
Kini Husna sedang berbaring dengan berbantalkan lengan suami nya itu setelah tadi mereka menghabiskan waktu hampir dua jam untuk memadu kasih bersama. Kini Husna dan Azzam itu sedang melakukan pillow talk yang sering mereka lakukan sebelum tidur.
“Mas, aku mau mengatakan sesuatu.” ucap Husna memandang suami nya itu dan tangan nya memegang dagu sang suami.
Azzam pun menunduk dan memandang istri nya itu, “Ada apa? Katakan saja.” ucap Azzam lembut. Azzam memang sangat lembut. Tidak pernah sekali pun dia bicara dengan Husna dengan suara nya yang tinggi. Husna di perlakukan nya dengan sangat lembut.
“Aku mau menjenguk Gilang. Bisa gak?” izin Husna lirih takut suami nya itu tidak mengizinkan nya.
Azzam yang mendengar ucapan istri nya itu pun segera menegakkan tubuh nya dan bersandar di ranjang. Husna pun ikut bangun dari tidur nya lalu menghadap suami nya itu.
“Gak boleh ya?” ulang Husna memandang suami nya itu yang hanya diam saja.
Husna pun mendekatkan tubuh nya ke arah suami nya itu dan dengan perlahan meletakkan kepala nya di dada bidang milik sang suami, “Jika memang gak boleh katakan saja mas. Husna gak akan memaksa kok.” ucap Husna lembut.
Azzam pun tersenyum melihat istri nya itu yang membujuk nya dengan lembut padahal Azzam bukan tidak mengizinkan hanya saja dia sedang memikirkan dari mana istri nya itu tahu hal ini sebab dia tidak mengatakan apapun terkait masalah kampus. Selain itu juga istri nya itu selama seminggu ini tidak ke kampus. Tapi setelah dia pikir dia tahu siapa yang sudah mengatakan masalah ini kepada istri nya itu.
Azzam mengangkat kepala Husna dari dada nya itu lalu kini mereka saling bertatapan satu sama lain. Dia tersenyum, “Boleh kok. Tapi mas ikut. Mas ini pencemburu sayang.” ucap Azzam.
Husna yang mendengar itu pun tersenyum lalu mengangguk, “Kita akan menjenguk nya besok.” Ucap Azzam.
Husna pun mengangguk, “Ohiya kamu tahu dari siapa dia sakit?” tanya Azzam memastikan untuk memastikan dugaan nya itu.
“Dita yang mengatakan nya tadi. Maaf mas aku bukan ingin tahu tentang nya hanya saja aku sedikit merasa bersalah kepada nya. Dia sakit karena--”
Cup
Azzam segera mengecup bibir istri nya itu agar Husna tidak melanjutkan perkataan nya, “Jangan bicara begitu Azarine. Kamu tidak salah. Sehat dan sakit itu sudah di atur sama Allah. Tidak ada hubungan nya dengan orang lain. Hanya saja saat ini memang orang-orang mengira dia sakit karena kau tolak. Tapi itu tidak ada hubungan nya. Jangan menyalahkan dirimu lagi. Mas tidak terima jika istri cantik mas ini menyalahkan diri nya sendiri.” Ucap Azzam.
Husna pun tersenyum lalu memeluk suami nya itu, “Terima kasih mas.” Ujar Husna.
Azzam pun hanya tersenyum dan mengangguk, “Sudah. Ayo kita tidur. Kita harus memulihkan tenaga yang sudah terkuras tadi.” Ucap Azzam di akhiri dengan senyuman menggoda.
Husna yang mendengar itu pun tersenyum malu karena dia tahu dan langsung connect dengan apa yang di maksud suami nya itu.
“Semoga saja dia segera hadir ya mas.” Ucap Husna mengusap perut nya lembut.
