My Secret Love

My Secret Love
Makan Malam


__ADS_3

Nala menjelaskan nanti Uni dan Rendy akan satu mobil dengan Aro dan Via. Sedangkan Nala dan Akira akan membawa nenek Anjani.


"Jadi aku hanya berdua dengan Mas David, Ma?"


"Iya, memangnya kenapa? Kamu keberatan?"


"Tidak sih, tidak apa-apa."


"Dengan begitu kamu bisa banyak bicara sama David, Ara. Kalian bisa lebih saling mengenal lagi nantinya," lanjut Akira.


"Iya, Yah. Mas David itu orang sangat baik dan pintar, aku banyak belajar dari dia."


"Iya, dia memang orang yang pandai dan sangat baik. Tante kamu sering cerita soal David dan juga menanyakan apa kamu setuju jika kamu dijodohkan sama dia?"


Ara terdiam tidak menjawab pertanyaan mamanya. Tidak lama, orang yang mereka tadi bicarakan datang juga. David keluar dari dalam mobilnya dengan sebuket bunga mawar berwarna ombre.


"Selamat malam semuanya," sapanya, dan diiringi dengan senyuman manisnya.


"Mas David, kenapa baru samapai?"


"Maaf, Ara, aku sebenarnya sudah berangkat dari tadi, tapi aku lama karena mencari buket mawar ini. Ini untuk kamu." David memberikan buket bunga yang dibawanya untuk Ara.


"Ini untuk aku?" Ara tampak kaget.


"Iya, ini untuk kamu, Ara. Aku dengar dari bisikan para bidadari di langit jika kamu sangat menginginkan bunga mawar dengan warna campur seperti ini, jadi aku ingin mencarikan untuk kamu."


"Kamu kenapa begitu baik sama aku, Mas David?"


"Karena kamu juga seseorang yang sangat baik, Ara."


Nala tersenyum pada Akira yang berdiri di sampingnya. Sepertinya Nala dan Akira sangat menyukai sosok David ini.


"Ya sudah kalau begitu kita berangkat saja sekarang." Ajak Akira.


Nala dan Akira masuk ke dalam mobil dengan nenek Anjani juga.


Aro melihat pada Uni yang sebenarnya tidak nyaman dengan lengan gaunnya yang agak pendek itu, dia berkali-kali mencoba menarik lengan bajunya agar terlihat lebih panjang, tapi tetap saja tidak bisa.


Aro hendak melepaskan suit yang di pakainya dan menutupi tubuh itu pada tubuh Uni. Namun, gerakannya kalah cepat dengan Rendy.


"Uni, kamu pakai ini jaket milikku." Rendy memasangkan jaket yang dipakainya pada pundak Uni.


"Kamu sweet banget sih, Ren?" puji Via.

__ADS_1


"Terima kasih, Rendy."


Saat berjalan, tiba-tiba Ara tidak sengaja tersandung dan menabrak tubuh Uni sehingga jaket yang dipakai Uni terjatuh dan terinjak juga oleh sepatu Ara.


"Ya ampun!"


"Ara, kamu tidak apa-apa?" Uni bertanya karena melihat Ara yang hampir terjatuh.


"Aku tidak apa-apa. Rendy, aku minta maaf, jaket kamu jadi kotor, aku tadi benaran tidak sengaja."


Rendy memungut jaketnya dan wajahnya tampak sedih. "Jaketku," ucapnya meratapi jaketnya.


"Kamu taruh di sini saja, Ren, biar besok aku mencucinya."


"Iya, kamu taruh di sini saja sama motor kamu, juga tidak akan hilang, lagian ada penjaga rumah aku."


"Ya sudah kalau begitu."


Akhirnya dengan berat hati Rendy meletakkan jaketnya di atas motornya. "Ra, aku masuk sebentar ya mengambil jaket, jujur saja aku rada tidak nyaman sama baju kamu ini."


"Sudah telat, Uni!"


Aro yang tidak banyak bicara langsung melepaskan suitnya dan memakaikan pada pundak Uni. "Pakai saja itu dan segera kita berangkat."


"Kamu juga kenapa memberikan gaun itu pada Ara?"


