dan tidak mau melakukan hal itu. Aku mau istirahat saja." Nala melihat atasannya yang sudah dilepas oleh Akira. "Kamu kenapa melepaskan bajuku?"


"Mau mengganti baju kamu dengan baju yang nyaman. Kamu tidak akan enak jika tidur dengan baju ini."


"Aku kan bisa mengganti bajuku sendiri."


"Tidak apa-apa, aku akan bantu supaya kamu tidak capek."


Nala akhirnya menurut saja sampai akhirnya mereka memilih beristirahat karena capek. Mereka tidur sampai menjelang malam hari. Nala tampak kaget saat dia terbangun dan melihat dari cela jendela keadaan yang sudah gelap.


"Akira, bangun." Nala menggoyangkan tubuh Akira, tapi Akira hanya menggeliat dan memeluk tubuh Nala.

__ADS_1


"Dia mungkin capek sekali. Sebaiknya aku menyiapkan makan malam." Nala beranjak perlahan bangun dari tidurnya dan menuju dapur.


__ADS_2