Azzam pun mengangguk tersenyum dan melihat ke arah perut istri nya itu, “Kita doakan saja semoga dia akan segera hadir. Tapi jika pun belum tidak masalah. Kita masih muda kok dan masih punya banyak waktu untuk itu.” ucap Azzam.
“Ayo kita tidur.” Ajak Azzam kemudian.
__ADS_1
Husna pun mengangguk lalu mereka pun segera berbaring kembali dan tidur saling berpelukan satu sama lain. Tidak ada lagi kecanggungan di antara mereka tapi Husna jika membahas hubungan intim maka dia tetap saja malu dan merona karena hal itu. Menurut nya topic itu masih saja menjadi hal yang sensitif walaupun dia adalah seorang penulis novel genre romantis. Namun entah kenapa topic itu tetap membuat nya malu.
***
Keesokkan pagi nya, kini Husna selepas sholat subuh dia pun segera turun menuju lantai bawah dengan Azzam juga yang menyusul dari belakang.
“Mas, mau menemani abi di halaman belakang?” tanya Husna.
Azzam pun mengangguk, “Ya sudah. Nanti Husna antarkan kopi ke sana.” Ucap Husna. Azzam pun kembali mengangguk saja lalu dia segera menuju halaman belakang di mana abi Syarif berada.
Sementara Husna sudah pasti dia menuju dapur yang ternyata di sana sudah ada Zahra, Andita, ibu Diyah dan umi Balqis bersama koki di sana sedang sibuk membuat sarapan.
“Kakak ipar, kau telat.” Ucap Zahra begitu melihat Husna.
Husna pun hanya tersenyum menanggapi ucapan adik ipar nya itu begitu juga dengan tiga orang lain nya yang ikut tersenyum melihat Husna, “Zahra, kamu harus memaklumi kenapa kakak iparmu itu bisa telat nak.” ucap umi Balqis.
“Umi, jangan menggodaku. Aku ini sedang melakukan projek besar yang di berikan umi untukku.” Ucap Husna.
“Projek? Projek apa umi?” tanya Zahra menatap umi Balqis.
Sementara Umi Balqis tersenyum menatap putri nya lalu dia menatap Zahra, “Kamu ingin tahu?” tanya umi Balqis kepada Zahra.
Zahra pun mengangguk cepat karena rasa penasaran nya itu berada di level tinggi.
“Apa? Jadi--” ucap Zahra sedikit berteriak mendengar bisikkan umi Balqis itu.
“Jangan ribut dek. Ini masih pagi.” ucap Husna tanpa menatap adik ipar nya itu.
Zahra pun segera menutup mulut nya itu dan mendekati Husna lalu tangan nya segera membelai perut rata milik Husna, “Aku harap kakak ipar segera hamil.” Ucap Zahra.
Husna pun tersenyum lalu menatap adik ipar nya itu lembut, “Aamiin.” Ucap Husna.
Andita dan ibu Diyah yang dari tadi diam saja kini mengerti apa yang di bicarakan oleh tiga orang itu. Mereka pun ikut tersenyum mendengar ucapan Zahra itu.
“Husna, mau antar dulu kopi untuk suami Husna dulu ya.” Ucap Husna segera membawa nampan yang berisi kopi.
“Ee’eeh punya abimu juga di bawa sekalian nak.” ucap umi Balqis.
Husna pun meletakkan kopi milik abi nya itu di nampan lalu dia pun segera berlalu dari sana.
__ADS_1
“Umi, aku yakin jika abang dan kakak ipar itu memiliki anak nanti maka pasti mereka akan memiliki warna bola mata yang cantik. Amber dan abu-abu.” Ucap Zahra.
Umi Balqis pun hanya tersenyum saja lalu mereka pun kembali membuat sarapan bersama koki di rumah itu.
“Abi … mas …” ucap Husna heboh dengan membawa dua mangkuk kopi itu di nampan.