"Cuma itu yang muat dan cocok sama Uni, Aro ...!"


Mereka tidak banyak berdebat lagi dan masuk ke dalam mobil masing-masing. Via tadinya terlihat agak tidak suka saat Aro memberikan suitnya pada Uni, tapi sekarang dia senang karena dia bisa duduk tepat di samping Aro.


Uni dan Rendy duduk di bagian belakang. Rendy tak henti-hentinya memuji kecantikan Uni malam ini.


"Ren, kamu jangan berlebih malam ini. Sudah duduk diam saja."


Rendy akhirnya diam dan mobil berjalan menuju ke restoran di mana kedua orang tua mereka serta nenek Anjani sudah menunggu.


"Mas David, kenapa Mas David bersusah-susah mencarikan bungan Ini?"


"Aku sendiri tidak tau, hatiku tergerak saja ingin mencarikan bunga itu. Dan setelah melihat wajah kamu yang bahagia melihat bunga itu, rasa lelahku mencari bungan itu seolah terbayarkan."


"Mas David baik sekali sama aku."


"Anggap saja ini salah satu upayaku untuk mendapatkan simpati dari gadis yang sedang aku inginkan."

__ADS_1


Mas David melihat pada Ara dan tersenyum manis. Wajah Ara tampak aneh antara haru dan malu melihat hal ini.


Tidak lama mereka sampai dan turun dari mobil. "Aro, restoran ini sangat bagus sekali. Aku baru pertama kali masuk ke sini."


"Ini restoran ayahku yang baru saja beberapa hari di buka."


"Bagus karena Arolah yang mendesain setiap ruangan di sini," jelas Ara.


"Oh ya? Ini bagus sekali." Via mengedarkan pandangannya melihat setiap sudut restoran. "Auw!"


"Via kamu tidak apa-apa?" Aro menangkap tangan Via yang hampir jatuh karena kakinya yang tidak berpijak dengan benar.


"Maaf, saking senangnya melihat restoran kamu, aku jadi tidak melihat jalanku."


Aro memegang tangan Via dan membantunya untuk berjalan. Uni dan Rendy yang ada di belakang saling melihat.


"Uni, ayo jalan." Rendy sekarang malah memegang tangan Uni dan mengajaknya berjalan lebih dulu.


Aro hanya terpatri diam melihat hal itu. Ara hanya dapat menghela napas sekarang, dia benar-benar bingung merasakan kisah cinta Aro dan Uni.


Mereka masuk ke ruangan yang sudah di siapkan khusus hanya untuk keluarga Akira. Nala melihat Via yang memegang lengan tangan Aro.


"Kamu kenapa Via?"


"Tadi saya tidak berhati-hati dalam berjalan Tante, makannya saya hampir jatuh dan Aro menolong saya, Tante."


"Lalu, kaki kamu tidak apa-apa?" tanya Akira.


"Kakiku baik-baik saja, Om. Aku terlalu mengagumi restoran indah milik Om ini. Restoran ini sangat indah."


"Terima kasih, Via. Kalau begitu silakan duduk, sebentar lagi hidangan akan di sajikan."


Mereka duduk di melingkar Aro berada di sebelah Via dan Rendy. Uni dekat dengan Ara dan Rendy.


Mereka menikmati makan malam dengan bersama-sama dan terlihat sangat akrab. "Via, apa kamu sudah punya pacar?" tanya nenek Anjani.


"Pacar? Saya tidak punya pacar, Nek. Saya malah takut dekat dengan seseorang yang baru kenal. Apalagi kedua orang tua saya sangat overprotektif dengan saya."


"Mungkin karena kamu anak gadis, jadi mereka takut kamu kenapa-napa."


"Mungkin seperti itu, temanku saja hanya Uni selama ini yang dekat. Orang tuaku juga kenal Uni dengan baik, mereka juga sangat menyukai Uni."


"Kamu tidak memiliki saudara?"

__ADS_1


"Ada kakak laki-laki, hanya saja dia tidak tinggal di sini, dia memilih tinggal di luar pulau karena pekerjaanya. Dia juga jarang sekali pulang, kadang satu tahun sekali, kadang juga dalam setahun tidak pulang."


__ADS_2