My Secret Love

My Secret Love
Kegalauan Uni


__ADS_3

Ara mengatakan jika dia tidak punya pacar dan belum memikirkan hal itu. "Tapi soal perjodohan aku belum bisa menjawabnya, Ma."


"Ya sudah, tidak perlu dipikirkan masalah itu. Biar Mama nanti yang menjelaskan masalah ini. Mama juga yakin jika David akan mengerti akan hal itu."


"Maaf, bukannya aku menolaknya, tapi aku memang belum memikirkan masalah ini, aku mau menyelesaikan kuliahku dulu."


"Iya. Sudah! Kamu bisa ke kamar kamu untuk beristirahat dulu. Mama dan Nenek mau membereskan rumah."


Ara masuk ke dalam kamarnya dan langsung merebah tubuhnya di atas tempat tidurnya. Tidak lama Uni keluar dari dalam kamar mandi Ara dengan membawa handuk kotor milik Ara, dia sedang membersihkan kamar mandi Ara dan mengganti handuk di kamar mandi.


"Kamu kenapa mukanya di tekuk begitu, Ara?"


"Aku mau dijodohkan dengan David, Uni," ucapnya lirih.


"David?" Uni langsung duduk di sebelah Ara. "David itu siapa?"


"Dia keponakan tante Maya saudara jauh ayahku. Kemarin waktu ada acara pesta itu aku dan dia bertemu dan kami ngobrol bersama."


"Bagaimana orangnya? Menurut kamu?"


"Dia usianya beberapa tahun di atasku, dia baik, sopan, dan menyenangkan. Dia juga seorang pengusaha muda."


"Wah! Mapan sekali hidupnya? Kamu memangnya tidak mau sama dia?"


Ara mengubah posisi duduknya, dia bersandar pada tepi kamar tidurnya. "Bukannya tidak mau, tapi ada hal yang membuat aku tidak bisa menerima perjodohan itu."


"Kalau jadi kamu, aku mau saja, apalagi kalau dia baik. Dia pasti bisa membahagiakan kita nantinya. Ya, tapi kita pendekatan dulu supaya bisa saling mengenal."


"Memangnya saudara kembarku Aro belum bisa membuat hati kamu bergetar?"


Kedua alis Uni langsung mengkerut. "Kenapa malah jadi membahas Aro?"


Ara tertawa dengan senangnya. "Habisnya, kamu kan sudah punya Aro, kenapa malah bilang mau menerima jika di jodohkan sama David?"


"Aku kan bilang seumpama aku jadi kamu. Lagian kalau kedua orang tua saling mengenal akan lebih merasa aman jika menerima perjodohan itu, kita tidak akan salah memiliki pasangan, takutnya kan kalau kita mencari sendiri, belum tentu dia juga akan baik untuk kita, bisa awalnya saja."


"Tapi dijodohkan juga belum tentu membawa kita dalam kebahagiaan, Uni."


"Iya, juga sih. Ah, sudah! Aku juga bingung kalau kamu curhat dan minta pendapat dalam hal seperti ini padaku."

__ADS_1


"Aku juga bingung."


"Kamu bingung apa karena kamu sudah punya cowok yang kamu taksir?"


"Cowok? Aku tidak punya cowok, Uni."


"Lalu, Dean itu?


"Dean itu bukan cowok aku. Teman-temanku saja yang suka menjodohkan aku sama dia, tapi aku juga banyak berterima kasih sama dia karena dia sering sekali membantuku. Dia juga sangat baik."


"Sepertinya aku melihat dari ekspresi wajah kamu kalau kamu lebih menyukai Dean. Apa itu benar?"


"A-aku--?" Ara bingung menjawab Apa.


"Jawab saja? Aku yakin kalau kamu lebih menyukai si Dean itu."


"Dean itukan teman kita waktu kecil dulu yang pernah bertengkar dengan Aro karena membela kamu waktu itu, Uni."


"Oh ... jadi dia itu Dean itu? Takdir memang tidak dapat ada yang menyangka, Ya? Aku bertemu dengan Aro."


"Dan akhirnya kalian pacaran."