Abi Syarif dan Azzam pun menoleh dan tersenyum begitu mendengar panggilan Husna itu. Abi Syarif dan Azzam memandangi Husna itu dengan tatapan penuh cinta di mata mereka masing-masing. Jika abi Syarif dengan tatapan cinta terhadap putri nya terhadap kesayangan nya. Maka lain dengan tatapan Azzam yaitu tatapan cinta sebagai pasangan.
“Silahkan di minum. Ini kopi untuk abi tersayang dan ini kopi untuk suamiku tersayang.” Ucap Husna tersenyum lalu menghidangkan dua mangkuk kopi itu di meja yang ada di sana.
Abi Syarif dan Azzam pun tersenyum mendengar ucapan Husna, “Silahkan di nikmati. Ohiya, apa masih ada yang kurang?” tanya Husna menatap dua lelaki tersayang nya itu.
Azzam menggeleng karena dia memang tidak membutuhkan apapun sementara Abi Syarif melihat dua mangkuk kopi di meja itu, “Camilan nya mana nak? Kenapa gak ada?” tanya abi Syarif.
Husna pun menepuk kening nya karena melupakan itu, “Hum, abi untuk hari ini minum kopi saja dulu ya. Camilan nanti aja.” Ucap Husna.
Abi Syarif pun tersenyum, “Ya sudah terserah padamu saja.” ucap abi Syarif.
Husna pun tertawa, “Sudah aahh hari ini abi dan mas minum kopi saja dulu.” Ucap Husna.
“Sesuai keinginan tuan putri saja.” ucap abi Syarif.
Husna pun terkekeh, “Abi jangan memanggilku begitu. Itu adalah panggilanku saat kecil dari abi.” Ucap Husna.
“Ouh jadi kamu sejak kecil itu nama panggilanmu. Kenapa kamu gak cerita kepada mas?” tanya Azzam.
“Ck, abi. Ini tuh gara-gara abi deh. Sudah ahh Husna mau masuk dulu. Jika mas penasaran tanya saja kepada abi semua nya.” Ucap Husna.
“Kok abi?” tanya abi Syarif.
Husna pun menatap abi nya itu, “Tentu saja abi. Kan abi yang memulai nya.” Ucap Husna lalu dia segera melenggang masuk ke dalam kediaman kembali meninggalkan dua lelaki tersayang nya itu. Cinta pertama dan cinta terakhir nya.
“Hahahh, abi dia menggemaskan.” Ucap Azzam.
Abi Syarif pun tersenyum mendengar ucapan menantu nya itu, “Kau benar nak. Dia itu sangat lucu. Apalagi saat dia masih kecil. Saat dia bermanja-manja di pangkuan abi tapi semua sifat manja nya itu menghilang beberapa tahun lalu berganti dengan sikap dewasa nya. Tapi beberapa hari ini abi baru menyadari bahwa sifat manja nya itu kembali setelah dia menikah denganmu. Terima kasih nak sudah mengembalikan sifat manja nya itu. Kamu jangan bosan-bosan yaa jika dia bermanja padamu.” Ucap Abi Syarif.
Azzam menggeleng, “Gak kok abi. Azzam senang jika dia bermanja pada Azzam. Azzam merasa di butuhkan oleh nya. Azzam juga merasa melindungi nya.” Ucap Azzam tulus.
“Kau tahu nak. Kami memiliki dia di usia kami kepala empat setelah hampir lima belas tahun kami menanti kehadiran nya. Dia itu adalah berkat untuk kami hanya saja dia yang sebagai satu-satu nya pewaris. Kami mendidik nya dengan keras. Dia juga mengerti akan tanggung jawab itu sehingga dia pun tidak bertanya sedikit pun. Dia anak manja dan penurut.” Ucap abi Syarif mengenang kelahiran Husna.
__ADS_1
“Abi, Azzam mau menanyakan sesuatu.” ucap Azzam menatap abi Syarif serius.
“Kamu mau menanyakan apa nak?” tanya abi Syarif juga menanggapi dengan serius ucapan menantu nya itu.