"Jadi kamu tau dia pernah memberiku permen?"


"Tau, dong."


"Waktu itu aku sedang makan permen dan saat itu aku terjatuh dan permenku kotor. Aku mau beli lagi ternyata sudah habis. Saat aku sedih, ternyata Dean datang dan memberiku permen miliknya."


"So sweet sekali ya? Aro malah marah dan menghindariku saat itu."


"Tapi sekarang dia sangat romantis sama kamu, bahkan kalian sampai berciuman."


Seketika wajah Uni merona malu. "Jangan membahas hal itu, saudara kembar kamu itu benar-benar menjengkelkan, aku sebal sama dia."


"Kenapa kamu malah sebal sama dia?"


"Aku sudah bilang kalau aku tidak pantas jadi pacarnya, tapi dia seolah tidak peduli, malahan kalau aku bilang begitu dia melakukan hal yang membuat aku tidak berkutik."


"Hihihi! Dia memang begitu, kamu nurut saja, jangan bertindak melawannya. Lagian Aro itu kan sebenarnya baik, dan tidak pernah berpacaran atau menyukai seorang gadis. Kata orang, kalau cowok belum pernah jatuh cinta, sekali jatuh cinta dia akan mencintai kamu dengan sangat tulus."

__ADS_1


"Tapi sebenarnya aku tidak mau dia menjadikan aku kekasihnya, Ara," ucapnya sedih.


"Kenapa memangnya? Ada masalah? Atau kamu sangat tidak menyukai Aro?"


Uni menggeleng. "Bukan begitu?"


"Lalu, apa?"


Uni terdiam sejenak. "Aku tidak mau disebut pengkhianat oleh sahabat baikku sendiri, Ara." Uni menundukkan kepalanya.


Ara seketika mendekat ke arah Uni. "Apa ini tentang sahabat kamu yang mencintai Aro itu?"


Uni mengangguk perlahan. "Dia sangat mencintai Aro, bahkan dia seolah ingin sekali bisa bersama dengan Aro."


"Apa dia tidak tau kalau kamu dan Aro sudah berpacaran? Coba saja kamu bilang sama dia, lagian cinta tidak bisa di paksakan. Aro tidak akan pernah menyukai dia karena Aro sudah menyukai kamu."


"Aku bingung Ara. Aku takut jika nanti Via akan membenciku, bahkan paling parahnya dia akan menjauhiku. Aku sungguh tidak mau akan hal itu."


"Bingung juga sih sebenarnya. Andai aku di posisi kamu aku juga akan bingung, tapi kalau kamu tidak mencintai Aro kamu bisa bilang saja sama Aro untuk tidak meneruskan hubungan ini."


Uni bingung lagi karena dia pernah bilang sama Aro akan hal ini, tapi Aro tetap kekeh dia tidak peduli dan malah mau untuk menyembunyikan masalah ini."


"Suatu saat aku akan meminta maaf pada Via dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi sebelum dia tau dari orang lain. Aku tidak mau sampai kehilangan sahabatku itu."


"Semoga dia mau mengerti, Uni. Aku yakin dia tidak akan membenci kamu karena kamu teman yang baik dan tulus."


Uni beranjak dari tempatnya dan dia izin keluar dari kamar Ara. Uni berjalan menuju kamar Aro, di depan kamar Aro dia terdiam sejenak. Dia selalu was-was kalau memasuki kamar Aro.


Tok ... tok


"Masuk," suara berat terdengar dari dalam kamar.


Uni masuk dan melihat kekasihnya itu sepertinya baru bangun tidur. "Aro, aku mau mengambil dan mengganti handuk kamu."


"Hem ...," jawabnya singkat.


Uni masuk ke dalam kamar mandi Aro dan merapikan barang-barang yang ada di sana. Saat Uni keluar dia tampak terkejut melihat ada pria dengan membawa hawa dingin jika berada di dekatnya itu sudah berdiri di depan kamar mandi.


"Aro? Kamu mengagetkan saja."

__ADS_1


"Coba lihat tanda yang aku ciptakan tadi! Apa masih ada?" ucapnya tegas.


__ADS_2